Category Archives: Bimbingan Konseling

Jenis Teori dan analisi dalam Bimbingan Konseling

oleh st_30
berikut teori menurut orang-orang bule, selamat membaca………………

TEORI KONSELING TRAIT AND FACTOR

  • Konsep dasar

Menurut teori ini kepribadian merupakan sistem atau faktor yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya seperti kecakapan, minat, sikap dan tempramen. Beberapa tokoh yang sering dikenal dalam teori trait and factor adalah Walter Bigham, John Darley, Donald G.Paterson dan E.G.Williamson.

Teori Trait-Factor adalah pandangan yang mengatakan bahwa kepribadian seseorang dapat dilukiskan dengan mengidentifikasikan jumlah ciri, sejauh tampak dari hasil testing psikologis yang mengukur masing-masing dimensi kepribadian itu. Konseling Trait-Factor berpegang pada pandangan yang sama dan menggunakan tes-tes psikologis untuk menanalisis atau mendiagnosis seseorang mengenai ciri-ciri dimensi/aspek kepribadian tertentu, yang diketahui mempunyai relevansi terhadap keberhasilan atau kegagalan seseorang dalam jabatan dan mengikuti suatu program studi.

  • Proses Konseling
  1. Analisis
  2. Sintesis
  3. Diagnosis
  4. Prognosis
  5. Konseling (Treatment)
    1. Follow Up
  • Analisis

Dalam segala hal tentu yang berperan penting adalah kepribadian seseorang. Tidak dipungkiri keberhasilan atau kesuksesan seseorang ditopang oleh kepribadian yang baik sehingga ia mampu untuk mencapai keberhasilan. Oleh karena itu, sangat baik sekali jika dalam proses pembelajaran hal yang pertama dilakukan oleh seorang pendidikan adalah membentuk karakter kepribadian siswa. Kelemahan dalam teori ini tidak ada variasi untuk proses perkembangan kepribadian seorang anak, karena apabila hanya ditekan satu kemampuna saja, maka akan sulit berkembang.

RATIONAL EMOTIVE THERAPY

  • Konsep dasar

Rational Emotive Therapy atau Teori Rasional Emotif mulai dikembangan di Amerika pada tahun 1960-an oleh Alberl Ellis, seorang Doktor dan Ahli dalam Psikologi Terapeutik yang juga seorang eksistensialis dan juga seorang Neo Freudian.
Menurut Ellis (dalam Latipun, 2001 : 92) berpandangan bahwa REBT merupakan terapi yang sangat komprehensif, yang menangani masalah-masalah yang berhubungan dengan emosi, kognisi, dan perilaku.

  • Proses Konseling

a)      assertive training, melatih dan membiasakan klien terus-menerus menyesuaikan diri dengan perilaku tentang yang diinginkan.

b)      sosiodrama yaitu semacam sandiwara pendek tentang masalah kehidupan sosial.

c)       Self modeling atau diri sebagai model yaitu teknik yang bertujuan menghilangkan perilaku tertentu dimana konselor menjadi model, dan klien berjanji akan mengikuti.

d)     teknik reinforcement, memberi reward terhadap perilaku rasional atau memperkuatnya.

e)      desensitisasi sistematik merupakan teknik relaxsasi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negative

f)        Relaxation.

g)       self control yaitu dengan mengontrol diri.

h)      diskusi;

i)        simulasi dengan bermain peran antara konselor dengan klien.

j)        homework assigment (pemberian tugas rumah).

k)       bibliografi (memberi bahan bacaan)

  • Analisis

Dalam teori ini merupakan terapi emosional apabila seseorang mengalami gangguan dalam hubungan emosi, yang lebih menekankan kepada pribadi seseorang untuk mengenal jati dirinya sehingga dalam berperilaku memiliki tujuan yang jelas. Kesempatan yang diberikan dalam teori ini emosional yang stabil,

TEORI KONSELING BEHAVIOR

  • Konsep dasar

perilaku manusia merupakan hasil belajar, sehingga dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkresi kondisi-kondisi belajar. Pada dasarnya, proses konseling merupakan suatu penataan proses atau pengalaman belajar untuk membantu individu mengubah perilakunya agar dapat memecahkan masalahnya. Tokoh dalam teori ini adalah D. Krumboltz, Carl E. Thoresen, Ray E. Hosfor , Bandura, Wolpe dll.

  • Proses Konseling

Dalam proses konseling menggunakan beberapa pendekatan, sebagai berikut:

  1. pendekatan operant learning. Hal yang sangat penting adalah penguatan yang dapat menghasilkan prilaku klien yang dikehendaki.
  2. Metode unitatif learning. Diterapkan oleh konselor dengan merancang suatu perilaku adaptif yang dapat dijadikan model oleh klien.
  3. metode cognitive learning atau pembelajaran kognetif. Merupakan metode pengajaran yang berupa pengajaran secara verbal, kontrak antara konselor dengan klien, dan bermain peran
  4. metode emosional learning atau pembelajaran emosional diterapkan kepada individu yang mengalami suatu kecemasan.
  • Analisis

Pengalaman belajar sangat penting dalam proses perkembangan seorang anak. Akan tetapi dalam proses tersebut yang harus diperhatikan cara yang digunakan anak tersebut untuk mampu memberikan efek bagi perilakunya. Oleh karena itu dalam proses konseling ini haruslah tidak hanya dititik beratkan kepada prosesnya akan tetapi fokuslah pada apa yang digunakan untuk menuju proses pengalaman belajar itu.

KONSELING PSIKOANALIS

  • Konsep dasar

Psikoanalisa merupakan suatu metode penyembuhan yang bersifat psikologis dengan cara-cara fisik. Tokoh utama psikoanalisa ialah Sigmund Freud. Menurut Freud teori kepribadian menyangkut 3 hal Struktur kepribadian

  1. Struktur kepribadian

Kepribadian terdiri dari 3 sistem

  • Id adalah aspek biologis yang merupakan sistem kepribadian yang asli.
  • Ego adalah aspek psikologis yang timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan dengan dunia kenyataan.
  • Super ego adalah aspek sosiologis yang mencerminkan nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakt yang ada di dalam kepribadian individu.
  1. Dinamika kepribadian

Terdiri dari cara bagaimana energi psikis itu disitribusikan serta digunkan oleh id, ego, dan super ego.

  1. Perkembangan kepribadian

Kepribadian individu menurutr Freud telah mulai terbentuk pada tahun-tahun pertama di masa kanak-kanak. Pada umur 5 tahun hampir seluruh struktur kepribadian telah terbentuk, pada tahun-tahun berikutnya hanya menghaluskan struktur dasar tersebut.

  • Proses Konseling

Ada beberapa teknik yang digunakan dalam proses konseling ini, sebagai berikut:

  1. Asosiasi bebas

Konselor memerintahkan klien untuk menjernihkan pikiranya adari pemikiran sehari-hari dan sebanyak mungkin untuk mengatakan apa yang muncul dalam kesadaranya.

  1. Interpretasi

membiarkan ego untuk mencerna materi baru dan mempercepat proses menyadarkan hal-hal yang tersembunyi.

  1. Analisis mimpi

membuka hal-hal yang tidak disadari dan membantu klien untuk memperoleh tilikan kepada masalah-masalah yang belum terpecahkan.

  1. Analisis dan interpretasi resistensi

suatu dinamika yang tidak disadari yang mendorong seseorang untuk mempertahankan terhadap kecemasan

  1. Analisis dan interpretasi transferensi

Transferensi muncul dengan sendirinya dalam proses terapeutik

  • Analisis

Adapun nuansa dalam proses konseling in seorang anak dipandang sebagai manusia yang yang memiliki kepribadian utuh sehingga klien menyadari struktur kepribadiannya secara sadar. Solusi yang diberikan dalam konseling ini agar klien mendapatkan titik permasalahan yang belum dapat dipecahkan. Dan agar klien tidak khawatir dengan masalah yang dihadapi.

KONSELING PSIKOLOGI INDIVIDUAL

  • Konsep dasar

Konstruk utama psikologi individual adalah bahwa perilaku manusia dipandang sebagai suatu kompensasi terhadap perasaan inferioritas (kurang harga diri). Istilah yang digunakan oleh Adler adalah “inferiority complex” untuk menggambarkan keadaan perasaan harga diri kurang yang selalu mendorong individu untuk melakukan kompensasi mencapai keunggulan. Perilaku merupakan suatu upaya untuk mencapai keseimbangan.

  • Proses Konseling

Proses konseling diarahkan oleh konselor untuk mendapatkan informasi-informasi berkaitan dengan masa sekarang dan masa lalu sejak klien berusia kanak-kanak. Mulai dari mengingat komponen-komponen dalam keluarga, keanehan-keanehan prilaku yang terjadi didalam keluarga, sampai hal yang spesifik. Hal ini sangat membantu konselor dalam menghimpun informasi serta menggali feeling of inferiority (FOI) klien..Teknik yang digunakan oleh konselor adalah membangun hubungan yang baik dengan klien.

  • Analisis

Dalam konseling ini seorang konselor fokus pada penyadaran tentang harga diri klien. Dalam hal ini klien diberikan gambaran akan perilaku-perlaku masa lalu dan masa sekarang sehingga masalahnya dapat diselesaikan dengan cara konselor menggali sebanyak-banyaknya informasi dari klien.

KONSELING ANALISIS TRANSAKSIONAL

  • Konsep dasar

Dalam terapi ini hubungan konselor dan klien dipandang sebagai suatu transaksional (interaksi, tindakan yang diambil, tanya jawab) dimana masing-masing partisipan berhubungan satu sama lain. Sebagai fungsi tujuan tertentu. Transaksi menurut Berne merupakan manivestasi hubungan sosial.

Berne membagi psikoterapi konvensional menjadi dua kelompok

1. Kelompok yangh melibatkan sugesti, dukungan kembali (reassurence), dan fungsi parental lain.

2. Kelompok yang melibatkan pendekatan rasional, dengan menggunakan konfrontasi dan interpretasi seperti terapi non direktif dan psiko analisa.

  • Proses Konseling

Tugas utama konselor yang menggunakan analisis transaksional adalah mengajar bahasa dan ide-ide sistem untuk mendiagnosa transaksi. Konselor transaksional selalu aktif, menghindarkan keadaan diam yang terlalu lama, dan mempunyai tanggung jawab untuk memelihara perhatian pada transaksi.

  • Analisis

Dalam konseling ini interkasi antara konselor dengan klien adanya  hubungan social sehingga proses konselingnya seperti transaksi ada timbale balik satu sama lain.

KONSELING CLIENT CENTERED (BERPUSAT PADA KLIEN)

  • Konsep dasar

Pendekatan konseling client centered menekankan pada kecakapan klien untuk menentukan isu yang penting bagi dirinya dan pemecahan masalah dirinya. Konsep pokok yang mendasari adalah hal yang menyangkut konsep-konsep mengenai diri (self), aktualisasi diri, teori kepribadian,dan hakekat kecemasan. Menurut Roger konsep inti konseling berpusat pada klien adalah konsep tentang diri dan konsep menjadi diri atau pertumbuhan perwujudan diri. Tokohnya adalah Carl R. Roger

  • Proses Konseling
    • Konseling memusatkan pada pengalaman individual.
    • konseling berupaya meminimalisir rasa diri terancam, dan memaksimalkan dan serta menopang eksplorasi diri. Perubahan perilaku datang melalui pemanfaatan potensi individu untuk menilai pengalamannya, membuatnya untuk memperjelas dan mendapat tilikan pearasaan yang mengarah pada pertumbuhan.
    • Melalui penerimaan terhadap klien, konselor membantu untuk menyatakan, mengkaji dan memadukan pengalaman-pengalaman sebelunya ke dalam konsep diri.
    • dengan redefinisi, pengalaman, individu mencapai penerimaan diri dan menerima orang lain dan menjadi orang yang berkembang penuh.
    • wawancara merupakan alat utama dalam konseling untuk menumbuhkan hubungan timbal balik.
  • Analisis

Penekanan yang digunakan dalam konseling ini adalah klien dijadikan sebagai pusat informasi dengan mengarahkan pada proses pertumbuhan klien. Dengan menggali informasi sebanyak-banyaknya maka diharapkan klien dapat mengenali potensi dalam dirinya tersebut. Konselor hanya memandu agar pengalaman-pengalam klien dalam diresapi oleh dirinya sendiri.

KONSELING / TERAPI GESTALT

  • Konsep dasar

Peris menyatakan bahwa individu, dalam hal ini manusia, selalu aktif sebagai keseluruhan, merupakan koordinasi dari seluruh organ. Kesehatan merupakan keseimbangan yang layak. Pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis merupakan konsep dasar terapi Gestaslt. Tokohnya adalah Frederick S. Peris 1989-1970

  • Proses Konseling

konseling Gestalt adalah meningkatkan proses pertumbuhan klien dan membantu klien mengembangkan potensi manusiawinya. Fokus utama dalam konseing Gestalt adalah membantu individu melalui transisinya dari keadaan yang selalu dibantu oleh lingkungan ke keadaan mandiri (selft-support). Konselor membuat klien menjadi kecewa sehingga klien dipaksa untuk menemukan caranya atau mengembangkan potensinya sendiri.

  • Analisis

Dalam konseling ini klien diharapkan sebagai seorang individu yang utuh. Sehingga memecahkan masalah dalam lingkungannya bisa mandiri, artinya klien diharapkan mampu menemukan ataupun mengenal potensi dirinya-sendiri agar permasalah yang ia hadapi dapat terselesaikan.

Iklan

7 Komentar

Filed under All Daftar, Bimbingan Konseling

PELAYANAN BK DI LEMBAGA PENDIDIKAN DAN MASYARAKAT

oleh Junaidi n dkk
A. Layanan Bimbingan Konseling di Sekolah/Madrasah
Dasar pertimbangan atau pemikiran tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum, undang-undang atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya secara optimal (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual).
Layanan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah sangat dibutuhkan, karena banyaknya masalah peserta didik di Sekolah/Madrasah, besarnya kebutuhan peserta didik akan pengarahan diri dalam memilih dan mengambil keputusan, perlunya aturan yang memayungi layanan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah, serta perbaikan tata kerja baik dalam aspek ketenagaan maupun manajemen.
(www.a741k.web44.net/BIMBINGAN%20DAN%20KONSELING.)
Keberadaan layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang panjang, sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian nama, semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya), kemudian sejak Kurikulum 1994 hingga sekarang berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling. Akhir-akhir ini para ahli mulai meluncurkan wacana sebutan Profesi Konseling, meski secara formal istilah ini belum digunakan.
Pelayanan bimbingan konseling di Sekolah merupakan kegiatan yang sistematis, terarah dan berkelanjutan. Oleh karena itu pelayanan bimbingan dan konseling harus selalu memperhatikan karakteristik tujuan pendidikan, kurikulum, dan peserta didik. (Hallen. A, 2002: 77)
Menurut Kusuma Ningsih (2009), secara formal terdapat empat bidang yang menjadi ruang lingkup garapan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks pesekolahan saat ini, yaitu:
1. Bidang pelayanan kehidupan pribadi;
Membantu individu menilai kecakapan, minat, bakat, dan karakteristik kepribadian diri sendiri untuk mengembangkan diri secara realistik.
2. Bidang pelayanan kehidupan sosial;
Membantu individu menilai dan mencari alternatif hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya atau dengan lingkungan sosial yang lebih luas.
3. Bidang pelayanan kegiatan belajar;
Membantu individu dalam kegiatan dalam rangka mengikuti jenjang dan jalur pendidikan tertentu dan/atau dalam rangka menguasai kecakapan atau keterampilan tertentu.
4. Bidang pelayanaan perencanaan dan pengembangan karier;
Membantu individu dalam mencari dan menetapkan pilihan serta mengambil keputusan berkenaan dengan karier tertentu, baik karier di masa depan maupun karier yang sedang dijalaninya.
(http://oc.upi.edu/index.php?option=com_content&view=article&id=120:bimbingan-dan-konseling&catid=65: ilmu-pendidikan&Itemid=114)
Sedangkan dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional saat ini terdapat tujuh jenis layanan.
1. Layanan Orientasi
Layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru, terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari, untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu, sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai, yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman.
2. Layanan Informasi
Layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar, pergaulan, karier, pendidikan lanjutan). Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu, dalam bidang pribadi, sosial, belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman.
3. Layanan Pembelajaran
Layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai materi belajar atau penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan.
4. Layanan Penempatan dan Penyaluran
Layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, kegiatan ko/ekstra kurikuler, dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat, minat dan segenap potensi lainnya. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan.
5. Layanan Konseling Perorangan
Layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi.

6. Layanan Bimbingan Kelompok
Layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial, serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial, serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan pengembangan
7. Layanan Konseling Kelompok
Layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi.
Menurut Pakde Sofa (2008), agar memudahkan melakukan layanan bimbingan dan konseling di sekolah, hendaknya perlu diketahui langkah-langkah yang harus dilakukan dalam memberikan layanan Bimbingan Konseling kepada siswa terutama kepada siswa yang mempunyai masalah. Adapun langkah-langkah tersebut meliputi:
1. Identifikasi Masalah
Pada langkah ini yang harus diperhatikan guru adalah mengenal gejala-gejala awal dari suatu masalah yang dihadapi siswa. Maksud dari gejala awal disini adalah apabila siswa menujukkan tingkah laku berbeda atau menyimpang dari biasanya. Untuk mengetahui gejala awal tidaklah mudah, karena harus dilakukan secara teliti dan hati-hati dengan memperhatikan gejala-gejala yang nampak, kemudian dianalisis dan selanjutnya dievaluasi.

2. Diagnosis
Pada langkah diagnosis yang dilakukan adalah menetapkan ” masalah ” berdasarkan analisis latar belakang yang menjadi penyebab timbulnya masalah. Dalam langkah ini dilakukan kegiatan pengumpulan data mengenai berbagai hal yang menjadi latar belakang atau yang melatarbelakangi gejala yang muncul. Pengumpulan informasi dari berbagai pihak, yaitu dari orang tua, teman dekat, guru dan juga siswa itu sendiri. Dari informasi yang terkumpul, kemudian dilakukan analisis maupun sistesis dan dilanjutkan dengan menelaah keterkaitan informasi latar belakang dengan gejala yang nampak.
3. Prognosis
Langkah prognosis ini pembimbing menetapkan alternatif tindakan bantuan yang akan diberikan setelah mengetahui latar belakang masalah. Dalam menetapkan prognosis, pembimbing perlu memperhatikan:
a. Pendekatan yang akan diberikan dilakukan secara perorangan atau kelompok;
b. Siapa yang akan memberikan bantuan, apakah guru, konselor, dokter atau individu lain yang lebih ahli;
c. Kapan bantuan akan dilaksanakan, atau hal-hal apa yang perlu dipertimbangkan.

Apabila dalam memberi bimbingan guru mengalami kendala, yaitu tidak bisa diselesaikan karena terlalu sulit atau tidak bisa ditangani oleh pembimbing, maka penanganan kasus tersebut perlu dialihkan penyelesainnya kepada orang yang lebih berwenang, seperti dokter, psikiater atau lembaga lainnya. Layanan pemindahtanganan karena masalahnya tidak mampu diselesaikan oleh pembimbing tersebut dinamakan dengan layanan referal.

4. Pemberian Bantuan
Setelah guru merencanakan pemberian bantuan, maka dilanjutkan dengan merealisasikan langkah-langkah alternatif bentuk bantuan berdasarakn masalah dan latar belakang yang menjadi penyebanya. Langkah pemberian bantuan ini dilaksanakan dengan berbagai pendekatan dan teknik pemberian bantuan. Pemberian bantuan secara individual, pada tahap awal diadakan pendekatan secara pribadi, pembimbing mengajak siswa yang bermasalah menceritakan masalahnya, mungkin pada awalnya siswa tersebut akan sangat sulit menceritakan masalahnya, karena masih memiliki perasaan takut atau tidak percaya terhadap pembimbing. Dalam hal ini pembimbing dituntut kesabarannya untuk bisa membuka hati siswa tersebut agar mau menceritakan masalahnya, dan menyakinkan bahwa masalahnya tidak akan diceritakan pada orang lain serta akan dibantu menyelesaikannya. Pemberian bantuan ini dilakukan tidak hanya sekali atau dua kali pertemuan saja, tetapi perlu waktu yang berulang-ulang dan dengan jadwal dan sifat pertemuan yang tidak terikat, sehingga siswa yang mempunyai masalah mempunyai waktu untuk menceritakan masalahnya dan bersedia diberikan bantuan. Oleh sebab itu seorang pembimbing harus dapat menumbuhkan transferensi yang positif dimana klien mau memproyeksikan perasaan ketergantungannya kepada pembimbing (konselor).
5. Evaluasi dan Tindak Lanjut
Setelah pembimbing dan klien melakukan beberapa kali pertemuan, dan mengumpulkan data dari beberapa individu, maka langkah selanjutnya adalah melakukan evaluasi dan tindak lanjut. Evaluasi dapat dilakukan selama proses pemberian bantuan berlangsung sampai pada akhir pemberian bantuan. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa teknik, seperti melalui wawancara, angket, observasi diskusi, dokumentasi dan sebagainya. Pembimbing mengadakan evaluasi untuk mengetahui sampai sejauh mana upaya pemberian bantuan telah dilaksanakan dan bagaimana hasil dari pemberian bantuan tersebut, bagaimana ketepatan pelaksanaan yang telah diberikan. Dari evaluasi tersebut dapat diambil langkah-langkah selanjutnya; apabila pemberian bantuan kurang berhasil, maka pembimbing dapat merubah tindakan atau mengembangkan bantuan kedalam bentuk yang berbeda.
(http://massofa.wordpress.com/2008/10/30/langkah-langkah-dalam-memberikan-bimbingan-konseling-di-sekolah/)

B. Layanan Bimbingan Konseling di Masyarakat
Sejalan dengan dinamika kehidupan, kebutuhan akan bimbingan dan konseling tidak hanya dirasakan pada lingkungan persekolahan, saat ini sedang dikembangkan pula pelayanan bimbingan dan konseling dalam setting yang lebih luas, seperti dalam keluarga, bisnis dan masyarakat luas lainnya, yang kesemuanya itu membawa konsekuensi tersendiri bagi untuk kepentingan tersebut. (KusumaNingsih, http://oc.upi.edu/index. php?option=com_content&view=article&id=120:bimbingan-dan-konseling&catid=65:ilmu-pendidikan&Itemid=114)
Dalam makalah ini kami paparkan bimbingan konseling dalam lingkungan keluarga. Sebagaimana telah disinggung di atas, tentang perluasan kawasan bimbingan dan konseling yang mencakup kehidupan yang lebih luas. Saat ini sedang dikembangkan bidang baru yaitu bidang pelayanan kehidupan berkeluarga untuk membantu individu dalam mencari dan menetapkan serta mengambil keputusan berkenaan dengan rencana perkawinan dan/atau kehidupan berkeluarga yang dijalaninya.
Menurut Prayitno dan Erman Amti (2004: 245) keluarga merupakan satuan persekutuan hidup yang paling mendasar dan merupakan pangkal kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu bimbingan konseling juga harus diterapkan atau dilakukan pada keluarga.

Bimbingan konseling dalam keluarga ini juga luas cakupannya. Namun pada makalah ini kami batasi hanya dilakukan oleh orang tua sebagai pendidik kepada anaknya. Peran orang tua sebagai pendidik bagi anak-anaknya adalah suatu keharusan dan mesti dilakukan orang tua kepada anak-anaknya, karena menurut Drost (1999: 22-29) anak-anak sangat membutuhkan beberapa hal berikut ini.
1. Mencintai dan Dicintai
Mencintai dan dicintai adalah kebutuhan paling mendasar bagi manusia. Itu berarti secara konkrit orang tua harus terbuka kepada anaknya agar dapat mengenalinya. Yang tidak dikenal mustahil dicintai.
2. Perlindungan hingga merasa aman dan kerasan
Percaya mempercayai adalah syarat mutlak menciptakan suasana aman, yaitu suasana keterbukaan yang memberikan kesempatan kepada anak untuk ikut berbagi kebahagiaan, keberhasilan, juga kegagalan dan keprihatinan dari keluarga.
3. Bimbingan
Bimbingan berarti orang tua harus menerima kemampuan anak apa adanya. Supaya kemampuan anak berkembang, orang tua harus menciptakan ruang lingkup yang menggairahkan dan merangsang. Kemudian yang perlu dihindari adalah segala hal yang menekan. Kemampuan anak harus dikembangkan, bukan cita-cita orang tua yang dipaksakan kepada anak. Anak bukan manusia dewasa kecil yang perlu dibesarkan melainkan anak yang harus didewasakan. Jadi bimbingan harus tegas, namun sabar dan penuh pengertian. Bimbingan harus didasarkan atas kepercayaan kepada anak, bukan kecurigaan. Bimbingan orang tua harus menyesuaikan diri dengan keadaan nyata si anak yang dibimbingnya.
4. Diakui
Artinya orang tua harus menghargai pribadi anak. Meskipun anak masih tergantung pada orang tua, ia harus diperlakukan sebagi pribadi yang dihargai hak-haknya.
5. Disiplin Anak adalah manusia yang didewasakan.
Sesuai dengan umurnya sedikit demi sedikit ia harus diajari dan dibiasakan hidup sebagai makhluk sosial. Ia harus bergaul dengan orang lain/sesamanya. Ia harus belajar bahwa pergaulan berarti ada aturan permainan. Ada batas-batas pada perilakunya. Semau gue tidak mungkin enjadi pola hidupnya. Orang tua harus mampu menjadi teladan bagi anak-anaknya alam hal disiplin. Apabila anak melihat ayah dan ibunya orang yang tahu disiplin, ia akan menerima bahwa kepadanya dituntut disiplin juga.
6. Menerapkan Pola Didikan Demokrasi.
Dalam pola pendidikan ini anak diberi kesempatan untuk mengungkapkan permasalahan yang dihadapi, mengungkapkan perasaan, dan diajak berdiskusi. Peran orang tua di sini adalah mengarahkan dan membimbing anaknya agar anaknya tidak berperilaku menyimpang dari aturan yang ada.
7. Bersikap Adil Terhadap Anak-Anaknya.
Orang tua harus bersikap adil kepada anak-anaknya. Dalam hal ini orang tua harus memperlakukan anak-anaknya sama, tidak pilih kasih, dan tidak membeda-bedakan antara satu dengan yang lain. Perlakuan yang tidak adil dapat membuat anak tidak betah tinggal di rumah, kurang akrab dengan orang tua, sehingga hubungan antara anak dengan orang tua dapat terganggu.
Dari pendapat di atas berkaitan dengan layanan bimbingan konseling dalam keluarga, hendaknya mengacu kepada tujuh kebutuhan anak tersebut. Dengan demikian diharapkan pelaksanaan bimbingan konseling pada anak dalam keluarga akan terarah sesuai dengan kebutuhan anak.
Selain itu, menurut Sjarkawi (2006: 78) bahwa pembentukan kepribadian anak juga harus berlandas kepada tiga prinsip dasar, yaitu prinsip kemerdekaan, prinsip kesamaan, dan saling terima (liberty, equality, dan reciprocity). Artinya apapun yang dipikirkan dan akan dilakukan oleh orang tua di rumah dalam interaksi dan komunikasinya harus dapat dikembalikan pada nilai-nilai kemerdekaan, kesamaan, dan saling terima.
Sehubungan prinsip yang telah ditawarkan oleh Sjarkawi tersebut adalah landasan dalam membentuk kepribadian anak, maka dengan demikian juga dapat dijadikan landasan dalam pelayanan bimbingan konseling kepada anak (keluarga). Bimbingan konseling berupa pemberian layanan akan kemerdekaan, kesamaan dan saling terima terhadap anak dapat membantu proses perkembangan kepribadian anak.

C. Kesimpulan
Pada dasarnya bimbingan konseling adalah sebuah upaya untuk memberikan pemahaman diri sendiri, penyesuain hidup, perkembangan dan kemandirian klien. Layanan bimbingan konseling di sekolah/madrasah dapat dilakukan berupa pengenalan terhadap lingkungan baru (sekolah), termasuklah penyesuain diri terhadap teman baru, kegiatan belajar, dan pengenalan aktivitas sebagai seorang pelajar di sekolah/madrasah, serta pemberian bantuan dalam menyelasaikan masalah peserta didik. Hal ini dilakukan oleh guru BK pada sekolah yang bersangkutan.
Sedangkan di dalam keluarga, layanan bimbingan konseling lebih khusus dilakukan oleh orang tua berupa pemberian kemerdekaan, kesamaan dan saling terima kepada peserta didik (anak) dengan mengacu kepada kebutuhan anak terhadap orang tua.

DAFTAR PUSTAKA

J. Drost, SJ. 1999. Proses Pembelajaran Sebagai Proses Pendidikan. Jakarta: Grasindo.

Hallen. A. 2002. Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Ciputat Press.

Prayitno, dkk. 2004. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.

Sjarkawi. 2006. Pembentukan Kepribadian Anak. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Kusuma Ningsih. 2009. Bimbingan dan Konseling. Dalam http://oc. upi.edu/index.php?option=com_content&view=article&id=120:bimbingan-dan-konseling&catid=65: ilmu-pendidikan&Itemid=114. Didownload pada 12 November 2009.

Pakde Sofa. 2008. Langkah-langkah dalam Memberikan Bimbingan Konseling di Sekolah.Dalam http://massofa.wordpress.com/2008/10/30/langkah-langkah-dalam-memberikan-bimbingan-konseling-di-sekolah/. Didownload pada 12 November 2009.

http://www.a741k.web44.net/BIMBINGAN%20DAN%20KONSELING. Didownload pada 12 November 2009.

Tinggalkan komentar

Filed under All Daftar, Bimbingan Konseling

PELAYANAN BIMBINGAN KONSELING DI LEMBAGA PENDIDIKAN DAN MASYARAKAT

A. Layanan Bimbingan Konseling di Sekolah/Madrasah
Dasar pertimbangan atau pemikiran tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum, undang-undang atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya secara optimal (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual).
Layanan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah sangat dibutuhkan, karena banyaknya masalah peserta didik di Sekolah/Madrasah, besarnya kebutuhan peserta didik akan pengarahan diri dalam memilih dan mengambil keputusan, perlunya aturan yang memayungi layanan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah, serta perbaikan tata kerja baik dalam aspek ketenagaan maupun manajemen.
(www.a741k.web44.net/BIMBINGAN%20DAN%20KONSELING.)
Keberadaan layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang panjang, sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian nama, semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya), kemudian sejak Kurikulum 1994 hingga sekarang berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling. Akhir-akhir ini para ahli mulai meluncurkan wacana sebutan Profesi Konseling, meski secara formal istilah ini belum digunakan.
Pelayanan bimbingan konseling di Sekolah merupakan kegiatan yang sistematis, terarah dan berkelanjutan. Oleh karena itu pelayanan bimbingan dan konseling harus selalu memperhatikan karakteristik tujuan pendidikan, kurikulum, dan peserta didik. (Hallen. A, 2002: 77)
Menurut Kusuma Ningsih (2009), secara formal terdapat empat bidang yang menjadi ruang lingkup garapan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks pesekolahan saat ini, yaitu:
1. Bidang pelayanan kehidupan pribadi;
Membantu individu menilai kecakapan, minat, bakat, dan karakteristik kepribadian diri sendiri untuk mengembangkan diri secara realistik.
2. Bidang pelayanan kehidupan sosial;
Membantu individu menilai dan mencari alternatif hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya atau dengan lingkungan sosial yang lebih luas.
3. Bidang pelayanan kegiatan belajar;
Membantu individu dalam kegiatan dalam rangka mengikuti jenjang dan jalur pendidikan tertentu dan/atau dalam rangka menguasai kecakapan atau keterampilan tertentu.
4. Bidang pelayanaan perencanaan dan pengembangan karier;
Membantu individu dalam mencari dan menetapkan pilihan serta mengambil keputusan berkenaan dengan karier tertentu, baik karier di masa depan maupun karier yang sedang dijalaninya.
(http://oc.upi.edu/index.php?option=com_content&view=article&id=120:bimbingan-dan-konseling&catid=65: ilmu-pendidikan&Itemid=114)
Sedangkan dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional saat ini terdapat tujuh jenis layanan.
1. Layanan Orientasi
Layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru, terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari, untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu, sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai, yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman.
2. Layanan Informasi
Layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar, pergaulan, karier, pendidikan lanjutan). Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu, dalam bidang pribadi, sosial, belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman.
3. Layanan Pembelajaran
Layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai materi belajar atau penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan.
4. Layanan Penempatan dan Penyaluran
Layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, kegiatan ko/ekstra kurikuler, dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat, minat dan segenap potensi lainnya. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan.
5. Layanan Konseling Perorangan
Layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi.

6. Layanan Bimbingan Kelompok
Layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial, serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial, serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan pengembangan
7. Layanan Konseling Kelompok
Layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi.
Menurut Pakde Sofa (2008), agar memudahkan melakukan layanan bimbingan dan konseling di sekolah, hendaknya perlu diketahui langkah-langkah yang harus dilakukan dalam memberikan layanan Bimbingan Konseling kepada siswa terutama kepada siswa yang mempunyai masalah. Adapun langkah-langkah tersebut meliputi:
1. Identifikasi Masalah
Pada langkah ini yang harus diperhatikan guru adalah mengenal gejala-gejala awal dari suatu masalah yang dihadapi siswa. Maksud dari gejala awal disini adalah apabila siswa menujukkan tingkah laku berbeda atau menyimpang dari biasanya. Untuk mengetahui gejala awal tidaklah mudah, karena harus dilakukan secara teliti dan hati-hati dengan memperhatikan gejala-gejala yang nampak, kemudian dianalisis dan selanjutnya dievaluasi.

2. Diagnosis
Pada langkah diagnosis yang dilakukan adalah menetapkan ” masalah ” berdasarkan analisis latar belakang yang menjadi penyebab timbulnya masalah. Dalam langkah ini dilakukan kegiatan pengumpulan data mengenai berbagai hal yang menjadi latar belakang atau yang melatarbelakangi gejala yang muncul. Pengumpulan informasi dari berbagai pihak, yaitu dari orang tua, teman dekat, guru dan juga siswa itu sendiri. Dari informasi yang terkumpul, kemudian dilakukan analisis maupun sistesis dan dilanjutkan dengan menelaah keterkaitan informasi latar belakang dengan gejala yang nampak.
3. Prognosis
Langkah prognosis ini pembimbing menetapkan alternatif tindakan bantuan yang akan diberikan setelah mengetahui latar belakang masalah. Dalam menetapkan prognosis, pembimbing perlu memperhatikan:
a. Pendekatan yang akan diberikan dilakukan secara perorangan atau kelompok;
b. Siapa yang akan memberikan bantuan, apakah guru, konselor, dokter atau individu lain yang lebih ahli;
c. Kapan bantuan akan dilaksanakan, atau hal-hal apa yang perlu dipertimbangkan.

Apabila dalam memberi bimbingan guru mengalami kendala, yaitu tidak bisa diselesaikan karena terlalu sulit atau tidak bisa ditangani oleh pembimbing, maka penanganan kasus tersebut perlu dialihkan penyelesainnya kepada orang yang lebih berwenang, seperti dokter, psikiater atau lembaga lainnya. Layanan pemindahtanganan karena masalahnya tidak mampu diselesaikan oleh pembimbing tersebut dinamakan dengan layanan referal.

4. Pemberian Bantuan
Setelah guru merencanakan pemberian bantuan, maka dilanjutkan dengan merealisasikan langkah-langkah alternatif bentuk bantuan berdasarakn masalah dan latar belakang yang menjadi penyebanya. Langkah pemberian bantuan ini dilaksanakan dengan berbagai pendekatan dan teknik pemberian bantuan. Pemberian bantuan secara individual, pada tahap awal diadakan pendekatan secara pribadi, pembimbing mengajak siswa yang bermasalah menceritakan masalahnya, mungkin pada awalnya siswa tersebut akan sangat sulit menceritakan masalahnya, karena masih memiliki perasaan takut atau tidak percaya terhadap pembimbing. Dalam hal ini pembimbing dituntut kesabarannya untuk bisa membuka hati siswa tersebut agar mau menceritakan masalahnya, dan menyakinkan bahwa masalahnya tidak akan diceritakan pada orang lain serta akan dibantu menyelesaikannya. Pemberian bantuan ini dilakukan tidak hanya sekali atau dua kali pertemuan saja, tetapi perlu waktu yang berulang-ulang dan dengan jadwal dan sifat pertemuan yang tidak terikat, sehingga siswa yang mempunyai masalah mempunyai waktu untuk menceritakan masalahnya dan bersedia diberikan bantuan. Oleh sebab itu seorang pembimbing harus dapat menumbuhkan transferensi yang positif dimana klien mau memproyeksikan perasaan ketergantungannya kepada pembimbing (konselor).
5. Evaluasi dan Tindak Lanjut
Setelah pembimbing dan klien melakukan beberapa kali pertemuan, dan mengumpulkan data dari beberapa individu, maka langkah selanjutnya adalah melakukan evaluasi dan tindak lanjut. Evaluasi dapat dilakukan selama proses pemberian bantuan berlangsung sampai pada akhir pemberian bantuan. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa teknik, seperti melalui wawancara, angket, observasi diskusi, dokumentasi dan sebagainya. Pembimbing mengadakan evaluasi untuk mengetahui sampai sejauh mana upaya pemberian bantuan telah dilaksanakan dan bagaimana hasil dari pemberian bantuan tersebut, bagaimana ketepatan pelaksanaan yang telah diberikan. Dari evaluasi tersebut dapat diambil langkah-langkah selanjutnya; apabila pemberian bantuan kurang berhasil, maka pembimbing dapat merubah tindakan atau mengembangkan bantuan kedalam bentuk yang berbeda.
(http://massofa.wordpress.com/2008/10/30/langkah-langkah-dalam-memberikan-bimbingan-konseling-di-sekolah/)

B. Layanan Bimbingan Konseling di Masyarakat
Sejalan dengan dinamika kehidupan, kebutuhan akan bimbingan dan konseling tidak hanya dirasakan pada lingkungan persekolahan, saat ini sedang dikembangkan pula pelayanan bimbingan dan konseling dalam setting yang lebih luas, seperti dalam keluarga, bisnis dan masyarakat luas lainnya, yang kesemuanya itu membawa konsekuensi tersendiri bagi untuk kepentingan tersebut. (KusumaNingsih, http://oc.upi.edu/index. php?option=com_content&view=article&id=120:bimbingan-dan-konseling&catid=65:ilmu-pendidikan&Itemid=114)
Dalam makalah ini kami paparkan bimbingan konseling dalam lingkungan keluarga. Sebagaimana telah disinggung di atas, tentang perluasan kawasan bimbingan dan konseling yang mencakup kehidupan yang lebih luas. Saat ini sedang dikembangkan bidang baru yaitu bidang pelayanan kehidupan berkeluarga untuk membantu individu dalam mencari dan menetapkan serta mengambil keputusan berkenaan dengan rencana perkawinan dan/atau kehidupan berkeluarga yang dijalaninya.
Menurut Prayitno dan Erman Amti (2004: 245) keluarga merupakan satuan persekutuan hidup yang paling mendasar dan merupakan pangkal kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu bimbingan konseling juga harus diterapkan atau dilakukan pada keluarga.

Bimbingan konseling dalam keluarga ini juga luas cakupannya. Namun pada makalah ini kami batasi hanya dilakukan oleh orang tua sebagai pendidik kepada anaknya. Peran orang tua sebagai pendidik bagi anak-anaknya adalah suatu keharusan dan mesti dilakukan orang tua kepada anak-anaknya, karena menurut Drost (1999: 22-29) anak-anak sangat membutuhkan beberapa hal berikut ini.
1. Mencintai dan Dicintai
Mencintai dan dicintai adalah kebutuhan paling mendasar bagi manusia. Itu berarti secara konkrit orang tua harus terbuka kepada anaknya agar dapat mengenalinya. Yang tidak dikenal mustahil dicintai.
2. Perlindungan hingga merasa aman dan kerasan
Percaya mempercayai adalah syarat mutlak menciptakan suasana aman, yaitu suasana keterbukaan yang memberikan kesempatan kepada anak untuk ikut berbagi kebahagiaan, keberhasilan, juga kegagalan dan keprihatinan dari keluarga.
3. Bimbingan
Bimbingan berarti orang tua harus menerima kemampuan anak apa adanya. Supaya kemampuan anak berkembang, orang tua harus menciptakan ruang lingkup yang menggairahkan dan merangsang. Kemudian yang perlu dihindari adalah segala hal yang menekan. Kemampuan anak harus dikembangkan, bukan cita-cita orang tua yang dipaksakan kepada anak. Anak bukan manusia dewasa kecil yang perlu dibesarkan melainkan anak yang harus didewasakan. Jadi bimbingan harus tegas, namun sabar dan penuh pengertian. Bimbingan harus didasarkan atas kepercayaan kepada anak, bukan kecurigaan. Bimbingan orang tua harus menyesuaikan diri dengan keadaan nyata si anak yang dibimbingnya.
4. Diakui
Artinya orang tua harus menghargai pribadi anak. Meskipun anak masih tergantung pada orang tua, ia harus diperlakukan sebagi pribadi yang dihargai hak-haknya.
5. Disiplin Anak adalah manusia yang didewasakan.
Sesuai dengan umurnya sedikit demi sedikit ia harus diajari dan dibiasakan hidup sebagai makhluk sosial. Ia harus bergaul dengan orang lain/sesamanya. Ia harus belajar bahwa pergaulan berarti ada aturan permainan. Ada batas-batas pada perilakunya. Semau gue tidak mungkin enjadi pola hidupnya. Orang tua harus mampu menjadi teladan bagi anak-anaknya alam hal disiplin. Apabila anak melihat ayah dan ibunya orang yang tahu disiplin, ia akan menerima bahwa kepadanya dituntut disiplin juga.
6. Menerapkan Pola Didikan Demokrasi.
Dalam pola pendidikan ini anak diberi kesempatan untuk mengungkapkan permasalahan yang dihadapi, mengungkapkan perasaan, dan diajak berdiskusi. Peran orang tua di sini adalah mengarahkan dan membimbing anaknya agar anaknya tidak berperilaku menyimpang dari aturan yang ada.
7. Bersikap Adil Terhadap Anak-Anaknya.
Orang tua harus bersikap adil kepada anak-anaknya. Dalam hal ini orang tua harus memperlakukan anak-anaknya sama, tidak pilih kasih, dan tidak membeda-bedakan antara satu dengan yang lain. Perlakuan yang tidak adil dapat membuat anak tidak betah tinggal di rumah, kurang akrab dengan orang tua, sehingga hubungan antara anak dengan orang tua dapat terganggu.
Dari pendapat di atas berkaitan dengan layanan bimbingan konseling dalam keluarga, hendaknya mengacu kepada tujuh kebutuhan anak tersebut. Dengan demikian diharapkan pelaksanaan bimbingan konseling pada anak dalam keluarga akan terarah sesuai dengan kebutuhan anak.
Selain itu, menurut Sjarkawi (2006: 78) bahwa pembentukan kepribadian anak juga harus berlandas kepada tiga prinsip dasar, yaitu prinsip kemerdekaan, prinsip kesamaan, dan saling terima (liberty, equality, dan reciprocity). Artinya apapun yang dipikirkan dan akan dilakukan oleh orang tua di rumah dalam interaksi dan komunikasinya harus dapat dikembalikan pada nilai-nilai kemerdekaan, kesamaan, dan saling terima.
Sehubungan prinsip yang telah ditawarkan oleh Sjarkawi tersebut adalah landasan dalam membentuk kepribadian anak, maka dengan demikian juga dapat dijadikan landasan dalam pelayanan bimbingan konseling kepada anak (keluarga). Bimbingan konseling berupa pemberian layanan akan kemerdekaan, kesamaan dan saling terima terhadap anak dapat membantu proses perkembangan kepribadian anak.

C. Kesimpulan
Pada dasarnya bimbingan konseling adalah sebuah upaya untuk memberikan pemahaman diri sendiri, penyesuain hidup, perkembangan dan kemandirian klien. Layanan bimbingan konseling di sekolah/madrasah dapat dilakukan berupa pengenalan terhadap lingkungan baru (sekolah), termasuklah penyesuain diri terhadap teman baru, kegiatan belajar, dan pengenalan aktivitas sebagai seorang pelajar di sekolah/madrasah, serta pemberian bantuan dalam menyelasaikan masalah peserta didik. Hal ini dilakukan oleh guru BK pada sekolah yang bersangkutan.
Sedangkan di dalam keluarga, layanan bimbingan konseling lebih khusus dilakukan oleh orang tua berupa pemberian kemerdekaan, kesamaan dan saling terima kepada peserta didik (anak) dengan mengacu kepada kebutuhan anak terhadap orang tua.

DAFTAR PUSTAKA

J. Drost, SJ. 1999. Proses Pembelajaran Sebagai Proses Pendidikan. Jakarta: Grasindo.

Hallen. A. 2002. Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Ciputat Press.

Prayitno, dkk. 2004. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.

Sjarkawi. 2006. Pembentukan Kepribadian Anak. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Kusuma Ningsih. 2009. Bimbingan dan Konseling. Dalam http://oc. upi.edu/index.php?option=com_content&view=article&id=120:bimbingan-dan-konseling&catid=65: ilmu-pendidikan&Itemid=114. Didownload pada 12 November 2009.

Pakde Sofa. 2008. Langkah-langkah dalam Memberikan Bimbingan Konseling di Sekolah.Dalam http://massofa.wordpress.com/2008/10/30/langkah-langkah-dalam-memberikan-bimbingan-konseling-di-sekolah/. Didownload pada 12 November 2009.

http://www.a741k.web44.net/BIMBINGAN%20DAN%20KONSELING. Didownload pada 12 November 2009.

Tinggalkan komentar

Filed under Bimbingan Konseling