Karakteristik Pendidikan Luar Sekolah

oleh: ARIF HIDAYAT,JUNAIDI,NURHALIJAH,SOTIK

KARAKTERISTIK PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

A. Pendahuluan
Kita ketahui bersama bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. (UU. RI. Nomor 20 Tahun 2003 SISDIKNAS)
Pendidikan luar sekolah merupakan sistem baru dalam dunia pendidikan yang bentuk dan pelaksanaannya berbeda dengan sistem sekolah yang ada. Menurut Komunikasi Pembaruan Nasional Pendidikan (KPNP): Pendidikan luar sekolah adalah setiap kesempatan dimana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah di luar sekolah dan seseorang memperoleh informasi, pengetahuan, latihan maupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan kehidupan, dengan tujuan mengembangkan tingkat keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang memungkinkan baginya menjadi peserta-peserta yang efisien dan efektif dalam lingkungan keluarga, pekerjaan bahkan lingkungan masyarakat dan negaranya. (Vyda: 2010).
Pendidikan luar sekolah merupakan bagian dari pendidikan yang bertujuan sebagai penunjang pendidikan sekolah. Peta konsep pembahasan pendidikan luar sekolah ini tidak jauh berbeda dengan pendidikan sekolah. Sebagaimana pada pembahasan sebelumnya, telah dipaparkan beberapa pokok bahasan pendidikan luar sekolah, mulai dari proses munculnya pendidikan luar sekolah, manajemen, strategi, program, jenis-jenis, dan evaluasi pendidikan luar sekolah.
Pendidikan luar sekolah berbeda dengan pendidikan sekolah. Perbedaan tersebut adalah bahwa pendidikan luar sekolah tidak dilakukan sebagaimana sistem persekolahan. Menurut hemat pemakalah perbedaan yang paling menonjol adalah bahwa pendidikan luar sekolah tidak adanya kebakuan sistem sebagaimana pendidikan sekolah.
Secara khusus perbedaan tersebutlah yang menjadi karakteristik pendidikan luar sekolah. Pada makalah ini, secara sederhana akan kami bahas karakteristik pendidikan luar sekolah. Berawal dari definisi karakteristik pendidikan luar sekolah, karakteristik pendidikan luar sekolah, dan kesimpulan.

B. Karakteristik Pendidikan Luar Sekolah
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (1990: 389) karakteristik dapat diartikan sebagai mempunyai sifat khas sesuai dengan perwatakan tertentu. Karakteristik hapir sama pengertiannya dengan ciri-ciri. Sebagaimana dalam kamus besar bahasa Indonesia (1990:169) yakni ”berciri” artinya bersifat yang khas. Dengan kata lain bahwa berbicara tentang karakteristik berarti kita berbicara tentang ciri-ciri. Ciri-ciri dapat diartikan sebagai tanda-tanda khas yang membedakan sesuatu dari yang lain.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik pendidikan luar sekolah adalah tanda atau sifat khas pada pendidikan luar sekolah yang juga dapat menjadi pembeda dengan yang lain.

Secara umum karakteristik pendidikan luar sekolah adalah tidak adanya kebakuan sistem sebagaimana pendidikan persekolahan. Menurut Mustofa Kamil (2010:33), karakteristik pendidikan luar sekolah meliputi aspek tujuan, waktu penyelenggaraan, program, proses belajar dan pembelajaran, dan pengendalian program.
1. Karakteristik segi tujuan:
a. Untuk memenuhi kebutuhan belajar tertentu yang fungsional bagi kehidupan kini dan masa depan
b. Untuk langsung menerapkan hasil belajar dalam kehidupan di lingkungan pekerjaan atau masyarakat.
c. Untuk memberikan ganjaran berupa keterampilan, barang atau jasa yang diproduksi, dan pendapatan.

2. Karakteristik segi waktu penyelenggaraan:
a. Relative singkat dan bergantung pada kebutuhan belajar peserta didik.
b. Menggunakan waktu tidak penuh dan tidak secara terus-menerus. Waktu biasanya ditetapkan dengan berbagai cara sesuai dengan kesempatan peserta didik, serta memungkinkan untuk melakukan kegiatan belajar sambil bekerja dan berusaha.
3. Karakteristik segi program
a. Kurikulum berpusat pada kepentingan peserta didik. Kurikulum bermacam ragam atas dasar perbedaan kebutuhan belajar peserta didik.
b. Menekankan pada kebutuhan masa sekarang dan masa depan terutama untuk memenuhi kebutuhan terasa peserta didik guna bagi kehidupan peserta didik dan lingkungannya.
c. Mengutamakan aplikasi dengan penekanan kurikulum yang lebih mengarah kepada keterampilan yang bernila guna bagi kehidupan peserta didik dan lingkungannya.
d. Persyaratan masuk ditetapkan bersama peserta diidik . Persyaratan untuk mengikuti program adalah kebutuhan, minat, dan kesempatan peserta didik.
e. Program diarahkkan untuk memenuhi kebutuhan dan untuk mengembangkan potensi peserta didik.

4. Karakteristik segi proses belajar dan pembelajaran
a. Dipusatkan di lingkungan masyarakat danb lembaga. Kegiatan belajar dan pembelajaran di berbagai lingkungan (mnasyarakat, tempat bekerja), atau di satuan pendidikan luar sekolah lainnya.
b. Berkaitan denga kehidupan peserta didik dan masyarakat . pada saat mengikuti program pendidikan, peserta didik berada dalam dunia kehidupan dan pekerjaannya. Lingkungan dihubungkan secara fungsional dengan kegiatan belajar.
c. Struktur program pembelajaran lebih fleksibel dan beraneka ragam dalam jenis dan urutannya, sehingga pengembangan program dapat dilaksanakan pada waktu program sedang berjalan.
d. Berpusat pada peserta didik dengan menggunakan sumber belajar dari berbagai keahlian. Peserta didik juga biasa menjadi sumber belajar dengan lebih menekankan pada kegiatan membelajarkan.
e. Penghematan sumber-sumber dengan memanfaatkan tenaga danb sarana yang tersedia di masyarakat dan di lingkungan kerja.
5. Pengendalian program
a. Dilakukan oleh pelaksana program dan peserta didik.
b. Menggunakan pendekatan yang lebih bersifat demokrasi.

Sementara menurut Soelaiman Joesoef (2008:54), ditinjau dari sejarah pertumbuhan dan banyaknya aktivitas yang dilaksanakan, pendidikan luar sekolah mempunyai cirri-ciri sebagai berikut.
1. Beberapa bentuk pendidikan luar sekolah yang berbeda ditandai untuk mencapai bermacam-macam tujuan.
2. Keterbatasan adalah suatu perlombaan antara beberapa PLS yang dipandang sebagai pendidikan formal dari PLS sebagai pelengkap bentuk-bentuk pendidikan formal.
3. Tanggung jawab penyelenggaraan lembaga pendidikan luar sekolah dibagi oleh pengawasan umum/masyarakat, pengawasan pribadi atau kombinasi keduanya.
4. Beberapa lembaga pendidikan luar sekolah didisiplinkan secara ketat terhadap waktu pengajaran, teknologi modern, kelengkapan dan buku-buku bacaan.
5. Metode pengajaran juga bermacam-macam dari tatap muka atau guru dan kelompok-kelompokl belajar sampai penggunaan audio televise, unit latihan keliiling, demonstrasi, kursus-kursus korespondensi , alat-alat bantu visual.
6. Penekanan pada penyebaran program teori dan praktik secara relative daripada pendidikan luar sekolah.
7. Tidak seperti pendidikan formal, tingkat system pendidikan luar sekolah terbatas yang diberikan kredensial.
8. Guru-guru mungkin dilatih secara khusus untuk tugas tertentu atau hanya mempunyai kualifikasi professional di mana tidak termasuk identitas guru.
9. Pencatatan tentang pemasukan murid, guru dan kredensial pimpinan, kesuksesan latihan, membawa akibat peningkatan produksi ekonomi, peningkatan kesejahteraan dan pendapatan peserta.
10. Pemantapan bentuk pendidikan luar sekolah mempunyai dampak pada produksi ekonomi dan perubahan social dalam waktu singkat daripada kasus pendidikan formal sekolah.
11. Sebagian besar program pendidikan luar sekolah dilaksanakan oleh remaja dan orang-orang dewasa secara terbatas pada kehidupan dan pekerjaan.
12. Karena secara digunakan, pendidikan luar sekolah membuat lengkapkanya pembangunan nasional. Peranannya mencakup pengetahuan, keterampilan, dan pengaruh pada nilai-nilai program.

Nurna (2008) memaparkan dalam makalahnya perbedaan antara pendidikan sekolah dengan pendidikan luar sekolah. Secara prinsip, satu-satunya perbedaan antara pendidikan luar sekolah dengan pendidikan sekolah adalah legitimasi atau formalisasi penyelenggaraan pendidikan. Tentang perbedaan penyelenggaraan ini, secara institusional, tercantum pada Undang-Undang RI nomor 2 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 10:2-3.
Jika dilihat dari sepuluh unsur di bawah (lihat tabel), menurut hemat pemakalah, perbedaan yang dipaparkan oleh Nurna ini merupakan ciri-ciri dari pendidikan luar sekolah. Berikut kita lihat tabel dibawah ini.

NO INDIKATOR PERBEDAAN
PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH PENDIDIKAN SEKOLAH
1 Warga belajar  Rentang usia warga belajar heterogen (10-44 tahun)
 Latar Belakang pendidikan warga belajar heterogen
 Motivasi belajar karena kebutuhan mendesak
 Warga belajar dapat berfungsi sebagai sumber belajar
 Warga belajar lebih Mandiri dalam memilih program yang dibutuhkan.
 Penerapan warga belajar berdasarkan sasaran
 Ada yang sudah bekerja baru ikut belajar  Rentang usia setiap jenjang lebih homogen
 Latar Belakang pendidikan lebih homogen
 Motivasi belajar untuk prestasi jangka panjang
 Siswa bertindak sebagai anak didik
 Siswa tidak dapat memilih program sesuai kebutuhannya
 Penerapan siswa berdasarkan nilai yang diperoleh.
 Selesai sampai jenjang tertentu baru mencari pekerjaan
2 Tutor / sumber belajar  Biasanya disebut tutor
 Pemilihan tutor lebih ditekankan pada segi keterampilan yang dimilikinya
 Bersifat terbuka (siapapun dapat menjadi tutor)
 Bertindak sebagai fasilitator
 Tidak ada perjenjangan karir
 Tidak digaji pemerintah  Disebut guru
 Ditekankan pada kemampuan akademis
 Bersifat tertutup (latar Belakang akademik)
 Bersifat sebagai nara sumber utama
 Ada jenjang karir
 Digaji pemerintah / swasta
3 Pamong belajar / penyelenggara  Lebih bersifat sukarela / nobenefit (kecuali untuk program khusus)
 Perseorangan, LSM atau instansi
 Bertindak sebagai fasilitator  Mendapat gaji
 Diselenggarkan oleh pemerintah atau lembaga / yayasan berbadan hukum
 Bertindak sebagai pengelola
4 Sarana belajar  Sarana belajar berbentuk variatif (modul, leaflet, booklet, poster, dsb) sesuai dengan kebutuhan belajar
 Materi bahan belajar dikembangkan sesuai program yang dikembangkan
 Sarana belajar/learning kit sangat variatif
 Bahan belajar dapat disusun oleh siapa saja (termasuk warga belajar itu sendiri)
 Memanfaatkan sarana belajar yang ada
 Pengalaman warga belajar dimanfaatkan untuk bahan belajar.  Sarana / learning kit yang dibutuhkan sudah baku
 Materi bahan belajar homogen (berdasarkan kurikulum nasional)
 Jenis bahan belajar kurang variatif (bentuk buku atau modul)
 Bahan belajar disusun oleh para ahli
 Sering berubah-ubah
 Kurang mengakomodasi pengalaman siswa / peserta didik
5 Tempat Belajar  Memanfaatkan bangunan prasarana yang ada
 Mengoptimalkan sarana yang tersedia  Dilakukan di gedung sekolah sendiri
 Mengadakan sarana yang dibutuhkan (Sengaja diadakan untuk mendukung proses belajar)
6 Dana  Swadaya masyarakat/ warga belajar
 Bantuan pemerintah, LSM, badan swasta lainnya
 Pengelolaan dana bersifat terbuka  Swadaya
 Bantuan pemerintah
 Dibebankan pada negara
 Pengelolaan dana tertutup
7 Ragi belajar  Pemberian ragi belajar disesuaikan dengan kebutuhan warga belajar  Pemberian ragi belajar dalam bentuk Ijazah
8 Kelompok belajar  Jumlah kelompok 10-20 orang
 Pembentukan kelompok berdasarkan minat yang sama (melibatkan warga belajar)
 Ikatan kelompok bersifat informal  Jumlah kelompok bisanya 30 lebih
 Pembentukan kelas ditentukan oleh penyelenggara
 Ikatan kelompok bersifat formal
9 Program belajar  Kurikulum disusun berdasarkan kebutuhan pasar
 Kurikulum lebih menekankan kemampuan praktis
 Memungkinkan perubahan kurikulum lebih fleksibel sesuai dengan perubahan keadaan tempat.
 Program belajar boleh tidak berjenjang
 Persyaratan keikutsertaan program belajar relatif terbuka (usia latar Belakang pendidikan, sosial, ekonomi, dsb)
 Program dikembangkan untuk mengatasi masalah riil yang dirasakan mendesak/ jangka pendek
 Penyusunan program melibatkan masyarakat secara partisipatif
 Proses pembelajaran secara kelompok dan mandiri
 Pelaksanaan / waktu belajar fleksibel sesuai kesepakatan
 Penyelesaian program relative singkat
 Memberdayakan potensi sumber setempat
 Sistem evaluasi tidak baku (kecuali program pake A pake B and Kursus)  Kurikulum disusun di pusat (sentralisasi)
 Lebih menekankan kemampuan teoretis akademis
 Kurikulum lebih bersifat baku (sulit berubah) kurang dinamis tidak adaftif dengan perkembangan
 Perjenjangan bersifat baku
 Persyaratan keikutsertaan program bersifat baku dan berlaku menyeluruh (secara nasional)
 Program dikembangkan untuk menyiapkan peserta untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi
 Program disusun sepenuhnya oleh pemerintah, masyarakat bersifat pasif / pengguna
 Pembelajaran dilakukan secara klasikal
 Waktu belajar sudah pasti
 Penyelesaian program lama
 Penekanan pada penguasaan pengetahuan akademis
 Mengabaikan nara sumber / potensi sekitar
 Sistem evaluasi baku
10 Hasil belajar  Hasil belajar dapat dijadikan bekal untuk bermatapencaharian
 Hasil belajar berdampak terhadap peningkatan pendapatan masyarakat
 Dapat diterapkan sehari-hari
 Tak mengutamakan ijazah  Berpotensi untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi
 Hasil belajar untuk jenjang karir di masa datang
 Hasil belajar tidak dapat langsung diterapkan dalam dunia nyata
 Ijazah merupakan hasil akhir

Dalam sebuah artikel (2011) “tidak disebutkan penulisnya”, ada beberapa karateristik pendidikan luar sekolah, yaitu:
1. Pendidikan Luar Sekolah sebagai Subtitute dari pendidikan sekolah. Artinya, bahwa pendidikan luar sekolah dapat menggantikan pendidikan jalur sekolah yang karena beberapa hal masyarakat tidak dapat mengikuti pendidikan di jalur persekolahan (formal). Contohnya: Kejar Paket A, B dan C.
2. Pendidikan Luar Sekolah sebagai Supplement pendidikan sekolah. Artinya, bahwa pendidikan luar sekolah dilaksanakan untuk menambah pengetahuan, keterampilan yang kurang didapatkan dari pendidikan sekolah. Contohnya: private, les, training.
3. Pendidikan Luar Sekolah sebagai Complement dari pendidikan sekolah. Artinya, bahwa pendidikan luar sekolah dilaksanakan untuk melengkapi pengetahuan dan keterampilan yang kurang atau tidak dapat diperoleh di dalam pendidikan sekolah. Contohnya: Kursus, try out, pelatihan dan lain-lain.

C. Kesimpulan
Pendidikan luar sekolah mempunyai ciri-ciri atau karakteristik tersendiri, hal inilah yang dapat membedakannya dengan pendidikan sekolah. Pendidikan luar sekolah timbul dari konsep pendidikan seumur hidup dimana kebutuhan akan pendidikan tidak hanya pada pendidikan persekolahan/pendidikan formal saja. Pendidikan luar sekolah pelaksanaannya lebih ditekankan kepada pemberian keahlian dan keterampilan dalam suatu bidang tertentu. Pembinaan dan pengembangan PLS dipandang relevan untuk bisa saling mengisi atau topang menopang dengan sistem persekolahan. Agar setiap lulusan bisa hidup mengikuti perkembangan zaman dan selalu dibutuhkan oleh masyarakat seiring dengan perkembangan IPTEK yang semakin maju.
Ciri-ciri atau karakteristik pendidikan luar sekolah, dapat kita lihat dari berbagai aspek, di antaranya, segi tujuan, waktu, program, proses belajar dan pembelajaran, pengendalian program, sejarah pertumbuhan dan banyaknya aktivitas yang dilakukan. Karakteristik tersebut identik dengan perbedaan antara pendidikan luar sekolah dengan sekolah. Dikatakan demikian, karena antara pendidikan luar sekolah dengan pendidikan sekolah juga terdapat persamaan. Maka dalam hal ini, secara sederhana pemakalah menyimpulkan bahwa karakteristik pokok dari pendidikan luar sekolah ini adalah bahwa pendidikan luar sekolah lebih demokratis dan luas aktivitasnya.

DAFTAR PUSTAKA

Mustofa Kamil. 2010. Model Pendidikan dan Pelatihan (Konsep dan Aplikasi). Bandung: Alfabeta.

Nurna. 2008. Makalah Ilmu Pendidikan. Dalam http://www.anakciremai.com/2008/04/makalah-ilmu-pendidikan-pendidikan-luar.html. Diakses pada 4 Agustus 2011.

Soelaiman Joesoef. 2008. Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Tim Penyusun Kamus. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonseia. Jakarta: Balai Pustaka.

Tim Redaksi FOKUSMEDIA. 2008. Undang-Undang Guru dan Dosen. Bandung: Fokusmedia.

Vyda. 2010. Pendidikan Luar Sekolah. Dalam http://fidanurlaeli.wordpress.com/2010/11/28/pendidikan-luar-sekolah/. Diakses pada 4 Agustus 2011.

Tinggalkan komentar

Filed under All Daftar, Pendidikan Luar Sekolah

terima kasih atas kunjungannya...mudah-mudahan berbagai tulisan yang kami sajikan ini dapat bermanfaat bagi pembaca. tak lupa agar silaturrahim pengunjung tetap berlanjut sudi kiranya pengunjung untuk memberikan pesan dan kesan setelah membaca tulisan yang ada di blog ini......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s