Category Archives: Pendidikan Luar Sekolah

Karakteristik Pendidikan Luar Sekolah

oleh: ARIF HIDAYAT,JUNAIDI,NURHALIJAH,SOTIK

KARAKTERISTIK PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

A. Pendahuluan
Kita ketahui bersama bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. (UU. RI. Nomor 20 Tahun 2003 SISDIKNAS)
Pendidikan luar sekolah merupakan sistem baru dalam dunia pendidikan yang bentuk dan pelaksanaannya berbeda dengan sistem sekolah yang ada. Menurut Komunikasi Pembaruan Nasional Pendidikan (KPNP): Pendidikan luar sekolah adalah setiap kesempatan dimana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah di luar sekolah dan seseorang memperoleh informasi, pengetahuan, latihan maupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan kehidupan, dengan tujuan mengembangkan tingkat keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang memungkinkan baginya menjadi peserta-peserta yang efisien dan efektif dalam lingkungan keluarga, pekerjaan bahkan lingkungan masyarakat dan negaranya. (Vyda: 2010).
Pendidikan luar sekolah merupakan bagian dari pendidikan yang bertujuan sebagai penunjang pendidikan sekolah. Peta konsep pembahasan pendidikan luar sekolah ini tidak jauh berbeda dengan pendidikan sekolah. Sebagaimana pada pembahasan sebelumnya, telah dipaparkan beberapa pokok bahasan pendidikan luar sekolah, mulai dari proses munculnya pendidikan luar sekolah, manajemen, strategi, program, jenis-jenis, dan evaluasi pendidikan luar sekolah.
Pendidikan luar sekolah berbeda dengan pendidikan sekolah. Perbedaan tersebut adalah bahwa pendidikan luar sekolah tidak dilakukan sebagaimana sistem persekolahan. Menurut hemat pemakalah perbedaan yang paling menonjol adalah bahwa pendidikan luar sekolah tidak adanya kebakuan sistem sebagaimana pendidikan sekolah.
Secara khusus perbedaan tersebutlah yang menjadi karakteristik pendidikan luar sekolah. Pada makalah ini, secara sederhana akan kami bahas karakteristik pendidikan luar sekolah. Berawal dari definisi karakteristik pendidikan luar sekolah, karakteristik pendidikan luar sekolah, dan kesimpulan.

B. Karakteristik Pendidikan Luar Sekolah
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (1990: 389) karakteristik dapat diartikan sebagai mempunyai sifat khas sesuai dengan perwatakan tertentu. Karakteristik hapir sama pengertiannya dengan ciri-ciri. Sebagaimana dalam kamus besar bahasa Indonesia (1990:169) yakni ”berciri” artinya bersifat yang khas. Dengan kata lain bahwa berbicara tentang karakteristik berarti kita berbicara tentang ciri-ciri. Ciri-ciri dapat diartikan sebagai tanda-tanda khas yang membedakan sesuatu dari yang lain.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik pendidikan luar sekolah adalah tanda atau sifat khas pada pendidikan luar sekolah yang juga dapat menjadi pembeda dengan yang lain.

Secara umum karakteristik pendidikan luar sekolah adalah tidak adanya kebakuan sistem sebagaimana pendidikan persekolahan. Menurut Mustofa Kamil (2010:33), karakteristik pendidikan luar sekolah meliputi aspek tujuan, waktu penyelenggaraan, program, proses belajar dan pembelajaran, dan pengendalian program.
1. Karakteristik segi tujuan:
a. Untuk memenuhi kebutuhan belajar tertentu yang fungsional bagi kehidupan kini dan masa depan
b. Untuk langsung menerapkan hasil belajar dalam kehidupan di lingkungan pekerjaan atau masyarakat.
c. Untuk memberikan ganjaran berupa keterampilan, barang atau jasa yang diproduksi, dan pendapatan.

2. Karakteristik segi waktu penyelenggaraan:
a. Relative singkat dan bergantung pada kebutuhan belajar peserta didik.
b. Menggunakan waktu tidak penuh dan tidak secara terus-menerus. Waktu biasanya ditetapkan dengan berbagai cara sesuai dengan kesempatan peserta didik, serta memungkinkan untuk melakukan kegiatan belajar sambil bekerja dan berusaha.
3. Karakteristik segi program
a. Kurikulum berpusat pada kepentingan peserta didik. Kurikulum bermacam ragam atas dasar perbedaan kebutuhan belajar peserta didik.
b. Menekankan pada kebutuhan masa sekarang dan masa depan terutama untuk memenuhi kebutuhan terasa peserta didik guna bagi kehidupan peserta didik dan lingkungannya.
c. Mengutamakan aplikasi dengan penekanan kurikulum yang lebih mengarah kepada keterampilan yang bernila guna bagi kehidupan peserta didik dan lingkungannya.
d. Persyaratan masuk ditetapkan bersama peserta diidik . Persyaratan untuk mengikuti program adalah kebutuhan, minat, dan kesempatan peserta didik.
e. Program diarahkkan untuk memenuhi kebutuhan dan untuk mengembangkan potensi peserta didik.

4. Karakteristik segi proses belajar dan pembelajaran
a. Dipusatkan di lingkungan masyarakat danb lembaga. Kegiatan belajar dan pembelajaran di berbagai lingkungan (mnasyarakat, tempat bekerja), atau di satuan pendidikan luar sekolah lainnya.
b. Berkaitan denga kehidupan peserta didik dan masyarakat . pada saat mengikuti program pendidikan, peserta didik berada dalam dunia kehidupan dan pekerjaannya. Lingkungan dihubungkan secara fungsional dengan kegiatan belajar.
c. Struktur program pembelajaran lebih fleksibel dan beraneka ragam dalam jenis dan urutannya, sehingga pengembangan program dapat dilaksanakan pada waktu program sedang berjalan.
d. Berpusat pada peserta didik dengan menggunakan sumber belajar dari berbagai keahlian. Peserta didik juga biasa menjadi sumber belajar dengan lebih menekankan pada kegiatan membelajarkan.
e. Penghematan sumber-sumber dengan memanfaatkan tenaga danb sarana yang tersedia di masyarakat dan di lingkungan kerja.
5. Pengendalian program
a. Dilakukan oleh pelaksana program dan peserta didik.
b. Menggunakan pendekatan yang lebih bersifat demokrasi.

Sementara menurut Soelaiman Joesoef (2008:54), ditinjau dari sejarah pertumbuhan dan banyaknya aktivitas yang dilaksanakan, pendidikan luar sekolah mempunyai cirri-ciri sebagai berikut.
1. Beberapa bentuk pendidikan luar sekolah yang berbeda ditandai untuk mencapai bermacam-macam tujuan.
2. Keterbatasan adalah suatu perlombaan antara beberapa PLS yang dipandang sebagai pendidikan formal dari PLS sebagai pelengkap bentuk-bentuk pendidikan formal.
3. Tanggung jawab penyelenggaraan lembaga pendidikan luar sekolah dibagi oleh pengawasan umum/masyarakat, pengawasan pribadi atau kombinasi keduanya.
4. Beberapa lembaga pendidikan luar sekolah didisiplinkan secara ketat terhadap waktu pengajaran, teknologi modern, kelengkapan dan buku-buku bacaan.
5. Metode pengajaran juga bermacam-macam dari tatap muka atau guru dan kelompok-kelompokl belajar sampai penggunaan audio televise, unit latihan keliiling, demonstrasi, kursus-kursus korespondensi , alat-alat bantu visual.
6. Penekanan pada penyebaran program teori dan praktik secara relative daripada pendidikan luar sekolah.
7. Tidak seperti pendidikan formal, tingkat system pendidikan luar sekolah terbatas yang diberikan kredensial.
8. Guru-guru mungkin dilatih secara khusus untuk tugas tertentu atau hanya mempunyai kualifikasi professional di mana tidak termasuk identitas guru.
9. Pencatatan tentang pemasukan murid, guru dan kredensial pimpinan, kesuksesan latihan, membawa akibat peningkatan produksi ekonomi, peningkatan kesejahteraan dan pendapatan peserta.
10. Pemantapan bentuk pendidikan luar sekolah mempunyai dampak pada produksi ekonomi dan perubahan social dalam waktu singkat daripada kasus pendidikan formal sekolah.
11. Sebagian besar program pendidikan luar sekolah dilaksanakan oleh remaja dan orang-orang dewasa secara terbatas pada kehidupan dan pekerjaan.
12. Karena secara digunakan, pendidikan luar sekolah membuat lengkapkanya pembangunan nasional. Peranannya mencakup pengetahuan, keterampilan, dan pengaruh pada nilai-nilai program.

Nurna (2008) memaparkan dalam makalahnya perbedaan antara pendidikan sekolah dengan pendidikan luar sekolah. Secara prinsip, satu-satunya perbedaan antara pendidikan luar sekolah dengan pendidikan sekolah adalah legitimasi atau formalisasi penyelenggaraan pendidikan. Tentang perbedaan penyelenggaraan ini, secara institusional, tercantum pada Undang-Undang RI nomor 2 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 10:2-3.
Jika dilihat dari sepuluh unsur di bawah (lihat tabel), menurut hemat pemakalah, perbedaan yang dipaparkan oleh Nurna ini merupakan ciri-ciri dari pendidikan luar sekolah. Berikut kita lihat tabel dibawah ini.

NO INDIKATOR PERBEDAAN
PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH PENDIDIKAN SEKOLAH
1 Warga belajar  Rentang usia warga belajar heterogen (10-44 tahun)
 Latar Belakang pendidikan warga belajar heterogen
 Motivasi belajar karena kebutuhan mendesak
 Warga belajar dapat berfungsi sebagai sumber belajar
 Warga belajar lebih Mandiri dalam memilih program yang dibutuhkan.
 Penerapan warga belajar berdasarkan sasaran
 Ada yang sudah bekerja baru ikut belajar  Rentang usia setiap jenjang lebih homogen
 Latar Belakang pendidikan lebih homogen
 Motivasi belajar untuk prestasi jangka panjang
 Siswa bertindak sebagai anak didik
 Siswa tidak dapat memilih program sesuai kebutuhannya
 Penerapan siswa berdasarkan nilai yang diperoleh.
 Selesai sampai jenjang tertentu baru mencari pekerjaan
2 Tutor / sumber belajar  Biasanya disebut tutor
 Pemilihan tutor lebih ditekankan pada segi keterampilan yang dimilikinya
 Bersifat terbuka (siapapun dapat menjadi tutor)
 Bertindak sebagai fasilitator
 Tidak ada perjenjangan karir
 Tidak digaji pemerintah  Disebut guru
 Ditekankan pada kemampuan akademis
 Bersifat tertutup (latar Belakang akademik)
 Bersifat sebagai nara sumber utama
 Ada jenjang karir
 Digaji pemerintah / swasta
3 Pamong belajar / penyelenggara  Lebih bersifat sukarela / nobenefit (kecuali untuk program khusus)
 Perseorangan, LSM atau instansi
 Bertindak sebagai fasilitator  Mendapat gaji
 Diselenggarkan oleh pemerintah atau lembaga / yayasan berbadan hukum
 Bertindak sebagai pengelola
4 Sarana belajar  Sarana belajar berbentuk variatif (modul, leaflet, booklet, poster, dsb) sesuai dengan kebutuhan belajar
 Materi bahan belajar dikembangkan sesuai program yang dikembangkan
 Sarana belajar/learning kit sangat variatif
 Bahan belajar dapat disusun oleh siapa saja (termasuk warga belajar itu sendiri)
 Memanfaatkan sarana belajar yang ada
 Pengalaman warga belajar dimanfaatkan untuk bahan belajar.  Sarana / learning kit yang dibutuhkan sudah baku
 Materi bahan belajar homogen (berdasarkan kurikulum nasional)
 Jenis bahan belajar kurang variatif (bentuk buku atau modul)
 Bahan belajar disusun oleh para ahli
 Sering berubah-ubah
 Kurang mengakomodasi pengalaman siswa / peserta didik
5 Tempat Belajar  Memanfaatkan bangunan prasarana yang ada
 Mengoptimalkan sarana yang tersedia  Dilakukan di gedung sekolah sendiri
 Mengadakan sarana yang dibutuhkan (Sengaja diadakan untuk mendukung proses belajar)
6 Dana  Swadaya masyarakat/ warga belajar
 Bantuan pemerintah, LSM, badan swasta lainnya
 Pengelolaan dana bersifat terbuka  Swadaya
 Bantuan pemerintah
 Dibebankan pada negara
 Pengelolaan dana tertutup
7 Ragi belajar  Pemberian ragi belajar disesuaikan dengan kebutuhan warga belajar  Pemberian ragi belajar dalam bentuk Ijazah
8 Kelompok belajar  Jumlah kelompok 10-20 orang
 Pembentukan kelompok berdasarkan minat yang sama (melibatkan warga belajar)
 Ikatan kelompok bersifat informal  Jumlah kelompok bisanya 30 lebih
 Pembentukan kelas ditentukan oleh penyelenggara
 Ikatan kelompok bersifat formal
9 Program belajar  Kurikulum disusun berdasarkan kebutuhan pasar
 Kurikulum lebih menekankan kemampuan praktis
 Memungkinkan perubahan kurikulum lebih fleksibel sesuai dengan perubahan keadaan tempat.
 Program belajar boleh tidak berjenjang
 Persyaratan keikutsertaan program belajar relatif terbuka (usia latar Belakang pendidikan, sosial, ekonomi, dsb)
 Program dikembangkan untuk mengatasi masalah riil yang dirasakan mendesak/ jangka pendek
 Penyusunan program melibatkan masyarakat secara partisipatif
 Proses pembelajaran secara kelompok dan mandiri
 Pelaksanaan / waktu belajar fleksibel sesuai kesepakatan
 Penyelesaian program relative singkat
 Memberdayakan potensi sumber setempat
 Sistem evaluasi tidak baku (kecuali program pake A pake B and Kursus)  Kurikulum disusun di pusat (sentralisasi)
 Lebih menekankan kemampuan teoretis akademis
 Kurikulum lebih bersifat baku (sulit berubah) kurang dinamis tidak adaftif dengan perkembangan
 Perjenjangan bersifat baku
 Persyaratan keikutsertaan program bersifat baku dan berlaku menyeluruh (secara nasional)
 Program dikembangkan untuk menyiapkan peserta untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi
 Program disusun sepenuhnya oleh pemerintah, masyarakat bersifat pasif / pengguna
 Pembelajaran dilakukan secara klasikal
 Waktu belajar sudah pasti
 Penyelesaian program lama
 Penekanan pada penguasaan pengetahuan akademis
 Mengabaikan nara sumber / potensi sekitar
 Sistem evaluasi baku
10 Hasil belajar  Hasil belajar dapat dijadikan bekal untuk bermatapencaharian
 Hasil belajar berdampak terhadap peningkatan pendapatan masyarakat
 Dapat diterapkan sehari-hari
 Tak mengutamakan ijazah  Berpotensi untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi
 Hasil belajar untuk jenjang karir di masa datang
 Hasil belajar tidak dapat langsung diterapkan dalam dunia nyata
 Ijazah merupakan hasil akhir

Dalam sebuah artikel (2011) “tidak disebutkan penulisnya”, ada beberapa karateristik pendidikan luar sekolah, yaitu:
1. Pendidikan Luar Sekolah sebagai Subtitute dari pendidikan sekolah. Artinya, bahwa pendidikan luar sekolah dapat menggantikan pendidikan jalur sekolah yang karena beberapa hal masyarakat tidak dapat mengikuti pendidikan di jalur persekolahan (formal). Contohnya: Kejar Paket A, B dan C.
2. Pendidikan Luar Sekolah sebagai Supplement pendidikan sekolah. Artinya, bahwa pendidikan luar sekolah dilaksanakan untuk menambah pengetahuan, keterampilan yang kurang didapatkan dari pendidikan sekolah. Contohnya: private, les, training.
3. Pendidikan Luar Sekolah sebagai Complement dari pendidikan sekolah. Artinya, bahwa pendidikan luar sekolah dilaksanakan untuk melengkapi pengetahuan dan keterampilan yang kurang atau tidak dapat diperoleh di dalam pendidikan sekolah. Contohnya: Kursus, try out, pelatihan dan lain-lain.

C. Kesimpulan
Pendidikan luar sekolah mempunyai ciri-ciri atau karakteristik tersendiri, hal inilah yang dapat membedakannya dengan pendidikan sekolah. Pendidikan luar sekolah timbul dari konsep pendidikan seumur hidup dimana kebutuhan akan pendidikan tidak hanya pada pendidikan persekolahan/pendidikan formal saja. Pendidikan luar sekolah pelaksanaannya lebih ditekankan kepada pemberian keahlian dan keterampilan dalam suatu bidang tertentu. Pembinaan dan pengembangan PLS dipandang relevan untuk bisa saling mengisi atau topang menopang dengan sistem persekolahan. Agar setiap lulusan bisa hidup mengikuti perkembangan zaman dan selalu dibutuhkan oleh masyarakat seiring dengan perkembangan IPTEK yang semakin maju.
Ciri-ciri atau karakteristik pendidikan luar sekolah, dapat kita lihat dari berbagai aspek, di antaranya, segi tujuan, waktu, program, proses belajar dan pembelajaran, pengendalian program, sejarah pertumbuhan dan banyaknya aktivitas yang dilakukan. Karakteristik tersebut identik dengan perbedaan antara pendidikan luar sekolah dengan sekolah. Dikatakan demikian, karena antara pendidikan luar sekolah dengan pendidikan sekolah juga terdapat persamaan. Maka dalam hal ini, secara sederhana pemakalah menyimpulkan bahwa karakteristik pokok dari pendidikan luar sekolah ini adalah bahwa pendidikan luar sekolah lebih demokratis dan luas aktivitasnya.

DAFTAR PUSTAKA

Mustofa Kamil. 2010. Model Pendidikan dan Pelatihan (Konsep dan Aplikasi). Bandung: Alfabeta.

Nurna. 2008. Makalah Ilmu Pendidikan. Dalam http://www.anakciremai.com/2008/04/makalah-ilmu-pendidikan-pendidikan-luar.html. Diakses pada 4 Agustus 2011.

Soelaiman Joesoef. 2008. Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Tim Penyusun Kamus. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonseia. Jakarta: Balai Pustaka.

Tim Redaksi FOKUSMEDIA. 2008. Undang-Undang Guru dan Dosen. Bandung: Fokusmedia.

Vyda. 2010. Pendidikan Luar Sekolah. Dalam http://fidanurlaeli.wordpress.com/2010/11/28/pendidikan-luar-sekolah/. Diakses pada 4 Agustus 2011.

Tinggalkan komentar

Filed under All Daftar, Pendidikan Luar Sekolah

macam-macam pendidikan luar sekolah

BAB I
PENDAHULUAN

Indonesia memiliki masalah-masalah kependidikan yang memprihatinkan. Masalah ini terjadi sebelum Indonesia merdeka hingga sekarang. Secara terperinci dapat diungkapkan alasan-alasan timbulnya pendidikan luar sekolah adalah:
A. Aspek Pelestarian Budaya.
Pendidikan yang pertama dan utama adalah pendidikan yang terjadi dan berlangsung di lingkungan keluarga dimana (melalui berbagai perintah, tindakan dan perkataan) ayah dan ibunya bertindak sebagai pendidik. Dengan demikian pendidikan luar sekolah pada permulaan kehadirannya sangat dipengaruhi oleh pendidikan atau kegiatan yang berlangsung di dalam keluarga. Di dalam keluarga terjadi interaksi antara orang tua dengan anak, atau antar anak dengan anak. Pola-pola transmisi pengetahuan, keterampilan, sikap, nilai dan kebiasaan melalui asuhan, suruhan, larangan dan pembimbingan. Pada dasarnya semua bentuk kegiatan ini menjadi akar untuk tumbuhnya perbuatan mendidik.
Semua bentuk kegiatan yang berlangsung di lingkungan keluarga dilakukan untuk melestarikan dan mewariskan kebudayaan secara turun temurun. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memenuhi kebutuhan praktis di masyarakat dan untuk meneruskan warisan budaya yang meliputi kemampuan, cara kerja dan teknologi yang dimiliki oleh masyarakat dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Jadi dalam keluarga pun sebenarnya telah terjadi proses-proses pendidikan, walaupun sistem yang berlaku berbeda dengan sistem pendidikan sekolah. Kegiatan belajar-membelajarkan yang asli inilah yang termasuk ke dalam kategori pendidikan tradisional yang kemudian menjadi pendidikan luar sekolah.
B. Aspek Teoritis
Salah satu dasar pijakan teoritis keberadaan PLS adalah teori yang diketengahkan Philip H. Cooms (1973:10), tidak satupun lembaga pendidikan: formal, informal maupun nonformal yang mampu secara sendiri-sendiri memenuhi semua kebutuhan belajar minimum yang esensial. Atas dasar teori di atas dapat dikemukakan bahwa, keberadaan pendidikan tidak hanya penting bagi segelintir masyarakat tapi mutlak diperlukan keberadaannya bagi masyarakat lemah (yang tidak mampu memasukan anak-anaknya ke lembaga pendidikan sekolah) dalam upaya pemerataan kesempatan belajar, meningkatkan kualitas hasil belajar dan mencapai tujuan pembelajaran yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Uraian di atas cukup untuk dijadikan gambaran bahwa PLS merupakan lembaga pendidikan yang berorientasi kepada bagaimana menempatkan kedudukan, harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang memiliki kemauan, harapan, cita-cita dan akal pikiran.
C. Dasar Pijakan.
Ada tiga dasar pijakan bagi PLS sehingga memperoleh legitimasi dan berkembang di tengah-tengah masyarakat yaitu: UUD 1945, Undang-Undang RI Nomor 2 tahun 1989 dan peraturan pemerintah RI No.73 tahun 1991 tentang pendidikan luar sekolah. Melalui ketiga dasar di atas dapat dikemukakan bahwa, PLS adalah kumpulan individu yang menghimpun diri dalam kelompok dan memiliki ikatan satu sama lain untuk mengikuti program pendidikan yang diselenggarkan di luar sekolah dalam rangka mencapai tujuan belajar.
Adapun bentuk-bentuk satuan PLS, sebagaimana diundangkan di dalam UUSPN tahun 1989 pasal 9:3 meliputi: pendidikan keluarga, kelompok belajar, kursus dan satuan pendidikan sejenis. Satuan PLS sejenis dapat dibentuk kelompok bermain, penitipan anak, padepokan persilatan dan pondok pesantren tradisional.
D. Aspek Kebutuhan Terhadap Pendidikan
Kesadaran masyarakat terhadap pendidikan tidak hanya pada masyarakat daerah perkotaan, melainkan masyarakat daerah pedesaan juga semakin meluas. Kesadaran ini timbul terutama karena perkembangan ekonomi, kemajuan iptek dan perkembangan politik. Kesadaran juga tumbuh pada seseorang yang merasa tertekan akibat kebodohan, keterbelakangan atau kekalahan dari kompetisi pergaulan dunia yang menghendaki suatu keterampilan dan keahlian tertentu. Atas dasar kesadaran dan kebutuhan inilah sehingga terwujudlah bentuk-bentuk kegiatan kependidikan baik yang bersifat persekolahan ataupun di luar persekolahan.
E. Keterbatasan Lembaga Pendidikan Sekolah.
Lembaga pendidikan sekolah yang jumlahnya semakin banyak bersifat formal atau resmi yang dibatasi oleh ruang dan waktu serta kurikulum yang baku dan kaku serta berbagai keterbatasan lainnya. Sehingga tidak semua lembaga pendidikan sekolah yang ada di daerah terpencil pun yang mampu memenuhi semua harapan masyarakat setempat, apalagi memenuhi semua harapan masyarakat daerah lain. Akibat dari kekurangan atau keterbatasan itulah yang memungkinkan suatu kegiatan kependidikan yang bersifat informal atau nonformal diselenggarakan, sehingga melalui kedua bentuk pendidikan itu kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.
BAB II PEMBAHASAN
MACAM-MACAM PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

A. Definisi Pendidikan Luar Sekolah (PLS)
Menurut Komunikasi Pembaruan Nasional Pendidikan (KPNP): Pendidikan luar sekolah adalah setiap kesempatan dimana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah di luar sekolah dan seseorang memperoleh informasi, pengetahuan, latihan maupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan kehidupan, dengan tujuan mengembangkan tingkat keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang memungkinkan baginya menjadi peserta-peserta yang efisien dan efektif dalam lingkungan keluarga, pekerjaan bahkan lingkungan masyarakat dan negaranya.
Phillips H. Combs, mengungkapkan bahwa pendidikan luar sekolah adalah setiap kegiatan pendidikan yang terorganisir yang diselenggarakan di luar sistem formal, baik tersendiri maupun merupakan bagian dari suatu kegiatan yang luas, yang dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu dalam rangka mencapai tujuan-tujuan belajar.
Jadi, pendidikan luar sekolah adalah pendidikan dimana setiap kesempatan dimana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah diluar sekolah dan seseorang memperoleh informasi,pengetahuan,latihanatau bimbingan sesuai dengan kebutuhan hidup.

B. Pendidikan Nonformal
Pendidikan nonformal adalah kegiatan terorganisasi dan sistematis, diluar sistem persekolahan, yang dilakukan secara mandiri atau merupakan bagian penting dari kegiatan yang lebih luas, yang sengaja dilakukan untuk melayani peserta didik tertentu didalam mencapai tujuan belajarnya.
Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.
Pendidikan nonformal meliputi:

1. pendidikan kecakapan hidup,
Pendidikan kecakapan hidup adalah pendidikan kemampuan, kesanggupan, dan keterampilan yang diperlukan oleh seseorang untuk menjalankan kehidupan. Tujuan pendidikan kecakapan hidup adalah menyiapkan peserta didik agar yang bersangkutan mampu, sanggup, dan terampil menjaga kelangsungan hidup, dan perkembangannya di masa datan
2. pendidikan anak usia dini,
Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar. Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal
3. pendidikan kepemudaan,
Pendidikan ini untuk memenuhi kebutuhan para remaja/pemuda, dengan adanya pelatihan kepemudaan ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dalam rangka meningkatkan kualitas dan pengembangan potensi diri.
4. pendidikan pemberdayaan perempuan,
Pendidikan ini bisa dilaksanakan dalam berbagai bentuk. Pada dasarnya ialah untuk meningkatkan kualitas perempuan, baik dari aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
5. pendidikan keaksaraan,
Jenis program pendidikan keaksaraan berhubungan dengan populasi sasaran yang belum dapat membaca dan menulis. Dulu program ini dikenal istilah pemberantasan buta huruf ( PBA ). Sekarang program keaksaraan terkenal dengan istilah kursus pengetahuan dasar ( KPD). Targetnya ialah terbebasnya populasi sasaran dari buta baca, buta tulis, buta pengetahuan umum dan buta bahasa indonesia .
6. pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja,
Pendidikan ini lebih cenderung kepada program-program yang sifatnya aplikatif, untuk menambah atau memperdalam keterampilan-keterampilan baik didalam lingkungan keluarga, masyarakat, maupun di lingkungan kerja.
7. pendidikan kesetaraan,
Program ini diperuntukkan bagi masyarakat yang ingin menyetarakan pendidikannya seperti pendidikan formal, biasanya dalam hal ini adanya paket A untuk SD, paket B untuk SLTP, dan paket C untuk SLTA.

Satuan pendidikan nonformal terdiri atas:
1. lembaga kursus,
Kursus tetap memenuhi unsur belajar-mengajar seperti warga belajar, sumber belajar, program belajar, tempat belajar dan pasilitas. Sistem pengajaran dapat berupa ceramah, diskusi, latihan, praktek dan penugasan. Dan pada akhirnya kursus ada evaluasi untuk menentukan keberhasilan dalam Bentuk STTB
2. lembaga pelatihan,
Pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
3. kelompok belajar,
Kelompok belajar adalah lembaga kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu tergantung pada kebutuhan warga belajar. Program belajar dapat berupa paket-paket belajar dan dapat disusun bersama antara sumber belajar dan warga belajar
4. pusat kegiatan belajar masyarakat,
PKB terdapat di dalam masyarakat lyas seperti pesantren, perpustakaan, gedung kesenian, took, rumah ibadat, kebun percobaan dan lain-lain lembega-lembaga tersebut para peserta dapat memperoleh proses belajar-mengajar sesuai yang mereka inginkan.
5. majelis taklim,
Majelis Taklim merupakan lembaga pendidikan Islam Non formal. Dan merupakan fenomena budaya religius yang tumbuh dan berkembang di tengah komunitas muslim Indonesia. Majelis Taklim ini merupakan institusi pendidikan Islam non Formal, dan sekaligus lembaga dakwah yang memiliki peran strategis dan penting dalam pengembangan kehidupan beragama bagi masyarakat. Majlis Taklim sebagai institusi pendidikan Islam yang berbasis masyarakat peran strategisnya terutama terletak dalam mewujudkan learning society, suatu masyarakat yang memiliki tradisi belajar tanpa di batasi oleh usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan dapat menjadi wahana belajar, serta menyampaikan pesan-pesan keagamaan, wadah mengembangkan silaturrahmi dan berbagai kegiatan kegamaan lainnya, bagi semua lapisan masyarakat.

C. Pendidikan Informal
Pendidikan informal adalah proses yang berlangsung sepanjang usia sehingga setiap orang memperoleh nilai, sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang bersumber dari pengalaman hidup sehari-hari, pengaruh lingkungan, pengaruh kehidupan keluarga, hubungan dengan tetangga, lingkungan pekerjaan dan permainan, pasar, perpustakaan, dan media massa. Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.

D. Pendidikan Anak Usia Dini
Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar. Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal. Pendidikan anak usia dini berbentuk:
1. Taman Kanak-kanak (TK) dan Raudatul Athfal (RA)
Taman Kanak-Kanak adalah pelayanan pendidikan anak usia dini terutama disediakan untuk anak usia 4+ – 6+ Tahun. Demikian pula Raudathul Athfal tetapi Raudathul Athfal menekankan pada pengajaran agama Islam.
2. Kelompok Bermain (KB)
Kelompok Bermain menyediakan pendidikan untuk anak usia 2+ – 6+ tahun.Tetapi didaerah perkotaan Kelompok Bermain cenderung untuk kelas junior yaitu untuk anak usia 2+ dan 4 + tahun, sedangkan usia 4 – 6 tahun di TK atau RA, penekanannya pada kegiatan bermain. Bagi daerah yang tidak ada TK atau RA, Kelompok Bermain semata-mata nama dari pelayanan pendidikan setengah hari untuk anak 2+ – 6+ tahun.
3. Taman Penitipan Anak (TPA)
Taman Penitipan Anak menyediakan pendidikan untuk anak usia 3 bulan sampai 6 tahun sementara orang tua mereka (terutama Ibu) bekerja. Taman Penitipan Anak dibangun dekat tempat kerja orang tua. Tetapi didaerah perkotaan lama-lama menjadi kegiatan pendidikan menyediakan kebutuhan mendidik dan merawat untuk ibu-ibu pekerja yang berpenghasilan tinggi, sementara di pedesaan fungsi kekeluargaan anak masih dominan.
4. Posyandu
Posyandu pada dasarnya Pos Pelayanan Terpadu yang merupakan pusat kesehatan masyarakat dimana ibu-ibu hamil dan menyusui datang untuk menerima perawatan kesehatan (misalnya gizi tambahan, imunisasi dan lain-lain) untuk diri mereka dan juga anak mereka. Sekarang mulai berubah menjadi pusat pelayanan yang lebih luas untuk ibu-ibu dimana mereka datang 2 kali sebulan bukan saja untuk menerima perawatan kesehatan tetapi juga untuk belajar tentang orang tua yang memberikan pelayanan pada anak-anaknya khususnya anak usia dini. Baru-baru ini, ada usaha pelayanan kerjasama untuk anak-anak yang menemani ibu mereka ke pusatpusat pelayanan.
5. Bina Keluarga Balita (BKB)
Tujuan utama dari BKB adalah untuk menyediakan pada ibu-ibu informasi mengenai keterampilan orang tua – bagaimana membesarkan dan mengawasi perkembangan fisik, emosi, intelektual anak usia dini. BKB sekarang disatukan dengan Posyandu yang menekankan kembali fungsi menjadi orang tua nantinya yang bisa melayani anaknya yang masih usia dini. Baik Posyandu maupun BKB dilakukan oleh kader yang terlatih.

E. Pendidikan Kedinasan
Pendidikan kedinasan merupakan pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen. Pendidikan kedinasan berfungsi meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam pelaksanaan tugas kedinasan bagi pegawai dan calon pegawai negeri suatu departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen. Pendidikan kedinasan diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal dan nonformal.
F. Pendidikan Keagamaan
Pendidikan keagamaan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan khusus tentang ajaran agama yang bersangkutan. Pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau kelompok masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal.
G. Pendidikan Jarak Jauh
Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler. Pendidikan jarak jauh diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus, dan cakupan yang didukung oleh sarana dan layanan belajar serta sistem penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standar nasional pendidikan.
H. Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus
Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.
Pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi.

BAB III PENUTUP

Kesimpulan

Dari uraian diatas, maka kita bisa melihat bahwa saat ini sudah banyak sekali lembaga-lembaga pilihan yang bisa dijadikan wadah dalam rangka pengembangan potensi diri, baik melalui jalur pendidikan formal, nonformal, maupun informal. Bagi yang sejak kecil sudah beruntung bisa mengenyam pendidikan sekolah, maka pendidikan luar sekolah menjadi alternatif sebagai penunjang atau pelengkap pendidikannya sesuai dengan keinginan, profesi, maupun kepribadiannya. Karena kita ketahui, bahwa pendidikan luar sekolah dalam menjalankan programnya disesuaikan dengan kebutuhan warga belajarnya. Sedangkan bagi yang sama sekali belum menjamah pendidikan sekolah, maka pendidkan luar sekolah adalah solusinya, walaupun tidak sama/setara, setidaknya tidak tertinggal terlalu jauh dari orang-orang yang mengenyam pendidikan sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

– Sudjana. 2010. Pendidikan Nonformal (Wawasan, Sejarah, Perkembangan, Filsafat, Teori Pendukung, Asas). Bandung: Falah Production.
– Nuryanis dan Romli. 2003. Pendidikan Luar Sekolah (Kontribusi Ditpenamas dalam Pencapaian Tujuan Pendidkan Nasional). Jakarta: Depag RI.
http://aisrangkutymadina.blogspot.com/2009/03/jenis-jenis-pendidikan-luar-sekolah_12.html
http://imadiklus.com/2011/02/model-pendidikan-nonformal.html
http://fidanurlaeli.wordpress.com/2010/11/28/pendidikan-luar-sekolah/
http://imadiklus.com/2011/06/pengertian-tiga-jenis-pendidikan.html
http://sisdiknas.com/

1 Komentar

Filed under All Daftar, Pendidikan Luar Sekolah

Pusat kegiatan belajar masyarakat Dalam Pendidikan luar sekolah

oleh: M. Iqbal Fadhil,Nia Kurniasih,Sari Astuti

A. Pendahuluan
Masyarakat adalah sejumlah atau sekumpulan manusia yang merupakan satu kesatuan golongan yang berhubungan tetap dan mempunyai kepentingan yang sama.
Masyarakat merupakan gejala (fenomena) sosial yang ada dalam kehidupan ini diseluruh dunia. Oleh karena itu masyarakat dijadikan sebagai objek kajian atau suatu hal yang dipelajari terus menerus. Karena sifat dari masyarakat itu sangat kompleks, banyak para ahli yang menjelaskan mayarakat dari sudut pandang yang berbeda-beda. Disadari atau tidaknya, masyarakat dimanapun dan dalam kondisi bagaimana pun tetap merupakan sumber inspirasi dan kreativitas manusia. Masyarakat adalah sumber ilmu yang tag pernah kering. Masyarakat dengan dinamikanya terus berkembang, berubah dan bergerak tanpa mengenal batas-batas waktu tertentu.
Manfaat kehadirannya telah banyak dirasakan oleh masyarakat. Dengan motto PKBM yaitu dari, oleh, dan untuk masyarakat maka masyarakat tidak lagi hanya mengikuti program-program pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah melainkan juga mereka dapat merencanakan , membiayai, melaksanakan, dan menilai hasil, dan dampak program pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka dan potensi yang terdapat di lingkungannya, sehingga masyarakatpun bertanggung jawab terhadap kegiatan PKBM tersebut.
B. Pengertian PKBM
Menurut UNESCO defenisi PKBM adalah pusat kegiatan belajar masyarakat adalah sebuah lembaga pendidikan yang diselenggrakan di luar sistem pendidikan formal diarahkan untuk masyarakat pedesaan dan perkotaan dengan dikelola oleh masyarakat itu sendiri serta memberi kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan berbagai model pembelajaran dengan tujuan mengembangkan kemampuan dan keterampilan masyarakat agar mampu meningkatkan kualitas hidupnya. (Mustafa kamal, 2009: 85)
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) merupakan satuan pendidikan nonformal sebagai tempat pembelajaran dan sumber informasi yang dibentuk dan dikelola oleh masyarakat yang berorientasi pada pemberdayaan potensi setempat untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap masyarakat dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya. (http://imadiklus.com/2010/03/acuan-program-peningkatan-mutu-kelembagaan-pusat-kegiatan-belajar-masyarakat.html)
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) adalah tempat pembelajaran dalam bentuk berbagai macam keterampilan dengan memanfaatkan sarana, prasarana, dan segala potensi yang ada di sekitar lingkungan kehidupan masyarakat, agar masyarakat memiliki keterampilan dan pengetahuan yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan dan memperbaiki taraf hidupnya. (http://typecat.com/pdf/pengertian-pkbm.html#)
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat ini merupakan salah satu alternative yang dipilih dan dijadikan sebagai ajang proses pemberdayaan masyarakat. Hal ini selaras dengan adanya pemikiran bahwa dengan melembagakan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat, maka akan banyak potensi yang dimiliki oleh masyarakat yang selama ini belum dikembangkan secara maksimal. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat diarahkan untuk dapat mengembangkan potensi-potensi tersebut menjadi bermanfaat bagi kehidupannya. Agar mampu mengembangkan potensi-potensi tersebut, maka diupayakan kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan di PKBM bervariasi sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
C. Konsep PKBM
Pada tingkat kongkrit, konsep merupakan suatu gambaran mental dari beberapa objek atau kejadian yang sesungguhnya. Pada tingkat abstrak dan komplek, konsep merupakan sentesis sejumlah kesimpulan yang telah ditarik dari pengalaman dengan objek atau kejadian tertentu. Pusat kegiatan belajar masyarakat atau PKBM, merupakan sebuah lembaga pendidikan yang lahir dari pemikiran tentang kesadaran akan pentingnya kedudukan masyarakat dalam proses pembangunan pendidikan nonformal. Oleh sebab itu berdirinya PKBM ditengah masyarakat diharapkan mampu menjadi tulang punggung bagi terjadinya proses pembangunan melalui pemberdayaan potensi-potensi yang ada dimasyarakat.
Menurut Sihombing, bahwa PKBM merupakan salah satu alternative yang dapat dipilih dan dijadikan ajang pemberdayaan masyarakat. Hal ini selaras dengan pemikiran bahwa dengan melambangkan PKBM, akan banyak potensi yang selama ini tidak tergali akan dapat digali , ditumbuhkan, dimanfaatkan, dan didayagunakan melalui pendekatan-pendekatan budaya yang persuasif.
PKBM sebagai salah satu mitra kerja pemerintahan dalam mencerdaskan kehidupan mayarakat melalui program-program pendidikan nonformal, diharapkan mampu menumbuhkan masyarakat belajar sehingga pada akhirnya akan meningkatkan kemandirian, keberdayadidikan, an inovatif dalam mencari berbagai informasi baru dalam rangka meningkatkan kehidupannya. Sebagai sebuah pusat pembelajaran, PKBM dbangun atas dasar kebutuhan masyarakat dengan menitik beratkan pada swadaya, gotong royong dan partisipasi masyarakat itu sendiri. Terutama berkaitan dengan pentingnya peningkatan kemampuan, keterampilan dan kecerdasan anggota masyarakat.
D. Tujuan PKBM
Ada tiga tujuan penting dalam rangka pendirian dan pengembangan PKBM:
1. Memberdayakan masyaraka agar mampu untuk mandiri
2. Meningkatkan kualitas hidup masyarakat baik dari segi social maupun ekonomi
3. Meningkatkan kepekaan terhadap masalah-masalah yang terjadi di lingkungannya sehingga mampu memecahkan permasalahan tersebut
Menurut Sihombing dalam bukunya Pendidikan Luar Sekolah Kini dan Masa Depan (1999) menyebutkan, bahwa tujuan pelembagaan PKBM adalah untuk menggali, menumbuhkan, mengembangkan dan memanfaatkan seluruh potensi yang ada di masyarakat, untuk sebesar-besarnya pemberdayaan masyarakat itu sendiri.
E. Fungsi PKBM
Berdasarkan peran ideal PKBM ada beberapa fungsi yang dapat dijadikan acuan, dimana fungsi-fungsi tersebut berhubungan satu sama lain secara terpadu. Dimana fungsi-fungsi tersebut merupakan karakteristik dasar yang harus menjadi acuan pengembangan kelembagaan PKBM sebagai wadah pembelajaran masyarakat.
1. Sebagai tempat masyarakat belajar, PKBM merupakan tempat masyarakat memperoleh berbagai ilmu pengetahuan dan bermacam ragam keterampilan fungsional sesuai dengan kebutuhannya, sehingga masyarakat berdaya dalam meningkatkan kualitas dan kehidupannya.
2. Sebagai tempat tukar belajar, PKBM memiliki fugsi sebagai tempat terjadinya pertukaran berbagai informasi (pengalaman), ilmu prngetahuan dan keterampilan antar warga belajar, sehingga antara warga belajar yang satu dengan yang lainnya bisa saling mengisi. Sehingga setiap warga belajar sangat memungkinkan dapat berperan sebagai sumber belajar bagi warga belajar lainnya.
3. Sebagai pusat informasi, PKBM harus mampu berfungsi sebagai bank informasi, artinya PKBM dapat dijadikan tempat menyimpan berbagai informasi pengetahuan kemudian disalurkan kepada seluruh masyarakat atau warga yang membutuhkan.
4. Sebagai pusat penelitian masyarakat, teritama dalam pengembangan pendidikan nonformal. PKBM berfungsi sabagai tenpat menggali, mangkaji, menganalisa berbagai persoalan atau permasalahan dalam bidang pendidikan nonformal dan kererampilan baik yang berkaitan dengan program yang dikembangkan di PKBM..

F. Program-program yang dikembangkan PKBM
Dalam hal ini, ada beberapa program yang dikembangkan PKBM diantaranya, bidang pendidikan nonformal, bidang pendidikan ini merupakan program andalan PKBM saat ini. Terutama program-program yang menjadi kebijakan pemerintah, diantaranya:
1) Program keaksaraan fungsional
Program ini bertujuan untuk membelajarkan masyarakat, agar dapat memanfaatkan kemampuan dasar baca, tulis, hitung dll.
2) Pengembangan anak usia dini
Program ini bertujuan untuk meningkatkan hasil kualitas karena sampai saat ini perhatian terhadap pendidikan usia dini sangat rendah.
3) Program keaksaraan
Program kesetaraan meliputi program kelompok belajar paket A setara SD/ MI, kelompok belajar paket B setara SMP/ MTS dan kelompok belajar paket C setara dengan SMA/ MA.
4) Kelompok belajar usaha atau KBU
Memalui program usaha kerja ini diharapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap serta kemampuan warga belajar akan semakin bertambah atau semakin meningkat, terutama bagi warga yang belum memiliki sumber mata pencaharian yang tetap dan berpenghasilan yang rendah. Program kelompok belajar usaha diperuntukkan bagi masyarakat yang minimal telah bebas buta aksara atau selesai program kesetaraan paket A.
5) Pengembangan program magang pada PKBM
Program magang merupakan program khusus yang dikembangkan PKBM, program magang tidak dilaksanakan oleh semua PKBM, karena program ini menuntut kesiapan dan kerjasama dengan mitra industri tertentu. Program pembelajaran magang biasa disebut dengan belajar sambil bekerja. Oleh karena itu program ini cenderung menyatukan antara pendidikan dan pelatihan atau menyatukan antara peningkatan pengetahuan dan dalam melakukan suatu keahlian sehingga menjadi rangkaian pekerjaan yang saling berhubungan.
6) Khursus keterampilan
Program khursus keterampilan dalam PKBM merupakan program yang tidak dapat dipisahkan dengan program magang. Kedua program ini pengembangannya saling terkait satu sama lainnya, dimana khursus keterampilan yang dikembangkan dalam PKBM bisa dilakukan melalui pendekatan magang. Adapun keterampilan yang teridentifikasi dan dikembangkan dalam PKBM adalah keterampilan komputer, keterampilan bahasa, khursus keterampilan mekanik otomotif, tata kecantikan dll.
7) Program PKBM diluar Program Depdiknas
Disamping program-program pendidikan nonformal ada beberapa PKBM yang mengembangkan program pembangunan masyarakat, program ini biasanya lebih diarahkan pada peningkatan usaha / ekonomi atau peningkatan pendapatan warga belajar masyarakat seperti pembangunan usaha tanaman hias, kegiatan penggemukan sapid an kambing dan pengembangan usaha rumput laut, dimana program-program tersebut tidak dikaitkan denagn kegiatan pendidikan nonformal, tetapi lebih terfokus pada kegiatan ekonomi dan pembangunan masyarakat.
G. Pengelolaan PKBM
1. Pengelolaan sumberdaya Manusia
Pengaruh perubahan masyarakat yang sangat cepat menuntut konsep pengelolaan PKBM yang membuka diri terhadap tuntutan perubahan dan berupaya menyusun strategi yang selaras dengan perubahan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat (lingkungan), terutama lingkungan masyarakat yang secara langsung bersinggungan dengan pengembangan PKBM. Pengelolaan PKBM yang selaras dengan perubahan yang terjadi sangat bergantung kepada kemampuan pengelola (penyelenggara) dalam menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan masyarakat dimana PKBM dikembangkan.
Pengelola PKBM harus mampu menyusun strategi yang ampuh terutama dalam rangka mengatasi setiap perubahan yang terjadi. Untuk itu diperlukan pengetahuan tentang perilaku manusia dan kemampuan untuk mengelolanya sehingga program yang dikembangkan PKBM efektif dan efisien.
2. Strategi pengembangan Pengelolaan program PKBM
Untuk menghadapi perubahan pengelolaan program PKBM, maka disusunlah strategi yang baik untuk menilai hal perilaku dan hal kompetensi sumber daya manusia yang bertujuan agar peran sumber daya manusia dapat meningkatkan keunggulan kompetitif PKBM serta dapat diperoleh peran sumberdaya manusia strategis. Adapun strategi sumber daya manusia yang dapat mengarahkan PKBM kearah yang professional, antara lain:
a) Strategi rekrutmen dan seleksi
Strategi ini bergantung kepada PKBM yang didalamnya terdapat factor-faktor seperti tipe pengelola yang dibutuhkan, jumlah anggaran yang tersedia, apakah tujuan PKBM termasuk memperkuat program atau produk dan jasanya.
b) Strategi perencanaan sumber daya manusia
Seperti perencanaan jangka pendek dan jangka panjang, dan PKBM dapat memilih strategi perencanaan mana yang cocok dan sesuai dengan kebutuhan program.
c) Strategi pelatihan dan pengembangan
Dengan strategi ini dapat dilihat secara spesifik level keahlian dari staf yang dibutuhkan PKBM sehingga staf tersebut dapat mengelola dan mengikuti perubahan program dalam pemahaman menajemen.
d) Strategi penilaian kenerja
Penilaian ini sangat dibutuhkan untuk hasil evaluasi, salah satunya dalam masalah pengelolaan PKBM dan tingkat kemampuan control program dari masing-masing penanggung jawab program.
e) Strategi Kompensasi
PKBM akan berkembang lebih professional dan bisa bersaing secara kompetitif apabila bisa ditekankan pada kompetensi individual dan kreatifitas serta menggunakan honor atau gaji yang didasarkan atas pengetahuan dan keahlian masing-masing.
f) Strategi manajemen staf/ karyawan
Strategi ini dapat digunakan untuk penetapan kebijakan yang jelas terhadap staf dan pengelola terutama dalam tugas dan tanggungjawab masing-masing, kreatifitas dan proaktif terhadap pengembangan program dan masalah.

Tinggalkan komentar

Filed under All Daftar, Pendidikan Luar Sekolah