MUHAMMAD ABDUH DAN PEMIKIRANNYA DALAM TEOLOGI ISLAM

oleh susanto
A. Biografi Muhammad Abduh
1.Riwayat Hidup dan Latar Belakang Pendidikan
Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abduh bin Hasan Khairullah. Dilahirkan di suatu desa di Mesir Hilir. Di desa mana tidak diketahui dengan pasti, karena ibu bapanya adalah orang desa biasa yang tidak mementingkan tanggal dan tempat lahir anak-anaknya. Akan tetapi yang umum dipakai, bahwasannya Muhammad Abduh lahir di Mahallat Nashr di Kabupaten al-Buhairah, Mesir, pada tahun 1849 M. Perbedaan pendapat tentang tempat dan tanggal lahirnya timbul karena suasana kacau yang terjadi diakhir zaman Muhammad Ali (1805-1849 M). kekerasan yang dipakai oleh para penguasa Muhammad Ali dalam mengumpulkan pajak dari penduduk desa menyebabkan para petani selalu pindah tempat untuk menghindarkan beban-beban berat yang dipikulkan atas diri mereka. Bapak dari Muhammad Abduh sendiri senantiasa pindah dari desa ke desa, dan dalam masa setahun bisa berkali-kali pindah. Dan akhirnya menetap Mahallat Nashr. Disini Ia membeli sebidang tanah.(Harun Nasution,1992:58)
Ayahnya bernama Abduh bin Hasan Khairullah, mempunyai silsilah keturunan dengan bangsa Turki yang telah lama tinggal di Mesir. Sedangkan ibunya bernama Junaidah Uthman, menurut riwayat berasal dari bangsa Arab, yang mempunyai silsilah keturunan dengan tokoh besar Islam, yakni Umar bin Khattab. (http://wongdongkomakalah.blogspot.com, diakses pada tanggal 23 juni 2009).
Masa Pendidikan Muhammmad Abduh dimulai dengan pelajaran dasar membaca dan menulis yang didapatkan dari orang tuanya sendiri. Kemudian sebagai pelajaran lanjutan ia belajar al-Qur’an dengan seorang hafizh. Dan berkat otaknya yang cemerlang, maka dalam waktu dua tahun, ia telah hafal kitab suci al-Quran dalam usia 12 tahun. (Arbiyah Lubis,1993:112)
Menurut M. Rasyid Rida yang telah dikutib oleh Arbiyah Lubis (1993:112) Pendidikan formalnya dimulai ketika ia dikirim ayahnya ke sebuah lembaga pendidikan di masjid Ahmadi yang terletak di desa Thantha. Di tempat ini ia mengikuti pelajaran yang diberikan dengan rasa tidak puas, bahkan membawanya pada putus asa untuk mendapatkan ilmu pengetahuan seperti yang diharapkannya. Perasaan demikian didasarkan dari metode pengajaran yang diterapkan disekolah tersebut yang lebih mementingkan hafalan tanpa pengertian. Metode tersebut dikatakannya sebagai metode yang tidak menghiraukan perbedaan yang ada pada murid. Metode demikian menurutnya bukan memproduksi murid yang cakap, tetapi membuat murid semakin bodoh karena tidak mengerti apa yang di hafalnya.
Muhammad Abduh sebagai seorang yang kritis merasakan tidak efektifnya metode yang demikian. Ia berpendapat lebih baik tidak belajar daripada menghabiskan waktu untuk menghafal istilah-istilah nahwu dan fiqih yang sama sekali tidak dipahaminya. Akhirnya ia pun lari meninggalkan pelajarannya di Thanta dan bersembunyi di rumah salah satu pamannya, tetapi setelah tiga bulan disana ia dipaksa kembali pergi ke Thanta. Karena yakin bahwa belajar itu tak akan membawa hasil baginya ia pulang kembali ke kampungnya dan berniat akan bekerja sebagai petani. Ditahun 1865 dalam usianya yang ke 16 tahun iapun nikah. Niatnya untuk menjadi petani itu tidak dapat diteruskan, karena baru saja empat puluh hari nikah ia dipaksa orang tuanya kembali belajar ke Thanta. Iapun meninggalkan kampungnya, tetapi bukan pergi ke Thanta melainkan untuk bersembunyi di rumah salah satu pamannya yang bernama Syekh Darwisy Khadr. Di sini ia dapat merubah jalan hidupnya. Syekh Darwisy Khadr telah pergi merantau ke luar Mesir dan belajar agama islam dan tasawwuf (Tarikat Syadli) di Libia dan Tripoli. (Harun Nasution, 1992:60).
Syekh Darwis tahu akan akan keengganan Muhammad Abduh untuk belajar, maka ia selalu membujuk supaya membaca bersama-sama. Sebagaimana dicerittakan oleh Muhammad Abduh sendiri, ia pada waktu itu benci melihat buku. Dan buku yang diberikan Syekh Darwisy kepadanya untuk dibaca, kemudian dilemparkannya jauh-jauh. Buku itu dipungut Syekh Darwisy kembali dan diberikan kepadanya dan akhirnya Muhammad Abduhpun membacanya juga beberapa baris. Setiap habis satu kalimat, Syekh Darwisy memberikan penjelasan tentang arti dan maksud yang diikandung kalimat itu. Setelah beberapa hari membaca bersama-sama dengan cara yang diberikan Syekh Darwisy itu, Muhammad Abduhpun berubah sikapnya terhadap buku dan ilmu pengetahuan. Ia sekarang mulai mengerti apa yang dibacanya dan ingin mengerti dan mengetahui lebih banyak. Akhirnya ia pergi ke Thanta untuk meneruskan pelajaran. Akan tetapi enam bulan kemudian ia meninggalkan Thanta dan kali ini ia melanjutkan studinya ke Universitas Al Azhar, di Kairo dan berhasil menyelesaikan kuliahnya pada tahun 1877 dengan mendapatkan gelar ‘Alim.(Harun Nasution, 1992:60-61).
Ketika menjadi mahasiswa di Al-Azhar, pada tahun 1869 Abduh bertemu dengan seorang ulama’ besar sekaligus pembaharu dalam dunia Islam, Said Jamaluddin Al-Afghany, dalam sebuah diskusi. Sejak saat itulah Abduh tertarik kepada Jamaluddin Al-Afghany dan banyak belajar darinya. Al-Afghany adalah seorang pemikir modern yang memiliki semangat tinggi untuk memutus rantai-rantai kekolotan dan cara-cara berfikir yang fanatik. Udara baru yang ditiupkan oleh Al-Afghany, berkembang pesat di Mesir terutama di kalangan mahasiswa Al-Azhar yang dipelopori oleh Muhammad Abduh. Karena cara berpikir Abduh yang lebih maju dan sering bersentuhan dengan jalan pikiran kaum rasionalis Islam (Mu’tazilah), maka banyak yang menuduh dirinya telah meninggalkan madzhab Asy’ariyah. Terhadap tuduhan itu ia menjawab: “Jika saya dengan jelas meninggalkan taklid kepada Asy’ary, maka mengapa saya harus bertaklid kepada Mu’tazilah? Saya akan meninggalkan taklid kepada siapapun dan hanya berpegang kepada dalil yang ada”. (http://wongdongkomakalah.blogspot.com, diakses pada tanggal 23 juni 2009).
2. Sejarah Perjuangan dan Kehidupan Politik

Setelah Abduh menyelesaikan studinya di Al-Azhar pada tahun 1877, atas usaha Perdana Menteri Mesir, Riadl Pasya, ia di angkat menjadi dosen pada Universitas Darul Ulum dan Universitas Al-Azhar. Dalam memangku jabatannya itu, ia terus mengadakan perubahan-perubahan yang radikal. Dia menggugat model lama dalam bidang pengajaran dan dalam memahami dasar-dasar keagamaan sebagaimana yang dialaminya sewaktu belajar di masjid Ahmadi dan di Al-Azhar. Dia menghendaki adanya sistim pendidikan yang mendorong tumbuhnya kebebasan berpikir, menyerap ilmu-ilmu modern dan membuang cara-cara lama yang kolot dan fanatik Sebagai murid Jamaluddin Al-Afghani, maka pikiran politiknya pun sangat dekat dengannya. Al-Afghani adalah seorang revolusioner yang secara serius memandang penting bangkitnya bangsa-bangsa timur guna melawan dominasi Barat. (http://wongdongkomakalah.blogspot.com, diakses pada tanggal 23 juni 2009).
Pada tahun 1879, pemerintahan Mesir berganti dengan turunnya Chedive Ismail dan digantikan puteranya, Taufiq Pasya. Pemerintahan yang baru ini sangat kolot dan reaksioner sehingga berdampak pada dipecatnya Abduh dari jabatannya dan diusirnya Al- Afghany dari Mesir. Tetapi pada tahun berikutnya Abduh kembali mendapatkan tugas dari pemerintah untuk memimpin penerbitan majalah “al-Wakai’ al-Mishriyah”. Kesempatan ini dimanfaatkan Abduh untuk menuangkan isi hatinya dalam bentuk artikel-artikel serta pemerintah tentang nasib rakyat, pendidikan dan pengajaran di Mesir.
Pada tahun 1882, Abduh dibuang ke Syiria (Beirut) karena dianggap ikut andil dalam pemberontakan yang terjadi di Mesir pada saat itu. Disini ia mendapat kesempatan untuk mengajar di Universitas Sulthaniyah selama kurang lebih satu tahun.
Pada permulaan tahun 1884, Abduh pergi ke Paris atas panggilan al Afghany yang pada waktu itu telah berada disana. Bersama al Afghany, disusunlah sebuah gerakan untuk memberikan kesadaran kepada seluruh umat Islam yang bernama “al ‘Urwatul Wutsqa”. Untuk mencapai cita-cita gerakan tersebut, diterbitkanlah pula sebuah majalah yang juga diberi nama “al-‘Urwatul Wutsqa”. Suara kebebasan yang ditiupkan Al- Afghany dan Abduh melalui majalah ini menggema ke seluruh dunia dan memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap kebangkitan umat Islam. Sehingga dalam waktu yang sangat singkat, kaum imperialis merasa khawatir atas gerakan ini dan akhirnya pemerintah Inggris melarang majalah tersebut masuk ke wilayah Mesir dan India.
Pada akhir tahun 1884, setelah majalah tersebut terbit pada edisi ke-18, pemerintah Perancis melarang diterbitkannya kembali majalah ‘Urwatul Wutsqa. Kemudian Abduh diperbolehkan kembali ke Mesir dan al Afghany melanjutkan pengembaraannya ke Eropa.
Setelah kembali ke Mesir, Abduh kembali diberi jabatan penting oleh pemerintah Mesir. Ia juga membuat perbaikan-perbaikan di Universitas Al-Azhar. Puncaknya, pada tanggal 3 Juni 1899, Abduh mendapatkan kepercayaan dari pemerintah Mesir untuk menduduki jabatan sebagai Mufti Mesir. Kesempatan ini dimanfaatkan Abduh untuk kembali berjuang meniupkan ruh perubahan dan kebangkitan kepada umat Islam. Kemauannya yang keras untuk melaksanakan pembaharuan dalam islam dan menempatkan islam secara harmonis dengan tuntutan zaman modern, dengan cara kembali kepada kemurnian islam mendorongnya untuk mengkaji kembali masalah-masalah keagamaan dan menuliskannya, sehingga karenanya terangkatlah namanya sebagai bapak peletak aliran modern dalam islam. (Jhon J. Donohue dan Jhon L. Esposito,1995:30).
B. Pemikiran Muhammad Abduh
Islam adalah agama yang terdiri dari beberapa aspek yang saling berhubungan antara satu sama yang lainnya. Yaitu Aqidah (Teologi), Syariah (Hukum Islam), dan Akhlak (tasawuf). Namun dalam kesempatan ini, penulis hanya membahas sedikit pemikiran Muhammad Abduh tentang Aqidah (Teologi), yaitu qada’ dan qadar, perbuatan manusia dan fungsi akal dan wahyu.
1. Qada dan Qadar
Sebagai seorang pemikir yang termasuk mengagungkan akal sebagai sumber inspirasi kehidupan, Abduh sedikit banyak dipengaruhi pemikiran-pemikiran mu’tazilah. Hal ini terlihat dari buku-bukunya, di antaranya Risâlah Tauhîd. Pemikiran Abduh mengenai qada dan qadar, agaknya sejalan dengan sikap dan pandangan hidupnya yang dinamis. Di samping memandang qada dan qadar sebagai salah satu segi aqidah Islamiyah yang penting, ia juga menekankan pentingnya pemahaman yang benar dalam masalah ini. Meskipun tampaknya dia tidak menyebut soal qada dan qadar sebagai salah satu pilar-pilar keimanan, tetapi dia memasukkan masalah ini ke dalam aspek aqidah Islamiyah. Menurutnya, bahwa keyakinan yang benar tentang masalah qada dan qadar akan menbawa muslimin ke arah kejayaan dan kemajuan. Sebaliknya pemahaman yang salah terhadap keduanya, akan menyebabkan mereka ke dalam kehancuran. Seperti yang pernah terlihat dalam sejarah Islam.
Pemahaman Abduh tentang hal ini, mungkin disebabkan kondisi yang dilihat olehnya, baik dalam pengembaraannya ke negeri-negeri Barat, maupun kondisi Mesir sendiri yang masih dalam jajahan Perancis. Dia melihat aqidah yang dianut umumnya umat Islam ketika itu, yaitu paham qada dan qadar yang telah berwujud fatalisme, yang justru telah membuat mereka dalam keadaan statis dan beku. Konsekuensinya, umat semakin mundur dan tidak ada kemauan untuk berbuat yang lebih baik.
Qada’ dan qadar dalam pandangan Abduh mempunyai pemikiran yang berbeda dengan yang umumnya dianut umat muslim pada masanya. Qada menurutnya berarti “terkaitnya Ilmu Tuhan dengan sesuatu yang diketahui (ta’alluq al-Ilmil al-Ilahi bi al-syai’). Sedangkan qadar adalah “terjadinya sesuatu sesuai dengan ilmu Tuhan” (wuqû’ al-Syai’ ‘ala Hasb al-‘Ilmi). (Arbiyah Lubis,1993:130)
Dari pendapat tersebut dapat diambil kesimpulan, bahwasannya tidak ada sesuatu pun yang terjadi di alam ini yang berada di luar jangkauan ilmu Tuhan. Termasuk segala yang dipilih manusia sesuai kemauan dan kebebasan yang diberikan Tuhan kepadanya. Hal ini berarti bahwa qada’ dan qadar tidak menunjukkan adanya paksaan kepada manusia untuk melakukan sesuatu perbuatan. Tuhan hanya mengetahui segala yang dilakukan oleh manusia, bukan menetapkan di zaman azali apa yang harus dilakukan manusia. (http://wongdongkomakalah.blogspot.com, diakses pada tanggal 23 juni 2009).
Konsekuensi logis dari pendapat ini adalah manusia bebas menjatuhkan pilihannya. Dan apapun perbuatan yang dipilih dan dilakukannya, Tuhan telah lebih mengetahuinya. Jadi, peran Tuhan dalam hal ini adalah mengetahui, dan peran tersebut tidak menjadi penghalang bagi kebebasan manusia dalam memilih perbuatan sesuai dengan kehendak bebasnya yang diberikan Tuhan.
2. Perbuatan Manusia
Pandangan Muhammad Abduh yang telah dikutip oleh Arbiyah Lubis (1993:125) tentang perbuatan manusia bertolak dari deduksi bahwasannya manusia adalah makhluk yang bebas dalam memilih perbuatannya. Menurutnya ada tiga unsure yang mendukung suatu perbuatan, yaitu akal, kemauan dan daya. Ketiganya merupakan ciptaan Tuhan bagi manusia yang dapat dipergunakannya dengan bebas.
Manusia dengan akalnya mempertimbangkan akibat perbuatan yang akan dilakukan, kemudian dia mengambil keputusan dengan kemauannya sendiri dan selanjutnya mewujudkan perbuatan itu dengan daya yang ada pada dirinya. Jelas bahwa bagi Muhammad Abduh, manusia secara alami mempunyai kebebasan dalam menentukan kemauan dan perbuatan. Manusia tidak berbuat sesuatu kecuali setelah dia mempertimbangkan akibat-akibatnya dan atas pertimbangan inilah dia mengambil keputusan melaksanakan atau tidak melaksanakan perbuatan yang dimaksud.
Namun, manusia tidak mempunyai kebebasan tanpa batas atau kebebasan absolut. Abduh membatasi kebebasan manusia dengan memberikan contoh yang tergambar dalam peristiwa-peristiwa alamiah, seperti angin badai, tersambarnya petir dan peristiwa-peristiwa lain yang tak terduga. Artinya, kebebasan manusia mempunyai batas-batasnya, terutama sekali karena di atas manusia masih ada kekuasaan Tuhan. Kekuasaan Tuhan yang membatasi kemauan dan kebebasan manusia itu terjadi melalui hukum ciptaan Tuhan. Tuhan menjadikan segala wujud di alam ini di bawah hukum alam, dalam suatu sistim hukum sebab akibat yang ditetapkan-Nya. Atas dasar itu, dapat dikatakan bahwa terjadinya peristiwa-peristiwa yang mengakibatkan kerugian pada manusia disebabkan oleh ketidakmampuan manusia sendiri dalam menguasai dan mengantisipasi hukum alam yang berintikan hukum sebab akibat (sunnah Allah) itu. Dengan kata lain, peristiwa alam yang membawa kerugian bagi manusia disebabkan oleh karena manusia tidak mampu mengantisispasi sifat-sifat dari hukum alam yang bersangkutan. Jadi, hukum alamlah (sunnah Allah) sesungguhnya yang membatasi kemauan dan kebebasan manusia. (Arbiyah Lubis,1993:127).
3. Aqal dan Wahyu
Menurut M.Quraisy Syihab (http://artikelislami.wordpress.com/31/08/2008), ada dua pemikiran pokok yang menjadi fokus utama pemikiran Muhammad Abduh, yaitu:
1. Membebaskan aqal fikiran dari belenggu-belenggu taqlid yang menghambat perkembangan pengetahuan agama sebagaimana haqnya salaful ummah, yakni memahami langsung dari sumber pokoknya, Al-Qur’an dan Hadits.
2. Memperbaiki gaya bahasa Arab, baik yang digunakan dalam percakapan resmi di kantor-kantor pemerintahan maupun dalam tulisan-tulisan di media massa.
Dua persoalan pokok itu muncul ketika ia meratapi perkembangan ummat Islam pada masanya. Sebagaimana dijelaskan Sayyid Qutub, kondisi ummat Islam saat itu dapat digambarkan sebagai, “suatu masyarakat yang beku, kaku, menutup rapat-rapat pintu ijtihad, mengabaikan peranan aqal dalam memahami syari’at Allah atau mengistimbatkan hukum-hukum, karena mereka telah merasa cukup dengan hasil karya para pendahulunya yang juga hidup dalam masa kebekuan aqal (jumud), serta yang berdasarkan khurafat-khurafat.” (Sayyid Qutub, Khasha’ish At-Tashawwur Al-Islam, hal. 19/dalam http://artikelislami.wordpress.com/31/08/2008, di akses pada tanggal 24 juni 2009)
Lihatlah bagaimana Sayyid Qutub menilai para ulama shalih. Lihatlah bagaimana dia mengedepankan aqal dan mengajak ummat pada umumnya untuk berijtihad. Padahal tidak semua orang punya kapasitas sebagai mujtahid. Bahkan tidak semua ulama dan santri mencapai derajat mujtahid. Pemikiran keliru yang mengajak ummat untuk berijtihad atas nama kebebasan berfikir ini telah diterima sebagian pemuda yang umumnya lemah aqal. Dan tentu saja pemikiran menyimpang seperti ini sangatlah berbahaya dan menyesatkan.
Atas dasar kedua fokus fikirannya itu, Muhammad Abduh memberikan peranan yang sangat besar kepada aqal. Begitu besarnya peranan yang diberikan olehnya sehingga Harun Nasution menyimpulkan bahwa Muhammad Abduh memberi kekuatan yang lebih tinggi kepada aqal daripada Mu’tazilah. . [Harun Nasution, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional, UI Press, 1978, hlm. 58-61]
Dengan memperhatikan pandangan Muhammad Abduh tentang peranan aqal di atas, dapat diketahui pula bagaimana fungsi wahyu baginya. Baginya, wahyu adalah penolong (al-mu’in). Kata ini ia pergunakan untuk menjelaskan fungsi wahyu bagi aqal manusia. Wahyu, katanya, menolong aqal untuk mengetahui sifat dan keadaan kehidupan alam akhirat; mengatur kehidupan masyarakat atas dasar prinsip-prinsip umum yang dibawanya; menyempurnakan pengetahuan aqal tentang Tuhan dan sifat-sifat-Nya; dan mengetahui cara beribadah serta bersyukur kepada Tuhan. [Harun Nasution, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional, UI Press, 1978, hlm. 58-61]
Dengan demikian, wahyu bagi Muhammad Abduh berfungsi sebagai konfirmasi, yaitu untuk menguatkan dan menyempurnakan pengetahuan aqal dan informasi. Lebih jauh, Muhammad Abduh memandang bahwa menggunakan aqal merupakan salah satu dasar Islam. Iman seseorang tidak sempurna kalau tidak didasarkan pada aqal. Islam, katanya, adalah agama yang pertama kali ‘mempersaudarakan’ antara aqal dan agama. Menurutnya, kepercayaan kepada eksistensi Tuhan juga berdasarkan aqal. Kemudian dia beranggapan bahwa wahyu yang dibawa Nabi tidak mungkin bertentangan dengan aqal. Kalau ternyata antara keduanya terdapat pertentangan, menurutnya, terdapat penyimpangan dalam tataran interpretasi, sehingga diperlukan interpretasi lain yang mendorong pada penyesuaian.

Daftar Pustaka
Donohue, Jhon.J dan Esposito, Jhon.L.1995. Islam dan Pembaharuan. Jakarta: PT. Raja Grafindo.
http://artikelislami.wordpress.com/2008/08/31/pemikiran-muhammad-abduh/. Diakses pada tanggal 23 Juni 2009

http://wongdongkomakalah.blogspot.com/2008/12/pemikiran-muhamad-abduh.html. Diakses pada tanggal 23 Juni 2009.

Lubis, Arbiyah. 1993. Pemikiran muhammadiyah dan Muhammad Abduh, suatu studi perbandingan. Jakarta: Bulan Bintang.
Nasution, Harun . 1992. Pembaharuan dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Nasution, Harun.1981. Muhammad Abduh dalam Teologi Rasional Mu’tazilah. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Tinggalkan komentar

Filed under All Daftar

terima kasih atas kunjungannya...mudah-mudahan berbagai tulisan yang kami sajikan ini dapat bermanfaat bagi pembaca. tak lupa agar silaturrahim pengunjung tetap berlanjut sudi kiranya pengunjung untuk memberikan pesan dan kesan setelah membaca tulisan yang ada di blog ini......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s