Kerajaan Islam di Sanggau

oleh Nonong
A. Pendahuluan
Sanggau Kapuas merupakan salah satu daerah kabupaten yang berada di provinsi Kalimantan Barat. Salah satu agama yang paling banyak dianut penduduknya adalah agama Islam yang mayoritas beretnis Melayu. Bahkan di Ibu Kotanya sendiri yang juga bernama Sanggau, sebagian besar penduduknya beragama Islam.Banyaknya penduduk yang menganut agama Islam ini tentu saja tidak terlepas dari pengaruh kekuasaan politik pada zaman dahulu. Karena seperti yang kita ketahui salah satu cara islamisasi adalah dengan mengunakan kekuasaan politik.
Adapun bentuk kekuasaan politik pada zaman dahulu di Sanggau adalah bentuk kerajaan yang menganut sistem monarki sama seperti kerajaan-kerajaan lain pada umumnya. Para penguasa kerajaan Sanggau ini memiliki pengaruh yang tidak sedikit terhadap perkembangan agama Islam sampai sekarang. Selain dikenal sebagai raja yang memerintah kerajaan, para penguasa pada zaman dahulu juga berperan sebagai penyebar agama Islam, seperti melakukan islamisasi ke daerah pedalam yang penduduknya masih menganut paham atheisme dan beretnis Dayak.
Untuk mengetahui lebih lanjut perkembangan Islam pada masa kerajaan Sanggau dan sisa-sisa peninggalan kerajaan tersebut akan penulis uraikan pada setiap bahasan di bawah ini.

B. Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Sanggau
Kerajaan Sanggau merupakan salah satu kerajaan yang pernah tumbuh dan berkembang bersama-sama dengan kerajaan lainnya baik dari segi politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Kerajaan Sanggau sendiri memiliki keraton yang bernama Keraton Surya Negara Sanggau, yang menjadi tempat tinggal bagi raja yang memerintah kerajaan pada saat itu. Adapun sejarah berdirinya kerajaan Sanggau ini tidak ditemukan secara pasti bagaimana awal mulanya kerajaan ini berdiri. Tetapi menurut sumber referensi, yang menjadi cikal bakal kerajaan ini adalah seorang putri raja yang bernama Daranante.
Daranante bukanlah orang asli Sanggau melainkan berasal dari Sukadana dan keturunan dari Panembahan Kalahirang yang merupakan keturunan Parabu Jaya yang dikatakan berasal dari Jawa dan mengawini Putri setempat (Ketapang) dan mendirikan kerajaan di Sukadana. Putri Daranante menikah dengan seorang laki-laki dari suku Dayak Sisang Hulu Sekayam yang bernama Babai Cinga.
Pernikahan antara Daranante dan Babai Cinga menurut cerita rakyat adalah sebagai berikut: Babai Cinga’ karena menderita penyakit yang sangat membahayakan dan menjijikan (lepra) maka diasingkan keluarganya ke desa yang saat ini bernama Desa Nanga Nyeri dekat Desa Lubuk Sabuk. Di dalam pengasingan Babai Cinga bertanam buah-buahan dan sayur untuk menghidupi dirinya sendiri. Seperti adat kebiasaan masyarakat dayak pada saat itu yang memiliki kebiasaan membuang kotorann di sungai begitu juga dengan mandi dan mencuci. Tanpa disadari tempat yang biasa dipakai Babai Cinga membuang kotoran telah tumbuh tanaman sejenis timun atau semacam labu.
Kemudian mentimun atau labu yang sering terkena kotorang dari Babai Cingga hanyut dan dibawa air menuju sungai sekayam dan terus menuju ka sungai kapuas dimana di dalamnya telah tersimpan sperma dari Babai Cingga. Mentimun yang hanyut tersebut ditemukan oleh Daranante dan dimakannya. Karena telah memakan timun yang mengandung sperma dari Babai Cinga, tidak lama kemudian Dara Nante hamil tanpa diketahui siapa kekasihnya. Para ahli nujum meramalkan bahwa ayah dari anak yang dikandung Daranante tersebut adalah laki-laki yang berada di Hulu Sungai Kapuas dan Dara Nante harus mencari sampai ketemu. Maka dipersipkanlah perbekalan untuk Dara Nante. Diperjalanan Dara Nante pun melahirkan seorang anak laki-laki yang bernama Arya Jamban setelah itu Dara Nante pun menyusuri sungai kapuas dan akhirnya sampailah di sungai Sekayam.
Sungai sekayam pada waktu itu ditumbuhi pohon bayam yang besar-besar karena itu sungai tersebut dinamakan sungai sekayam. Setelah itu sampailah di desa Nanga Nyeri. Kemudian Dara Nante memerintahkan kepala kampung untuk mengumpulkan penduduk desa dan mengadakan sayembara, bagi siapa yang dapat menebang pohon bayam yang melintang di sungai maka akan dinikahkan dengan Putri Daranente.
Setelah diadakan sayembara tersebut, yang dapat menebang pohon bayam tersebut hanyalah Babai Cinga. Dan Daranante pun merasa bahwa orang tersebutlah yang akan menjadi suaminya. Perkawinan pun dilaksanakan dengan Babai Cinga dan orang-orang di daerah tersebut diberi hadiah berupa gong besi (gong besi ini masih tersimpan sampai sekarang di desa Lubuk Tengah Kecamatan Sekayam, Sanggau)
Setelah mengadakan pernikahan, perjalanan pun terus berlanjut sampai tiba di desa Mengkiang yang merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan Sanggau. Hal ini dibuktikan dengan makam dari para sultan. Diperjalanan, penyakit yang diderita Babai Cinga berangsur-angsur sembuh sehingga rupanya pun berubah menjadi sangat menawan. Tetapi cerita perkawinan antara Daranante dan Babai Cinga di atas hanyalah sebuah cerita rakyat semata.
Sedangkan menurut “Peta Silsilah Terjadinya Negeri Dan Kerajaan Sanggau” dan nara sumber, yang menjadi cikal bakal kerajaan ini adalah seseorang yang mengungsi karena negerinya diserang cacing, bernama Mas Sinapati I berasal dari Gunung Selan (Riaw) yang mendirikan Negeri Sanggau. Mas Sinapati ini beragama Islam dan bersuku Melayu. Anaknya yang bernama Daranante kemudian dijodohkan dengan Babai Cinga yang merupakan pembantunya dan pengasuh Daranate.
Tetapi yang ditetapkan menjadi raja pertama kerajaan Sanggau ini adalah Dayang Mas Ratna yang merupakan putri dari Daranante, Dayang Mas Ratna menikah dengan Sunan Abd. Rahman atau Abang Nurul Kamal (bergelar Kiyai Tujuh) berasal dari Banten. Dalam memerintah Dayang Mas Ratna dibantu oleh Mas Sinapati II. Awalnya kedudukan pemerintahan berada di Mengkiang kemudian dipindahkan ke Kota Sanggau pada masa Abang Bungsu kerena perkembangan yang lebih pesat.
Adapun mengenai waktu berdirinya keraton Sanggau adalah berdasarkan benda pusaka berupa pedang yang bernama “Pedang Tancam” yang konon pemberian raja Mongol yang beragama Islam sebagai hadiah kepada raja Sanggau. Pedang tersebut diberikan pada 1616 M (pada mata pedang tertulis angka tahun 1616) dan seratus tahun sebelumnya kerajaan sanggau sudah berdiri sekitar tanggal 9 Rabiul Akhir atau 17 April 1515 M. Dengan demikian usia Sanggau adalah 494 tahun.

C. Berkembangnya Islam di Kerajaan Sanggau
Menurut nara sumber dari awal berdirinya kerajaan, penguasa kerajaan Sanggau ini sudah beragama Islam sehingga dari awal corak agamanya sudah Islam. Adapun mengenai perkembangan agama Islam terus mengalami kemajuan, dengan banyaknya penduduk di daerah-daerah yang memeluk agama Islam terutama di daerah di pinggir Sungai Sekayam maupun Sungai Kapuas. Dari penguasa kerajaan Sanggau jugalah yang menjadi cikal bakal kerajaan yang pernah ada di daerah Blitang, kabupaten Sekadau sekarang.
Para raja juga mendirikan tempat-tempat peribadatan seperti yang dilakukan oleh Sultan Ayub yang memerintah pada tahun 1825-1830 M, dengan mendirikan sebuah masjid Jami’ Syuhada pada tahun 1826 M. Mesjid ini kemudian diganti namanya menjadi Masjid Jami’ Sultan Ayub.(Yus Suhardi, 2006: 9)

D. Kemunduran Kerajaan Sanggau
Kerajaan sanggau mulai mengalami kemunduran ketika raja Ade Ahmad yang bergelar Penambahan Muhammad Kusuma Negara memerintah pada tahun 1830-1860 M (Yus Suhardi, 2006: 10). Faktor utama kemunduran ini adalah masuknya Belanda yang awal mulanya hendak berdagang dan menyewa tanah di daerah Sanggau dengan mengadakan kontrak.
Usaha Belanda tidak hanya sampai itu saja, Belanda mulai membuat siasat dan mengadakan politik adu dombanya terhadap para penguasa pada waktu itu agar berebut kekuasaan dengan membedakan antara raja dan mangkubumi. Belanda juga memberikan gelar-gelar yang membuat perpecahan dikalangan bangsawan seperti gelar Abang, Gusti, dan Ade.

E. Peninggalan-peninggalan Kerajaan Sanggau
Peninggalan—peninggalan dari Keraton Suryanegara Sanggau yang masih ada sampai saat ini yaitu:
1. Keraton Suryanegara Sanggau yang masih berdiri sampai saat ini dan di dalamnya terdapat cermin seribu wajah, pelaminan, pakaian raja, dan lain-lain.
2. Masjid Jami’ Sultan Ayub Sanggau didirikan oleh Sultan Ayub pada tahun 1826.
3. Meriam yang berjumlah 11 buah.
4. Didalam keraton sendiri terdapat sebuah pedang pusaka yang bernama “PEDANG TANCAM” yang merupakan hadiah dari Raja Mongol yang beragama Islam.
5. Sebuah manuskrip al-Qur’an yang ditulis oleh Sultan Ayub.
6. Makam raja-raja di daerah Kantuk, Sanggau.

F. Bentuk Pengabdian Masyarakat Terhadap Kerajaan Sanggau
Bentuk pengabdian masyarakat terhadap kerajaan Sanggau adalah dengan memberi nama-nama jalan di Kota Sanggau dengan mengunakan nama raja-raja yang pernah memerintah, serta keturunannya. Nama-nama jalan tersebut seperti jalan Panembahan Gst. M. Thahir Surya Negara, jalan Ratu Ayu yang merupakan anak dari raja Abang Kusuma Negara, dan Masjid Jami’ Sultan Ayub, dan masih banyak lagi.
Diperoleh dari narasumber bahwa para kerabat keraton akan mengadakan acara di keraton pada bulan ini tepatnya pada tanggal 19 Juli 2009 ini, acara ini dimaksudkan untuk menghidupkan kembali suasana keraton dengan mengangkat kembali gelar raja atau pangeran. Dengan dihidupkannya kembali keraton ini secara otomatis Keraton Surya Negara ini akan menjadi salah satu objek wisata sejarah yang ada di Sanggau.

G. Kesimpulan
1. Dari pengamatan dilapangan agama Islam berkembang pesat di Sanggau hal itu terbukti dengan adanya bukti- bukti sejarah dan banyaknya penduduk yang manganut agama Islam, terutama di Kota Sanggau dan daerah di pinggir Sungai.
2. Para penguasa memiliki pengaruh yang besar dalam penyebaran agama Islam.
3. Sanggau termasuk salah satu daerah yang memiliki sumber sejarah.
4. Kalimantan barat kaya dengan kerajaan-kerajaan yang berperan besar dalam menyebarkan agama islam.

F. Saran
1. Pemerintah harus memberikan perhatian yang besar terhadap obyek sejarah karena bisa mendatangkan pendapatan daerah.
2. Berbagai pihak harus bekerjasama dalam menjaga peninggalan bersejarah yang ada di daerahnya agar tidak hilang.
3. Kita harus cinta terhadap peninggalan sejarah dengan selalu memelihara dan merawat.

DAFTAR PUSTAKA

Suhardi, Yus. 2006. Sanggau dari Masa ke Masa. Sanggau: Pemda Sanggau

NARA SUMBER

By…No2ng

Tinggalkan komentar

Filed under All Daftar, Materi PAI

terima kasih atas kunjungannya...mudah-mudahan berbagai tulisan yang kami sajikan ini dapat bermanfaat bagi pembaca. tak lupa agar silaturrahim pengunjung tetap berlanjut sudi kiranya pengunjung untuk memberikan pesan dan kesan setelah membaca tulisan yang ada di blog ini......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s