Roti dan Air Putih Roti dan Air Putih

bubar spupe 1431 H di rumah asiyah

Hari 1 Ramadhan 1433 H

Terawih

Bersiap-siap Adzan Isya ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 19.05. ku mendekati tombol mic untuk dibunyikan. Dengan menarik napas pendek ku langsung melepaskan suara adzan. Suasana masjid tempat ku sesak terlihat lantai 2 dan di teras masjid penuh dengan para pencari Tuhan (red jamaah shalat). Sehabis azdan tak lupa ku berdoa dan berdiri untuk menunaikkan shalat qobliyah isya.

Ku lihat ke kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada lagi jamaah yang shalat sunnah. Ku berdiri berhadapan dengan mic untuk melepasakan suara iqamah. Malam shalat isya dipimpin oleh Imam (red. Pemimpin shalat) yang sudah tak asing bagi jamaah masjid. Ia sosok yang cukup disegani di pengurus masjid ini. selain aktif di organisasi masyarakat ia juga seorang pengajar di salah satu kampus yang ada di Pontianak.

Setelah shalat Isya dan para jamaah yang mau menunaikan shalat sunnah qabliyah Isya. Antara isya dan terawih diselingi denga kultum (kuliah tujuh menit). Ku sendiri sebenarnya salah satu juga pemateri seperti tahun sebelumnya. Awal-awal Ramadhan disampaikan oleh para sesepuh. Materi awal yang disampaikan oleh pemateri yaitu berupa himbauan dan motivasi kepada para jamaah seputar Ramadhan.

Membludaknya para jamaah masjid malam itu, membuat pengurus masjid harus membuat 1 shaf baru yang mengambil bagian depan tempat Imam sehingga sajadah imam agak maju. Shaf baru tersebut memuat 4 orang saja.

“Assahaltuttarawih ramahimakumullah”, ucap petugas terawih, yang kemudian diikuti oleh jamaah. Tanda itu akan dimulainya shalat terawih. Kemudian dilanjutkan membaca shalawat. Ada sebagian pendapat/masjid tidak membaca shalawat sebelum atau antara rakaat terawih. Tapi di masjid ku itu kebiasaan tersebut tetap berlaku. Seperti biasa shalat terawih dimasjid ku 8 rakaat (4 kali salam) dan ditambah shalat witir 3 rakaat (1 kali salam).

Ibadah rutin tiap malam bulan ramadhan selesai. Para jamaah pulang ke rumah masing-masing. Ada pula masih terlihat ngobrol bersama teman-temannya yang masih ada di masjid. Sedangkan pengurus masjid mengitung infaq jamaah yang sudah disediakan dalam kotak kecil.

Alhamdulillah tiap ramadhan ku punya target harus khatam Qur’an. Dengan membaca tartil dengan waktu 30 menit malam hari ini ku menyelesaikan Qur’an 1 juz.

Sahur

Jam 03.00 bunyi alarm hp berbunyi. Ku harus bangun untuk sahur. Tadi malam ku bertemu dengan seorang jamaah masjid yang ingin menyiapkan makan sahur untuk ku. Jadi hari pertamaku Ramadhan tidak repot harus menyiapkan sendiri. Jam 03.30 tak ada tanda bahwa beliau akan mendatangi ku. Dalam benakku mungkin bapak itu lupa. Maka ku pun bergegas keluar untuk mencari nasi untuk makan sahur. Sesampai di rumah makan, tampak para penjaga mengabarkan kepadaku bahwa jualannya sudah habis. ku langsung memutar motor ke arah lain. Namun lagi-lagi persis yang ku kira ternyata tempat yang biasanya tutup. Ketiga kalinya ku menemukan tempat rumah makan lain. Terlihat tempat-tempat lauk masih tampak. “udah habis”, teriak pengelola rumah makan itu.

Akhirnya, ku putuskan untuk membeli 1 bungkus roti dengan harga Rp 1.500. sesampai rumah (red. Masjid). Ku santap hidangan sahur special. Tak lupa segelas air murni menemani sang roti. Tiba-tiba 10 menit menjelang adzan subuh. Ada yang mengetuk pintu kamarku. “Akh..nasi ni” ucap dia. Dengan ku tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepadanya. Setelah diketahui ternyata tadi malam ku bertemu dengan jamaah yang ingin menyiapkan makan sahur. Rupanya uang sudah dititipkan dengan seseorang koordiator mabit (malam bina dan takwa) yang ada di masjidku. Tutur ia bahwa pada saat memesan beberapa nasi bungkus kemudian ditinggal membeli korek api, setiba untuk mengambil pesanan tersebut. Pelayan rumah makan tersebut kelupaan pesanan yang tadi. Lalu ia mencari ke tempat yang lain yang agak jauh dari masjidku.

Walaupun ku tak menikmati nasi bungkus itu, tapi ku tetap senang karena lauknya (red. Ayam dan telor) masih bisa dimanfaatkan dan ku pisahkan untuk disantap esok harinya

Buka Puasa

Sambil menunggu berbuka puasa. Dimasjid ku ada kajian Ramadhan. Beda hal nya denganku sambil online tapi dengar kajian dari atas lewat suara mic. Adzan berkumandang. Langsung ku hampiri di lantai bawah. Tampak sudah banyak yang menikmati menu bukaan. Terlihat ada minuman es cincau coklat sedangkan kuenya ada oles-oles, korket, agar-agar dan lain sebagainya. Yang pertama kali ku santap adalah buah special ala Nabi SAW. Yaitu kurma. Kemudian dilanjutkan dengan minum air putih. Baru menikmati 1 kue dan seteguk es cincau. Terlihat dari kejahuan menuju masjid untuk menunaikan shalat maghrib. dalam hatiku “bapak itu buka puasanya makan apa y? kok cepat sekali datang ke Masjid”. Demikianlah Setelah sudah terisi cukup kampung tengah ku melanjutkan shalat maghrib berjamaah.

sumber : steofandi.blogdetik.com/2012/07/22/roti-dan-air-putih/

Tinggalkan komentar

Filed under CERPEN

terima kasih atas kunjungannya...mudah-mudahan berbagai tulisan yang kami sajikan ini dapat bermanfaat bagi pembaca. tak lupa agar silaturrahim pengunjung tetap berlanjut sudi kiranya pengunjung untuk memberikan pesan dan kesan setelah membaca tulisan yang ada di blog ini......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s