Category Archives: Fiqih

ZAKAT

Sekolah Menengah Atas Kelas XI Semester II

PETA KONSEP

  1. PENGERTIAN
  2. DALIL TENTANG ZAKAT
  3. SYARAT-SYARAT WAJIB ZAKAT
  4. MACAM-MACAM ZAKAT
  5. HIKMAH ZAKAT
  6. ANALISIS
  7. KESIMPULAN
  1. A. Pengertian

Menurut Hasan Rifa’i Al Faridy (www.dompetdhuafa.or.id/zakat), secara bahasa zakat berarti berarti : tumbuh; berkembang; kesuburan atau bertambah (HR. At-Tirmidzi) atau dapat pula berarti membersihkan atau mensucikan (QS. At-Taubah : 10).

Sedangkan dalam Republika Newsroom (2009), zakat (Pajak dalam Islam) adalah item ke-tiga dari rukun Islam. Secara harfiah Zakat berarti “Tumbuh”, “Berkembang”, “Menyucikan” atau “Membersihkan”. Sedangkan secara terminologi syari’ah, Zakat merujuk pada aktivitas memberikan sebagian kekayaan dalam jumlah dan perhitungan tertentu untuk orang-orang tertentu sebagaimana ditentukan. (www.republika.co.id).

Menurut Hukum Islam (istilah syara’), zakat adalah nama bagi suatu pengambilan tertentu dari harta yang tertentu, menurut sifat-sifat yang tertentu dan untuk diberikan kepada golongan tertentu (Al Mawardi dalam kitab Al Hawiy).

Dengan demikian, zakat adalah memberikan atau mengeluarkan sebagian harta yang telah ditentukan ukurannya kepada orang yang berhak menerimanya, guna membersihkan harta kekayaan yang dimiliki.

  1. B. Dalil Tentang Zakat

Zakat merupakan salah satu rukun Islam, dan menjadi salah satu unsur pokok bagi tegaknya syariat Islam. Oleh sebab itu hukum zakat adalah wajib (fardhu) atas setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Kewajiban mengeluarkan zakat ini telah ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an surah al-Baqarah aya 43, sebagai berikut.

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.”

(Hasan Rifa’i Al Faridy, www.dompetdhuafa.or.id).

Zakat termasuk dalam kategori ibadah (seperti shalat, haji, dan puasa) yang telah diatur secara rinci dan paten berdasarkan Al-Qur’an dan As Sunnah, sekaligus merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang dapat berkembang sesuai dengan perkembangan ummat manusia. selain itu, zakat juga merupakan suatu ibadah yang dapat membersihkan diri yaitu dengan disucikannya harta kita daripada kekikiran terhadap sesama manusia.

Hal ini termaktub dalam firman Allah SWT, Al-Qur’an surah at-Taubah ayat 103.

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

  1. C. Syarat-Syarat Wajib Zakat

Dalam melaksanakan zakat, tentunya ada beberapa syarat wajib. Yaitu:

  1. Muslim.

Perintah mengeluarkan zakat pada dasarnya wajib bagi semua manusia. namun syarat muslim di sini adalah merupakan penegasan kepada umat Muhammad saja, akan pentingnya mengeluarkan zakat.

  1. Aqil

Seorang muslim yang belum mengetahui dan mengerti tentang kewajiban suatu agama, tidak diwajibkan untuk mengeluarkan zakat.

  1. Baligh

Baligh adalah orang yang sudah dewasa artinya orang yang sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Paling tidak usianya sudah usia remaja (dewasa dini).

  1. Memiliki harta yang mencapai nishab

Harta yang mencapai nisab maksudnya adalah harta yang telah mencapai ukuran dan ketentuan untuk diberikan.

  1. D. Macam-Macam Zakat

Dalam pembahasana ini, zakat dapat diklasipikasikan menjadi tiga jenis, yaitu:

  1. 1. Zakat Mal (harta)

Hasan Rifa’i Al Faridy mengatakan bahwa menurut bahasa (lughat), harta adalah segala sesuatu yang diinginkan sekali sekali oleh manusia untuk memiliki, memanfaatkan dan menyimpannya. Kemudian menurut syar’a, harta adalah segala sesuatu yang dapat dimiliki (dikuasai) dan dapat digunakan (dimanfaatkan) menurut ghalibnya (lazim).

(www.dompetdhuafa.or.id).

Sesuatu dapat disebut dengan maal (harta) apabila memenuhi 2 (dua) syarat, yaitu:

  1. Dapat dimiliki, disimpan, dihimpun, dikuasai
  2. Dapat diambil manfaatnya sesuai dengan ghalibnya. Misalnya rumah, mobil, ternak, hasil pertanian, uang, emas, perak, dll.

Ada  beberapa syarat kekayaan yang wajib dizakati, yaitu:

  1. Milik Penuh (Almilkuttam)

Harta tersebut berada dalam kontrol dan kekuasaanya secara penuh, dan dapat diambil manfaatnya secara penuh. Harta tersebut didapatkan melalui proses pemilikan yang dibenarkan menurut syariat islam, seperti : usaha, warisan, pemberian negara atau orang lain dan cara-cara yang sah. Sedangkan apabila harta tersebut diperoleh dengan cara yang haram, maka zakat atas harta tersebut tidaklah wajib, sebab harta tersebut harus dibebaskan dari tugasnya dengan cara dikembalikan kepada yang berhak atau ahli warisnya.

  1. Berkembang
    Harta tersebut dapat bertambah atau berkembang bila diusahakan atau mempunyai potensi untuk berkembang.
  2. Cukup Nisab

Artinya harta tersebut telah mencapai jumlah tertentu sesuai dengan ketetapan syara’. sedangkan harta yang tidak sampai nishabnya terbebas dari Zakat

  1. Lebih Dari Kebutuhan Pokok (Alhajatul Ashliyah)

Kebutuhan pokok adalah kebutuhan minimal yang diperlukan seseorang dan keluarga yang menjadi tanggungannya, untuk kelangsungan hidupnya. Artinya apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi yang bersangkutan tidak dapat hidup layak. Kebutuhan tersebut seperti kebutuhan primer atau kebutuhan hidup minimum (KHM), misal, belanja sehari-hari, pakaian, rumah, kesehatan, pendidikan, dsb.

  1. Bebas dari hutang

Orang yang mempunyai hutang sebesar atau mengurangi senisab yang harus dibayar pada waktu yang sama (dengan waktu mengeluarkan zakat), maka harta tersebut terbebas dari zakat.

  1. Berlalu Satu Tahun (Al-Haul)

Maksudnya adalah bahwa pemilikan harta tersebut sudah belalu satu tahun. Persyaratan ini hanya berlaku bagi ternak, harta simpanan dan perniagaan. Sedang hasil pertanian, buah-buahan dan rikaz (barang temuan) tidak ada syarat haul.

Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi (2007: 23-44) mengelompokkan   jenis  harta yang wajib dizakatkan sebagai berikut.

  1. Emas dan perak

Nishab emas adalah 20 dinar (85 gram emas murni) dan perak adalah 200 dirham (setara 672 gram perak). Artinya bila seseorang telah memiliki emas sebesar 20 dinar atau perak 200 dirham dan sudah setahun, maka ia telah terkena wajib zakat, yakni sebesar 2,5 %.

Demikian juga segala macam jenis harta yang merupakan harta simpanan dan dapat dikategorikan dalam “emas dan perak”, seperti uang tunai, tabungan, cek, saham, surat berharga ataupun yang lainnya. Maka nishab dan zakatnya sama dengan ketentuan emas dan perak.

  1. Zakat pertanian dan buah-buahan

Nishab zakat pertanian dan buah-buahan yang pengairannya dari sungai dan hujan, maka zakatnya sepersepuluh (10 %) adalah Sedangkan yang pengairannya dengan menggunakan tenaga unta untuk mengeluarkan air dari sumur atau alat lain, maka zakatnya adalah seperdua puluh      (5 %).

  1. Zakat peternakan

1)        Zakat Sapi

Setiap 40 ekor, nishabnya adalah 1 ekor sapi betina dewasa. Dan setiap 30 ekor nishabnya 1 ekor anak sapi jantan atau betina.

2)        Zakat Kambing

Jika jumlah kambing yang dipelihara di lahan umum telah mencapai 40 hingga 120 ekor, maka nishabnya adalah seekor kambing. Bila jumlahnya mencapai 120 hingga 200 ekor, maka nishabnya sebanyak 2 ekor. Bila jumlah mencapai 200 hingga 300 ekor maka nishabnya sebanyak3 ekor. Bila jumlah lebih dari 300 ekor, maka pada setiap kelipatan 100 nishabnya 1 ekor kambing. Jika jumlah tidak sampai 40 ekor maka tidak wajib zakat, kecuali jika pemilik bersedekah sukarela.

  1. Zakat harta karun (rikaaz)

Zakat harta karun tidak ada haul (ketetapan waktu). Nishabnya sebesar seperlima (20 %).

  1. 2. Zakat Profesi

Zakat profesi adalah zakat dari hasil usaha. Lebih lanjut Hasan Rifa’i Al Faridy mengatakan bahwa zakat profesi memang tidak dikenal dalam khasanah keilmuan Islam, sedangkan hasil profesi yang berupa harta dapat dikategorikan ke dalam zakat harta (simpanan/kekayaan). Dengan demikian hasil profesi seseorang apabila telah memenuhi ketentuan wajib zakat maka wajib baginya untuk menunaikan zakat. (www.dompetdhuafa.or.id)

Dan anjuran mengeluarkan zakat profesi ini adalah sebagaimana Firman Allah SWT:

“Wahai orang-orang yang beriman, infaqkanlah (zakat) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik.” (QS Al Baqarah 267)

Hadist Nabi SAW:

Bila zakat bercampur dengan harta lainnya maka ia akan merusak harta itu. (HR. AL Bazar dan Baehaqi)

Hasil Profesi Hasil profesi (pegawai negeri/swasta, konsultan, dokter, notaris, dll) merupakan sumber pendapatan (kasab) yang tidak banyak dikenal di masa salaf (generasi terdahulu), oleh karenanya bentuk kasab ini tidak banyak dibahas, khusunya yang berkaitan dengan “zakat”. Lain halnya dengan bentuk kasab yang lebih populer saat itu, seperti pertanian, peternakan dan perniagaan, mendapatkan porsi pembahasan yang sangat memadai dan detail. Meskipun demikian bukan berarti harta yang didapatkan dari hasil profesi tersebut bebas dari zakat, sebab zakat pada hakekatnya adalah pungutan harta yang diambil dari orang-orang kaya untuk dibagikan kepada orang-orang miskin diantra mereka (sesuai dengan ketentuan syara’). Dengan demikian apabila seseorang dengan hasil profesinya ia menjadi kaya, maka wajib atas kekayaannya itu zakat, akan tetapi jika hasilnya tidak mencukupi kebutuhan hidup (dan keluarganya), maka ia menjadi mustahiq (penerima zakat). Sedang jika hasilnya hanya sekedar untuk menutupi kebutuhan hidupnya, atau lebih sedikit maka baginya tidak wajib zakat. Kebutuhan hidup yang dimaksud adalah kebutuhan pokok, yakni, papan, sandang, pangan dan biaya yang diperlukan untuk menjalankan profesinya.

Contoh:

Akbar adalah seorang karyawan swasta yang berdomisili di kota Bogor, memiliki seorang istri dan 2 orang anak. Penghasilan bersih perbulan Rp. 1.500.000,-.

Bila kebutuhan pokok keluarga tersebut kurang lebih Rp.625.000 per bulan maka kelebihan dari penghasilannya = (1.500.000 – 625.000) = Rp. 975.000 perbulan.

Apabila saldo rata-rata perbulan 975.000 maka jumlah kekayaan yang dapat dikumpulkan dalam kurun waktu satu tahun adalah Rp. 11.700.00 (lebih dari nishab). Dengan demikian Akbar berkewajiban membayar zakat sebesar 2.5% dari saldo.

Dalam hal ini zakat dapat dibayarkan setiap bulan sebesar 2.5% dari saldo bulanan atau 2.5 % dari saldo tahunan.

  1. 3. Zakat Fitrah

Setiap menjelang Idul Fitri orang Islam diwajibkan membayar zakat fitrah sebanyak 3 liter dari jenis makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Hal ini ditegaskan dalam hadist dari Ibnu Umar, katanya “Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah, berbuka bulan Ramadhan, sebanyak satu sha’ (3,1 liter) tamar atau gandum atas setiap muslim merdeka atau hamba, lelaki atau perempuan.“(H.R. Bukhari).

Zakar fitrah dikeluarkan sebelum penduduk keluar (menuju) tempat shalat. Dan boleh juga dikeluarkan sehari atau dua hari sebelum hari raya Idul Fitri. (Abdul Azhim, 2007: 66)

Ukuran zakat fitrah yang wajib dikeluarkan tiap muslim adalah setengah sha’,qamh, atau satu sha’ kurm, kismis, sya’ir dan keju. Bisa juga dengan makanan pokok lainnnya. (Abdul Azhim, 2007: 63-64)

  1. E. Hikmah Zakat

Zakat merupakan ibadah yang memiliki dimensi ganda, trasendental dan horizontal. Oleh sebab itu zakat memiliki banyak arti dalam kehidupan ummat manusia, terutama Islam. Zakat memiliki banyak hikmah, baik yng berkaitan dengan Sang Khaliq maupun hubungan sosial kemasyarakatan di antara manusia, antara lain :

  1. Menolong, membantu, membina dan membangun kaum dhuafa yang lemah papa dengan materi sekedar untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya.Dengan kondisi tersebut mereka akan mampu melaksanakan kewajibannya terhadap Allah SWT
  2. Memberantas penyakit iri hati, rasa benci dan dengki dari diri orang-orang di sekitarnya berkehidupan cukup, apalagi mewah. Sedang ia sendiri tak memiliki apa-apa dan tidak ada uluran tangan dari mereka (orang kaya) kepadanya.
  3. Dapat mensucikan diri (pribadi) dari kotoran dosa, emurnikan jiwa (menumbuhkan akhlaq mulia menjadi murah hati, peka terhadap rasa kemanusiaan) dan mengikis sifat bakhil (kikir) serta serakah. Dengan begitu akhirnya suasana ketenangan bathin karena terbebas dari tuntutan Allah SWT dan kewajiban kemasyarakatan, akan selalu melingkupi hati.
  4. Dapat menunjang terwujudnya sistem kemasyarakatan Islam yang berdiri atas prinsip-prinsip: Ummatn Wahidan (umat yang satu), Musawah (persamaan derajat, dan dan kewajiban), Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) dan Takaful Ijti’ma (tanggung jawab bersama).
  5. Menjadi unsur penting dalam mewujudakan keseimbanagn dalam distribusi harta (sosial distribution), dan keseimbangan tanggungjawab individu dalam masyarakat.
  6. Zakat adalah ibadah maaliyah yang mempunyai dimensi dan fungsi sosial ekonomi atau pemerataan karunia Allah SWT dan juga merupakan perwujudan solidaritas sosial, pernyataan rasa kemanusian dan keadilan, pembuktian persaudaraan Islam, pengikat persatuan ummat dan bangsa, sebagai pengikat bathin antara golongan kaya dengan yang miskin dan sebagai penimbun jurang yang menjadi pemisah antara golongan yang kuat dengan yang lemah.
  7. Mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera dimana hubungan seseorang dengan yang lainnya menjadi rukun, damai dan harmonis yang akhirnya dapat menciptakan situasi yang tentram, aman lahir bathin. Dalam masyarakat seperti itu takkan ada lagi kekhawatiran akan hidupnya kembali bahaya komunisme atheis) dan paham atau ajaran yang sesat dan menyesatkan. Sebab dengan dimensi dan fungsi ganda zakat, persoalan yang dihadapi kapitalisme dan sosialisme dengan sendirinya sudah terjawab. Akhirnya sesuai dengan janji Allah SWT, akan terciptalah sebuah masyarakat yang baldatun thoyibun wa Rabbun Ghafur.

  1. F. Analisis

Uraian singkat yang berkenaan dengan zakat di atas. Menurut hemat saya, unsur konsep dari uraian tersebut adalah pengertian zakat yaitu memberikan atau mengeluarkan sebagian harta yang telah ditentukan ukurannya kepada orang yang berhak menerimanya, guna membersihkan harta kekayaan yang dimiliki. Unsur fakta adalah dalil tentang zakat dan unsur prinsip adalah bahwa zakat merupakan suatu ibadah yang wajib ditunaikan.

Unsur lain yang terdapat dalam uraian materi di atas adalah unsur proses yaitu adanya ketentuan-ketentuan dalam memberikan zakat. Sedangkan unsur nilainya adalah bahwa zakat merupakan ibadah yang memiliki hikmah sangat besar, diantaranya dapat membersihkan harta, serta dapat memberikan manfaat kepada orang lain yakni dapat menolong muslim lain yang menerimanya. Kemudian unsur yang terakhir adalah unsur keterampilan, yaitu terdapat dalam uraian tentang hitungan dalam ketentuan atau ukuran zakat.

  1. G. Kesimpulan

Allah SWT sangat menganjurkan setiap muslim untuk mengeluarkan atau memberikan sebagian harta kekayaan yang dimiliki, dalam hal ini kita kenal dengan zakat. Zakat merupakan salah satu rukun Islam wajib kita keluarkan.

Pentingnya anjuran untuk mengeluarkan zakat, merupakan salah satu usaha untuk memberikan keringanan atau bantuan bagi kaum muslimin yang membutuhkan. Zakat dapat diibaratkan pajak, yaitu pajak dalam Islam. Karena ukurannya sudah ditentukan. Bagi yang belum mencapai ukuran, maka berarti belum wajib zakat. Berbeda dengan sedekah/infaq,  sifatnya sukarela, tidak ditentukan ukurannya.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Azhim. 2007. Fiqih Zakat. Bogor: Media Tarbiyah.

Hasan Rifa’i Al Faridy. Panduan Zakat Praktis. 1996. Dalam  http://www.dompetdhuafa.or.id/zakat/z002.htm. Didownload pada 17 Oktober 2009.

Hasan Rifa’i Al Faridy. Panduan Zakat Praktis. 1996. Dalam http://www.dompetdhuafa.or.id/zakat/z003.htm. Didownload pada 17 Oktober 2009.

Hasan Rifa’i Al Faridy. Panduan Zakat Praktis. 1996. Dalam http://www.dompetdhuafa.or.id/zakat/z005.htm. Didownload pada 17 Oktober 2009.

Republika Newsroom . 2009. Pengertian Zakat. Dalam http://www.republika. co.id/berita/36369/Pengertian_Zakat. Didownload pada 17 Oktober 2009.

Lampiran 1

Table

4 Komentar

Filed under All Daftar, Fiqih, Materi PAI

WAKAF

oleh Rosita Meliana

  1. Peta Konsep
  1. Pengertian dan Dasar Hukum
  2. Rukun Wakaf
  3. Syarat-Syarat Wakaf
  4. Macam-Macam Wakaf
  5. Manfaat Wakaf
  6. Pelaksanaan Wakaf di Indonesia
  7. 1. Pengertian dan Dasar Hukum
  1. Uraian Materi

Wakaf adalah suatu kata yang berasal dari bahasa arab yaitu Waqf yang berarti menahan, menghentikan atau mengekang. Sedangkan menurut istilah ialah menghentikan  perpindahan  milik suatu harta yang bermanfaat dan tahan lama, sehingga manfaat harta itu dapat digunakan untuk mencari keridhaan allah SWT. ( Asymuni A.Rahman, Dkk: 1986 )

Menurut literatur yang lain mendefinisikan bahwa Wakaf ialah menyerahkan suatu benda yang kekal zatnya untuk diambil manfaatnya baik oleh umum maupun oleh perorangan. ( Syamsuri: 2006 )

Adapun yang dinyatakan sebagai dasar hukum wakaf oleh para ulama, al-Qur’an surat al-hajj:77

 Artinya: Berbuatlah kamu akan kebaikan agar kamu dapat kemenangan

Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam jama’ah kecuali Bukhori dan Ibnu Majah dari Abi Hurairah RA. Sesungguhnya nabi SAW bersabda:

 

“apabila mati seorang manusia, maka terputuslah ( terhenti ) pahala perbuatannya, kecuali tiga perkara: a. Shadaqah Zariah (wakaf), b. ilmu yang dimanfaatkan baik dengan cara mengajar maupun dengan cara karangan, c. anak yang Shaleh yang mendoakan orang tuanya.(Hendi Susendi:2002)

 

  1. 2. Rukun Wakaf

Ada empat rukun atau unsur-unsur wakaf, yaitu

  • Wakif ( orang yang berwakaf ), pemilik harta yang mewakafkan hartanya dengan syarat kehendak sendiri bukan karena dipaksa.
  • Mauquf (harta yang diwakafkan ), pada permulaan wakaf diisyaratkan pada zaman rasulullah maka sifat-sifat harta yang diwakafkan haruslah yang tahan lama dan bermanfaat seperti tanah dan kebun. Tetapi kemudian para ulama berpendapaty bahwa harta selain tanah dan kebunpun dapat diwakafkan asal bermanfaat dan tahan lama, seperti binatang ternak, alat-alat pertanian, kitab-kitab ilmu pengetahuan dan bangunan. Akan tetapi dalam hal ini banyak para ulama yang berbeda pendapat adapun kesimpulan dari berbagai pendapat tersebut pada asasnya semua harta yang bermanfaat dapat diwakafkan, hanya saja harta yang tahan lama lebih lama pula mengalir pahalanya diterima oleh waqif dibanding dengan harta yang tidak tahan lama.
  • Mauquuf’alaih ( tujuan wakaf ), antara lain untuk mencari keridhaan Allah Swt dan untuk kepentingan masyarakat.
  • Shighat wakaf, ialah kata-kata atau pernyataan yang diucapkan atau dinyatakan oleh orang yang berwakaf. ( Asymuni A.Rahman, Dkk: 1986 )

3.   Syarat-Syarat Wakaf

agar amalan wakaf itu sah diperlukan syarat-syarat sebagai berikut:

  • Untuk selama-lamanya, merupakan syarat sahnya amalan wakaf tidak sah bila dibatasi dengan waktu tertentu.
  • Tidak boleh dicabut, bila dalam melakukan wakaf telah sah maka pernyataan itu tidak boleh dicabut.
  • Pemilikan wakaf tidak boleh dipindah tangankan, dengan terjadinya wakaf maka sejak itu harta wakaf telah menjadi milik Allah SWT dan tidak boleh dipindah tangankan kepada siapapun dan wajib dilindungi.
  • Setiap wakaf harus sesuai dengan tujuan wakaf pada umumnya, tidak sah wakaf bila tujuannya tidak sesuai atau bertentangan dengan ajaran agama islam. ( Asymuni A.Rahman, Dkk: 1986)

4.   Macam-Macam Wakaf

ada dua macam wakaf yang terkenal dikalangan kaum muslimin, yaitu:

  • Wakaf ahli, atau wakaf keluarga yang diperuntukan hanya khusus kepada orang-orang tertentu, seorang atau lebih, keliarga waqif atau bukan.
  • Wakaf Khairi, ialah wakaf yang sejak semula manfaatnya diperuntukan untuk kepentingan umum tidak dikhususnya untuk orang-orang tertentu seperti mewakafkan tanah untuk mendirikan masjid dan lain sebagainya. (Asymuni A.Rahman, Dkk: 1986 )

5.   Manfaat Wakaf

Adapun manfaat wakaf bagi yang menerima wakaf atau masyarakat antara lain:

  • Dapat menghilangkan kebodohan
  • Dapat menghilangkan ( mengurangi ) kemiskinan
  • Dapat menghilangkan ( mengurangi ) kesenjangan sosial
  • Dapat memajukan serta menyejahterakan umat. (Syamsuri, 2006:151 )

 

6.   Pelaksanaan Wakaf di Indonesia

Pelaksanaan wakaf diindonesia diatur oleh undang-undang republik Indonesia No. 41 tahun 2004 tentang wakaf yang disahkan oleh presiden RI Dr. H. Sosilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 27 Oktober 2004, dan diundangkan di Jakarta pada tanggal pengesahannya oleh sekretaris Negara RI saat itu Prof.Dr Yusril Ihza Mahendra.

Selain itu peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang masalah perwakafan tanah milik, antara lain:

  • Undang-undang No.5 tahun 1960, tanggal 24 September 1960 tentang peraturan dasar pokok-pokok agrarian, pasal 49 ayat (1) memberi isyarat bahwa perwakafan tanah milik dilindungi dan diatur dengan peraturan pemerintah.
  • Peraturan pemerintah No.28 tahun 1977 tentang perwakafan tanah milik.

Mengacu kepada perundang-undangan  tentang pengelolaan wakaf di Indonesia, maka yang seharusnya diketahui umat islam antara lain:

  • Pengertian, Dasar-dasar Wakaf, Tujuan dan Fungsinya.
  • Wakaf dilaksanakan dengan memenuhi Unsur wakaf
  • Tata cara Perwakafan Tanah dan Pendaftarannya
  • Wakaf Benda Bergerak Berupa Uang. ( Syamsuri: 2006 )

Kemudian pasal 9 ayat 5 PP No.28 tahun 1997 menentukan bahwa dalam melaksanakan ikrar, fihak yang mewakafkan tanah diharuskan membawa serta dan menyerahkan surat-surat berikut:

  • Sertifikat hak milik atau tanda bukti pemilikan tanah lainnya
  • Surat keterangan dari kepala desa yang diperkuat oleh kepala kecamatan setempat yang menerangkan kebenaran kepemilikan tanah dan tidak tersangkut sesuatu sengketa
  • Surat keterangan pendaftaran tanah
  • Izin dari bupati/walikotamadya Kepala Daerah cq. Kepala sub Direktorat Agrarian setempat.(Adijani al-alabij:1992)

 

  1. Analisis

Dari uraian diatas dapat kita analisis bahwa yang termasuk dari Konsep adalah Pengertian, dimana pengertian disini menjelaskan arti wakaf baik secara bahasa ataupun istilah. Dan yang termasuk kedalam Prinsip adalah Dasar Hukum wakaf, Macam-macam wakaf, Rukun dan Syarat.

Dalam hal Keterampilan, pelaksanaan wakaf yang termasuk didalamnya yaitu melaksanakan wakaf dengan syarat dan rukun-rukun yang telah ditetapkan oleh undang-undang dan agama Islam, serta wakaf ini telah merupakan sesuatu yang fakta karna sudah dilakukan pada zaman Rasulullah.

Adapun yang termasuk kedalam nilai ialah Manfaat dari Wakaf itu sendiri yang mempunyai sesuatu yang bermanfaat yang dijadikan pedoman dalam bertindak.

  1. Daftar Pustaka

Syamsuri. 2006. Pendidikan Agama Islam untuk SMA kelas X. Jakarta:Pt Erlanggga

 

Rahman, Asymuni Dkk. 1986. Ilmu Fiqh 3. Jakarta:proyek pembinaan prasarana dan sarana perguruan tinggi agama islam

 

Al-Alabij, Adijani. 1992. Perwakafan Tanah di Indonesia dalam Teori dan Praktek. Jakarta:Rajawali Press

 

Suhendi, Hendi. 2002. Fiqih Muamalah. Jakarta:Pt Raja Grafindo Persada

3 Komentar

Filed under All Daftar, Fiqih

Khutbah Jum’at

oleh Yulianti

A. Peta Konsep
1. Pengertian khutbah jum’at
2. Syarat-syarat khutbah jum’at
3. Rukun-rukun khutbah jum’at
4. Sunnah-sunnah khutbah jum’at
5. Pelaksanaan khutbah jum’at
6. Kedudukan khutbah jum’at
B. Uraian ( Materi )
1. Pengertian khutbah jum’at
Khutbah mempunyai arti yaitu memberi nasihat,. Dan ada sebagian fuqaha berpendapat bahwa khutbah jum’at adalah dalam rangka memberikan nasehat sebagaimana nasehat-nasehat yang diberikan kepada para jama’ah jum’at.
Khutbah Jum’at merupakan salah satu media yang strategis untuk dakwah Islam, karena ia bersifat rutin dan wajib dihadiri oleh kaum muslimin secara berjamaah. Sayangnya, media ini terkadang kurang dimanfaatkan secara optimal. Para khathib seringkali menyampaikan khutbah yang membosankan yang berputar-putar dan itu-itu saja. Akibatnya, banyak para hadirin yang terkantuk-kantuk dan bahkan tertidur. Bahkan, ada satu anekdot yang menyebutkan, khutbah Jum’at adalah obat yang cukup mujarab untuk insomnia, penyakit sulit tidur. Maksudnya, kalau Anda terkena penyakit itu, hadirilah khutbah Jum’at, niscaya Anda akan dapat tertidur nyenyak !
Selain itu yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa khutbah Jumat itu dilakukan sebelum shalat Jumat. Berbeda dengan khurtbah Idul fitri atau Idul Adha yang justru dilantunkan setelah selesai shalat Id.
2. Syarat-syarat khutbah jum’at
 Khatib (orang yang berkhutbah) harus suci dari hadas baik besar maupun kecil.
 Khatib harus suci dari najis baik badan, pakaian maupun tempat.
 Khatib harus mneutup aurat.
 Khatib harus berdiri bila mampu.
 Pelaksanaan khutbah harus sudah masuk waktu Zuhur.
 Khatib harus menyampaikan khutbahnya dengan suara keras yang terdengar oleh jama’ah jum’at.
 Khatib harus duduk di antara dua khutbah dengan tuma’ninah.
 Rukun-rukun khutbah harus disampaikan dengan bahasa Arab, selebihnya bisa menggunakan bahasa yang dapat dipahami dan sesuai dengan jama’ahnya.
 Khutbah disampaikan secara berturut-turut, terus dilanjutkan dengan shalat jum’at
3. Rukun-rukun khutbah jum’at
A. Rukun Pertama: HamdalahKhutbah jumat itu wajib dimulai dengan hamdalah. Yaitu lafaz yang memuji Allah SWT. Misalnya lafaz alhamdulillah, atau innalhamda lillah, atau ahmadullah. Pendeknya, minimal ada kata alhamd dan lafaz Allah, baik di khutbah pertama atau khutbah kedua.
B. Rukun Kedua: Shalawat kepada Nabi SAWShalawat kepada nabi Muhammad SAW harus dilafadzkan dengan jelas, paling tidak ada kata shalawat. Misalnya ushalli ‘ala Muhammad, atau as-shalatu ‘ala Muhammad, atau ana mushallai ala Muhammad.Namun nama Muhammad SAW boleh saja diucapkan dengan lafadz Ahmad, karena Ahmad adalah nama beliau juga sebagaimana tertera dalam Al-Quran.
C. Rukun Ketiga: Washiyat untuk Taqwa Yang dimaksud dengan washiyat ini adalah perintah atau ajakan atau anjuran untuk bertakwa atau takut kepada Allah SWT. Dan menurut Az-Zayadi, washiyat ini adalah perintah untuk mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Sedangkan menurut Ibnu Hajar, cuukup dengan ajakan untuk mengerjakan perintah Allah. Sedangkan menurut Ar-Ramli, washiyat itu harus berbentuk seruan kepada ketaatan kepada Allah.Lafadznya sendiri bisa lebih bebas. Misalnya dalam bentuk kalimat: takutlah kalian kepada Allah. Atau kalimat: marilah kita bertaqwa dan menjadi hamba yang taat. Ketiga rukun di atas harus terdapat dalam kedua khutbah Jumat itu.
D. Rukun Keempat: Membaca ayat Al-Quran pada salah satunyaMinimal satu kalimat dari ayat Al-Quran yang mengandung makna lengkap. Bukan sekedar potongan yang belum lengkap pengertiannya. Maka tidak dikatakan sebagai pembacaan Al-Qur’an bila sekedar mengucapkan lafaz:
tsumma nazhar. Tentang tema ayatnya bebas saja, tidak ada ketentuan harus ayat tentang perintah atau larangan atau hukum. Boleh juga ayat Quran tentang kisah umat terdahulu dan lainnya.
E. Rukun Kelima: Doa untuk umat Islam di khutbah kedua. Pada bagian akhir, khatib harus mengucapkan lafaz yang doa yang intinya meminta kepada Allah kebaikan untuk umat Islam. Misalnya kalimat: Allahummaghfir lil muslimin wal muslimat . Atau kalimat Allahumma ajirna minannar.
4. Sunnah-sunnah khutbah jum’at
 Bersiwak ketika akan memulai khutbah.
 Berpakaian putih dan memakai harum-haruman (parfum).
 Khutbah disampaikan di atas mimbar.
 Mengucapkan salam, sebelum memulai khutbah.
 Duduk setelah salam untuk mendengarkan azan.
 Memegang tongkat di tangan kirinya.
 Khutbah disampaikan secara singkat dan padat dengan bahasa yang baik dan suara yang lantang.
5. Pelaksanaan khutbah jum’at
Khutbah jum’at mempunyai kedudukan yang sangat penting, karena di samping berisi nasihat-nasihat, khutbah juga merupakan rangkaian yang tidak dapat dipisahkan dari shalat jum’at. Sekalipun demikian, mengenai pelaksanaannya masih diperdebatkan oleh para ulama. Seperti yang ditunjukkan sekarang ini dalam pelaksanaan khutbah di tengah-tengah masyarakat, ada yang hanya satu kali berdiri saja (satu khutbah) dan ada yang berdiri dua kali setelah diselingi duduk beberapa saat di antara keduanya (dua khutbah).

Seorang ahli fiqih terkemuka, Ibnu Rusyd, dalam karyanya ”Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtashid” menerangkan bahwa perbedaan ini berasal dari perbedaan pendapat mengenai hukum duduk di antara dua khutbah (qu’ud bain al-khutbatain). Jika duduk itu dimaksudkan untuk istirahat bagi khatib, berarti duduk itu bukan merupakan syarat. Namun jika hal itu dianggap sebagai ibadah, berarti duduk itu merupakan syarat yang harus dikerjakan. (Suparta, 2006: 29)
Dalam kaitannya dengan masalah ini, Imam malik berpendapat bahwa duduk (untuk berpindah khutbah kedua) bukan merupakan syarat khutbah. Sementara Imam Syafi’i mengemukakan bahwa duduk merupakan syarat. Dua pandangan ini jelas berbeda, meski perbedaan tersebut hanya dalam soal pemahaman tentang arti duduk di antara dua khutbah. Jadi, tidak begitu prinsip. Dalam praktiknya tetap saja mereka mewajibkan dan melaksanakan dua khutbah. Hanya yang satu menganut pemahaman hukum dari segi lughawi saja dan yang lainnya dari syar’i. Artinya, dua khutbah bagi kelompok yang lughawiyah adalah dua khutbah yang dibedakan hanya dengan ucapan hamdallah, sebagaimana kebiasaan dalam khutbah yang menggunakan bahasa Arab. Kelompok ini mencukupkan dirinya dengan memahami hukum secara garis besar saja tidak serinci kelompok syar’iyyah.Pada kelompok Syar’i, dua khutbah itu dibedakan tidak hanya oleh kughat hamdallah, tetapi juga hingga tata cara fisik. Di dalam pelaksanaan khutbah tersebut hanya diperhatikan duduk berdirinya istirahatnya, kalimat yang diucapkannya, bahasa yang digunakanny. Berkenaan dengan kehati-hatian (ihtiyat) dari sini lah para fuqaha merumuskan rukun dan syarat khutbah. Dijelaskan dalam sebuah hadits bahwa Nabi saw menyelenggarakan khutbah jum’at dengan dua bagian khutbah:

Artinya: ” Dari Ibnu Umar ra. Bahwasanya Nabi saw, berkhutbah pada hari jum’at (dengan berdiri), kemudian duduk, kemudian berdiri dan berkhutbah.
(Abu ubaidillah) menerangkan : ” Sebagaimana yang kalian kerjakan” (HR Al-Tirmidzi diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah dan Jabir bin Samurah).
Hadits ini menurut Abu Isa adalah hadits hasan lagi shahih, karena Ibnu Umar yang melihat secara langsung. Dengan demikian, tata cara melaksanakan khutbah yang dilakukan oleh Nabi, yaitu khutbah dengan duduk sebentar di antara dua khutbah.
6. Kedudukan khutbah jum’at
Jumhur (mayoritas) fuqaha berpendapat bahwa khutbah jum’at merupakan syarat dan rukun shalat jum’at. Ada juga kelompok fuqaha lain yang berpandangan bahwa khutbah merupakan hal yang khusus ketika hendak shalat, dan di anggap sebagai pengganti dua rakaat shalat zuhur yang hilang. Kerena itu khutbah merupakan syarat shalat jum’at bahkan merupakan syarat sahnya shalat jum’at. Sedangkan sebagian fuqaha yang lain berpendirian bahwa khutbah jum’at adalah dalam rangka memberikan nasihat sebagaimana nasihat-nasihat lain kepada jama’ah jum’at karena itu, mereka meyimpulkan bahwaa khutbah bukan merupakan pilar shalat jum’at. (Suparta, 2006: 27)
Pendapat lainnya menyatakan bahwa khutbah jum’at dalam pengertian aslinya adalah memberi nasihat, tetapi mereka menganggap bahwa khutbah jum’at sebagai khutbah khusus yang sudah ditetapkan syar’i. Ayat Al-Qur’an yang menjelaskan alas an ulama yang menyatakan wajibnya khutbah, tanpa melepaskan pengertian aslinya. Mereka memberi interpretasi pada kalimat dzikrullah (mengingat Allah) dengan arti khutbah, ayat tersebut adalah:

Yang artinya: “maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah”. (Qs.Al-jumu’ah:9)
Begitu pentingnya kedudukan khutbah jum’at, sehingga mendengarkan khutbah merupakan keharusan yang diperintahkan. Sementara mengerjakan hal-hal di luar pelaksanaan khutbah sangat dilarang. Karena itu pula selama khutbah berlangsung orang yang mendengarkan khutbah diharuskan menjaga mulutnya untuk tidak berkata-kata, meskipun hanya satu kata, seperti kata perintah,”diam!” yang dilontarkan kepda yang lain. Meskipun tampaknya perintah ini baik, tapi ternyata termasuk bentuk pelanggaran. Mereka yang melanggar ketentuan itu dikategorikan sebagai pelaksana shalat jum’at yang lagha, artinya shalat jum’at yang dilaksanakannya terancam batal, seperti disebutkan dalam sebuah hadits berikut:

Artinya: ” Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi saw, bersabda: ” Apabila engkau katakan kepada temanmu pada hari jum’at ”diam” sewaktu imam berkhutbah, maka sesungguhnya telah binasalah jum’atmu”. (HR. Bukhari)
C. Analisis
Unsur-unsur yang terdapat didalam materi khutbah jum’at ini yaitu:
1. Konsep, yang terdapat dalam pengertian khutbah jum’at yang mana khutbah jum’at diartikan sebagai memberi nasehat. Selain itu juga dalam materi di atas terdapat syarat-syarat dan rukun-rukun dari khutbah jum’at yang mana itu juga termasuk dari bagian konsep.
2. Prinsip, yang terdapat dalam materi sunnah-sunnah, syarat-syarat khutbah jum’at, dan rukun-rukun khutbah jum’at.
3. Proses, yang terdaapat dalam materi pelaksanaan khutbah jumm’at dan kedudukan khutbah jum’at. Yang mana di jelaskan di dalamnya mengenai tata cara dari pelaksanaan khutbah jum’at sebagaimana yang dicontohkan oleh Rosulullah SAW. Selain itu juga mengenai kedudukan khutbah jum’at yang di anggap sangat penting.

DAFTAR PUSTAKA

Hasan, Syamsi dan Ahmad Ma’ruf Asrori. 2002. Khutbah Jum’at Sepanjang Masa Membangun Kehidupan Dunia Akhirat. Surabaya: Karya agung

Suparta. 2006. Fiqih Madrasah Aliyah. Semarang: PT Karya Toha Putra

Al-maidani, Abu Umar Basyir. 2003. Jawaban Penting Pertanyaan Seputar Shalat Jum’at. Cemani: Al-Qowam

Mas’ud, Ibnu dan Zainal Abidin. 2005. Fiqih Madzhab Syafi’i. Bandung : CV Pustaka Setia

Nasution, M. Yunan. 1991. Khutbah Jum’at II. Jakarta: Bulan Bintang

http://blog.re.or.id/tata-cara-khutbah-pada-shalat-jumat.htm

7 Komentar

Filed under All Daftar, Fiqih, Materi PAI