Category Archives: Masail FIqliyah

Hukum bernyanyi dalam masjid

oleh
steofandi fizari
A. Pengertian Seni Musik
Dalam Ensiklopedi Indonesia disebutkan bahwa seni adalah penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, yang dilahirkan dengan perantaraan alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengar (seni suara), indera pendengar (seni lukis), atau dilahirkan dengan perantaraan gerak (seni tari, drama) (Al-Baghdadi, 1991 : 13).
Adapun seni musik (instrumental art) adalah seni yang berhubungan dengan alat-alat musik dan irama yang keluar dari alat-alat musik tersebut. Seni musik membahas antara lain cara memainkan instrumen musik, cara membuat not, dan studi bermacam-macam aliran musik. Seni instrumentalia, seperti telah dijelaskan di muka, adalah seni yang diperdengarkan melalui media alat-alat musik. Sedang seni vokal, adalah seni yang diungkapkan dengan cara melagukan syair melalui perantaraan oral (suara saja) tanpa iringan instrumen musik. Seni vokal tersebut dapat digabungkan dengan alat-alat musik tunggal (gitar, biola, piano, dll) atau dengan alat-alat musik majemuk seperti band, orkes simfoni, karawitan, dan sebagainya. (Al-Baghdadi, 1991 : 13-14).
Menurut Adjie Esa Poetra (2004:10) seni musik bukanlah sesuatu yang langsung diciptakan Tuhan, melainkan merupakan bagian dari kreativitas peradaban manusia. Jika disuatu ketika seni musik digunakan sebagai media dalam mencintai dan mengangungkan asma Allah swt tidak berarti musik harus dipandang sebagai asma Allah. Kedati demikian, seni musik bukanlah sesuatu yang memiliki sifat rendah, sebab pada hakikatnya Allah swt selain yang menciptakan juga menyukai keindahan.
Untuk lebih fokus dalam tulisan ini akan dibahas dalam konteks hukum bernyanyi secara umum baik itu menggunakan alat musik maupun sebaliknya di dalam masjid. Jadi dari pengertian seni musik di atas paling tidak ada empat komponen yang tidak bisa dipisahkan yaitu, penyanyi,instrumen (alat musik), bait lagu, waktu dan tempat.
B. Pengertian Masjid
Menurut bahasa masjid berarti tempat sujud (tempat shalat). Dalam pengertian ini seluruh muka bumi ini adalah masjid. Rasulullah SAW bersabda:”dimana saja engkau berada, jika wakut shalat tiba dirikanlah shalat, karena disitupun masjid”(HR.Muslim)
Menurut syari’i masjid adalah sebuah bangunan, tempat ibadaha umat Islam, yang digunakan oleh umat Islam terutama sebagai tempat dilangsungkannya shalat berjamaah.
Menurut Wahbah Az-Zuhaili dinding masjid, baik sebelah luar maupun sebelah dalam, dianggap sebagai bagian dari masjid yang harus dipelihara kehormatannya. (DEPAG.2000:15-16)
Adapun fungsi masjid penulis paparkan sebagaimana dalam (DEPAG,2000:19-21) sebagai berikut:
1. Sosial
Di dalam masjid kaum muslim menemukan ketenangan hidup dan kesucian jiwa, karena di sana terdapat majelis-majelis dan forum-forum terhormat. Masjid bagi umat Islam merupakan institusi yang paling penting untuk membina suatu masyararakat Islam. Di masjidlah rasa kestauan dan persatuan umat islam ditumbuhkan.
2. Pendidikan
Masjid juga dipergunakan untuk mengadakan halaqah ilmiyah di masjid. Ulama sepakat bahwa disunahkan mengadakan halaqah ilmiyah di masjid. Dalam hal ini, hadits-hadits yang mendorong untuk mengadakan halaqh ilmiyah banyak jumlahnya, di antaranya abdullah bin Amr bin As (sabahabat; 65 H)
“ Rasulullah SAW melihat dua majelis di majidnya, yang pertama berdoa dan bermunajat kepada Allah yang kedua belajar dan mengajar fiqih. Rasulullah SAW kemudian bersabda: kedua majelis itu baik tetapi salah satunya di antaranya lebih utama”.
3. Pemersatu umat
Masjid berfungsi sebagai alat pemersatu, sebagaiman Rasulllah SAW mempersatukan Kabilah Auz dan Khazraj di satu pihak dengan Muhajirin di pihak lain. Rasulullah SAW mempersatukan umat Islam di masjid Nabawi.
4. Agama
Di masjid, semua strata masyarakat bertemu dalam derajat yang sama, karena Allah SWT tidak memandang strata masyarakat di dunia. Bagi Allah SWT, yang paling terhormat di antara mereka adalah mereka yang paling takwa. Dalam bidang keagamaan, masjid berfungsi sebagai tempat melakukan shalat, yang dalam hadits disebutkan sebagai tiang agama, baik wajib maupun sunnah.
Di samping memahami peran dan fungsi masjid yang sedemikian penting dan besar bagi umat Islam, kita juga sangat dituntut untuk mengetahui dan merealisir adab terhadap masjid. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Ahmad Yani dan Achmad Satori Ismail (98-101) yaitu:

a. Membangun masjid ikhlas karena Allah
b. Rajin pergi ke masjid
c. Menjaga kebersihan masjid
d. Pergi ke masjid menggunakan pakaian yang baik
e. Masuk ke masjid menjaga kebersihan bau-bau yang tidak sedap
f. Berdoa ketika berangkat ke masjid
g. Berdoa ketika masuk masjid
h. Melaksanakan shalat tahyul masjid

C. Pendapat Tentang bernyanyi/syair
Dalam uraian ini penulis paparkan pendapat yang melarang dan memperbolehkan tentang nyanyian sebagai berikut:
1. yang melarang nyanyian dan main musik
Imam Ibnu Al-Jauzi, Imam Qurthubi, Asy-Syaukani telah mencantumkan berbagai dalil tentang haramnya nyanyian dan penggunaan alat-alat musik, antara lain sebagai berikut:
• QS. Luqman:6
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna (lahw-ul-hadis) untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan”
• QS. An-Najm:59-61
“Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini?. Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis?. Sedang kamu melengahkan(nya) (saamiduun) ?”
• Hadis Bukhari yang diriwayatkan dari Abu Malik Al-Asy’ari
Sesungguhnya akan terdapat di kalangan umatku golongan yang menghalalkan zina, sutra, arak dan alat permainan (musik). Kemudian segolongan (dari kaum Muslimin) akan pergi ke tebing bukit yang tinggi. Lalu para pengembala dengan ternak kambingnya mengunjungi golongan tersebut. Lalu mereka didatangi oleh seorang fakir untuk meminta sesuatu. Ketika itu mereka kemudian berkata: “Datanglah kepada kami esok hari.” Pada malam hari Allah membinasakan mereka, dan menghempaskan bukit itu ke atas mereka. Sisa mereka yang tidak binasa pada malam tersebut ditukar rupanya menjadi monyet dan babi hingga hari kiamat.”
• Hadis riwayat Imam Tirmidzi dari Jabir bin Addillah dengan sanad Hasan Shahih
“Pada suatu ketika Rasulullah s.a.w. memegang tangan Abd-ur-Rahman bin Auf. Beliau mengajaknya bersama-sama untuk membesuk (pay visit to patient) Ibrahim (anak beliau) yang sedang sakit. Ketika itu beliau melihat anaknya dalam keadaan sakaratul maut. Lalu Rasulullah s.a.w. mengangkat anaknya dan memangkunya sambil menangis. Melihat hal ini Abd-ur-Rahman bin Auf berkata: Adakah engkau, ya Rasulullah menangis? Padahal engkau melarang kaum Muslimin melakukannya.”
2. yang membolehkan nyanyian dan main musik
Imam Malik, Imam Ja’far, Imam Al-Ghazali, dan Imam Abu Daud Azh-Zhahiri telah mencantumkan berbagai dalil tentang bolehnya nyanyian dan menggunakan alat-alat musik. Alasan-alasan mereka antara lain:
• QS. Luqman:19
…وَ اغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الأَصْوَاتِ لَصَوْتِ الْحَمِيْرِ
“….dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah bunyi kelaedai.” (31:19).
Imam Al-Ghazali mengambil pengertian ayat ini dari mafhum mukhalafah. Allah s.w.t. memuji suara yang baik. Dengan demikian dibolehkan mendengarkan nyanyian yang baik.
• Hadis Buhkari, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lain-lain dari Rubayyi’ binti Mu’awwiz ‘Afra.
Rubayyi’ berkata bahwa Rasulullah s.a.w. datang ke rumah pada pesta pernikahannya (Pesta yang dimaksud di sini adalah pesta pernikahan yang didalamnya ada lelaki dan perempuan, tetapi dipisahkan jaraknya. Di dalam Islam ada tiga pesta, yakni (1) pesta pertunangan, (2) pesta pernikahan, (3) pesta percampuran. Lalu Nabi s.a.w. duduk di atas.tikar. Tak lama kemudian beberapa orang dari jariah (wanita budak)nya segera memukul rebana sambil memuji-muji (dengan menyenandungkan) untuk orang tuanya yang syahid di medan perang Badar. Tiba-tiba salah seorang dari jariah itu berkata: “Di antara kita ini ada Nabi s.a.w. yang dapat mengetahui apa yang akan terjadi pada esok hari.” Tetapi Rasulullah s.a.w. segera bersabda
لاَ تَقُوْلِي هكَذَا وَ قُوْلِيْ كَمَا كُنْتِ تَقُوْلِيْنَ
“Tinggalkanlah omongan itu. Teruskanlah apa yang kamu (nyanyikan) tadi.
• Hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah r.a.
“Pada suatu hari Rasulullah masuk ke tempatku. Ketika itu disampingku ada dua gadis perempuan budak yang sedang mendendangkan nyanyian (tentang hari Bu’ats) (Bu’ats adalah nama salah satu benteng untuk Al-Aws yang jaraknya kira-kira dua hari perjalanan dari Madinah. Di sana pernah terjadi perang dahsyat antara kabilah Aus dan Khazraj tepat 3 tahun sebelum hijrah.) Kulihat Rasulullah s.a.w. berbaring tetapi dengan memalingkan mukanya. Pada saat itulah Abu Bakar masuk dan ia marah kepadaku. Katanya: “Di tempat / rumah Nabi ada seruling setan?”. Mendengar seruan itu Nabi lalu menghadapkan mukanya kepada Abu Bakar seraya berkata:
دَعْهُمَا يَا أَبَا بَكْرٍ
“Biarkanlah keduanya, hai Abu Bakar.”
Tatkala Abu Bakar tidak memperhatikan lagi maka aku suruh kedua budak perempuan itu keluar. Waktu itu adalah hari raya di mana orang-orang Sudan sedang menari dengan memainkan alat-alat penangkis dan senjata perangnya (di dalam masjid).”
Dari uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa hukum bernyanyi /syair baik menggunakan alat musik maupun sebaliknya. Hal itu terkait ada tiga aspek yang perlu diperhatikan yaitu berdasarkan konten (isi), waktu, dan tempat. Hukumnya boleh jika kontennya berisi tentang memotivasi, hal-hal mubah yang tidak bertentangan dengan akidah, sedangkan berdasarkan waktu dan tempat seperti acara pernikanhan, mendapatkan rezeki (syukuran), tidak menggangu orang lain, tidak melalaikan / menyita waktu ibadah.
D. Hukum Menyanyi dalam Masjid
Masjid adalah tempat yang dipersiapkan selamanya untuk shalat yang kemudian dikhususkan lagi baik yang dibangun dengan menggunakan batu, tanah, semen atau pun yang belum dibangun. Berbeda halnya dengan mushalla yang tidak selalu disiapkan untuk shalat. Seseorang bisa shalat di situ jika tiba-tiba ia mendapatkan waktu shalat dan tempat ini tidak disebut dengan masjid, demikian menurut Syeikh Ibnu al Utsaimin.
Syaikh Isma’il az-Zain menjelaskan adanya kebolehan melantunkan nyanyian/syair yang berisi puji-pujian, nasihat, pelajaran tata krama, dan ilmu yang bermanfaat di dalam masjid. Hal ini beliau sebagaimana bersumber dalam Dari Sa’id bin Musayyab, ia berkata, “Suatu ketika Umar berjalan kemudian bertemu dengan Hassan bin Tsabit yang sedang melantunkan syair di masjid. Umar menegur Hassan, namun Hassan menjawab, ‘aku telah melantunkan syair di masjid yang di dalamnya ada seorang yang lebih mulia darimu.’ Kemudian ia menoleh kepada Abu Hurairah. Hassan melanjutkan perkataannya. ‘Bukankah engkau telah mendengarkan sabda Rasulullah SAW, jawablah pertanyaanku, ya Allah mudah-mudahan Engkau menguatkannya dengan Ruh al-Qudus.’ Abu Hurairah lalu menjawab, ‘Ya Allah, benar (aku telah medengarnya).’ ” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ahmad).
Menurut Sayyid Qutub yang dimaksud dengan syair/bernyanyi adalah membaca syair yang mengadung ejekan terhadap muslim, pujian terhadap orang yang zalim, kata-kata cabul dan sebagainya. Akan tetapi, apabila syair itu mengandung hikmah, pujian terhadap Islam, anjuran berbuat kebaikan, maka seseorang tidak dilarang membaca syair-syar’i semacam itu.
Imām Balqinī berpendapat tari-tarian yang dilakukan di hadapan orang banyak tidak harām dan tidak pula makrūh karena tarian itu hanya merupakan gerakan-gerakan dan belitan serta geliat anggota badan. Ini telah dibolehkan Nabi s.a.w. kepada orang-orang Habsyah di dalam masjid pada hari raya.
Sedangkan menurut Sayid Sabiq berlasan pada pengalaman Hasan bin Ali bin Abi Thalib yang membaca syair di dalam masjid tetapi tidak dilarang oleh Rasulullah SAW. (DEPAG,2000:93).
Dari pendapat di atas hukum menyanyi di dalam masjid adalah diperbolehkan, selama tidak menggangu aktivitas jamaah yang berada di dalam masjid. Sedangkan bernyanyi di dalam masjid menggunakan alat musik seperti rebana hukum asalnya diperbolehkan. Sedangkan apabila bernyanyi di dalam masjid menggunakan alat musik menurut penulis kurang etis alangkah baiknya di komplek masjid disediakan ruangan khusus/aula untuk kegiatan nyanyian menggunakan alat musik.


KESIMPULAN

Bahwa hukum menyanyi termasuk dalam masalah khilafiyah. Ada yang melarang dan ada yang memperbolehkannya. Pendapat para ulama tersebut memiliki dalilnya masing-masing. Hadits yang melarang nyanyian berkaitan dengan nyanyian secara umum. Sedangkan hadits-hadits yang membolehkannya bersifat khusus, yakni terbatas pada tempat, kondisi, atau peristiwa tertantu. Misalnya, hari raya, pesta pernikahan, pulang kampungnya seseorang ke negeri kelahirannya, dan sebagainya. Dalam seni musik paling tidak ada empat komponen yang tidak bisa dipisahkan yaitu, penyanyi,instrumen (alat musik), bait lagu, waktu dan tempat.
Hukum bernyanyi /syair di dalam masjid sebagaimana yang diungkapkan oleh Syaikh Isma’il az-Zain, Sayyid Qutub, Imām Balqinī,Sayid Sabiq yaitu diperbolehkan asalkan konteksnya nyanyian bukan seperti nyanyian konser di lapangan terbuka ataupun gedung pada umumnya. Bernyanyi menggunakan alat musik hukumnya diperbolehkan namun sebagian ulama melarang alat musik tertentu untuk digunakan. Dan bernyanyi menggunakan alat musik misalkan rebana di dalam masjid adalah jika dilihat hukum asalnya diperbolehkan namun menurut hemat penulis alangkah baiknya dapat mengadakannya di luar masjid saja.


DAFTAR PUSTAKA

Adjie Esa Poetra. 2004. Revolusi Nasyid. Bandung: MQS Publishing.
Ahmad Yani dan Achmad Satori Ismail. Menuju Masjid Ideal. Jakarta Selatan: LP2SI Haramain.
Al-Baghdadi, Abdurrahman. 1991. Seni Dalam Pandangan Islam. Jakarta : Gema Insani Press).
DEPAG Pusat. 2000. Fiqih Masjid. Jakarta: KBM Pusat
http://www.musikdebu.com/seni/babIV.htm
http://koprasimusliminmelaka.blogspot.com/2011/06/hukum-bermain-muzik-dalam-masjid-atau.htmlassalamualaikum ustad!
http://seni.musikdebu.com/

Iklan

7 Komentar

Filed under All Daftar, Masail FIqliyah

Operasi Plastik dalam Islam

Komentar Dinonaktifkan pada Operasi Plastik dalam Islam

Filed under All Daftar, Masail FIqliyah