CERPENKU

created steo n by amel/editing

Curriculum Vitae

Nama : Aal Hafis
Panggilan : Al
Ttl : Mensungai, 22 Agustus 1992
Anak ke : 1 Dari 3 Bersaudara
Alamat : Jalan Kalimantan Rt/Rw 21/11 Dusun Mensungai Desa Sekura Kecamatan Teluk Keramat Kabupaten Sambas
Hobi : Memelihara Hewan
Ayah : Burhan
Ibu : Hermawati
Pekerjaan : Tani

Aku mengawali tulisan ini dengan firman Allah SWT:
“…Allah akan mengangkat orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat…”
Ayat tersebut menyatakan Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu dan beriman beberapa derajat. Dalam hal ini memberikan semangat bagi orang yang berilmu yang dengan itu akan diangkat derajatnya di sisi Allah.
Ada suatu pertanyaan di dalam Al-Qur’an menyatakan apakah sama dengan orang yang berilmu dengan yang tidak berlmu! Dari pernyataan tersebut itu memberikan pemahaman kepada penulis itu untuk menguraikan hasil wawancara yang diperoleh.
Senin,19 februari 2009
Allahuakbar Allahuakbar, adzan subuh berkumandang dari arah masjid di ujung jalan. Kuterjaga dari dunia khayal, kini ku kembali kedunia nyata dan siap untuk menata hidupku selanjutnya. Hidup itu bagai roda,jika kita tak lekas mengikutinya kita akan tergilas. Masa muda bukan hanya digunakan untuk bersenang-senang dan bersenda gurau, masa muda semestinya menjadi lahan subur untuk mempersiapkan diri guna menyambut hari tua yang terbetang atau ajal yang menantang. Semua itu kembali kepada pribadi kita masing-masing. Seperti yang tertera dalam surah Al-‘Ashr:” Demi masa. sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”
Kurenggangkan badanku dan Bismillah, kubangun dari tempat tidur dan segera kuberwudlu. Subhanallah, segar rasanya bila air membasuh tubuh yang baru pulih dari tidur. Kugelar sajadah dan kumulai ritual suciku menghadap sang pencipta yang selalu kurindukan dan selalu kupuja, Allah SWT.
Setelah selesai menunaikan Shalat Subuh ku raih Al-Qur’an Al-Karim dan kucium penuh penghormatan ku Lafadzhkan Ta’audzh dan mulailah ku mentartil ayat-ayat suci yang penuh dengan kebenaran. Setelah kurasa cukup,kututup kembali dan kuletakkan pada tempat semula, disamping tempat tidurku.
Selanjutnya kubuka buku agenda yang selalu memuat semua hal-hal yang kuperlukan atau berbagai aktifitas yang akan kulakukan.
Jam 11.00 Wib
Rencana kunjunganku ketempat responden akan kumulai. Rumahnya tak seberapa jauh dari rumahku. Desa kami berdekatan. Kunjungan ini kulakukan untuk merampungkan tugas Tafsir Tarbawi yang harus selesai ketika masa libur sudah usai.
Siang itu mentari bermurah hati menyinari bumi Allah , hari yang sangat cerah, tak ada sedikitpun wajah mendung yang ditampakkan oleh awan. Matahari pun urung bersembunyi dibalik awan. Hari yang cukup panas, panas terik serasa membakar kulitku. Tapi kubulatkan niat unutk menemuinya. Ujian pikirku. Cuaca yang panas merupakan ujian bagiku saat itu. Dengan membaca basmalah kumantapkan hati untuk sesegera mungkin merampungkan kewajibanku sebagai mahasiswa. Tugas ini harus segera selesai, tekadku.
Dusun Mensungai Desa Sekura Kecamatan Teluk Keramat Kabupaten Sambas. Daerah asalku. seperti kebanyakan desa Di kal-bar, desaku juga dikelilingi sungai yang cukup luas. Hemffff, ku hirup udara yang masih segar disana yang takkan dapat kurasakan bila ku berada di Pontianak. Damai rasanya bila kembali kedesaku. Hening dan damainya suasana alam serasa meneduhkan jiwa.
Tapi kali ini kedatanganku bukan hanya sekedar pulang kampung dan kumpul bersama keluarga seperti liburan biasanya. Kepulanganku kali ini sekaligus untuk merampungkan tugas kuliah yang telah diamahkan kepada kami.
Seperti biasa, “bebek” kesayanganku yang selalu setia menemaniku kemanapun aku pergi kali ini pun ia dengan setia mengantarkanku ketempat tujuanku. Helm, Buku, Pulpen, Handphone, Sim,Ktp, Stnk. hehe…… tenang bung,di sini tidak akan ditemui razia. Jadi bawa barang seperlunya saja.
Sepanjang perjalanan aku berdoa kepada Allah, semoga Allah melancarkan urusan ini dan dapat berjalan dengan baik. Selang beberapa lamanya mengendarai “si bebek”, akhirnya aku sampai juga di tempat tujuan. Rumah mungil, sangat mungil jika tak dapat dikatakan sederhana.berdinding papan dan beratap daun.mencerminkan kesederhanaan hidup pemiliknya. Tapi aku bukan petugas pemerintah yang bertugas mendata tingkat kesejahteraan warganya, jadi aku mahfum dengan keadaan didepanku. Seperti kebanyakan keluarga petani didesa, dengan tingkat ekonomi yang pas-pasan keluarga ini kusimpulkan juga termasuk diantaranya.
Rincian kedatanganku kerumah responden:
Merampungkan tugas kuliahku, dengan beberapa point, seperti:
• Mewawancarai pemuda yang bernama Aal Hafish serta kesehariannya dan riwayat pendidikannya.
• Kebetulan Al, panggilan akrab Aal Hafish termasuk target utama untuk penyelesaian tugas kuliahku, anak putus sekolah.
• Memberikannya beberapa soal untuk mengetes tingkat kecerdasan dan daya nalarnya.
Di rumah Al
Kuucap salam beberapa kali sebelum akhirnya salamku dijawab oleh seorang ibu setengah baya dengan wajah khas melayu.
“Assalamualaikum”. Ku ucapkan salam. Tapi belum ada jawaban dari dalam rumah. Kucoba sekali lagi. Dan salam yang kedua terdengar sahutan dari dalam rumah.
“ Waalaikummussalam”. Seorang ibu bergegas menghampiriku yang masih ada diambang pintu.
“ Ade ape ye?” Tanyanya kepadaku.
“ Maaf bu, Al nya ade?” Jawabku
“ O…Al, die ndak ade dirumah dari pagi, die agek pegi mancing diparit nun dibelakang rumah” jawabnya dalam bahasa melayu sambas yang kental, sambil menunjuk ke arah yang dimaksud.
Keluarga Al dan Al memang tidak mengenalku. Aku mendapatkan informasi tentang Al dari teman-teman di desaku, ketika ku ceritakan tugasku kepada mereka. Mereka menyarankanku untuk mengunjugi Al.
Setelah kuutarakan maksud dan tujuanku datang kerumahnya,beliau mengangguk-angguk tanda mengerti. Tapi target yang ku maksud sedang tidak ada dirumah. Jadi aku ditemani ibunya untuk menjawab beberapa pertanyaanku.
“ Gitok be bu, name saye steo kamek tok ade keperluan sedikit dengan Al, yang berhubungan dengan tugas kuliah, kamek kuliah di Pontianak bu tepatnya di STAIN.” Kuutarakan niatku mengunjungi Al kepada ibunya dengan bahasa melayu sambas yang kental.
“ Tugas ini harus dkumpulkan pas kelak kamek balik agek ke Ponti.” Lanjutku
“Kalo boleh tahu tugas ape i? ape hubungannya same Al”. Tanya ibu al kepadaku
“ Tugas wawancara orang-orang yang putus sekolah.”
“Walaupun sekura kampong be, tapi hampir semue wargenye udah pade sekolah, jadi saye nak minta tolong same Al, maok ndak die bantok saye, die cume diwawancare aja be. Mungkin juga ibu bisa bantu saye ngasih tau saye ape sebabnye al putus sekolah.” Jelasku.
“ Sebelumnye kamek tok minta maaf, mun udah ngerepote ibu.”
“ O giye ke ceritenye.” Jawab ibu Al dengan polosnya.kutangkap dari sorot matanya dia menghargai kehadiranku dan aku mendapat sambutan yang hangat dari beliau.
Ibu Al kutaksir usianya belum mencapai 40 tahun, tetapi raut wajahnya seperti orang yang berusia 45 tahun. Tipe wanita desa pekerja keras yang bekerja membantu suami mencari nafkah, biasa dengan bertani / berladang bahkan nurih ( pengambilan air getah pada pohon karet. Red ).
“ Eh ngape bediri aja diluar dari tadi, Masya Allah saye lupa nyuruh steo masuk. Maaf i.” katanya kepadaku.
“ Ndak ape-ape be bu, biase ja’ be. “ setelah itu aku dan ibunya Al masuk keruang tamu.”
“ Sepi rumah bu.” Tanyaku basa-basi
“ Oh iye, biase lah, ayahnye al pagi nurih, adeknye dua – duanye belom pulang sekolah.” Jawab ibu Al dengan logat melayu sambas yang kental.
Ibunya mulai berkisah, dulu Al sepat sekolah walau hanya sampai kelas 4 SD. Trauma yang dialaminya akibat terjatuh ke parit setelah ia di serempet motor membawa dampak yang cukup besar terhadap semangat sekolah Al. Dia memutuskan untuk berhenti sekolah. Jadi bukan semata-mata karena masalah ekonomi yang dialami keluarganya ia berhenti, seperti kebanyakan kasus anak-anak putus sekolah lainnya. Walaupun penghasilan orang tuanya pas-pasan tetapi semangat orangtuanya untuk menyekolahkan anak-anaknya sangat tinggi, ini dapat dilihat dari ke 2 adiknya yang masih mengenyam pendidikan di SMP dan SD. Sejak dulu Kedua oang tuanya selalu memberikan dukungan kepada al untuk melanjutkan sekolahnya, tapi apa hendak dikata al tetap bersikeras untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Ibunya juga mengatakan bahwa al termasuk anak yang pintar, ketika ibunya menunjukan rapor SD al, kelas 1 hingga kelas 3 SD, al selalu mendapat peringkat 3 besar dikelasnya. Itulah yang disayangkan oleh kedua orang tuanya. Al tidak ada semangat dan keinginan melanjutkan pendidikannya.
Setelah cukup lama kami berbincang-bincang, ibunya al menawarkan diri untuk memanggil Al yang masih berada di parit.
“ O iye, mau ibu panggilkan al ndak?” tanyanya kepadaku.
“ Emm, boleh bu, kalau ndakan ngerepote.” Jawabku malu-malu.
“ Ndak an, usah nak supan be, biase ja.” jawabnya
“ Al memang giye, kalo belom sore belom nak balik, kasian steo kelak kelamaan nunggunye.”
Pas ibunya al baru melangkahkan kaki keluar rumah, sudah ada sahutan salam dari luar.
“ Assalamualaikum.”
“ Waalaikummussalam.” Jawab ibu Al
“ Motor siape mak.”tanyanya.
Kulihat seorang pemuda yang kuperkirakan masih remaja bertanya pada ibu Al. tak salah pikirku. Itu pasti Al.
“ Iye motor steo. Die nyare kau. Cepat masuk ,temue die.” Kudengar ibu al berbicara pada Al.
“ Nyare kamek?” Tanya Al, dia masih bingung pikirku, sebab aku dan dia memang belum saling kenal.
“ Aok, die nyare kau, katenye ade perlu same kau sikit.”
“ Udah cepat masok, kasian die dah lama nunggu kau.” Perintah ibunya. Al mengangguk dan masuk ke rumah.
“ Assalamualaikum.” Ucap Al
“Waalaikumussalam.” Jawabku
Kami pun berkenalan. Namanya Aal Hafish, nama yang bagus pikirku. Setelah berkenalan ku sampaikan maksud dan tujuanku datang kerumahnya dan mencarinya. Al tampak serius memperhatikanku.
“ Maaf ye Al, kalo udah ganggu waktunye.” Ucapku
“ Ndak ape-ape be bang Teo, kamek pun ndakan sibuk juak.” jawabnya
Pembawaannya yang ramah semakin mengakrabkan suasana. Ku tanyakan kepadanya kenapa sampai memutuskan untuk berhenti sekolah. Dia menjawab singkat, masalah ekonomi katanya. Tapi setelah kukatakan kepadanya jika hal itu bukan menjadi faktor utamanya seperti yang dikatakan ibunya. Dia juga mengakui hal itu, tetapi dia mengatakan bahwa dia tidak ingin memberatkan kedua orang tuanya. Apalagi ia adalah anak sulung, yang sudah semestinya membantu perekonomian keluarganya.
“ Saye cume nak bantu mak same ayah”. Katanya dalam logat melayu sambas yang kental.
“ Biarlah bang, adek- adek saye aja yang sekolah, biar saye ikut nurih( pengambilan air getah dari pohon karet. Red ) ja’, ngan umak same ayah.” Lanjutnya. Cukup lama kami berbincang- bincang, sayang pikirku, disaat pemerintah menggalakan sekoah murah, masih saja ada anak-anak yang engan untuk sekolah dengan berbagai macam faktor. Tapi disisi lain aku prihatin dengan keadaan yang dialami Al. Faktor ekonomi sering menjadi kambing hitam dalam masalah putus sekolah. Tidak lama kemudian ibunya datang keruang tamu tempatku dan Al berbincang-bincang, sambil membawa air putih dan pisang goreng buatan sendiri.
“ Maaf ye teo, cume itok ja’ yang ade.”
“ Ndak ape-ape bu, makaseh ye bu, maaf udah ngerepotkan.” Jawabku
“ Sile lah dimakan.” Tawarnya kepadaku.
“Iye bu, makaseh.”
“ Ibu masuk dolok i, lanjutkan lah ngomongnye same Al.” ucapnya seraya berlalu dari kami dan kembali ke dapur. Aku menganggukan kepala.
Al memepersilahkanku meminum air dan memakan pisang goreng buatan ibunya, dan ku pun meminum air yang telah disediakan. Segar, kataku dalam hati. Alhamdulillah ucapku dihari yang sangat terik, air memang yang menyadi pilihan utama untuk melepas dahaga. Bahkan ketika Rasulullah berada ditengah padang pasir yang tandus dan kering pada musim kemarau, doa rasulullah kala itu adalah Ya Allah jangan jadikan cintaku kepada air, melebihi cintaku kepadamu. Begitu dahsyat artinya air ditengah panas matahari yang seakan membakar bumi
Setelah menyantap hidangan yang disajikan, aku mengajukan beberapa soal kepadanya untuk menguji pemahaman dan tingkat kecerdasan yang ia miliki. Soal itu terdiri dari membaca tulisan yang telah ku siapkan, berhitung dan membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Aku sempat dibuat kagum dengan hasil jawabannya. Jawaban yang memuaskan untuk seorang yang putus sekolah ditingkat SD seperti Al. Aku menyimpulkan Al termasuk anak yang cerdas, walaupun tak sempat menamatkan pendidikannya di SD. Dari hasil soal yang ku berikan, ternyata Al bisa membaca, menghitung dan menulis. Saat ditanya dari mana ia bisa menjawab semua itu, Al menjawab semuanya di dapat selama bersekolah sampai kelas 4 SD.
Setelah memberikan soal ujian kepada Al, aku dibawa Al berkeliling-kelilinng sekitar rumahnya. Dia memperkenalkan hewan peliharaannya kepadaku. Beberapa ekor burung perkutut berada didalam kandang bambu disamping rumahnya. Setelah itu ia mengajakku ketempatnya biasa memancing. Parit yang cukup besar, pikirku. Al berkata jika di parit itu banyak ikannya.
Setelah puas berkeliling-keliling,kami kembali kerumahnya. Lalu aku berpamitan dengan Al dan ibunya. Mereka melepas kepergianku dengan senyum, senyum yang tulus.
Sepanjang perjalanan aku masih memikirkan Al dan keluarganya. Sangat dilematis. Disatu pihak orang tuanya bersikeras menyuruh anaknya sekolah, di pihak lain anaknya juga enggan untuk melanjutkan pendidikannya. Hal seperti itu cukup banyak ditemukan di masyarakat kita. Anak yang berkeinginan besar untuk sekolah tetapi terbetur soal dana,sehingga tak sempat merasakan indahnya bangku sekolah, disisi lain anak yang berkecukupan secara finansial tetapi enggan melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi atau kedua-duanya tidak menunjang, tak ada dana dan tak ada keinginan untuk sekolah.
Hal tersebut Sangat disayangkan. Semestinya pendidikan menjadi tombak utama keberhasilan seseorang. Orang yang berpendidikan setidaknya tidak akan mudah dibohongi oleh orang lain, orang yang berpendidikan sifat dan tingkah lakunya akan lebih terkontrol dibanding orang yang tak berpendidikan. Bahkan orang yang berpendidikan dapat merubah keadaan hidupnya.
Seperti yang dialami oleh kisah sejati orang-orang yang saat ini sukses salah satunya adalah Andrea Hirata, penulis yang melejit dengan master piecenya tetralogi Laskar Pelangi yang menjadi best seller didalam maupun luar negeri. Novel yang mengisahkan pengalaman hidupnya bersama teman-temannya di daerah pedalaman Belitong, Provinsi Bangka Belitung. Didalam novelnya dikisahkan Andrea terlahir dari keluarga yang kurang mampu sebagaimana keadaan masyarakat kebanyakan didesanya. Tetapi hal tersebut tak menyurutkan niatnya untuk bersekolah. Pekerjaan apapun dilakukannya asalkan halal semenjak ia masih belia. Rupiah demi rupiah dikumpulkannya demi membiayai sekolahnya, yang saat itu belum ada bantuan BOS yang saat ini diberikan pemerintah kepada anak-anak tingkat sekolah Dasar dan menengah. Sejak kecil Andrea memang mandiri dan tak ingin menyusahkan kedua orang tuanya. Semangat belajar yang tinggi sedari kecil sampai akhirnya mengantarkannya menjadi penerima bea siswa keluar negeri program S2, tepatnya di Universitas Sorbone Paris, Prancis. Dan sekarang kehidupan Andrea Hirata jauh lebih baik dibandingkan semasa kecilnya dulu. Finansial yang baik dan ketenaran kini dimilkinya. Bukan hanya itu, ia juga orang Indonesia pertama yang mencetuskan teori baru di bidang ekonomi yang kini telah dipatenkan di seluruh dunia.
Bercermin dari kisah sejati diatas dapat disimpulkan tidak ada yang tidak mngkin jika kita mau bertekad dan berkerja keras. Apapun rintangan akan dihadapi dengan kesabaran. Begitu pula semangat yang membaja hendaknya ditanamkan kedalam pribadi setiap kita agar tak mudah putus asa dan menyerah dengan nasib.
Seperti yang terjadi di irak baru-baru ini, anak-anak perempuan kecil tetap gigih bersekolah walaupun aliran Radikal/ garis keras dan pihak –pihak yang tak senang kereka bersekolah sering melancarkan teror-teror bahkan kekerasan fisik kepada mereka, seperti yang terjadi pada salah satu siswi di Sekolah Dasar yang wajahnya disiram dengan air keras sehingga wajahnya rusak berat. Hal ini disebabkan karena anak tersebut tetap gigih bersekolah walaupun teror selalu datang kepadanya.
Andai saja Ki Hajar Dewantara masih hidup, pasti beliau sangat sedih melihat fenomena pendidikan di Negara kita yang masih berada pada taraf rendah dibandingkan dengan kualitas pendidikan di negara tetangga. Dan masih banyaknya anak usia sekolah yang justru tak berada di lingkungan sekolah dan tak mengenyam pendidikan sebagaimana mestinya.
Sampai saat ini Pemerintah sedang berusaha semaksimal mungkin untuk menekan tingkat buta aksara dengan berbagai program yang digalakkan, di antaranya perbaikan fasilitas pendidikan, termasuk didalamnya sarana dan prasarana pendidikan. Mendirikan rumah baca, sosialisasi pendidikan kedaerah-daerah terpencil hingga mengirimkan tenaga pendidik kedaerah-daerah terpencil untuk menuntaskan tingkat buta aksara.
Apalah arti semua itu jika tak ada dukungan & kerjasama dari masyarakat. Tujuan pendidikan akan tercapai jika semua pihak mau mewujudkannya.tidak ada kata tidak bisa.
Tahun 2020 adalah tahun Perdagangan Bebas yang mana setiap Negara harus membuka semua jalur perdagangan dan kesempatan kerja kepada setiap warga Negara manapun untuk bekerja dan menjual barangnya. Dalam hal ini siapa yang berkompetenlah yang akan berhasil. Baik dari segi skill, pendidikan bahkan modal. Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi jika hal ini terjadi dengan kondisi kita saat ini. Kita pastinya tak ingin menjadi kuli dinegeri sendiri.
Islam membutuhkan kader-kader/ pemuda pemudi yang cerdas,sehat jasmani dan rohani serta berakhlak mulia. Islam membutuhkan orang-orang yang mampu mengharumkan nama islam. Negara memerlukan orang-orang cerdas guna menaikkan harkat & martabat Negara di mata dunia. Keluarga menginginkan anak-anak yang cerdas agar dapat membanggakan serta meningkatkan taraf hidupnya keluarganya. Orang-orang akan lebih menghargai orang-orang yang cerdas daripada orang-orang yang tak tahu apa-apa.
Allah sangat menyukai orang-orang yang mencintai ilmu. Sehingga turunlah surah Al-‘Alaq (1-5):”Bacalah dengan (menyebut) nama tuhanmu yang menciptakan.dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhan-mu lah yang maha mulia.yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Dari ayat tersebut dapat ditarik makna yang terkandung di dalamnya bahwa manusia sebagai makhluk yang lemah diperintahkan Allah untuk memperkuat diri dan mengisi akal dengan pengetahuan.
Dunia membutuhkan orang-orang cerdas yang dapat mewarnai hidup dengan hal yang berguna dan bermanfaat, baik bagi dirinya sendiri, maupun orang lain.
Teknologi,fasilitas dan apapun yang kita nikmati saat ini hanya terlahir dari orang-orang yang mau perpikir dan bekerja keras, bukan terlahir dari orang-orang malas dan sering mengeluh pada nasib.
Dalam masa kejayaan islam, telah banyak lahir cendikiawan muslim dalam segala disiplin ilmu, sebut saja ahli kedokteran, Ibnu Sina yang menjadi peletak dasar ilmu kedokteran, ibnu kaldun dalam bidang ilmu sosial, matematika, filsafat, bahkan istilah-istilah dalam kimia, aljabar, angka-angka berkembang pesat dalam masa kejayaan islam.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under CERPEN

terima kasih atas kunjungannya...mudah-mudahan berbagai tulisan yang kami sajikan ini dapat bermanfaat bagi pembaca. tak lupa agar silaturrahim pengunjung tetap berlanjut sudi kiranya pengunjung untuk memberikan pesan dan kesan setelah membaca tulisan yang ada di blog ini......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s