TIDAK DAPAT MENYELESAIKAN PENDIDIKAN DASAR (SD)

oleh

Nahrainil Ilmi

Pendikan adalah suatu yang sangat penting bagi seseorarig, dimana pendikan mi suatu proses pengembangan din ataupun suatu proses mendewasakan seseorang, dimana dalam proses pendidikan mi sesseorang dapat mengembangkan potensinya yang sudah terbawa sejak dia lahir. Disini saya akan mengambil suatu pandangan tentang pendikan dan seseorang yang tidak dapat menyelesaikan pendidikan dasar

(SD).

Pada selasa malam yaitu tanggal 10 Februari 2009 sekitar pukul 19.30 malam saya diperintahkan oleh orang tua saya untuk membeli gula dan kopi ditoko yang berada sekitar 700 m dan rumah kami, waktu itu, saya melihat teman-teman saya sedang berkumpul di teras rumah yang punya toko tersebut, orang yang punya toko tersebut adalah paman saya sendini, dan ia mempunyai dua orang putra. Salah satu anaknya tersebut seumuran dengan kami.

Dan kebetulan juga rumah mereka mi terletak di persimpangan, dimana kita ketahui biasanya anak muda suka untuk ngumpul didepan gang balk itu di kota maupun di desa, makanya dirumah paman saya itu tempat berkumpul teman-teman saya, mereka ada yang main boks (kartu) dan yang lainnya sedang bersenda gurau. Disini para pembaca jangan beranggapan ataupun berprasangka buruk, dengan membaca kata main kartu. Main kartu di sini, bukan berarti mereka “Main Judi”, di sini mereka main kartu hanya sekedar hiburan bagi mereka.

Main kartu mi menurut pandangan saya juga mempunyai manfaat, mengapa saya berani mengatakan bermanfaat, karena dalam permainan mi dibutuhkan pemikiran yang sangat mapan sebagai untuk menjalankan buah kartu bagaimana caranya supaya kartu yang kita miliki habis, dalam anti bisa menjalankan semua kartu yang berada di tangan kita. Dan juga yang sebagai mencatat hasil akhir dan permainan, di mana pada setiap akhir permainan di hitung jumlah daun kartu yang tersisa di tangan, seberapa banyakkah daun kartu yang tersisa. Disinilab dengan tidak disadari bahwa clalam permainan mi dapat mengasah otak bagi para pemain kantu tersebut. Mereka yang berkumpul sekitar sembilan orang. Belum sempat saya menyapa mereka, salah satu di antara mereka lebih dahulu menyapa saya.

“Ape kabor wak…?” Lalu saya menjawab.

“Alhamdulillah wak, ane baik-baik jak.” Kemudian dia berkata lagi.

“Bile (kapan) dotang ye..? Saya menjawab.

“Tade’ sore wak ane datang.” Kemudian salah satu diantara mereka bertanya.

“Dah libur ke, kitta’..! Sambil bergurau, saya menjawab.

“Udahlah wak…? Pun ane pulang kampong bearti kame’ libur wak.” Kemudian saya bertanya kepada mereka.

“Ape kerjaan kitta’ na’ang to’e..?” Salah satu di antara mereka menjawab.

“Biaselah wak e…Iagu lama.” Kemudian yang lain juga berkata kepada saya.

“Wak ngumpol sitto’lah…? Salo’ jua’ rasenye dengan Nt to’ dah lama’ dak age’ suah (pernah) ngumpoi same-same.”

Kemudian salah satu diantara temen yang lain juga berkata sambil bercanda.

“Lainlah Wak…! Mane mao’ age’ die na’ ngumpol dengan kitte, kawankan dah jadi Mabasiswa, mane maok die na’ ngumpul dengan kitte-kitte yang dak berpaedah gitto’ e…!” Dengan sepontan saya menjawab.

“Bukannye goyye (gitu) wak….?, ane na’ bdlikan urang tue gule dengan kopi lo’, k

alla’ (nanti) ane datang age’, ane na’ molli gule dan kopi lo’.” Mereka menjawab lagi.

“Aoklah (iyalah) pun dah goyye (gitu), belikanlah dolo’ ye, kopi dan gule urang tue Nt ye, kalla’ Iallah (nanti letih) die nunggu Nt.” Kemudian saya menjawab.

“Ane pulang dolo’ wak.”

Setelah itu saya pun pulang kerumah untuk memberikan gula dan kopi orang tua saya, sekarang jam hampir menunjukkan jam delapan malam, kemudian saya shalat Isya’, yang kebutulan saya belum sempat shalat Isya’ ketika orang tua saya memerintahkan untuk pergi ketoko tersebut.

Setelah selesai shalat, kemudian saya minta izin kepada ibu saya untuk keluar, dan saya berkata kepada ibu.

“Ma saya mau keluar sebentar..!” Lalu ibu saya menjawab.

“Kau man kemana ml..? mi udah malam, cobelah istirahat jak. Kau kan barn datang tadi sore, da’an tan kappa’ (Ietih) kau yewe..! Malam-malam isok baru keluar.” Kemudian saya bicara lagi kepada ibu saya.

“Sibantar (tidak lama) jak be ma, saye na’ ngumpol dengan biok-biok lo’.” Lalu ibu saya menjawab.

“Ka’ati kaulah…! tapi usah dolu-dolu (larut malam) kala’ kau pulang e..?” Lalu saya bicara lagi kepada ibu saya.

“Aok be bantar na’ang..?”

Setelah itu, saya pun ngambil kunci sepeda motor, untuk keluar menuju tempat tujuan, ngumpul dengan teman-teman saya. Kemudian saya pun berangkat dengan sepeda motor, sekarang jam pun hampir menunjukkan pukul sembilan malam, saya pun tiba ditempat teman-teman saya ngumpul. Belum sempat saya turun dan sepeda motor, tiba.tiba salah seorang dan teman yang biasa kanii panggil Man berbicara kepada saya.

“Wak ke pasar yok. . . beli gorengan..!” Kemudian saya menjawab.

“Ya alloh wak e, ane jak baro’ sampal to’ we dah Nt ajak ke pasar age’, cobelah Nt ajak biok ye yang bepongah na’ang kerajjeeng ye.” Kemudian dia menjawab lagi.

“Biok malas-malas semueng, dak boik na’ di suroh, makannya berabut..! Disurob paggi (pergi) mollinye da’an maok…!” Dengan serentak diantara yang

lain ketawa mendengar percakapan kami berdua. Kemudian sambil bercanda saya berbicara.

“Aoklah pun dah goyye.! kalla’ (nanti) kite kannyange’ dolo’ di pasar wak, sisa’ang kala’ barro’ kitte bore’kan dengan biook wak.” Teman-teman yang lain pun menjawab.

“Jodilah wak. .e kanna’ borre’ sisa’ang e, jok malas semuenye to’e, sukorsukor maseh kana’ borre’.” Mereka berkata sambil ketawa.

“Aokiah… wak e..! Makan yang sisa’ pun daan ape-ape..! Yang pentingkan kame’ yang da’an paggi to’ kannyang, tapi daan keluar duit..!”

Kemudian saya dengan Man pun berangkat untuk membeli gorengan kepasar Sungai Dun yang jarak tempuhnya sekitar 4 km dan tempat kami. Setelah saMpai di Sungai Dun, kamipun berputar-putar mencari gorengan, akan tetapi banyak kios-kios yang sudah tutup dikarenakan jualan mereka sudah banyak yang habis, hanya ada beberapa kios yang masih buka, itupun hanya kios yang jualan gorengan bakwan dan goreng pisang. Lalu teman saya bertanya kepada saya.

“Wak beli bakwan ke goreng pisang…?” Sayapun menjawab.

“Terserah Nt lah wak…e!” Kemudian teman saya menjawab lagi.

“Kitte molli bakwan jo’ we i..?” Kemudian saya menjawab lagi.

“Camporre’ jo’ we wak.” Dengan sepontan dia menjawab.

“Aoklah.!”

Kemudian kami pun membeli bakwan dan goreng pisang sebanyak tiga puluh (30) gorengan, harganya lima belas ribu rupiah (Rp15.000,00) yang kebanyakan gorengan bakwan daripada goreng pisang. Setalah itu kami pun menuju sepeda motor untuk pulang. Sayapun menghidupkan mesin motor, setelah mesin motor hidup, teman saya naik di atas motor dan kemudian sayapun tancap gas.

Sekitar lima belas menit menempuh perjalanan, kami pun sampai di tempat dimana tempat kami berkumpul. Jam pun sudah menunjukkan sekitar pukul setengah sembilan malam. Setelah itu kamipun bersama-sama menyantap gorengan yang kami beli, sambil bersendau gurau.

Dan ada dan teman-teman saya menanyakan sekitar tentang perkuliahan. Salah satu di antara mereka ada yang bertanya.

“Tiap hail ada tugas ke wak kuliah e..?” Saya menjawab.

“flak juo wak..? Dalam satu mate kuliah paling dak ada satu tuas biasenye tugas individu dan blase juo tugas kelompok.” Setelah itu dia bertanya lagi.

“Nyc biok we, kitte di suroh maju ke kedepan untuk menjelaskan ape yang kitte buat makalah ye..?” Kemudian saya menjawab, dan saya jelaskan menurut apa yang telah saya lewati selama tiga semester.

“Ndak juo’ semuenye kitte persentasikan kedepan..!, didalam satu mate kuliah, biasenye dalam satu semester hanya satu kali kitte persentase di didepan (diskusi).” Kemudian dia berkata lagi.

“Ielah wak, makenye aku dak mampu na’ kuliah ye. rase dak ngerti aku wak.”

Kemudian saya menjawab lagi.

“Dolo’ (kemarin) aku pun rase ndak mampu jua wak, tapi sekali dah di jalane’ same jua dengan sekolah.”

Dalam suasana malam yang cerah oleh sinar bulan yang tidak tertutupi oleh awan, kami menikmati suasana malam yang cerah itu dengan penuh sendau gurau. Dengan tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya untuk menjadikan teman saya sebagai bahan obserpas yang kebetulan pada malam han itu salah seorang teman saya yang tidak tamat Sekolah Dasar ikut ngumpul dengan kami, yang biasanya kami memanggilnya dengan panggilan Pak Ngah.

Tapi saya berpikir bagai mana caranya untuk membuka pembicaraan awal dengan dia. Dimana dalam hati kecil saya berkata:

“Apakah mau ya dia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan nanti, dan apa nanti dia tersinggung ya..? untuk menanyakan masalah pendidikannya.”

Di mana dalam kebanyakan teman saya dia sendiri yang tidak dapat menyelesaikan pendidikan dasar, disinilah saya merasa ragu-ragu untuk menjadikan dia sebagai bahan obserpasi saya. Dalam hati kecil saya berkata lagi:

“Kalau dia yang aku jadikan bahan obserpasi, dalam mengajukan pertanyan harus sambil bercauda supaya dia tidak merasa tersinggung.” Dengan memberanikan din saya mencoba mengajukan pertanyan yang pertama, dengan mengucapkan “Bismillah” dalam hati. saya pun mulai bertanya,…

“Pak Ngah.., Nt dolo’ SD nyampai kallas berope na’ang..?” Dengan bercanda dia menjawab.

“Aku sampai semester dua na’ang wak…e.”

Dengan jawaban yang dia berikan sayapun tidak begitu merasa puas, dan saya langsung menjelaskan kepadanya, dan saya berkata:

“Pak Ngah, sebenarnye aku to’ nak mengopservasi Nt, aku minta’ dengan Nt tolong Nt jawab dengan jujor i…?” Mendengar saya bicara begitu dia langsung ketawa dan berkata,…

“Wak Nt na’ jadikan aku bahan percobaan ke ape…” Saya berkata lagi kepadanya,…

“Sebonnarnye gitto’ we.. Ngah… aku dapat tugas dan dosen disurohnye untuk mengopservasi orang yang da’an tamat sekolah SD, Nt kan da’an tamat, jadi aku na’ mengopservasi Nt, mao’ do’ Nt to’….” Dia berkata lagi,…

“Cobelah dan tade’ Nt padohkan (katakan) goyye, daklah aku jowob ngolo’ngoio’.”

Dengan melihat dan apa yang dikatakannya, dalam din saya merasa senang karena dia mau dijadikan bahan obserpasi saya.

Kemudian dengan wajah yang bahagia saya pun mulai bertanya lagi kepanya, yang pertama-tama disini saya memulai pertanyaan masalah identitas dirinya.dan sayapun mulai bertanya kepadanya,…

“Siape name ash nt wak…?” dia menjawab,.

“Nama ash saya Iskandar.” saya bertanya lagi,…

“Kau lahir tahun berape..?” dia menjawab,.

“Aku lahir tanggal 27 juni 1984.” saya bertanya lagi,…

“Kau berape de’berade’ (saudara) wak..?” dia menjawab,…

“Aku hanye dua berade’ wak.” saya bertanya lagi,…

“Kau anak yang keberape…?” dia menjawab,.

“Aku anak yang pertame.”

Setelah itu sayapun melanjutkan pertanyaan mulai memasuki sekitar masalah pendidikannya, dan saya berkata kepadanya,…

“Betul ke..dolo’ (dahulu) Nt sampai kelas 2 SD na’ang….e…?” Dia menjawab,… “Aok (betul)….!” Saya bertanya lagi,…

“Apelah alasan Nt, berhenti nyampai kelas 2 SD na’ang wak…?” Dia menjawab,…

“Malas wak….e..!” Saya bertanya lagi,…

“Ape ade alasan lain, selain malas. . .wak…?” Dia menjawab,…

“Dak ada kali wak…e…?” Saya bertanya lagi,…

“Ape ke… Nt ndak mau meneruskannye karena faktor biaya…?” Dia menjawab,…

“Sebenarnye kalau masalah biaye, alhamduhihlah de’.” Saya bertanya lagi,… “Ape menurut Nt pendidikan da’an (tidak) penting wak…?” Dia menjawab,. . * “Kalau menurut ku pendidikan ye. ..penting wak…!” Saya bertanya lagi,… “Kalau pendidikan ye menurut Nt penting, kenape Nt ndak mau sekolah wak…?” Dia menjawab,..

“Kalau bagiku wak, tau bace, nulls, berhitung iye udah cukup, asal kitte daan dibodoe’ (dibohongi) orang, iyepun udah cukup wak, buah ndak akan jauh bile jatub dan pohonnye wak…!” Mendengar dan ucapannya, saya hanya menganggukkan kepala. Saya bertanya lagi kepadanya,…

“Ade penyesalan dak, pada waktu itu cute ngambil keputusan untuk tidak melanjutkan sekolah…?” dia menjawab,…

“Mungkin pada masa itu, saya tidak ada penyesalan.” saya bertanya padanya lagi,…

“Bearti kau udah konsisten dengan keputusan bahwa kau tidak lagi mau untuk melanjutkan sekolah.. ?“ dia menjawab,…

“Iyelah.” saya bertanya lagi,…

“Orang tue nt tamatan ape wak…? dia menjawab,…

“Ibu ke Bapak…?” dia bertanya kembali kepada saya dan saya menjawab,…

“Kalan Bapak nt…?” dia menjawab,…

“Kalan Bapak sih…hanya tamatan SD.” saya bertanya lagi,.

“Ibu nt…?” dia menjawab,…

“Ha kaau mak dak tamat SD wak, mungkin aku to’ diwarise’ mak aku kali, sampai-sampai aku dak ade minat nak sekolah.”

ha.ha.ha kamipun ketawa setelah mendengar dia ngomong bahwasan dia tidak dapat menyelesaikan sekolahnya dikarekan faktor keturunan dan ibunya, dan sayapun bicara kepadanya,…

“Wak kalau masalah ilmu pendikan mane ade istilah keturunan, dak ade wak…! inyan kalau masalah anak ade ketunan.” dan sayapun bertanya lagi kepadanya,…

“Emangnya orang tue Nt, kerje ape wak…?” Dia menjawab,…

“Kerje laot (nelayan) wak.” Kemudian saya tanya lagi,…

“Ape maseh sampai ito’ (sekarang) die kerja Iaot wak…?” Dia menjawab,… “Maseh wak.” Saya tanya lagi,…

“Ape dan orang tue Nt ndak ada dorongan untuk melanjutkan pendidikan Nt wak….?, entah nyuroh Nt masuk agek, setelah Nt berhenti…?” Dia menjawab,…

“Kalau dorongan dan orang tue adelah wak, orang tue mane we, yang ndak maok, anaknye menjadi orang yang berpendidikan..!?” Kemudian saya bertanya lagi,…

“Ape dolo’ nt dak ada cita-cata wak…?” Dia menjawab,…

“Kalau cita-cita sib ada, tapi kita lihat sekarang wak, banyakkan lulusan sarjana yang pengangguran, disito’lah makenye aku ndak mau sekolah tinggitinggi wak.!”

Dan beberapa pertanyaan yang dijawab oleh responden, disini dapat saya pahami bahwa pendidikan bagi dirinya tidak perlu sekolah tertalu tinggi asal tau baca tulis itu sudah cukup bagi dirinya, dan dia memandang suatu pendidikan itu tidak dapat mengubah nasib dan seseorang, padahal pendikan mi sangat penting bagi din kita, dimana dengan ilmu pengetahuan seseorang bisa mengembangkan potensi dirinya, disini saya akan berikan suatu gambaran tentang bagaimana ilmu pengetahuan mi sangat mempunyai peran yang yang begitu besar pada din seseoang, coba kita pikirkan “Apakah seseorang menciptakan televisi tidak dengan ilmu pengetahuan…? Dan apakah orang menciptakan computer tidak dengan ilmu pengetahuan…? Dan sinilah jika seseorang berpikir Iebih jauh maka dia akan memandang bahwa ilmu pengetahuan mi sangat sangat berarti. Disini mengapa tadi responden masih percaya kepada suatu pepatah yang dikatakannya bahwa “buah tidak akan jauh jatuh dan pohonnya” dia berpikir bahwa walaupun seseorang mempunyai ijazah sarjana belum tentu mendapat pekerjaan yang tetap, dan akan bekerja seperti apa yang telah orang tuanya kerjakan, Disinilah dapat saya katakan, bahwa seseorang jika berpikiran seperti mi, tidak akan bisa maju dan berhasil dimana dia memandang bahwa ijazah adalah segala-galanya. Dimana jika kita berpikiran yang lebih luas maka seseorang walaupun dia seorang lulusan sarjana tidak mempunyal pekerjaan tetap, dia akan bisa membuka suatu usaha dengan berbekal ilmu pengetahuan yang sudah mereka miliki.

Setelah itu sayapun bertanya lagi kepadanya,…

“Nt tau bace da’ Ngah…?” Dia menjawab,…

“Dak. . .e, kau wak…? Ic pun na’ Nt tanyakan, macam jo’ Nt dak suah (pernah) meliat ane bace wak.” Saya bertanya lagi,…

“Kalau dengan tanda baca Nt tan ndak, wak..?” Dia menjawab,…

“Tanda bace ape… Nt tuliskan siye.” Kemudian saya tuliskan beberapa tanda baca diantaranya adalah tanda tanya (?), tanda sent (!) dan tanda titik dua (:), kemudian dia menjawab dengan sambil bercanda

“Yang ito’ (?) tanda tanya, betul ke. ..salah Pak Guru…?” Saya menjawab sambil bercanda juga,.

“Betul sekali anak muridku… kamu sudah pintar ya sekarang.!” Dia menjawab,…

“Ya.. iya Iah, masa’ ya iya dong.!” Kemutlian saya bertanya lagi,…

“Yang mi (!) tanda apa…?” Dia menjawab,…

“Yang mi (!)..tanda seru Pak Guru…!” Saya bertanya lagi,…

“Yang terakhir mi (:) tanda apa…anak muridku…?” Dia menjawab,…

“Oh kalau yang mi (:)…tanda titik dua…!”

Dan jawaban diatas, walaupun dia hanya sekolah sampai kelas 2 SD tetapi dia dapat membaca sebagai mana layaknya seseorang yang berpendidlkan.

Setelah itu saya melanjutkan pertanyaan kepadanya.

“Kalau berhitung Nt tau dakwak…?” Dia menjawab,..

“Kalau tambab (+), kurang (-) tau de’.., Tapi….!” Kemudian tiba-tiba dia tersenyum, yang membuat saya penasaran, sayapun bertanya lagi kepadanya,…

“Tapi ape wak…? usah suppan (main) we wak, santai jak we.” Dia kemudian menjawab,…

“Kalau perkalian (x) dan pembagian (:), aku aga’ kurang wak.” Saya bertanya,…

“Da’an tan wak…?” Dia menjawab,…

“Kalau aga’ kurang, berarti taulah sikit-sikit wak, tapi kurang lancar.” Kemudian saya tes dengan beberapa pertanyaan,…

“Kalau 7×5 berape wak…? Dengan cepat dia menjawab,…

“Tiga lima (35).” Saya bertanya lagi,…

“8×7…?”

Dia pun tersenyum mendengar pertanyaan saya yang kedua, walaupun dia dapat menjawabnya, akan tetapi memerlukan senggang waktu yang agak lama. Dan jawaban yang di lontarkannya kepada saya dapat saya analisa bahwa dalam masalah berhitung mi juga mampunyai perbedaan bagi seseorang yang tidak lanjut sekolah dengan seseorang yang dapat menyelsaikan pendikan, dimana perbedaan yang saya ketahui bahwa seseorang yang tidak lanjut sekolah walaupun dia dapat menghitung, akan tetapi mereka harus berpikir agak lama untuk mangetahui jawabannya tersebut, disinilah kita ambil sebuah perbandingan bagaimana suatu pendikan itu sangat pentig sekali bagi din kita.

Kemudian saya melanjutkan pertanyaan kepada dirinya,…

“Nt bise nulis wak. ..?dia menjawab,…

“Bisa…!”

Akan tetapi terlintas dalam benak pikiran saya mendengar dan jawabanya, bagai mana tulisannya kalau clia hanya sampal kelas dua SD, apa tululisanny sama dengan adik sepupu saya yang barn kelas 2 SD, dalam hati saya, saya ketawa setelah saya bayangkan bagai mana tulisan adik sepupu saya yang sulit untuk dibaca. Disini saya ingin tahu bgaimana tulisan seseorang yang hanya sekolah sampai kelas 2 SD apakah tullsannya sama dengan apa yang saya bayangkan bagaimana tulisan anak kelas 2 SD tersebut, dan apakah tulisannya lebih baik, walaupun dia hanya sampai kelas 2 SD. Kemudian saya suruh dia untuk menulis satu paragraf, setelah dia tulis satu paragraf tersebut, ternyata tulisannya agak lumayan baik tidak sesuai dengan apa yang telah saya bayangkan. Saya pun pertanya kepada dirinya,…

“Ape kau sering menulis setelah nt tidak lagi sekolah wak…?” dia menjawab,… “Kadang-kadanglah wak…e, kelau dak ade dibuat di rumah aku biase suke nyoret-nyoret buku.”

Dan jawabannya tersebut, bahwa seseorang walau dia tidak lanjut sekolah mereka juga bisa menulis sebagaimana layaknya tulisan seseorang yang berpendidikan, asalkan orang tersebut mau belajar walaupun tidak belajar dikukursi pendidikan.

Haripun semangkin larut malam, dan saya merasa sudah mendapatkan luman banyak impormasi sekitar pendidlkan dan teman saya tersebut, akan tetapi saya ingin bertanya yang terakhir kali pada teman saya itu. dan saya berkata kepadanya,…

“Wak.! Ito; pertanyaan yang terakhir, aku minta nt jawab dengan sejujurjujurnya…? apakah ut sekarang mi ada penyesalan terhadap keputusan yang telab nt ambil dahulu tidak mau untuk melanjutkan sekolah…? dan apa pandangan nt sekarang tentang pendidikan tersebut…?” dia menjawab…

“Kalau untuk sekarang, memang aku menyesal tidak lanjut sekolah, setelah aku lihat sekarang ml sangat jauh perbedaan antara orang yang mempunyai ijazah pendikan dengan orang yang tidak mempunyai ijazah seperti aku, dimane yang aku ketahui untuk meIa’s’uatu pekerjaan yang layak bagi din kita itu harus mempunyai ijazah paling tidak harus lulusan sekolak menengah atas (SMA), dan sedangkan orong seperti aku hanya bisa melamar pekerjaan seperti buruh (pekerjaan yang berat-berat). Disitulah aku mulai merasa menyesal pada diriku sendiri, mengape dolo’ (dahulu) aku mengambil keputusan yang seharusnya tidak aku ambil. dan kalau masalah pendikan menurut pandanganku sekarang sangat penting sekali, dan aku sarankan kepada kita’ (kalian) semuanya yang masih duduk dikursi sekolah (pendikan) jangan sampai putus ditengah jalan seperti aku ml. jangan kitta ikuti (contoh) jejak aku yang mengabil keputusan yang salah, apalagi nt wak, yang udah menginjak kursi pendikan tinggi jangan sampai putus tengah jalan. aku bangga wak mempunyai teman seperti nt, walan aku hanya sampai kelas 2 SD, aku bise berteman

dengan nt yang mempunyal wawasan luas. dan mudahan at bise menjadi motipasi bagi teman-teman kitte yang lain.”

Dan jawabàn yang diberikan teman saya tersebut, saya hanya tersenyum mendengarnya, kemudian saya menyalarninya, dan saya sambil berkata kepadanya,…

“Terima kaseh banyak wak, nt telah mau aku jadikan bahan obserpasi dan terima kasih jua atas jawaban atas pertanyaan yang aku ajukan kepade at, yang terakbir aku ucapkan terima kaseh atas dorangan dan motipasi nt.”

Setelah itu, kamipun ngomong- ngomong dengan teman-teman kami yang lain sekitar Jima belas menitan, dengan suasana malam yang cerah tiada berawan dan suasana desa kami yang sudah sunyi, dan saya melihat jam di henpon saya sudah menunjukkan jam setengah sebelas malam, mata saya udah mulai mengantuk, yang kebetulan saya juga agak kecapean dikarenakan tadi sorenya barn datang dan pontianak dan saya pamit kepada teman-teman saya untuk pulang.

Setelah saya dapatkan dan wawancara tersebut, maka dan itu dapat saya analisa

bahwa saudaudara:

Nama Iskandar

Jenis kelamin: Laki-Laki

Pekerjaan : Belum bekerja

Status : Belum kawin

TTL : Dusun 700,27 juni 1984

Alamat : Desa Sungai Bundung Laut Dusun 700 RT 11 RW 03 Kecamatan Sungai Kunyit Kabupaten Pontianak.

Bahwa saudara Iskandar tidak dapat menyelesaikan Pendidikan dasarnya bukan dikarenakan faktor biaya melainkan hanya tidak ada kemaun dalam melaksanakan suatu pendidikan oleh karena itu dia mengambil keputusan yang seharusnya tidak dia lakukan pada masa itu, dan dia juga memandang pendidikan hanya tahu baca tulis merupakan sudah cukup bagi dirinya, padahal dan informasi yang dia berikan sesual wawancara diatas kita ketahui bahwasannya dia adalah anak yang pertama yang diharapkan oleh orang tuanya menjadi seorang yang mempunyai wawasan dalam ilmu pendikan yang luas, akan tetapi dengan keputusan yang tidak dia pikirkan dengan pandangan untuk masa depannya dia mengambil keputusan yang salah, dengan keputusannya inilah dia juga memutuskan harapan dan orang tuanya yang menginginkan putranya mempunyai suatu wawasan yang luas dalam ilmu pendidikan.

Pada masa itu juga dia memandang bahwasan dia tidak dapat menyelesaikan pendidikannya dikarenakan ada faktor keturunan dan orang tuanya, yang mungkin dia menyakini suatu pepatah yang dia katakannya diatas bahwasannya buah tidak akanjauhjatuh dan pohonnya, bahwasannya kita ketahui kalau dalam pendikan tidak ada namanya faktor darl keturunan, jika setiap putra daerah saya, memandang seperti

saudara iskandar mi mungkin pendikan untuk didaerah sulit untuk maju, pandangan seperti inilah yang harus di hilangkan dan putra daerah yaitu dengan memberikan suatu pandangan yang jaub dengan melihat masa depan dan kemajuan dalam dalam bidang pendikan dan juga para orang tua harus memberikan motipasi yang tinggi terhadap anak-anaknya tersebut demi untuk memajukan suatu daerah dalarn suatu pembangunan daerah.

Dan setelah saudara iskandar melihat kemajuan setahun demi setahun dalam bidang pendikan baru dia merasa ada penyesalan dengan keputusan yang telah dia lakukan pada waktu yang simlam, merurpakan suatu keputusan yang salah yang telah dia ambil, akan tetapi tiada artinya menyesali yang telah lalu, ibaratkan nasi telah jadi bubur tidak akan kembali menjadi nasi, yang artinya sesuatu yang telah terjadi dan tidak akan bisa terulang kembali.

Oleh karena itu mudah — mudahan saudara iskandar mi bisa kita ambil hikmahnmya bagi para pembaca khususnya untuk putra daerah saya, dan bagai mana cara kita memandang suatu pendidikan itu, jangan sampai kita memandang pendikan hanya sekedar tahu baca tulis itu sudah cukup bagi din kita, dan kita hanus melihat dengan pandangan yang luas dan melihat bagai mana masa yang akan datang, sesuai dengan perkembangan zaman.

OOOOOOO—SEKIAN–OOOOOOO

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under CERPEN

terima kasih atas kunjungannya...mudah-mudahan berbagai tulisan yang kami sajikan ini dapat bermanfaat bagi pembaca. tak lupa agar silaturrahim pengunjung tetap berlanjut sudi kiranya pengunjung untuk memberikan pesan dan kesan setelah membaca tulisan yang ada di blog ini......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s