Aliran Behaviorisme (Tingkah Laku)

Menurut teori tingkah laku, belajar adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Atau lebih tepat perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuan untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Meskipun semua penganut aliran ini setuju dengan premis dasar ini, namun mereka berbeda dalam beberapa hal penting.
Berikut ini kita kaji hasil karya dari beberapa penganut aliran ini yang paling penting, yaitu Thorndike, Hull, Guthrie, dan Skinner.
Thorndike
Menurut Thorndike, salah satu pendiri aliran tingkah laku, belajar adalah proses interaksi antara stimulus (yang mungkin berupa pikiran, perasaan atau gerakan) dan respon ( yang juga bisa berbentuk pikiran, perasaan atau gerakan). Jelasnya, menurut Thorndike, perubahan tingkah laku itu boleh berwujud sesuatu yang konkret (dapat diamati), atau yang non-konkret (tidak bisa diamati).
Meskipun Thorndike tidak menjelaskan bagaimana caranya mengukur berbagai tingkah laku yang non-konkret itu (pengukuran adalah salah satu yang menjadi obsesi semua penganut aliran tingkah laklu), tetapi teori Thorndike telah banyak memberikan insipirasi kepada pakar lain yang datang sesudahnay. Teori Thorndike ini juga disebut sebagai aliran Koneksionis (Connectionism).
Watson
Namun menurut Watson, pelopor lain datang sesudah Thorndike, stimulus dan respon tersebut harus berbentuk tingkah laku yang “bisa diamati” (observable). Dengan kata lain, Watson mengabaikan berbagai perubahan mental yang mungkin terjadi dalam belajar dan menganggapnya sebagai factor yang tak perlu diketahui. Bukan berarti semua perubaha mental yang terjadi dalam benak siswa tidak penting. Semua itu penting. Tapi, faktor-faktor tersebut tidak bisa menjelaskan apakah proses sudah terjadi atau belum.
Hanya dengan asumsi demikianlah, kata Watson, kita bisa meramalkan perubahan apa yang bakal terjadi pada siswa. Dan hanya dengan demikianlah psikologi dan ilmu tentang belajar dapat disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperti fisika ata biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik.
Kita lihat di sini, penganut aliran tingkah laku lebih suka memilih untuk tidak memikirkan hal-hal yang tidak bisa diukur, meskipun mereka tetap mengakui bahwa semua hal itu penting. Teori Watson ini juga sebagai aliran tingkah laku (behaviorism).
Chark Hull
Chark Hull sangat terpengaruh oleh teori evolusinya Charles Darwin. Bagi Hull, seperti dalam teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga keberlangsungan hidup. Karena itu, dalam teori Hull, kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis menepati posisi sentral. Stimulus hampi selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis ini, meskipun respon mungkin bermacam-macam bentuknya,
Teori ini, terutama setelah Skinner memperkenalkan teorinya, ternyata tidak banyak dipakai dalam dunia praktis, meskipun sering digunakan dalam berbagai eksprimen dalam laboratorium.
Edwin Guthrie
Menurut Edwin Guthrie, stimulus tidak harus berbentuk kebutuhan biologis. Yang penting dalam teori Guthrie adalah, bahwa hubungan antara stimulus dan respon cenderung bersifat sementara. Karena itu, diperlukan pemberian stimulus yang sering agar hubungan itu menjadi lebing langgeng. Selain itu, suatu respon akan lebih kuat (dan bahkan menjadi kebiasaan) bila respon tersebut berhubungan dengan berbagai macam stimulus.
Itulah sebabnya kenapa kebiasaan merokok, sekedar contoh, sulit ditinggalkan. Seringkali terjadi, perbuatan merokok tidak hanya berhubungan dengan satu macam stimulus (misalnya kenikmatan merokok), tetapi juga dengan stimulus-stimulus lain seperti minum kopi, berkumpull dengan teman-teman, ingin tamapk gagah, dan lain-lain.

Skinner
Menurut Skinner, deskripis hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan perubahan tingkah laku (dalam hubungannya dengan lingkungan) menurut versi Watson tersebut di atas adalah deskripsi yang tidak lengkap. Respon yang diberikan oleh siswa tidaklah sesederhana itu, sebab pada dasarnya setiap stimulus yang diberikan berinteraksi satu dengan yang lainnya, dan interaksi ini akhirnya mempengaruhi respon yang dihasilkan itu. Sedangkan respon yang diberikan ini juga menghasilkan berbagai konsekwensi, yang pada gilirannya akan mempengaruhi tingkah laku siswa.

TEORI BELAJAR BEHAVIORISME (TINGKAH LAKU)

DESKRIPSI SINGKAT
 Menurut teori ini, belajar adalah perubahan tingkah laku, seseorang dianggap telah belajar sesuatu bila ia mampu menunjukkan perubahan tingkah laku.
Misalnya, seorang siswa belum bisa membaca. Maka, betapapun ia keras belajar, betapapun gurunya berusaha sabaik mungkin mengajar, atau bahkan ia sudah hafal huru A sampai Z di luar kepala, namun bila siswa itu gagal mendemonstrasikan kemampuannya dalam membaca, maka siswa itu belum bisa dianggp telah belajar. Ia dianggp telah belajar bila ia telah menunjukkan suatu perubahan dalam tingkah laku (dari tidak bisa menjadi bisa membaca)
 Menurut teori ini, yang terpenting adalah masukan / input yang berupa stimulus dan keluran / output yang berupa respons. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respons itu dianggap tak penting diperhatikan sebab tidak bisa diamati. Yang bisa diamati hanyalah stimulus dan respons.
Dalam contoh di atas, stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa tersebut dalam rangka membatu siswa itu unutk belajar. Dalam hal ini, stimulus mungkin berupa rangkaian alphabet, beberapa kalimat, atau sebuath bacaan. Sedangkan respons adalah reaksi siswa terhadap stimulus yang diberikan gurunya. Menurut teori Behaviorisme, apa saja yang diberikan guru (stimulus), dan apa saja yang dihasilkan siswa (respon), semuanya harus bisa diamati, diukur, dan tidak boleh hanya implisit (tersirat)
 Faktor lain yang juga penting adalah faktor penguatan (reinforcement). Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkkuat timbulnya respons. Bila penguatan ditambahkan (disebut positive reinforcement) maka respons akan semakin kuat. Begitu pun bila penguatan dikurangi (disebut negative reinforcement), respons pun tetap dikuatkan.
 Pelopor terpenting teori ini antara lain adalah Pavlov, Watson, Skinner, Hull, dan Guthrie.
KRITIK
 Teori ini sering dikritik sebagai tidak mampu menjelaskan proses belajar yang kompleks
Misalnya, banyak kasus belajar terjadi, di mana sebuah (atau beberap) stimulus yang diterima oleh mahasiswa ternyata mampu mendorong mahasiswa itu menghasilkan beberpa respos sekaligus, yang kadangkala beberapa respons di antaranya tidak behubungan langsung dengan stimulus itu. Teori tingkah laku tidak menjelaskan bagaimana “multi stimulus” dan “ multi respon” ini bisa terjadi.
 Asumsi pokok, bahwa semua hasil belajar yang berupa perubahan tingkah laku yang bisa diamati, juga dianggap terlalu menyederhanakan masalah belajar yang sesungguhnya. Tidak semua hasil belajar bisa diamati dan diukur, paling tidak dalam tempo seketika.
Misalnya, seorang mahasiswa memahami betapa pentingnya arti “ belanegara”, setelah mengikuti kuliah kewiraan. Pertanyaannya, apakah kita patut menyimpulkan bahwa mahasiswa tersebut tidak belajar apa-apa karena ia tidak bisa menunjukkan bukti-bukti (respons) konkrit dari arit “ belanegara” itu dalam bentuk perbuatan nyata yang dapat diamati dan diukur? Sebaliknya, apakah kita dapat menyimpulkan bahwa mahasiswa itu telah belajar dengan baik hanya karena ia mendapat nilai A untuk matakuliah Kewiraan?

CONTOH APLIKASI DALAM KEGIATAN INSTRUKSIONAL
 Seperti teori-teori belajar lain, teori behaviorisme pun dalam aplikasinya tergantung pada beberapa hal seperti sifat materi palajaran, karakteristik mahasiswa, media belajar dan fasilitias belajar yang tersedia.
 Namun secara umum, aplikasi teori behaviorisem biasanya meliputi beberap langkah berikut ini:
1. Menentukan tujuan-tujuan intruksional
2. Menganalisis lingkungan kelas yang ada saat ini termasuk mengindentifikasi “entry behavior” mahasiswa (pengetahuan awal mahasiswa)
3. Menentukan materi pelajaran (pokok bahasan, topik dan sebagainya)
4. Memecah materi pelajaran menjadi bagian kecil-kecil (sub pokok bahasan, sub topik, dan sebagainya)
5. Menyajikan materi pelajaran
6. Memberikan stimulus yang mungkin berupa:
o Pertanyaan (lisan atau tertulis)
o Tes
o Latihan
o Tugas-tugas
7. Mengamati dan mengkaji respons yang diberikan
8. Memberikan penguatan/reinforcement (mungkin penguatan positif atau penguatan negatif)
9. Memberikan stimulus baru
10. Mengamati dan mengkaji respons yang diberikan (mengevaluasi hasil belajar)
11. Memberikan penguatan
12. (dan seterusnya)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under All Daftar, Psikologi

terima kasih atas kunjungannya...mudah-mudahan berbagai tulisan yang kami sajikan ini dapat bermanfaat bagi pembaca. tak lupa agar silaturrahim pengunjung tetap berlanjut sudi kiranya pengunjung untuk memberikan pesan dan kesan setelah membaca tulisan yang ada di blog ini......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s