Category Archives: Akidah Akhlak

Nabi dan Rasul

oleh Hermansyah

PETA KONSEP

  1. Pengertian Nabi dan Rasul
  2. Nama-nama Rasul yang harus diketahui
  3. Muhammad sebagai Nabi dan Rasul Terakhir

1. Pengertian Nabi dan Rasul

Nabi menurut bahasa adalah orang  yang diberi berita atau menerima berita. Menurut istilah Agama, Nabi ialah seseroang yang menerima wahyu dari Tuhan berkenaan dengan syari’at  Agama. Rasul menurut bahasa adalah utusan atau orang yang dikirim unutk suatu tugas. Menurut istilah Agama, Rasul ialah seseorang yang menerima wahyu dari Tuhan berkenaan dengan syari’at Agama dan ditugaskan untuk menyampaikan kepada orang banyak. Menurut pendapat ini, bahwa setiap Rasul adalah Nabi, tetapi setiap Nabi belum tentu Rasul. Pengiriman Nabi dan Rasul kepada umat manusia sangat diperlukan, karena akal manusia terbatas untuk mengetahui rahasia kehidupan, baik kehidupan dunia, maupun kehidupan akhirat.

Selain itu untuk menghindari agar manusia tidak merasa teraniaya (dizhalimi) di akhirat nanti, perlu dijelaskan mengenai perbuatan baik yang harus dikerjakan dan perbuatan buruk yang harus ditinggalkan,

Firman Allah:

Artinya: “(mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

2. Nama-nama Rasul yang harus diketahui1. Nama 25 Rasul yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunnah

Allah mengutus para Rasulu untuk menyampaikan Agama-Nya kepada umat manusia. Allah mengutus  Rasul-Nya kepada setiap umat.

Firman Allah SWT:

Artinya:” Tiap-tiap umat mempunyai rasul; Maka apabila Telah datang Rasul mereka, diberikanlah Keputusan antara mereka[1] dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya.

Karena setiap umat diutus Rasulnya, maka jumlah Nabi dan Rasul sangat banyak. Dalam sebuah hadis disebutkan, ketika Rasulullah ditanyakan tentang jumlah Nabi dan Rasul, beliau menjawab:

Jumlah (Nabi) seratus dua puluh ribu orang dan yang menjadi Rasul di antara mereka tiga ratus tiga belas orang.” (HR. Bukhari-Muslim)

Di antara 313 Rasul tersebut hanya sebagian kecil saja yang diterangkan namanya di dalam Al-Qur’an. Pada surah al-Mukminum ayat 78 diterangkan:

Artinya:Dan dialah yang Telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. amat sedikitlah kamu bersyukur[2]

Rasul-rasul yang diterangkan di dalam Al-Qur’an dalam berbagai ayat ada 25 orang, yaitu:

  1. Adam AS
  2. Idris AS
  3. Nuh AS
  4. Hud AS
  5. Shaleh AS
  6. Ibrahim AS
  7. Luth AS
  8. Ismail AS
  9. Ishak AS

10.  Yakub AS

11.  Yusuf AS

12.  Ayub AS

13.  Syuaib AS

14.  Musa AS

15.  Harun AS

16.  Dzulkifli AS

17.  Daud AS

18.  Sulaiman AS

19.  Ilyas AS

20.  Ilyasa AS

21.  Yunus AS

22.  Zakaria AS

23.  Yahya AS

24.  Isa AS

25.  Muhammad SAW

 

 

  1. 2. Para Rasul Ulul ‘Azmi

Tingkat para Rasul itu tidak sama. Sebagaimana disebutkan dalam surah al-Baqarah ayat 253 yang artinya sebagai berikut:

Rasul-rasul itu kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya[3]beberapa derajat. dan kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus[4]. dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, Maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.

Demikianlah, halnya dari 25 orang Rasul, 5 orang di antaranya disebut Rasul Ulul ‘ Azmi yaitu Rasul pilihan yang memiliki keteguhan hati dan ketabahan yang luar biasa. Gigih dalam berjuang, dan sangat sabar menerima berbagai cobaan. Rasul-rasul Ulum ‘Azmi itu ialah:

  1. Nabi Nuha AS
  2. Nabi Ibrahim AS
  3. Nabi Musa AS
  4. Nabi Isa AS
  5. Nabi Muhammad SAW

Para Nabi/Rasul tersebut di atas sangat pantas mendapat gelar Ulul ‘Azmi, karena memiliki kesitimewaan daripada Nabi-nabi yang lain. Nabi Nuh misalnya, beliau terkenal dengan ketabahan dan kesabarannya. Selama ratusan tahun berdakwah menyampaikan ajaran Allah, tetapi hanya sedikit sekali orang yang mau mengikuti seruannya. Sebagian besar menolak, bahkan mengejek dan menghinganya. Bahkan anaknya sendiri yang membangkang dan akhirnya tenggelam dalam gelombang banjir yang dahsyat. Beliau menyaksikan kejadian dengan tabah.

Pengalaman Nabi Ibarahim yang hidup ditengah-tengah kemusyrikan, ia menyeru umatnya ke jalan yang benar, tapi hampir semua mereka menjalani hukuman bakar hidup-hidup Allah Maha Kuasa. Nabi Ibrahim diselamatkan, rupanya ujian Allah belum selesai. Nabi Ibrahim diperintahkan Allah menyembelih putra kesayangannya, Ismail, perintah Allah tersebut ia laksanakan dengan ihklas. Dan Allah menunjuk kebesaran-Nya. Ismail digantikan dengan seekor domba kemudia domba tiulah yang dikorbankan.

Nabi Musa yang hidup di Zaman Raja Firuan yang mengaku dirinya Tuhan harus menghadappi tantangan yang sangat berat. Setiap kali tantangan datang menghadang,selalu ia hadapi dengan tabah. Ia dikejar-kejar untuk dibunuh, tapi selalu diselamatkan Allah.

Demikian Nabi Isa yang sejak menjelang kelahirannya sudah dipermasalahkan dan menjadi bahan fitnah dari orang-orang kafir, sampai akhir hayatnya selalu difitnah dan dikejar-kejar. Semua itu ia hadapi dengan sabar dan tabah. Mengenai perjuangan Nabi Muhammad SAW, kita sudah mengetahui. Betap kejam kaum kafir memperlakukan Nabi dihina, dikucilkan, diteror, bahkan hendak dibunuh. Tetapi semua perlakuan yang keji itu beliau balas dengan sabar dan lemah lembut. Akhirnya ajaran beliau berkembang dengan pesat ke seluruh dunia. Sehubungan dengan Rasul Ulul Azmi Allah menerangkan dalam Al-Qur’an surah asy-Syura ayat 13.

  1. 3. Muhammad sebagai Nabi dan Rasul Terakhir

Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul pada usia 40 tahun. Ditandai  dengan datangnya Malaikat Jibril di gua Hira menyampaikan wahyu.  Wahyu yang pertama adalah surah al-Alaq ayat 1-5. Nabi Muhammad adalah seorang Nabi dan Rasul terakhir. Sebelum beliau, banyak Rasul yang telah diutus Allah kepada umatnya masing-masing. Jika para Rasul sebelumnya diiutus khusus umat mereka masing-masing, maka Nabi Muhammad diutus, untuk seluruh umat manusia. Tidak terbatas pada atau untuk zaman tertentu, tetapi beliau berlaku sepanjang zaman.

Sebagai Nabi dan Rasul terakhir, Nabi Muhammad memiliki beberap keistiemaan. Berita tentang akan datangnya Rasul terakhir (Nabi Muhammad) sudah disampaikan Allah kepada Rasul-rasul sebelumnya. Sebagai pemimpin umat. Beliau memiliki kepribadian yang utuh. Beliau adalah orang sabar, tabah dan teguh Pendiriannya. Ketabahan dan keteguhan hati beilau sudah ditempa sejak beliau masih kecil. Bahkan beliau sudah ditempa sejak ketika masih dalam kandungan. Pada usia enam tahun beliau sudah menjadi yatim piatu. Kakek beliau yang mengasuhnya dengan kasih sayang pun meninggal pula. Pada waktu itu beliau berusia 8 tahun. Lengkaplah sudah ujian yang dialaminya.

“Muhammad” artinya “ Yang Terpuji” merupakan nama istimewa. Tidak pernah ada nama seperti itu sebelumya. Dan memang kepribadian Nabi Muhammad merupakan pribadi yang terpuji, kesabarannya, ketabahannnya, keberaniannya, keadilannya, ketegasannya, kepatuhannya terhadap Allah, kepemurahannya, kasih sayangngya, lemah lembutnya, dan sifat-sifat tepuji lainnya merupaakan milikinya dan sekaligus merupakan keistimewaannya sebagai seorang Nabi dan Rasul terakhir.

Dalil berkenaan kedudukan Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasul terakhir.

  1. Penutup Nabi-nabi

Artinya: Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu[5], tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS al-Ahzab:40)

  1. Telah lewat-lewat beberap Rasul sebelumnya

Artinya: Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh Telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul[6]. apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.(QS ali-Imran:144)

  1. Menjadi teladan yang baik

Artinya:Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS al-Ahzab: 21)

  1. Mengeluarkan umat dari kegelapan kepada cahaya terang

Artinya:(dan mengutus) seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari kegelapan kepada cahaya. dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezki yang baik kepadanya.(QS at-Thalaq: 11)

  1. Menempuh jalan yang lurus

Artinya: 3.  Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul,4.  (yang berada) diatas jalan yang lurus,5.  (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang,6.  Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, Karena itu mereka lalai.(QS. Yasin: 3-6)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Alfat, Hasan, dkk. 1994. Aqidah Akhlak. Jakarta. CV Toha Putra Semarang


[1] Maksudnya: antara Rasul dan kaumnya yang mendustakannya.

[2] yang dimaksud dengan bersyukur di ayat Ini ialah menggunakan alat-alat tersebut untuk memperhatikan bukti-bukti kebesaran dan keesaan Tuhan, yang dapat membawa mereka beriman kepada Allah s.w.t. serta taat dan patuh kepada-Nya. kaum musyrikin memang tidak berbuat demikian.

[3] yakni nabi Muhammad s.a.w.

[4] Maksudnya: kejadian Isa a.s. adalah kejadian yang luar biasa, tanpa bapak, yaitu dengan tiupan Ruhul Qudus oleh Jibril kepada diri Maryam. Ini termasuk mukjizat Isa a.s. menurut Jumhur musafirin, bahwa Ruhul Qudus itu ialah malaikat Jibril.

[5] Maksudnya: nabi Muhammad s.a.w. bukanlah ayah dari salah seorang sahabat, Karena itu janda Zaid dapat dikawini oleh Rasulullah s.a.w.

[6] Maksudnya: nabi Muhammad s.a.w. ialah seorang manusia yang diangkat Allah menjadi rasul. rasul-rasul sebelumnya Telah wafat. ada yang wafat Karena terbunuh ada pula yang Karena sakit biasa. Karena itu nabi Muhammad s.a.w. juga akan wafat seperti halnya rasul-rasul yang terdahulu itu. di waktu berkecamuknya perang Uhud tersiarlah berita bahwa nabi Muhammad s.a.w. mati terbunuh. berita Ini mengacaukan kaum muslimin, sehingga ada yang bermaksud meminta perlindungan kepada abu Sufyan (pemimpin kaum Quraisy). sementara itu orang-orang munafik mengatakan bahwa kalau nabi Muhammad itu seorang nabi tentulah dia tidak akan mati terbunuh. Maka Allah menurunkan ayat Ini untuk menenteramkan hati kaum muslimin dan membantah kata-kata orang-orang munafik itu. (Sahih Bukhari bab Jihad). abu bakar r.a. mengemukakan ayat Ini di mana terjadi pula kegelisahan di kalangan para sahabat di hari wafatnya nabi Muhammad s.a.w. untuk menenteramkan Umar Ibnul Khaththab r.a. dan sahabat-sahabat yang tidak percaya tentang kewafatan nabi itu. (Sahih Bukhari bab ketakwaan Sahabat).

Tinggalkan komentar

Filed under Akidah Akhlak, All Daftar

PERILAKU TERPUJI (ADIL, RIDHO, RELA BERKORBAN)

oleh Steofandi

A. PETA KONSEP

1)      Adil

  1. Pengertian Adil
  2. Dalil tentang Adil
  3. Contoh perilaku Adil

2)      Ridho

  1. Pengertian Ridho
  2. Dalil tentang Ridho
  3. Jenis-jenis Ridho
  4. Contoh perilaku Ridho

3)      Rela berkorban

  1. Pengertian Rela Berkorban
  2. Jenis-jenis Rela Berkorban
  3. Dalil tentang Rela berkorban
  4. Contoh perilaku Rela Berkorban

4)      Cara menumbuhkan perilaku adil, ridho, dan rela berkorban

5)      Hikmah perilaku adil, ridho, dan rela berkorban

  1. B. URAIAN MATERI
  2. 1. Adil
    1. a. Pengertian adil

Kata adil sering disinonimkan dengan kata al musawah (persamaan) dan al qisth (moderat/seimbang) dan kata adil dilawankan dengan kata dzalim.[1] Prinsip ini benar-benar merupakan akhlak mulia yang sangat ditekankan dalam syari’at Islam, sehingga wajar kalau tuntunan dan aturan agama semuanya dibangun di atas dasar keadilan dan seluruh lapisan manusia diperintah untuk berlaku adil.

Adil adalah memberikan hak kepada orang yang berhak menerimanya tanpa ada pengurangan, dan meletakkan segala urusan pada tempat yang sebenarnya tanpa ada aniaya, dan mengucapkan kalimat yang benar tanpa ada yang ditakuti kecuali terhadap Allah swt saja.[2] Allah swt berfirman:

* $pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#qçRqä. tûüÏBº§qs% ÅÝó¡É)ø9$$Î/ uä!#y‰pkà­ ¬! öqs9ur #’n?tã öNä3Å¡àÿRr& Írr& Èûøïy‰Ï9ºuqø9$# tûüÎ/tø%F{$#ur 4 bÎ) ïÆä3tƒ $†‹ÏYxî ÷rr& #ZŽÉ)sù ª!$$sù 4’n<÷rr& $yJÍkÍ5 ( Ÿxsù (#qãèÎ7­Fs? #“uqolù;$# br& (#qä9ω÷ès? 4 bÎ)ur (#ÿ¼âqù=s? ÷rr& (#qàÊ̍÷èè? ¨bÎ*sù ©!$# tb%x. $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? #ZŽÎ6yz ÇÊÌÎÈ

Artinya:”Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi Karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia[3]Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu Karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.(QS. An-Nisa’:135)

Islam memerintahkan kepada kita agar kita berlaku adil kepada semua manusia. yaitu keadilan seorang Muslim terhadap orang yang dicintai, dan keadilan seorang Muslim terhadap orang yang dibenci. Sehingga perasaan cinta itu tidak bersekongkol dengan kebathilan, dan perasaan benci itu tidak mencegah dia dari berbuat adil (insaf) dan memberikan kebenaran kepada yang berhak.[4]

Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu .” (An-Nisa’: 135)

  1. b. Dalil tentang adil

uä!$yJ¡¡9$#ur $ygyèsùu‘ yì|Êurur šc#u”ÏJø9$# ÇÐÈ žwr& (#öqtóôÜs? ’Îû Èb#u”ÏJø9$# ÇÑÈ (#qßJŠÏ%r&ur šcø—uqø9$# ÅÝó¡É)ø9$$Î/ Ÿwur (#rçŽÅ£øƒéB tb#u”ÏJø9$# ÇÒÈ

Artinya:”Dan Allah Telah meninggikan langit dan dia meletakkan neraca (keadilan).8.  Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu.9.  Dan Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.. (QS. Ar-Rahman:7-9)

ô‰s)s9 $uZù=y™ö‘r& $oYn=ߙ①ÏM»uZÉit7ø9$$Î/ $uZø9t“Rr&ur ÞOßgyètB |=»tGÅ3ø9$# šc#u”ÏJø9$#ur tPqà)u‹Ï9 â¨$¨Y9$# ÅÝó¡É)ø9$$Î/ ( $uZø9t“Rr&ur y‰ƒÏ‰ptø:$# ÏmŠÏù Ó¨ù’t/ ӉƒÏ‰x© ßìÏÿ»oYtBur Ĩ$¨Z=Ï9 zNn=÷èu‹Ï9ur ª!$# `tB ¼çnçŽÝÇZtƒ ¼ã&s#ߙâ‘ur Í=ø‹tóø9$$Î/ 4 ¨bÎ) ©!$# ;“Èqs% ֓ƒÌ“tã ÇËÎÈ

Artinya:Sesungguhnya kami Telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan Telah kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. dan kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (QS. Al-Hadidi:25)

Dan Allah Ahkamul Hâkimîn memerintah untuk berlaku adil secara mutlak,

“Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat(mu).” (QS. Al-An’âm : 152)

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, biarpun terhadap diri kalian sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabat kalian. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kalian memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjaan.” (QS. An-Nisâ` : 135)

Dan Rabbul ‘Izzah tetap memerintahkan untuk berlaku adil walaupun terhadap musuh sendiri,

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mâ`idah : 8)

Dan Allah memuji orang-orang yang berlaku adil,

“Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan.” (QS. Al-A’râf : 181)

Dan Nabi-Nya telah diperintah untuk menyatakan,

“Dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kalian.” (QS. Asy-Syûrô: 15)

  1. c. Cotoh perilaku adil

Abu Yusuf duduk di kursi hakim, lalu datang seseorang bersama al Hadi, raja abbasiyah mempersengketakan sebuah kebun, Abu Yusuf melihat bahwa kebenaran ada di tangan orang itu, sedangkan  sultan datang membawa para saksi, maka Qadhi berkata: lawan anda meminta agar anda bersumpah bahwa para saksi itu jujur. maka al Hadi tidak ingin bersumpah, karena hal itu menurunkan wibawanya, maka Abu Yusuf mengembalikan ketun itu kepada pemiliknya

Qadhi Muhammad bin Umar at thalhi memanggil khalifah almanshur al Abbasi dan beberapa kuli angkut ke majlis pengadilan dihalaman masjid, beliau mendudukkan kedua belah pihak di hadapannya, lalu beliau memenangkan perkara untuk para kuli angkut tersebut.

Penduduk Samarkand menyampaikan pengaduan kepada Amirul mukminin Umar bin Abdul aziz atas panglima pasukannya Qutaibah, karena pasukan Islam masuk Negara mereka dan memeranginya tanpa peringatan sebelumnya sebagaimana diwajibkan oleh syari’at al-Qur’an, maka amirul mukminin mengalihkan pengaduan mereka kepada Qadhi, lalu penduduk Samarkand memenangkan perkara, karena Qadhi membuat putusan agar umat Islam keluar dari Samarkand.[5]

  1. 2. Ridho
    1. a. Pengertian Ridho
    2. b. Jenis-jenis Ridho
Kata Ridho berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata rodiya yang berarti senang, suka, rela. Ridho merupakan sifat yang terpuji yang harus dimiliki oleh manusia. Banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah SWT ridho terhadap kebaikan hambanya.[6]
Ridha (رِضَى ) menurut kamus al-Munawwir artinya senang, suka, rela.[7] Dan bisa diartikan Ridho/rela adalah nuansa hati kita dalam merespon semua pemberian-NYA yang setiap saat selalu ita rasakan.[8] Pengertian ridha  juga ialah menerima dengan senang segala apa yang diberikan oleh Allah s.w.t. baik berupa peraturan ( hukum ) atau pun qada’ atau sesuatu ketentuan dari Allah s.w.t.[9]
Allah swt berfirman:
tA$s% ª!$# #x‹»yd ãPöqtƒ ßìxÿZtƒ tûüÏ%ω»¢Á9$# öNßgè%ô‰Ï¹ 4 öNçlm; ×M»¨Yy_ “̍øgrB `ÏB $ygÏFøtrB ㍻yg÷RF{$# tûïÏ$Î#»yz !$pkŽÏù #Y‰t/r& 4 zÓÅ̧‘ ª!$# öNåk÷]tã (#qàÊu‘ur çm÷Ztã 4 y7Ï9ºsŒ ã—öqxÿø9$# ãLìÏàyèø9$# ÇÊÊÒÈ
Artinya:”Allah berfirman: "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadapNya[10] Itulah keberuntungan yang paling besar".(QS. Al-Maidah:119)

Jadi ridho adalah perilaku terpuji menerima dengan senang apa yang telah diberikan Allah kepadanya, berupa ketentuan  yang diberikan kepada manusia.

Dalam kehidupan seserorang ada beberapa hal yang harus menampilkan sikap ridha, minimal empat macam berikut ini:

  1. 1. Ridha terhadap perintah dan larangan Allah

Artinya ridha untuk mentaati Allah dan Rasulnya. Pada hakekatnya seseorang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat, dapat diartikan sebagai pernyataan ridha terhadap semua nilai dan syari’ah Islam.

  1. 2. Ridha terhadap taqdir Allah.

Ada dua sikap utama bagi seseorang ketika dia tertimpa sesuatu yang tidak diinginkan yaitu ridha dan sabar. Ridha merupakan keutamaan yang dianjurkan, sedangkan sabar adalah keharusan dan kemestian yang perlu dilakukan oleh seorang muslim.

Perbedaan antara sabar dan ridha adalah sabar merupakan perilaku menahan nafsu dan mengekangnya dari kebencian, sekalipun menyakitkan dan mengharap akan segera berlalunya musibah. Sedangkan ridha adalah kelapangan jiwa dalam menerima taqdir Allah swt. Dan menjadikan ridha sendiri sebagai penawarnya. Sebab didalam hatinya selalu tertanam sangkaan baik (Husnuzan) terhadap sang Khaliq bagi orang yang ridha ujian adalah pembangkit semangat untuk semakin dekat kepada Allah, dan semakin mengasyikkan dirinya untuk bermusyahadah kepada Allah.

  1. 3. Ridha terhadap perintah orang tua.

Ridha terhadap perintah orang tua merupakan salah satu bentuk ketaatan kita kepada Allah swt. karena keridhaan Allah tergantung pada keridhaan orang tua,  sebagaiman perintah Allah dalam Q.S. Luqman (31) ayat 14. Bahkan Rasulullah bersabda : “Keridhaan Allah tergantung keridhaan orang tua, dan murka Allah tergantung murka orang tua”. Begitulah tingginya nilai ridha orang tua dalam kehidupan kita, sehingga untuk mendapatkan keridhaan dari Allah, mempersyaratkan adanya keridhaan orang tua. Ingatlah kisah Juraij, walaupun beliau ahli ibadah, ia mendapat murka Allah karena ibunya tersinggung ketika ia tidak menghiraukan panggilan ibunya.

  1. 4. Ridha terhadap peraturan dan undang-undang Negara

Mentaati peraturan yang belaku merupakan bagian dari ajaran Islam dan merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah swt. karena dengan demikian akan menjamin keteraturan dan ketertiban sosial. sebagaimana firman Allah yang terdapat dalam Q.S. an-Nisa:59. Ulil Amri artinya orang-orang yang diberi kewenangan, seperti ulama dan umara (Ulama dan pemerintah). Ulama dengan fatwa dan nasehatnya sedangkan umara dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Termasuk dalam ridha terhadap peraturan dan undang-undang negara adalah ridha terhadap peraturan sekolah, karena dengan sikap demikian, berarti membantu diri sendiri, orang tua, guru dan sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan. Dengan demikian mempersiapkan diri menjadi kader bangsa yang tangguh.

  1. c. Dalil tentang Ridho

öqs9ur óOßg¯Rr& (#qàÊu‘ !$tB ÞOßg9s?#uä ª!$# ¼ã&è!qߙu‘ur (#qä9$s%ur $uZç6ó¡ym ª!$# $oYŠÏ?÷sã‹y™ ª!$# `ÏB ¾Ï&Î#ôÒsù ÿ¼ã&è!qߙu‘ur !$¯RÎ) ’n<Î) «!$# šcqç6Ïîºu‘ ÇÎÒÈ

Artinya:”Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah,” (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).(QS. At-Taubah:59)

 

  1. d. Contoh Perilaku Ridho

Δ   Dalam suatu kisah Abu Darda’, pernah melayat pada sebuah keluarga, yang salah satu anggota keluarganya meninggal dunia. Keluarga itu ridha dan tabah serta memuji Allah swt. Maka Abu Darda’ berkata kepada mereka. “Engkau benar, sesungguhnya Allah swt. apabila memutuskan suatu perkara, maka dia senang jika taqdirnya itu diterima dengan rela atau ridha.

Begitu tingginya keutamaan ridha, hingga ulama salaf mengatakan, tidak akan tampak di akhirat derajat yang tertinggi daripada orang-orang yang senantiasa ridha kepada Allah swt. dalam situasi apapun.

Δ   Dalam riwayat dikisahkan  sebagai berikut ; pada suatu hari Ali bin Abi Thalib r.a. melihat Ady bin Hatim bermuram durja, maka Ali bertanya ; “Mengapa engkau tampak bersedih hati ?”. Ady menjawab ; “Bagaimana aku tidak bersedih hati, dua orang anakku terbunuh dan mataku tercongkel dalam pertempuran”. Ali terdiam haru, kemudian berkata, “Wahai Ady, barang siapa ridha terhadap taqdir Allah swt. maka taqdir itu tetap berlaku atasnya dan dia mendapatkan pahalaNya, dan barang siapa tidak ridha terhadap taqdirNya maka hal itupun tetap berlaku atasnya, dan terhapus amalnya”.

  1. 3. Rela berkorban
    1. a. Pengertian Rela berkorban

Rela berarti bersedia dengan ikhlas hati, tidak mengharapkan imbalan atau dengan kemaun sendiri. Berkorban berarti memiliki sesuatu yang dimiliki sekalipun menimbulkan penderitaan bagi dirinya sendiri. Rela berkorban dalam kehidupan masyarakat berarti bersedia dengan ikhlas memberikan sesuatu (tenaga, harta, atau pemikiran) untuk kepentingan orang lain atau masyarakat. Walaupun dengan berkorban akan menimbulkan cobaan penderitaan bagi dirinya sendiri.[11]

  1. b. Jenis-jenis Rela berkorban

Sebagaimana dijelaskan dalam (http://didimasyhudi.blogspot.com/2009/05/husnudzan.html) adapun bentuk rela korban dalam kehidupan sehari-hari sebagai berikut:

1. Rela berkorban dalam lingkungan keluarga ;

  • Biaya untuk sekolah yang diberikan orang tua kepada anak-anaknya
  • Keikhlasan orang tua dalam memelihara, mengasuh, dan mendidik anak-anaknya

2. Rela berkorban dalam lingkungan kehidupan sekolah :

  • Pemberian dari siswa berupa sumbangan pohon, tanaman dan bunga untuk halaman sekolah
  • Para siswa dan guru mengumpulkan sumbangan pakaian layak pakai untuk meringankan beban warga yang tertimpa bencana.

3. Rela berkorban dalam lingkungan kehidupan masyarakat :

  • Warga masyarakat bergotong royong meperbaiki jembatan yang rusak karena longsor
  • Warga masyarakat yang mampu menjadi guru sukarelawan bagi anak-anak yang terlantar putus sekolah dan tidak mampu

4. Rela berkorban dalan lingkungan kehidupan berbangsa dan bernegara :

  • Para warga negara atau masyarakat membayar pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku, seperti pajak kendaraan bermotor, pajak bumi dan bangunan
  • Warga masyarakat merelakan sebagian tanahnya untuk pembangunan irigasi dengan memperoleh penggantian yang layak
  1. c. Dalil tentang Rela Berkorban

bÎ)ur Èb$tGxÿͬ!$sÛ z`ÏB tûüÏZÏB÷sßJø9$# (#qè=tGtGø%$# (#qßsÎ=ô¹r’sù $yJåks]÷t/ ( .bÎ*sù ôMtót/ $yJßg1y‰÷nÎ) ’n?tã 3“t÷zW{$# (#qè=ÏG»s)sù ÓÉL©9$# ÓÈöö7s? 4Ó®Lym uäþ’Å”s? #’n<Î) ̍øBr& «!$# 4 bÎ*sù ôNuä!$sù (#qßsÎ=ô¹r’sù $yJåks]÷t/ ÉAô‰yèø9$$Î/ (#þqäÜÅ¡ø%r&ur ( ¨bÎ) ©!$# =Ïtä† šúüÏÜÅ¡ø)ßJø9$# ÇÒÈ

Artinya:”Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau dia Telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.(QS. Al-Hujurat:9)

 

 

  1. d. Contoh perilaku rela berkorban

Abu Jahm bin Hudzaifah RA meriwayatkan, “Ketika peperangan Yarmuk terjadi, saya pergi untuk mencari sepupu saya yang ketika itu berada di garis terdepan pertempuran. Saya membawakan sedikit air untuknya. Akhirnya saya dapati sepupuku itu dalam keadaan terluka parah, sayapun menghampirinya dan mencoba memberi pertolongan dengan sedikit air yang saya bawa. Tiba-tiba saya mendengar rintihan tentara Islam yang terluka parah di dekatnya. Sepupuku itu memandangnya lalu memberi isyarat kepadaku agar air itu diberikan kepadanya. “

Abu Jahm pun melanjutkan, “Sayapun pergi mendekati tentara itu, dia adalah Hisyam bin Abil ‘Ash. Sebelum saya sampai ke tempatnya terdengan pula teriakan dari arah yang tidak jauh dari tempat dia terbaring. Hisyam pun memberi isyarat kepada saya agar memberikan air tersebut kepada orang itu, tetapi sebelum saya sampai kepadanya, orang itu telah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Kemudian saya bergegas untuk kembali kepada Hisyam tetapi diapun telah wafat. Cepat–cepat saya menuju ke tempat sepupu saya, tapi diapun telah pergi syahid.” Inna lillaahi wainna ilaihi raajiuun….….[12]

Demikian sekilas kisah tentang perjuangan sahabat Nabi, mereka rela berkorban untuk menegakkan kalimatullah.

  1. 4. Cara menumbuhkan perilaku adil, ridho, dan rela berkorban
  • Adil
    • Menjauhi dari sikap egois ketika menentukan dua perkara
    • Mendahulukan kebaikan daripada kejelekan orang
    • Bersikap objktif jiak melihat dua perkara yang berbeda
    • Ridho
      • Apabila tertimpa musibah, anggap saja itu adalah cobaan yang Allah berikan
      • Mentaati perintah orang tua sekecil apapun
      • Mentaati peraturan yang diatur oleh pemerintah demi kemashalatan masyarakatnya
      • Menerima semua nikmat yang Allah berikan
  • Rela berkorban
    • Selalu peduli dan memperhatikan kepentingan umum, bangsa dan negara selain dari kepentingan pribadi.
    • Suka memberikan contoh dan pembinaan yang baik kepada sesama.
    • Gemar memberikan pertolongan kepada sesama
    • Penyantun dan penyayang terhadap orang lain atau lingkungan.
    • Menjauhi sifat angkuh, egois, hedonis dan matrialistis.[13]

6)      Hikmah Hikmah perilaku adil, ridho, dan rela berkorban

Perilaku terpuji bagi setiap individu muslim haruslah sesuai dengan prinsip-prinsip agama. beberapa hikmah dari ketiga perilaku terpuji di atas adalah:

  1. Dapat menenangkan pikiran atau batin
  2. Dapat meningkatkan keimanan kepada Allah SWT
  3. Menciptakan suasana damai dengan masyarakat
  1. C. ANALISIS
  • Konsep

Adil merupakan sifat terpuji yang sangat baik yakni memberikan kesampatan buat hak orang lain. Ridho adalah sikap terpuji yang merelakan apa yang telah terjadi. Sedangkan rela berkorban adalah suatu sikap menerima lapang dada apa yang telah Allah berikan kepada kita. Dengan perilaku ketiga tersebut merupakan nilai akhlak yang sangat diperlukan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, baik dalam bergaul maupun melakukan aktivitas sosial di lingkungan keluarga, masyarakat, bahkan Negara.

  • Prinsip

Segala perilaku terpuji tidaklah keluar dari dasar utama yakni al-Qur’an dan al-hadis. Sebagaiman yang ditegaskan dalam surah an-Nisa’135 tentang adil, surah al-Maidah:119 tentang ridho, dan surah al-Hujurat:9 tentang rela berkorban.

  • Nilai

Bahwa menerapkan sikap terpuji sangat dianjurkan oleh islam. Oleh karena itu sangat beruntunglah mereka yang senantiasa menerapkan sikap tersebut dalam kehidupan sehari-harinya, karena sikap tersebut akan membuat baik orang yang melakukannya maupun orang yang ia tolong, ataupun lingkungan tempat ia tinggal menjadi suasana yang damai.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://saef-jaza.blogspot.com/2008/07/perilaku-terpuji.html

http://almanaar.wordpress.com/2007/10/18/berlaku-adil/

http://chamzawi.wordpress.com/2008/07/26/adil-keadilan-dalam-pandangan-yusuf-qardhawi/

http://jadul99.blogspot.com/2009/07/pengertian-ridho-kata-ridho-berasal.html

http://www.mail-archive.com/mencintai-islam@yahoogroups.com/msg03284.html

http://linkgar.wordpress.com/2007/03/05/ridho/

http://didimasyhudi.blogspot.com/2009/05/husnudzan.html

http://ilowirawan.wordpress.com/2007/09/22/sifat-rela-berkorban/


[1]http://almanaar.wordpress.com/2007/10/18/berlaku-adil/

[2] http://saef-jaza.blogspot.com/2008/07/perilaku-terpuji.html

[3] orang yang tergugat atau yang terdakwa.

[4] http://chamzawi.wordpress.com/2008/07/26/adil-keadilan-dalam-pandangan-yusuf-qardhawi/

[5]http://74.125.153.132/search?q=cache:gz15jyaqoQwJ:www.islamhouse.com/files/id/ih_articles/chain/Masyarakat_Muslim/id_07_masyarakat_muslim.pdf+adil+dalam+masyarakat&cd=2&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a

[6] http://jadul99.blogspot.com/2009/07/pengertian-ridho-kata-ridho-berasal.html

[7] ibid

[8] http://www.mail-archive.com/mencintai-islam@yahoogroups.com/msg03284.html

[9] http://linkgar.wordpress.com/2007/03/05/ridho/

[10] Maksudnya: Allah meridhai segala perbuatan-perbuatan mereka, dan merekapun merasa puas terhadap nikmat yang Telah dicurahkan Allah kepada mereka.

[11] http://didimasyhudi.blogspot.com/2009/05/husnudzan.html

[12] http://ilowirawan.wordpress.com/2007/09/22/sifat-rela-berkorban/

[13] ibid

23 Komentar

Filed under Akidah Akhlak, All Daftar