Category Archives: Qur'an Hadits

SURAH AL-AN’AM AYAT 162-163 tentang keikhlasan

1. Membaca surah al-an’am ayat 162-163
• Menulis surah al-an’am ayat 162-163
• Menghafalkan surah al-an’am ayat 162-163
• Mamahami surah al-an’am ayat 162-163
• Menghayati surah al-an’am ayat 162-163
• Mengamalkan surah al-an’am ayat 162-163
2. Arti kosa kata
3. Terjemahan ayat
4. Asbabun nuzul ayat
5. Isi kandungan dari surah al-an’am ayat 162-163
6. Cara mencapai keikhlasan beribadah
7. Hadits tentang ikhlas beribadah
8. Analisis
9. Kesimpulan

AYAT TENTANG KEIKHLASAN BERIBADAH
Madrasah Aliayah kelas: XII, semester: II

1. MEMBACA SURAH AL-AN’AM AYAT 162-163

 •                •  

2. ARTI KOSA KATA

Katakanlah : 
sesungguhnya shalatku : 
dan ibadahku : 
dan hidupku : 
Dan matiku : 
Hanyalah untuk Allah tuhan seluruh alam : 
tiada sekutu baginnya : 
Dan yang demikian itu : 
Di Perintahkan kepadaku : 
dan aku adalah orang yang pertama menyerah kan diri : •

3. TERJEMAHAN AYAT

Artinya: Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.(QS:al-An’am: 162-163)

4. ASBABUN NUZUL AYAT
Tidak ada Asbabun nuzul yang pasti tentang ayat ini akan tetapi dalam suatu riwayat dijelaskan bahwa ayat ini turun karena adanya tuduhan dari kaum kafir quraisy tentang dakwah Nabi yang mereka menganggap Nabi mempunyai maksud dibalik menyuruh mereka meninggalkan kesesatan, mereka menganggap Muhammad ingin mencari Jabatan, dan Kekayaan oleh karena itu turunlah ayat ini yang menyatakan bahwa dakwah Nabi murni dan hanya untuk Allah semata.

5. ISI KANDUNGAN DARI SURAH AL-AN’AM AYAT 162-163

Sebelum kita mencari dan menghayati makna ayat ini maka kita harus tau lebih dalam tentang pengertian ikhlas itu karena tanpa pengetahuan tentang dasar pengertian ikhlas kita akan sulit untuk mencari sari makna dari ayat diatas
Secara bahasa ikhlas terambil dari akar kata kholasha, khulushon, khalashon yang berkonotasi murni dan terbebas dari kotoran. Kata ikhlas menunjukkan makna murni, bersih, terbebas dari segala sesuatu yang mencampuri dan mengotorinya. Sedangkan secara istilah, Ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain.( syamsury. 2006: 18)
Dalam ayat diatas merupakan ayat yang menjelaskan tentang ikhlas beribadah ayat diatas menjelaskan tentang kebenaran agama yang dibawa oleh nabi ibrahim dan sekaligus gambaran tentang sikap nabi Muhammad yang mengajak kaumya untuk beriman ayat ini memerintakan: katakanlah wahai nabi Muhammad, bahwa sesungguhny a shlataku, dan semua ibadahku termasuk korban dan penyembelihan binatang yang kulakukan dan hidupku bersama yang terkait denganya, baik tempat waktu, maupun aktifitas dan matiku, yakni iman dan amal saleh yang akan aku bawa mati, kulakukan secara ikhlas dan murni hanyalah semata-mata untuk Allah. Tuhan pemelihara semesta alam, tiada sekkutu baginya dalam zat, sifat, dan perbuatanya.
Kata nusuk biasa juga diartikan sembelihan, namun yang dimaksud dengan ya adalah ibadah, termasuk shalat dan sembelihan itu, pada mulanya kata ini digunakan untuk melukiskan sepotong perak yang sedanga dibakar, agar kotoran dan bahan-bahan lain tidak menyertai potongan perak itu tidak terlepas darinya, shingga yang tersisa adalah perak murni, ibadah dinamai nusuk untuk menggambarkan bahwa ia seharusnya suci, murni dilaksanakan dengan pernuh keikhlasan demi karena Allah, tidak tercampur sedikitpun oleh selain keikhlasan kepada Allah
Penyebutan kata shalat sebelum penyebutan kata ibadah kendati shalat adalah salah satu bagian dari ibadah dimaksudkan untuk menunjukan rukun islam yang kedua itu. Ini karena shalat adalah satu-satunya kewajiban yang tidak dapat ditinggalkan sebanyak lima kali sehari apapun alasanya berbeda dengan kewajiban yang lainya.
Ayat ini menjadi sebuh bukti ajakan beliau kepada umat agar meninggalkan kesesatan dan memeluk islam, tidak beliau maksudkan untuk meraih keuntungan pribadi dari mereka karena seluruh aktifitas beliau hanya demi karena Allah semata,( Jalaluddin Al-mahali dan Jalaluddin Al-Suyuthi. 2002: 2763)
Oleh karena itu, bagi seorang muslim sejati makna ikhlas adalah ketika ia mengarahkan seluruh perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya untuk Allah, mengharap ridha-Nya, dan kebaikan pahala-Nya tanpa melihat pada kekayaan dunia, tampilan, kedudukan, kemajuan atau kemunduran.
Ayat diatas menjelaskan kepada kita bahwa kita dituntut ikhlas dalam menjalankan semua ibadah kepada Allah baik yang sifatnyal vertical maupun horizontal, ketika kita hendak melasksanakanya niat kita haruslah lurus semata-mata karena Allah bukan karena dilhat oleh orang atau lainya yang nantinya akan dapat merusak pahala dari ibadah kita, ketika hendak melaksanakan shalat, ketika telah bertakbir maka seluruh aktifitas badan, pikiran, dan perasaan haruslah tertuju kepada Allah, bukan kepada yang lain begitu juga dengan ibadah yang lain seperti menolong sesama, puasa, dan ibadah yang lain hendaknya hanyalah tertuju kepada Allah.
Seseorang yang ikhlas ibarat orang yang sedang membersihkan beras dari kerikil-kerikil dan batu-batu kecil di sekitar beras. Maka, beras yang dimasak menjadi nikmat dimakan. Tetapi jika beras itu masih kotor, ketika nasi dikunyah akan tergigit kerikil dan batu kecil. Demikianlah keikhlasan, menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya’ akan menyebabkan amal tidak nikmat. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu kecewa.Tetapi banyak dari kita yang beribadah tidak berlandaskan rasa ikhlas kepada Allah SWT, melainkan dengan sikap riya’ atau sombong supaya mendapat pujian dari orang lain. Hal inilah yang dapat menyebabkan ibadah kita tidak diterima oleh Allah SWT
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali jika (dilakukan) dengan penuh keikhlasan serta ditujukan untuk mendapatkan ridha-Nya”.(Al Hadis). Karena itu Imam Ali ra mengungkapkan bahwa orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amalnya diterima oleh Allah. (Quraish Shihab. 2002, hal: 256)

6. CARA MENCAPAI KEIKHLASAN BERIBADAH
Cara agar kita dapat mancapai rasa ikhlas adalah dengan mengosongkan pikiran dissat kita sedang beribadah kepada Allah SWT. Kita hanya memikirkan Allah, shalat untuk Allah, zikir untuk Allah, semua amal yang kita lakukan hanya untuk Allah. Lupakan semua urusan duniawi, kita hanya tertuju pada Allah. Jangan munculkan ras riya’ atau sombong di dalam diri kita karena kita tidak berdaya di hadapan Allah SWT. Rasakanlah Allah berada di hadapan kita dan sedang menyaksikan kita. Insya Allah dengan cara di atas anda dapat mencapai ikhlas. Dan jangan lupa untuk berdoa memohon kepada Allah SWT agar kita dapat beribadah secara ikhlas untuk-Nya, sebagaimana do’ a Nabi Ibrahim a.s,” Sesungguhnya jika Rabb-ku tidak memberi hidayah kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat. ( Matsna. 1997: 27)
Sebagai upaya membina terwujudnya keikhlasan yang mantap dalam hati setiap
mukmin, sudah selayaknya kita memperhatikan beberapa hal yang dapat mencapai dan memelihara ikhlas dari penyakit-penyakit hati yang selalu mengintai kita, di antaranya:
1. Dengan meyakini bahwa setiap amal yang kita perbuat, baik lahir maupun batin, sekecil apapun, selalu dilihat dan didengar Allah SWT dan kelak Dia memperlihatkan seluruh gerakan dan bisikan hati tanpa ada yang terlewatkan. Kemudian kita menerima balasan atas perbuatan-perbuatan tadi
2. Memahami makna dan hakikat ikhlas serta meluruskan niat dalam beribadah hanya kepada Allah dan mencari keridlaan-Nya semata, setelah yakin perbuatan kita sejalan dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Maka ketika niat kita menyimpang dari keikhlasan,
3. Berusaha membersihkan hati dari sifat yang mengotorinya seperti riya, nifaq atau bentuk syirik lainnya sekecil apapun. Fudhail Bin`Iyadh men gatakan:”Meninggalkan amal karena manusia adalah riya, sedang beramal karena manusia adalah syirik. Dan ikhlas adalah menyelamatkanmu dari kedua penyakit tersebut.”
4. Memohon petunjuk kepada Allah agar menetapkan hati kita dalam ikhlas. Karena hanya Dia-lah yang berkuasa menurunkan hidayah dan menyelamat kan kita dari godaan,syetan. (http://pksejahtera. us/index.php?option =com _content&view=article&id= 74:ikhlas- dalam beramal&catid=26:tadzkirah-ramadhan&Itemid=56 ( 10-10-09-18:30)
7. HADITS TENTANG KEIKHLASAN BERIBADAH

Dari Amirul mukminin, Umar bin khathab “Segala amal itu tergantung niatnya, dan Setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.
Hadits diatas menjelaskan tentang dalam setiap kita melakukan suatu amal ibadah haruslah karena Allah semata hadits ini diucapkan beliau karena ada seseorang laki-laki yang hijrah dari Mekkah ke Madinah, kita ketahui bahwa hijrah ketika itu karena perintah dari Allah pastilah begitu besar pahala yang akan didapat akan tetapi laki-laki itu ikut hijrah dikarenakan dengan tujuan untuk dapat menikahi seorang wanita cantik jelita yang membuat terpesona setiap siapa saja yang melihanya konon wanita itu bernama : “Ummu Qais” bukan untuk mendapatkan keutamaan hijrah. Maka orang itu kemudian dikenal dengan sebutan “Muhajir Ummi Qais” (Orang yang hijrah karena Ummu Qais).
Pada Hadits ini, kalimat “Segala amal hanya menurut niatnya” yang dimaksud dengan amal disini adalah semua amal yang dibenarkan syari’at, sehingga setiap amal yang dibenarkan syari’at tanpa niat yang ikhlas mengharap ridho Allah maka tidak berarti apa-apa menurut agama Islam. Tentang sabda Rasulullah, “Semua amal itu tergantung niatnya” ada perbedaan pendapat para ulama tentang maksud kalimat tersebut. Sebagian memahami niat sebagai syarat sehingga amal tidak sah tanpa niat, sebagian yang lain memahami niat sebagai penyempurna sehingga amal itu akan sempurna apabila ada niat. Maka ketahuilah bahwa syarat utama diterimanya ibadah ada 2: Niat yang ikhlas dan pelaksanaannya sesuai dengan yang dicontohkan oleh Nabi SAW( http://hafidht.blogspot.com/2009/10/ikhlas.html(15-10-09-18:30)

8. ANALISIS
materi ini yaitu ayat tentang keikhlasan beribadah jika kita analisis maka
1. Faktanya adalah pada waktu itu nabi kita Muhammad menerima wahyu atau ayat yang menjadi bukti kepada kaum quraisy bahwa dakwah nabi bukan karena ingin mendapat kedudukan atau keuntungan akan tetapi hanya karena Allah yang mana ayat itu kita bahas diatas, kemudian berkenaan dengan.
2. PRINSIPNYA yaitu surah al-an’am ayat 162-163
3. Konsep nya yaitu tentang pengertian ikhlas menurut bahasa atau menurut syara’nya,
4. Nilai yang terkandung diidalam ayat diatas yaitu tentang bagai mana seharusnya yang menjadi tujuan kita atau niat kita dalam setiap kali melakukan ibadah yaitu beribadah dengan ikhlas dan hanya mengharap ridho Dari Allah. Menjauhkan hati dari sikap riya’ sombong dan lain sebagainya.
5. ketrampilan yaitu dapat membaca menulis dan mengamalkan surah al-An’am ayat 162-163 dengan benar.

KESIMPULAN
Inilah sekelumit hal mengenai keikhlasan, yang patut dihadirkan dan dijaga dalam diri tiap insan. Keikhlasan bukan hanya monopoli mereka-mereka yang pakar dalam ilmu keagamaan, atau mereka-mereka yang berkecimpung dalam keilmuan syar’iyah. Namun keikhlasan adalah potensi setiap insan dalam melakukan amalan ibadah kepada Allah. Bahkan tidak sedikit mereka-mereka yang dianggap biasa-biasa saja, ternyata memiliki keluarbiasaan dalam keimanannya kepada Allah.
Jika demikian halnya, marilah memulai dari diri pribadi masing-masing, untuk menghadirkan keikhlasan, meningkatkan kualitasnya dan menjaganya hingga ajal kelak menjemput kita. Wallahu A’lam bis Shawab.

Jalaluddin Al-mahali dan Jalaluddin Al-Suyuthi. 2002. Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Ayat. Bandung: Sinar Baru Al-Qesindo

Quraish Shihab. 2002. Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Haji

Hamka, 1979.Tafsir Al-Azhar. Surabaya: yayasan Latimojong
Q shaleh. 2000. asbabun nuzul. Bandung : CV. penerbit diponegoro depag RI

Syamsury. 2006. Pendidikan untuk kelas x. Jakarta: Erlangga
Matsna. 1997. Quran Hadits. Semarang: PT karya Toha Putra
http://hafidht.blogspot.com/2009/10/ikhlas.html

http://andrey.web.id/content/faidah-faidah-ikhlas

11 Komentar

Filed under Materi PAI, Qur'an Hadits

QS. AL-JUMU’AH 9-10 TENTANG ETOS KERJA

A. PETA KONSEP

  1. Membaca QS. al-jumu’ah ayat 9-10
  2. Hukum bacaan yang terdapat dalam QS. al-jumu’ah ayat 9-10
  3. Terjemahan Mufradat
  4. Terjemahan QS. al-jumu’ah ayat 9-10
  5. Isi Kandungan QS. al-jumu’ah ayat 9-10
  6. Hadits Tentang Etos Kerja
  7. Penjelasan Hadits Tentang Etos Kerja.

B. URAIAN MATERI

  1. 1. Membaca QS. Al-Jumu’ah 9-10

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) š”ÏŠqçR Ío4qn=¢Á=Ï9 `ÏB ÏQöqtƒ ÏpyèßJàfø9$# (#öqyèó™$$sù 4’n<Î) ̍ø.ό «!$# (#râ‘sŒur yìø‹t7ø9$# 4 öNä3Ï9ºsŒ ׎öyz öNä3©9 bÎ) óOçGYä. tbqßJn=÷ès? ÇÒÈ #sŒÎ*sù ÏMuŠÅÒè% äo4qn=¢Á9$# (#rãÏ±tFR$$sù ’Îû ÇÚö‘F{$# (#qäótGö/$#ur `ÏB È@ôÒsù «!$# (#rãä.øŒ$#ur ©!$# #ZŽÏWx. ö/ä3¯=yè©9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÊÉÈ

2. Hukum Bacaan atau Tajwid

$pkš‰r¯»tƒ : mad jaiz munfasil

ûïÏ%©!$# : alif lam qamariyah

qãZtB                        : mad thabi’i

#sŒ)                                   : mad thabi’i

o4qn=¢Á=Ï9 : alif lam syamsiyah

B ÏQöqtƒ                   :  idgham birunnah

pyèßJàfø9$# : alif lam qamariyah

«!$#ø.ό                     : tarqiq

#râ‘sŒu                        : mad thabi’i

ìø‹t7ø9$#                      : mad thabi’i

Nä3Ï9ºsŒ : mad thabi’i

öNä3©9 ׎öyz                        : idgham bilarunnah

óOçGYä.bÎ)                    : ikhfa’

bqßJn=÷ès?                   : mad aridh lissukun

#sŒÎ*sù                                    : mad thabi’i

o4qn=¢Á9$# : alif lam sysamsiyah

#rãÏ±tFR$$sù : ikhfa’

Úö‘F{$# : alif lam qamariyah

#qäótGö/$#ur : qalqalah sugra

È@ôÒsù`ÏB                  : ikhfa’

( ©!$##rãä.øŒ$#ur                    : tafhim

/ä3¯=yè©9#ZŽÏWx. ö                 : idgham bilarunnah

bqßsÎ=øÿè?/ä3¯=yè©9 t      : izhar syafawi

bqßsÎ=øÿè?/ä3¯=yè©9 t      : mad thabi’i

3. Terjemahan Mufradat

$pkš‰r’¯»tƒ                    : hai orang-orang

ûïÏ%©!$#                       : yang

#þqãZtB                        : beriman

#sŒ)                                   : apabila

”ÏŠqçR                   : diseru

o4qn=¢Á=Ï9                    : untuk sholat

Qöqtƒ                         : hari

pyèßJàfø9$#                   : jum’at

«!$#ø.ό                     : mengigat Allah

#râ‘sŒu                        : tinggalkan

ìø‹t7ø9$#                      : jual beli

Nä3Ï9ºsŒ                     : demikian itu

öNä3©9 ׎öyz                        : lebih baik bagi mu

óOçGYä.bÎ)                    : sjika kamu

bqßJn=÷ès?                   : mengetahui

#sŒÎ*sù                                    : maka apabila

MuŠÅÒè%                    : telah menunaikan

o4qn=¢Á9$#                    : sholat

#rãÏ±tFR$$sù                  : maka betebaranlah

Úö‘F{$#                    : di bumi

#qäótGö/$#ur                    : dan carilah

È@ôÒsù`ÏB                  : dari keutamaan

( ©!$##rãä.øŒ$#ur                    : dan ingatlah Allah

#ZŽÏWx. ö             : banyak-banyak

/ä3¯=yè©9                      : supaya kamu

bqßsÎ=øÿè?               : beruntung

4. Terjemahan Surah al-Jumu’ah Ayat 9-10

9.Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui.

10.Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

Maksudnya: apabila imam Telah naik mimbar dan muazzin Telah azan di hari Jum’at, Maka kaum muslimin wajib bersegera memenuhi panggilan muazzin itu dan meninggalakan semua pekerjaannya. (Imam Jalaluddin al-mahalli dan Imam Jalaluddin AL-Suyuthi, 2006:2456)

5. Isi Kandungan Surah al-Jumu’ah ayat 9-10

Maksudnya, apabila imam naik maimbar dan muazzin telah azan di hari jumu’at, maka kaum muslimin wajib bersegera memenuhi panggilan muazzin itu dan meninggalkan semua pekerjaannya.

Tafsirnya, seruan Allah terhadap orang-orang beriman atau umat Islam yang telah memenuhi syarat-syarat sebagai mukallaf untuk untuk melaksanakan sholat jumu’at umat Islam diwajibkan untuk meninggalkan segala pekerjaannya, seperti menuntut ilmu dan jual beli. Umat islam yang memenuhi sruan Allah tersebut tentu akan memperoleh banyak hikmah.

Umat Islam yang telah selesai menunaikan sholat diperintahkan Allah untuk berusaha atau bekerja agar memperoleh karunia-Nya, seperti ilmu pengetahuan, harta benda, kesehatan dan lain-lain. Dimana pun dan kapanpun kaum muslimin berada serta apapun yang mereka kerjakan, mereka dituntut oleh agamanya agar selalu mengingat Allah. Mengacu kepada QS al-Jumuah 9-10 umat Islam diperintahkan oleh agamanya agar senantiasa berdisiplin dalam menunaikan ibadah wajib seperti sholat, dan selalu giat berusaha atau bekerja sesuai dengan nilai-nilai Islam seperti bekerja keras dan belajar secara sungguh-sungguh. (Syamsuri, 2004: 25)

Selain berisikan perintah melaksanakan sholat jumu’at juga memerintahkan setiap umat Islam untuk berusaha atau bekerja mencari rezeki sebagai karunia Allah SWT. Ayat ini memerintahkan manusia untuk melakukan keseimbangan antara kehidupan di dunia dan mempersiapakan untuk kehidupan di akhirat kelak. Caranya, selain selalu melaksanakan ibadah ritual, juga giat bekerja memenuhi kebutuhan hidup. (Bachrul Ilmy, 2006: 15)

6. Hadits tentang Etos Kerja

Artinya: Dari Anas ra. Ia berkata, Rosulullah SAW. Bersabda : “wahai Allah aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah, malas, dan penakut. Dan aku berlindung kepada Mu dari siksa kubur, ujian hidup dan ujian mati. “(HR. Muslim)

7. Penjelasan Hadits Tentang etos kerja.

Etos kerja ialah suatu sikap jiwa seseorang untuk melaksanakan suatu pekerjaan dengan perhatian yang penuh. Maka pekerjaaan itu akan terlaksana dengan sempurna walaupun banyak kendala yang harus diatasi, baik karena motivasi kebutuhan atau karena tanggung jawab yang tinggi. (http://Ikhsan. Wordpres.com/etos-kerja11/12/09)

Secara tektual hadits di atas hanya merupakan doa yang pernah diucapkan Rosululah Saw. Dan dianjurkan agar selalu diucapkan oleh umatnya, yaitu doa agar dijauhkan dari sifat lemah, malas dan pengecut serta dijuahkan dari siksa kubur, ujian hidup dan ujian setelah mati. Namun kalau kita simak secara seksama makna hadits tadi, maka maksud dari hadits tersebut adalah, bila kita selalu meminta dijauhkan dari sikap dan hal-hal yang tidak diinginkan di atas bukan berarti kita pasrah begitu saja. Akan tetapi seharusnya dengan meminta dijauhkan dari sifat lemah, berarti kita hurus berupaya untuk menjadi orang yang kuat, baik rohani maupun jasmani. Dengan meminta dijauhkan dari sifat malas berarti kita harus berupaya menjadi orang yang rajin bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehingga tercapai kesejahtaraan di dunia dan akhirat. Dan dengan meminta dijauhkan dari sifat penakut berarti kita harus berupaya untuk menjadi orang yang berani dalam menjalani hidup ini, karena kita yakin bahwa Allah selalu menolong hamba yang aberada di jalan Nya. (Moh. Matsa, 2004: 118-119)

C. ANALISIS

Dari uraian materi di atas mengandung beberapa unsur, yang mengandung prinsip yaitu poin 1ayat tentang etos kerja. Poin 3 yaitu terjemahan QS. Al-jumuah 9-10 dan poin 5 yaitu hadits tentang etos kerja. Yang mengandung prinsip terdapat pada poin 7 yaitu pengertian etos kerja. Sedangkan unsur fakta, yaitu zaman Rosulullah apapun yang terjadi pada saat beliau akan melaksanakan sholat jumuat maka beliau tetap focus, tidak menunda apalagi meninggalkan. Unsur nilai, yaitu setelah mempelajari materi ini siswa dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa sholat jumu’at sangatlah penting untuk kehidupan dunia dan akhirat. dan terhindar dari sifat lemah dan malas. Unsur yang terakhir yaitu keterampilan, setelah mempelajari materi ini maka siswa dapat membaca QS. Al-jumuah dengan benar.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Khaliq Saman, http://web.ipd.ac.id/kajianIslam .Etos.com/18/10/2009

http://Suharyadisumhudi.blogspot .etos-kerja.com.18/10/2009

http://Ikhsan. Wordpres.com/etos-kerja.com.

Ilmy, Bachrul. 2006. Pendidikan Agama Islam: Bandung. Grafindo

Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin AL-Suyuthi. 2006. Tafsir Jalalain: Bandung. Sinar Baru Al Gensindo

Matsa, Moh.2004. Al-Qur’an Hadits. Semarang: PT Karya Toha Putra

Syamsuri. 2004. Pendidikan Agama Islam untuk SMA XII. Jakarta: Erlangga

19 Komentar

Filed under Filsafat Pendidikan Islam, Materi PAI, Qur'an Hadits

SUMBER HUKUM ISLAM

oleh PUATI

1. PETA KONSEP

  1. Pengertian Sumber Hukum Islam
  2. Macam-Macam  Sumber Hukum Islam dan Alasan Beserta Contohnya
  3. Al Qur’an
  4. Hadis
  5. Ijtihan
  6. Ijma’
  7. Qiyas
  1. 2. URAIAN MATERI
    1. A. Pengertian Sumber Hukum Islam

Hukum menurut bahasa berarti menetapkan sesuatu atau tidak menetapkannya. Sedangkan menurut istilah ahli usul fikih, hukum adalah khitab atau perintah Allah SWT yang menuntut mukalaf untuk memilih atau mengerjakan dan tidak mengerjakan, atau menjadikan sesuatu sebagaisebab, syarat atau penghalang bagi adanya yang lain, sah, batal rukhsah, dan azimah.

Maksud sumber hukum adalah segala sesuatu yang melahirkan atau menimbulkan aturan yang mempunyai kekuatan, yang bersifat mengikat, yang apabila dilanggar akan menimbulkan sanksi yang tegas dan nyata. Dengan demikian sumber hukum Islam adalah segala sesuatu yang dijadikan dasar, acuan atau pedoman syari’at islam

Pada umumnya ulama fikih sependapat bahwa sumber utama hukum Islam adalah al Qur’an dan Hadis. Rasulullah SAW bersabda: “aku tinggalkan bagi kalian dua hal yang karenanya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, selama kalian berpegang pada keduanya, yaitu Kitab Allah (al Qur’an) dan sunahku (Hadis).” (H.R. Baihaqi). (Syamsuri, 2006: 58)

  1. B. Macam-Macam Sumber Hukum Islam dan Alasan Beserta Contohnya
    1. Al-Qur’an

Secara harfiah, al Qur’an berasal dari bahasa Arab yang artinya bacaan atau himpunan. Al Qur’an berarti bacaan, karena merupakan kitab yang wajib dibaca dan dipelajari, dan berati himpunan karena merupakan himpunan firman-firman Allah SWT (wahyu). (Syamsuri, 2006: 58)

Para ulama tafsir al Qur’an dalam berbagai kitab ‘ulumul qur’an, ditinjau dari segi bahasa (lughowi atau etimologis) bahwa kata al Qur’an merupakan bentuk mashdar dari kata qoro’a yaqro’uu – qiroo’atan – wa qor’an – wa qur’aanan. Kata qoro’a berarti menghimpun dan menyatukan; al Qur’an pada hakikatnya merupakan himpunan huruf-huruf dan kata-kata yang menjadi satu ayat, himpunan ayat-ayat menjadi surat, himpunan surat menjadi mushaf al Qur’an. Di samping itu, mayoritas ulama mengatakan bahwa al Qur’an dengan akar kata qoro’a, bermakna tilawah: membaca. Kedua makna ini bisa dipadukan menjadi satu, menjadi “al Qur’an itu merupakan himpunan huruf-huruf dan kata-kata yang dapat dibaca”

Makna al Qur’an secara ishtilaahi, al Qur’an itu adalah “Firman Allah SWT yang menjadi mu’jizat abadi kepada Rasulullah yang tidak mungkin bisa ditandingi oleh manusia, diturunkan ke dalam hati Rasulullah SAW, diturunkan ke generasi berikutnya secara mutawatir, ketika dibaca bernilai ibadah dan berpahala besar”

(http://www.geocities.com/abdullahhome99/pengertianquran.htm.sabtu.17 Oktober.2009)

Alasan mengapa Al-Quran menjadi sumber hukum islam menurut Hadits yaitu : Ali bin Abi Thalib berkata: Aku dengar Rasulullah SAW bersabda: “Nanti akan terjadi fitnah  (kekacauan, bencana)”  Bagaimana jalan keluar dari fitnah dan kekacauan itu Hai Rasulullah? Rasul menjawab: “Kitab Allah, di dalamnya terdapat berita tentang orang-orang sebelum kamu, dan berita umat sesudah kamu (yang akan datang), merupakan hukum diantaramu, demikian tegas, barang siapa yang meninggalkan al-Qur’an dengan sengaja Allah akan membinasakannya, dan barang siapa yang mencari petunjuk pada selainnya Allah akan menyesatkannya, Al-Qur’an adalah tali Allah yang sangat kuat, cahaya Allah yang sangat jelas, peringatan yang sangat bijak, jalan yang lurus, dengan al-Qur’an hawa nafsu tidak akan melenceng, dengannya lidah tidak akan bercampur dengan yang salah, pendapat manusia tidak akan bercabang, dan ulama tidak akan merasa puas dan kenyang dengan al-Qur’an, orang-orang bertaqwa tidak akan bosan dengannya, al-Qur’an tidak akan usang sekalipun banyak diulang, keajaibannya tidak akan habis, ketika jin mendengarnya mereke berkomentar ‘Sungguh kami mendengarkan al-Qur’an yang menakjubkan, barang siapa yang mengetahui ilmunya dia akan sampai dengan cepat ke tempat tujuan, barang siapa berbicara dengan landasannya selalu benar, barang siapa berhukum dengannya hukumnya adil, barang siapa yang mengamalkan al-Qur’an dia akan mendapatkan pahala, barang siapa yang mengajak kepada al-Qur’an dia diberikan petunjuk ke jalan yang lurus” (HR Tirmidzi dari Ali r.a.)

(http://www.geocities.com/abdullahhome99/pengertianquran.htm.17 Oktober 2009)

  1. Hadis

Perkataan hadis berasal dari bahasa Arab yang artinya baru, tidak lama, ucapan, pembicaraan, dan cerita. Menurut istilah shli hadis yang dimaksud dengan hadis adalah segala berita yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW, berupa ucapan, perbuatan, dan takkir (persetujuan Nabi SAW) serta penjelasan sifat-sifat Nabi SAW. (Syamsuri, 2006: 60)

As-Sunah atau dalam istilah lain Hadis Nabi, secara istilah adalah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad saw, baik berupa perkataan, perbuatan atau ketetapan. Adapun arti kehujahan Sunah di sini adalah: kewajiban bagi kita untuk beramal sesuai dengan As-Sunah dan menjadikannya sebagai dalil untuk menggali hukum syari’.

(http://www.hidayatullah.com/index.Sabtu.17 Oktober 2009)

Alasan mengapa Hadits di jadikan sumber hukum islam menurut : Hidayatullah.Com–As-Sunah sebagai sumber hukum Islam kedua setelah Al-Quran, tidak diragukan pengaruhnya di dalam dunia fiqih Islam, terutama  pada masa para imam mujtahid dengan berdirinya mazhab-mazhab ijtihad. Sebagai masa  kejayaan kajian ilmu hukum Islam di dalam dunia sejarah. Hal semacam ini tidak pernah terjadi pada umat agama lain, baik di zaman dahulu atau sekarang. Setiap orang yang mendalami mazhab-mazhab fiqih, maka akan mengetahui betapa besar pengaruh As-Sunah di dalam penetapan hukum-hukum fiqih.

As-Sunah atau dalam istilah lain Hadis Nabi, secara terminologi adalah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad saw, baik berupa perkataan, perbuatan atau ketetapan. Adapun arti kehujahan Sunah di sini adalah: kewajiban bagi kita untuk beramal sesuai dengan As-Sunah dan menjadikannya sebagai dalil untuk menggali hukum syari’.

Hadis Nabi, walaupun dapat menjadi hujah secara independen (mustaqil), sebagaimana juga Al-Quran, namun kedua kitab tersebut saling melengkapi dan melegitimasi bahwa keduanya adalah hujah dan sumber hukum di dalam syari’at Islam.

(http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=8937:kedudukan-as-sunah-dalam-syariat-islam-&catid=87:kajian&Itemid=7117 Oktober 2009)

  1. Ijtihad

Pengertian ijtihad secara bahasa atau pengertian menurut bahasa, ijtihad artinya, bersungguh-sungguh menggunakan tenaga dan pikiran. Sedangkan dalam pengertian secara istilah, ijtihad ialah, menggunakan pikiran untuk menetapkan hukum atas sesuatu perkara yang dalam al Qur’an dan Sunnah Rasulullah belum dinyatakan hukumnya. Akan tetapi, pengertian tersebut sama sekali tidak berarti bahwa dalam Al Qur’an dan Sunnah terdapat kekurangan, hanya saja manakala beberapa masalah tidak ditetapkan hukumnya.

(Mahpuddin Noor.http://www.Radartasikmalaya.com/opini/282-ijtihad

dan-perkembangan-hukum-islam. Sabtu.17 Oktober 2009)

Menurut pengertian kebahasaan kata Ijtihad berasal dari bahasa Arab, yang kata kerjanya “jahada”, yang artinya berusaha dengan sungguh-sungguh. Menurut istilah dalam ilmu fikih, ijtihad berarti mengerahkan tenaga dan pikiran dengan sungguh-sungguh untuk menyelidiki dan mengeluarkan hukum-hukum yang terkandung du dalam al Qur’an dan Hadis dengan syarat-syarat tertentu. (Syamsuri, 2006: 62)

Ijtihad menempati kedudukan sebagai sumber hukum Islam setelah al Qur’an dan Hadis. Allah SWT berfirman:

Artinya: “Dan dari mana saja kamu (keluar), Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu (sekalian) berada, Maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.”

Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa orang yang berada jauh dari Baitullah, apabila hendak mengerjakan sholat ia dapat mencari dan menentukan arah kiblat saat itu melalui ijtihad dengan mencurahkan pikirannya berdasarkan tanda-tanda yang ada. (Syamsuri, 2006: 63)

  1. Ijma’

Ijma’ dalam pengertian bahasa memiliki dua arti. Pertama, berupaya (tekad) terhadap sesuatu. disebutkan أجمع فلان على الأمر berarti berupaya di atasnya. Sebagaimana firman Allah Swt:

“Karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu. (Qs.10:71)

Pengertian kedua, berarti kesepakatan. Perbedaan arti yang pertama dengan yang kedua ini bahwa arti pertama berlaku untuk satu orang dan arti kedua lebih dari satu orang.

Ijma’ dalam istilah ahli ushul adalah kesepakatan semua para mujtahid dari kaum muslimin dalam suatu masa setelah wafat Rasul Saw atas hukum syara. (http://orgawam.wordpress.com/2008/09/28/ijma-dan-qiyas-adalah-juga-sumber-hukum-islam/26 Oktober 2009)

Kalau menurut prinsip dari pendirian golongan syi’ah, memang ijma’ dan qiyas itu tidak dapat digunakan sebagai landasan Hukum. Akan tetapi bagi madzhab Syafi’i dan juga madzhab mu’tabar yang lain, menggunakan ijma’ dan qiyas sebagai landasan hukum itu, tidak menyimpang dari Al-Qur’an dan Hadits, sebab Al-Qur’an dan Hadits sendiri juga memerintahkan supaya kita menggunakan Ijma’ dan Qiyas.

Dari Ali ra. menceritakan, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW., “Wahai Rasulullah, jika kami menjumpai suatu urusan yang belum jelas mengenainya apakah diperintah atau dilarang, apa yang engkau perintahkan kepada kami?”

Nabi SAW. bersabda :”Musyawarahkanlah urusan itu dengan fuqaha (orang-orang yang mendalam agamanya) dan para ‘abidin (orang2 yang kuat ibadahnya/orang-orang shalih), dan janganlah kalianmemutuskan urusan itu dengan hanya mengikuti pendapat tertentu.”

(http://salafytobat.wordpress.com/2008/07/04/mengapa-kitab-madzhab-syafi%E2%80%99i-menyebut-ijma%E2%80%99-dan-qiyas-sebagai-landasan-hukum/. 26 Oktober 2009)

Contohnya: pemahaman para ulama’ dari ayat tersebut tidak sama, ada yang mengatakan menyentuh wanita itu membatalkan wudhu dan adayang mengatakan tidak. sedangkan ijma’ itu sudah melalui proses membaca seluruh Al Qur’an dan Hadits yang Shohih serta kesimpulannya dan yang menyimpulkan itu adalah seluruh Ulama’, tanpa ada yang berbeda pendapat tentangnya, jadi kalau suatu hukum yang disebut dengan Ijma’ Ulama’ maka kita harus mengikutinya, karena itu sudah cukup kuat sebagai sumber hukum Islam yang mana sudah melalui Al Qur’an dan Sunnah. Ijma’ Ulama’ ini jumlahnya sedikit dibandingkan dengan ayat Al Qur’an yang beribu-ribu ayat dan juga beribu-ribuhadits, Ijma’ itu sekitar puluhan saja. Dan tidak hanya para Fuqoha’ saja yang dapat memahami melalui Ijma’ ini, orang awam pun bisa dan dengan mudah memahami suatu hukum  melalui Ijma’.

(http://www.alhikmah-online.com/index.php/kajian/kajian-islam/65-sumber-hukum-islam-bag-3- 26 Oktober 2009)

e.   Qiyas

Qiyas menurut ulama ushul adalah menerangkan sesuatu yang tidak ada nashnya dalam Al Qur’an dan hadits dengan cara membandingkan dengan sesuatu yang ditetapkan hukumnya berdasarkan nash. Mereka juga membuat definisi lain, Qiyas adalah menyamakan sesuatu yang tidak ada nash hukumnya dengan sesuatu yang ada nash hukumnya karena adanya persamaan illat hukum.

Dengan demikian qiyas itu penerapan hukum analogi terhadap hukum sesuatu yang serupa karena prinsip persamaan illat akan melahirkan hukum yang sama pula.

Umpamanya hukum meminum khamar, nash hukumnya telah dijelaskan dalam Al Qur’an yaitu hukumnya haram. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Qs.5:90)

Haramnya meminum khamr berdasar illat hukumnya adalah memabukan. Maka setiap minuman yang terdapat di dalamnya illat sama dengan khamar dalam hukumnya maka minuman tersebut adalah haram.
Berhubung qiyas merupakan aktivitas akal, maka beberapa ulama berselisih faham dengan ulama jumhur. Pandangan ulama mengenai qiyas ini terbagi menjadi tiga kelompok:

  1. Kelompok jumhur, mereka menggunakan qiyas sebagai dasar hukum pada hal-hal yang tidak jelas nashnya baik dalam Al Qur’an, hadits, pendapat shahabt maupun ijma ulama.
  2. Mazhab Zhahiriyah dan Syiah Imamiyah, mereka sama sekali tidak menggunakan qiyas. Mazhab Zhahiri tidak mengakui adalanya illat nash dan tidak berusaha mengetahui sasaran dan tujuan nash termasuk menyingkap alasan-alasannya guna menetapkan suatu kepastian hukum yang sesuai dengan illat. Sebaliknya, mereka menetapkan hukum hanya dari teks nash semata.
  3. Kelompok yang lebih memperluas pemakaian qiyas, yang berusaha berbagai hal karena persamaan illat. Bahkan dalam kondisi dan masalah tertentu, kelompok ini menerapkan qiyas sebagai pentakhsih dari keumuman dalil Al Qur’an dan hadits.
  4. (http://orgawam.wordpress.com/2008/09/28/ijma-dan-qiyas-adalah-juga-sumber-hukum-islam/26 Oktober 2009)
  5. 3. ANALISIS
  1. Konsep            :Yang mengandung konsep dalam makalah ini adalah   pengertian sumber hukum Islam, al Qur’an, Hadis, dan Ijtihad
  2. Fakta               : Fakta yang terdapat dalam uraian materi di atas Al Qur’an    sebagai sumber hukum yang pertama dan paling utama
  3. Prinsip             : Membaca dan mempelajari al Qur’an adalah wajib

DAFTAR PUSTAKA

Noor Mahpuddin. http://www. Radartasikmalaya.com/opini/282-ijtihad-dan

perkembangan-hukum-islam.

http://roudhotul.blogspot.com/.

http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=8937:kedudukanassunahdalamsyariatislam&catid=87:kajian&Itemid=71

http://blog.muslim-indonesia.com/iman/kitab-kitab-allah-swt/al-quran/fungsi al-quran.

http://www.geocities.com/abdullahhome99/pengertianquran.htm.

Syamsuri. 2006. Pendidikan Agama Islam kls X. Jakarta: Erlangga

(http://salafytobat.wordpress.com/2008/07/04/mengapa-kitab-madzhab-syafi%E2%80%99i-menyebut-ijma%E2%80%99-dan-qiyas-sebagai-landasan-hukum/. 26 Oktober 2009)

(http://www.alhikmah-online.com/index.php/kajian/kajian-islam/65-sumber-hukum-islam-bag-3- 26 oktober 2009)

(http://orgawam.wordpress.com/2008/09/28/ijma-dan-qiyas-adalah-juga-sumber-hukum-islam/26 Oktober 2009)

(http://orgawam.wordpress.com/2008/09/28/ijma-dan-qiyas-adalah-juga-sumber-hukum-islam/26 Oktober 2009)

(http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=8937:kedudukan-as-sunah-dalam-syariat-islam-&catid=87:kajian&Itemid=7117 Oktober 2009)

(http://www.geocities.com/abdullahhome99/pengertianquran.htm.17 Oktober 2009)

(http://www.geocities.com/abdullahhome99/pengertianquran.htm.sabtu.17 Oktober.2009)

1 Komentar

Filed under All Daftar, Qur'an Hadits