Category Archives: Psikologi Agama

Ikut valentine’s day bukan karakter Muslim

Banyak kawula muda menyebutnya sebagai hari kasih sayang. Sehingga setiap hari valentine (14 Februari ) datang banyak muda mudi turut merayakannya termasuk status muslim. Dari sudut pandang sejarah disebutkan bahwa valentine’s day terkait dengan peringatan/upacara ritual kematian salah seorang pemimpin romawi yang notabennya beragama nasrani.
Bagaimana generasi muda muslim menyikap hal tersebut?


Ada perilaku yang seakan sudah membudaya dalam tanggal 14 Februari, dikampanyekan adalah memberikan coklat. Ada apa dengan coklat?
Jawabannya adalah coklat dapat membangkitkan gairah cinta Coklat dan hubungan nya dengan Valentine, tak terlepas dari bahan bahan ramuan cinta yang terkandung di dalam penganan paling poluler di dunia ini. Di dalam coklat terdapat phenylethylamine (PEA), yang sering juga disebut sebagai “ love chemical ”. zat ini secara natural didapati pada otak manusia, memberikan efek sensasi ketertarikan, kegembiraan, sensasi mabuk kepayang dan euphoria – atau tepatnya seluruh sensasi yang kita rasakan pada saat kita jatuh cinta. PEA meningkat sampai pada level puncak pada saat seseorang mengalami orgasme. Apakah suatu kebetulan semata bila didapatkan suatu fakta bahwa pada penderita schizoprenia didapatkan level PEA yang secara tidak normal sangat tinggi? Well, I guess that’s why we call it madly in love, right ? [tuanmuda.us/showthread.php?tid=12114] sebenarnya trend valentine tidak hanya pemberian coklat saja akan tetapi biasa bunga mawar, bahkan yang tragisnya melakukan perilaku menyimpang seperti berduan dengan lawan jenis yang bukan muhrin guna untuk melampiaskan hasrat birahinya, nauzubillahi min dzalik.
Apapun alasan yang dibuat di atas bukan berarti kita sebagai generasi muda hanyut akan perilaku tersebut. Bela-belain harus memberikan coklat untuk si doi tercinta walaupun harga nya mahal.
Kembali kepada pembahasan merayakan valentine oleh seorang muslim itu tak ubahnya seperti mengorek-ngorek status muslim, kenapa? Sebab perayaan tersebut adalah ritual agama nasrani. So kenapa sibuk dengan hal itu. Kenapa tidak seorang pemuda muslim sibuk dengan mengamalkan ajaran islam yang sudah jelas diperintah Allah dan Rasul.
Penegasan kembali disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Dumai, Riau, Roza`i Akbar. Ia menegaskan, perayaan Hari Valentine (Valentine`s Day) pada 14 Februari adalah haram bagi umat Islam. [hidayatullah.com]
Kebiasaan ikut-ikutan bukanlah lagi trend yang mesti dibudayakan. Yang perlu adalah generasi muda muslim harus cerdas dan cermat dalam menyikapi persoalan yang di temui dihadapinya. Bilamana pemahaman akan ajaran islam utuh maka tidak ada istilah gengsi, malu, takut di olok teman, dan lain sebagainya. Sungguh kerdil mental generasi muda muslim mudah di obok-obok dikarena merasa beda dari temannya. Mestinya merasa bangga akan ajaran mulia yang dianutnya.
Generasi muda muslim yang gaul bukan berarti menghalalkan segala aktivitas. Namun gaul seorang muslim ia mengetahui batasan-batasan yang sudah di atur dalam ajaran islam. Pembatasan itu bukan berarti mengikat aktivitas seorang muslim bahkan sebaliknya ia memberikan kebahagian yang akhirnya kembali kepada muslim itu sendiri. Jadi Tidak sepatutnya generasi muda muslim ikut-ikutan dengan budaya dan cara hidup yang dilarang oleh ajaran islam.
Saya mengajak kepada seluruh generasi muda muslim tanpa terkecuali untuk berjuang menegakkan kebenaran mulai dari diri. Mulailah dari sekarang menyadari akan hidayah islam yang telah Allah berikan kepada kita agar senantiasa dipelihara. Sebab hidayah islam merupakan karunia nikmat yang luar biasa. Oleh karena itu janganlah disia-siakan.
Biasakan isi waktu selepas shalat untuk membaca al-Qur’an, siapalah lagi bilaman jika kita ingin mengajak teman kita berbuat baik, namun kita tidak mau memulainya, kapan lagi? Kalau bukan dari diri sendiri. Karena dengan membaca al-Qur’an ketenangan batin akan terasa tenang. Bahwa tak ada ajaran islam didalamnya mengajak melakukan hal penyimpangan.
Mudah-mudahan sedikit tulisan ini dapat memberikan setitik ilmu. Ada suatu filosofi gelas dan teko, apabila teko ingin mengisi air dalam gelas tentunya posisi teko harus lebih tinggi dari gelas.bukan malah sebaliknya posisi gelas lebih tinggi dari pada teko ataupun posisi teko dan gelas sejajar. Demikianlah untuk mendapat ilmu yang bermanfaat, sebagai insan pembelajar/ pencari ilmu, sekiranya dengan keikhlasan hati agar dapat menerima ilmu dari orang lain. Maka jangan sungkan untuk bertanya ataupun menghadiri majelis ilmu.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Filsafat Pendidikan Islam, Materi PAI, Psikologi Agama