tafsir hadis bukhari no 44-49

oleh

puati

HADIST 44

APA YANG DISUNNAHKAN BAGI SEORANG ALIM JIKA DITANYA, “MANAKAH MANUSIA YANG TERPANDAI”, AGAR MENYERAHKAN PERIHAL ILMU KEPANDAIAN ITU KEPADA ALLAH

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, Ia berkata. telah menceritakan kepada kami Amru.” Ia berkata, “Sa’id bin Jubair mengabarkan kepadaku” Ia berkata, “Saya mengatakan kepada lbnu Abbas, bahwa Nauf Al Bakali mendakwahkan bahwa Musa adalah bukan Musa bani Israil. tetapi Musa yang lain.” Sa’id berkata, “Musuh Allah telah berdusta.”

Ubay bin Ka’ab tclah menceritakan kepada kami dan Nabi SAW, “Musa sang Nabi berdiri sambil memberi khutbah kepada Bani Israil, maka seseorang bertanva kepada dia. ‘Siapa manusia yang paling pandai?’ Musa berkata, Aku lebih mengetahui.’ Maka Allah menegur Musa karena dia tidak mengembalikan kepada Allah pertanyaan tersebut, dan Allah mewahvukan kepada dia hamba diantara hamba-hamban-Nya yang tinggal di penemuan dua buah lain adaah lebih mengetahui daripada Musa.”

Musa berkata, ‘Wahai Tuhan’ Bagaimana dengan orang tersebut?” Maka Allah mengingatakan kepadanya, “bawalah ikan yang ada dalam keranjang dari daun kurma. Apabila engkau kehilangan jejaknya di sanalah hamba-ku berada “ Maka berangkatlah Musa bersama muridnya Yusyak bin Nun dengan membawa ikan di dalam keranjang. hingga ketika rnenjumpai batu besar keduanaya menyandarkan kepala mereka dan tertidur. Pada saat itu, si ikan melepaskan diri dari keranjang. “lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu .”

Musa dan muridnya (tidak memperhatikan kejadian ini dan kembali berangkat di sisa malam Ketika subuh menjelang Musa berkata kepada muridnya, bawalah kemari makanan kita’, sesungguhnya kita merasa letih karena perjalanan ini.” Musa tidak merasa letih hingga melewati tempat yang tentukan Allah maka berkatalah sang muridnya, tahukah engakau ketika kita mencari tempat berlindung batu, maka sesssnggahnya aku lupa menceritakan ikan itu dan tidak ada yang melupakanku untuk menceritakan kembali kecuali setan, Musa berkata,” itulah tempat yang kita cari,” lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula.”

Keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula,, dan ketika keduanya menjumpai batu besar, terdapatlah seorang laki-laki yang menutupi dirinya denga baju. Musa mengucapkan salam, Khidhir berkata,” apakah ada kesejahteraan di negeri kamu?” maka Musa berkata,” aku adalah Musa, Nabi Khidhir berkata,” Musa Bani israil?” Musa menjawab,”benar!” kemudian dia meneruskan,” bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” Khidhir berkata,” sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersamaku.” Wahai Musa, sesungguhnya aku diberi ilmu yang Allah ajarkan kepadaku dan tidak diketahui olehmu, dan  engkau diberikan pengetahuan dari Allah yang  tidak aku ketahui,” Musa berkata,” Insya Allah kamu akan mendapatkan aku sebagai orang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusan apapun.”

Maka berangkatlah keduanya ke pesisiran pantai dan keudanya tidak memiliki perahu.ketika sebuah kapal melewati mereka, khidir berbicara dengan mereka agar mengangkut mereka berdua. Orang-orang tersebut mengenali Khidhir dan mengangkut mereka dengan gratis. Kemudian datanglah seekor burung yang berdiri di lantai perahu dan memasukkan paruhnya ke laut. Khidhir pun berkata,” wahai Musa, ilmu yang aku dan engkau dapat bagaikan tetes air yang diambil oleh burung ini.” Lalu Khidhir berlalu dan menanggalkan layar perahu tersebut.

Berkata Musa, mereka adalah orang-orang yang memberikan tumpangan kepada kita tanpa memungut bayaran dan engkau membocorinya agar oarng-orangnya tenggelam.” Berkatalah Khidhir “ bukankah aku telah berkata,” sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku” Musa berkata,” janganlah kamu menghukum aku dengan kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusannku.”

Kejadian tersebut adalah kesilapan pertama yang dibuat oleh Musa. Lalu mereka kembali berjalandan bertemu dengan seorang anak yang sedang bermain bersama teman-temannya, tiba-tiba Khidhir memenggal kepala anak itu dan membunuhnya. Berkatalah Musa,” mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih bukan karena dia membunuh orang lain?” Khidhir berkata:” bukanlah sudah kukatakan kepadamu bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat sabar bersamaku?” maka keduanya berjalan hingga sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu oleh penduduk negeri itu dan penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka. Kemudian mereka mendapatkan rumah yang hampir roboh, maka Khidhir menegakkan dindingnya.”

“Adanya yang meriwayatkan bahwa Khidhir mengakkannya dengan kedua tangannya,” berkatalah Musa kepadanya,” kalau kamu mau, niscaya kamu menganmbil upah untuk itu,” Khidhir berkata,” inilah perpisahan antara aku dengan kamu.” Rasulullah berkata,” semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Musa, yang tetap bersabar mendengarkan penjelasan tentang hal tersebut sehingga kita mendapatkan cerita tentang mereka berdua.”

Keterangan Hadist

Kata Haddatsana ini digunakan dalil Imam Bukhari untuk menguatkan kedudukan khabar wahid. Dari hadis yang begitu panjang itu menjelaskan tentang perjalanan Nabi Musa dengan muridnya sehingga bertemu dengan Khidhir. “Aku adalah orang yang paling tahu” kalimat ini merupakan jawaban dari pertanyaan “ siapa manusia yang paling tahu?” kalimat tersebut menjdi perdebatan yang panjang tetapi penulis membatasinya, adapun jawaban yang diberikan maksudnya adalah sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Pernyataan tersebut karena Musa membatasi hanya kepada dirinya saja. Adapun maksud kata-kata mengetahui adalah Nabi adalah seoseorang yang paling pintar dari orang-orang dimasanya atau kaum tempat dia diutus. Musa tidak diutus kepada Khidhir, oleh sebab itu bukanlah suatu kekurangan apabila Khidhir lebih mengetahui dari pada Musa, apalagi kita katakana bahwa Khidhir adalah seorang Nabi sekaligus Rasul atau dia  lebih mengetahui hal-hal spesifik  yang tidak diketahui Musa jika kita katakan bahwa dia seorang Nabi atau seorang wali. Dengan keputusan tersebut banyak permasalah yang terpecahkan.

Ibnu Munir mengkritik Ibn Baththal yang banyak mengambil perkataan ulama salaf dalam memberi peringatan agar manusia tidak mengaku memiliki ilmu, dan mendorong seseorang yang berilmu untuk menjawab “tidak tahu” dari hadis di atas, perkataan Musa saya lebih mengetahui” yang maksudnya adalah perkataan Musa itu menunjukkan bahwa beliau mempunyai ilmu yang banyak dan sebagai anjuran untuk merendahkan diri dan tamak dalam mencari ilmu.berbeda dengan manusia dengan mengatakan seperti ini untuk membanggakan diri dan takabur.

Adapun pelajaran yang dapat diambil pelajaran dari kisah Musa dan Khidhir adalah, Allah bebas berbuat apa saja dengan kekuasaan-Nya sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya. Oleh karena itu, apa yang dilakukan dan diputuskan-Nya tidak dapat dijangkau oleh akal, sedangkan kewajiban makhluk adalah ikhlas serta berserah diri kepada-Nya. Menurut Al-Qurthubi dua hal yang harus diperhatikan:

  1. Kita harus memperingatkan orang-orang yang keliru mengatakan bahwa Khidhir lebih baik dari Musa. Buktinya adalah Musa diberikan risalah Kenabian yakni diturunkannya Taurat kepada Nabi Musa. Sedangkan Khidhir adalah seorang Nabi yang disepakati bahwa dia bukan seorang Rasul. Sebab seorang Rasul lebih utama daripada Nabi. Oleh karena itu Khidhir salah satu seorang Nabi Bani israil dimana Musa adlah yang terbaik di antara Nabi-nabi Bani Israil. Jika Khidir seorang wali, maka Nabi adalah lebih utama dari pada seorang wali, sebagaimana ditetapkan oleh akal dan wahyu.

Bukti kelebihan dari Nabi Musa, sebagaimana dalam Al-Qur’an surah al-A’raf: 144:

Allah berfirman: “Hai Musa, Sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dan manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.

  1. Bahwa orang-orang zindiq berusaha memecahkan belah umat ini dengan mencari celah dalam kisah ini. Menurut mereka kisah ini disimpulkan, bahwa hukum-hukum syariah bersifat awam dan diperuntukan khusus bagi orang-orang awam dan bodoh, sedangkan para wali dan kalangan khawas tidak membutuhkan (teks) tersebut. Mereka tergantung pada apa yang terlintas dalam benaknya dan dapat menghakim sendiri. Dan juga mereka mengatakan “ barang siapa yang  mengambil kesimpulan dari kisah Musa dan Khidhir, bahwa seorang wali boleh memberitahukan rahasia-rahasia suatu permasalahan yang berseberangan dengan syariah dan melakukannya, maka dia telah sesat.”

HADIST 45

ORANG YANG BERTANYA SAMBIL BERDIRI KEPADA SEORANG ALIM YANG SEDANG DUDUK

Abu Musa r.a. berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Nabi saw., lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah berperang di jalan Allah itu? Karena salah seorang di antara kami berperang karena marah dan ada yang berperang karena menjaga gengsi. [Ada yang berperang karena hendak menunjukkan keberanian, dan ada yang berperang karena ingin dipuji orang. Kemudian beliau bersabda sambil mengangkat kepalanya dan tentunya beliau tidak perlu mengangkat kepala, melainkan karena orang yang bertanya itu berdiri sedang beliau duduk. Lalu beliau menjawab, ‘Barangsiapa yang berperang agar kalimah Allah menjadi yang tertinggi (menjunjung tinggi agama Allah), maka dia di jalan Allah Azza wa Jalla.'”

Keterangan Hadis:

Bertanya dengan posisi berdiri kepada seorang yang berilmu yang sedang duduk bukanlah perbuatan yang disukai, tapi diperboleh dengan syarat tidak adanya keangkuhan ketika melakukan hal tersebut. Hadis ini memperkuat dari hadis “seluruh perbuatan tergantung kepada niat.” Dan juga dalil bahwa seseorang diperbolehkan meminta sesuatu yang dibutuhkan dengan berdiri dengan syarat tidak ada rasa angkuh dan kesombongan, keutamaan para Mujahidin adalah khusus mereka bagi orang yang berjuang demi menegakkan kalimat Allah, dan anjuran untuk menjawab suatu pertanyaan.

Niat memiliki 2 fungsi:

  1. Jika niat berkaitan dengan sasaran suatu amal (ma’bud), maka niat tersebut berfungsi untuk membedakan antara amal ibadah dengan amal kebiasaan.
  2. Jika niat berkaitan dengan amal itu sendiri (ibadah), maka niat tersebut berfungsi untuk membedakan antara satu amal ibadah dengan amal ibadah yang lainnya.

Dari fungsi niat itu, dapat dipahami bahwa dalam kondisi apapun ketika kita ingin bertanya dengan niat tulus, hal tersebut akan memberikan manfaat kepada kita sendiri.

Hikmah/pelajaran:

Hadis tersebut membicarakan tata krama ketika bertanya. Dari uraian itu penulis menganalogikan dengan dalam suatu acara. Dalam acara  tersebut akan kedatangan seseorang yang disegani, adapun posisi para tamu itu duduk, ketika orang yang ditunggu datang, maka para tamu berdiri sebagai penghormatan kepada orang tersebut. Nah, dari situ dapat dipahami etika seseorang yang disegani itu dihormati dengan berdiri, apalagi orang yang ilmunya tinggi, maka kita akan menjadi segan dengan beliau. Walaupun hadist di atas memperbolehkan untuk bertanya dengan serorang alim yang sedang duduk dengan dalih tidak untuk melecehkan ataupun merasa angkuh, maka hal tersebut akan menjadi baik.

Bahwasanya memuliakan orang lain berarti melakukan tindakan yang terpuji yang bisa mendatangkan kemuliaan bagi pelakunya. Dengan demikian memuliakan orang lain adalah melakukan tindakan yang terpuji terkait dengan tuntutan orang lain.

HADIST 46

BERTANYA DAN MEMBERI FATWA KETIKA MELONTAR JUMRAH

Dari Abdillah bin Amru, beliau berkata,” pada saat saya berada di jumrah, saya melihat Rasulullah SAW sedang ditanya. Salah seorang dari mereka bertanya,” Ya Rasulullah. Sebelum melontar saya telah menyembelih”, Rasulullah berkata,” lempar saja, tidak ada dosa bagimu.” Kemudian yang lain bertanya,” ya Rasulullah, saya telah mencukur rambut sebelum berkurban,” jawab Rasul, semebelihlah kurban dan tak ada dosa bagimu.” Kemudia tidak ada pertayaan yang dilontarkan sebelum dan sesudah kecuali beliau berkata” kerjakan, tida ada dosa bagimu.

Keterangan Hadist:

Bertanya dan memberi fatwa ketika melontar jumrah, maknanya kesibukan seseorang alim dalam mengerjakan ketaatan tidak menjadikan penghalang untuk bertanya tentang ilmu. Juga diperbolehkan bercakap-cakap ketika melontar dan melaksanakan manasik lainnya. Al-Ismaili mengkritik judul tersebut dengan mengatakan bahwa tidak ada faedanya dijadikan tempat berlangsungnya Tanya jawab sebagai bab tesendiri. Jika memang harus maka lebih baik membuat judul baru, yaitu bab tannya jawab dalam perjalanan dan bab pertanyaan pada hari Nahr.

Bahwa apa yang diinginkan oleh Imam Bukhari dalam pemberian judul ini merupakan suatu hal yang baik, bahkan merupakan suatu keharusan untuk bertanya tentang masalah yang tidak diketahui pada saat melaksanaknnya. Hal tesebut dikarenakan sahnya suatu pekerjaan berkaitan dengan pengetahuan tetang cara pelaksanaannya. Kemudian pertanyaa yang diajukan kepada orang alin di tangah jalan tidak mengurangi derajat dan pahala orang yang ditanya.

Bantahan kepada orang yang menduga, bawasanya tanya jawab yang dilakukan pada saat jumrah akan menyusahkan para pelontar lainnya. Kasus ini meskipun dilarang, tetapi terdapat pengecualian jika pertanyaan tersebut berkaitan dengan hukum ibadah yang sedang dijalankan. Apa yang dilakukan Al-Ismail, seakan-akan ingin mengganti waktu dengan tempat, walaupun diketahui bahwa pertanyaan tentang ilmu tidak terkait dengan hari. Akan tetapi sebagian penghayal, bahwa hari I’d adalah hari suka cita sehingga tidak diperkenakan adanya pertanyaan  tentang sesuatu pada hari itu.

Hikmah/ pelajaran:

Bahwa dengan adanya kesibukan apapun yang kita miliki bukan berarti kita tidak mau melayani ataupun menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh teman kita. Namun yang perlu kita pahami adalah kita tidak meremehkan seorang yang bertanya, artinya kita lebih berpikir kedepan kenapa ia bertanya seperti, barangkali adanya kepentingan tertentu. Ada sebuah kasus dimana kasus tersebut penulis dengar dari seorang ustadz yang bercerita tentang pengalamannya ketika ia ditanya seorang cewek melalui pesan singkat. Adapun ustadz tersebut itu akan memberikan ceramah, ketika ia akan naik ke mimbar hp beliau berdering bunyi sms, karena ingin ceramah beliau tidak memperdulikan sms tersebut. Setelah selesai ceramah ustadz itu terkejut ketika membaca sms itu, akhrinya ustadz itu menyesal karena tidak menanggapi smsnya. Adapun sms tersebut seorang cewek yang bertanya tentang bahwa dirinya akan aborsi. Alangkah baiknya apabila kita yang memiliki kelebihan ilmu untuk berbagi sehingga bermanfaat buat orang lain, kondisi sesibuk apapun bukan menjadi kendala kita, sebab ilmu yang kita miliki merupakan titipan Ilahi.

HADIST 47

FIRMAN ALLAH,” DAN TIDAKLAH KAMU DIBERI PENGETAHUAN MELAINKAN SEDIKIT (AL-ISRAA’: 85)

Abdullah (bin Mas’ud) r.a. berkata, “Ketika saya berjalan bersama Rasulullah saw. di [sebagian 8/198] reruntuhan (dalam satu riwayat: kebun 5/228)[34] Madinah, sedang beliau bertelekan pada tongkat dari pelepah kurma yang lurus dan halus yang beliau bawa, lewatlah sekelompok Yahudi. Lalu, sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, ‘Tanyakanlah kepadanya tentang ruh. dan sebagian lagi dari mereka berkata, ‘Janganlah kamu menanyakannya, agar ia tidak membawa sesuatu yang kamu benci.’ Sebagian dari mereka berkata, ‘Sungguh kami akan bertanya kepadanya.’ Kemudian seorang laki-laki dari mereka berdiri [kepada beliau] dan berkata, ‘Wahai Abu Qasim, apakah ruh itu?’ Maka Dan dalam satu riwayat: Maka beliau berdiri sesaat memperhatikan), [sambil bertelekan atas pelepah kurma, sedang saya di belakang beliau 8/188]. Maka, saya berkata, ‘Sesungguhnya beliau sedang diberi wahyu.’ [Saya mundur dari beliau sehingga wahyu selesai turun], lalu saya berdiri di tempat saya. Ketika jelas hal itu, beliau membaca, “Yas-aluunaka’anir-ruuhi, qulir-ruuhu min amri rabbii, wamaa uutuu minal-‘ilmi illaa qaliilaa” ‘Mereka bertanya kapadamu tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu adalah urusan Tuhanku.’ Dan mereka tidak diberi ilmu melainkan hanya sedikit’. Al-A’masy berkata, ‘Demikianlah bacaan kami.’ [Lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, Tadi sudah kami katakan, jangan tanyakan kepadanya!’].

Keterangan Hadist:

Abdul Wahid adalah Abu Ziyad Al-Bashri. Khorib (reruntuhan),’asiba (tongkat dari pelepeh kurma), faqumtu (saya berdiri), sehingga saya tidak mengacaukan konsentrasi beliau, atau dalam kata lain saya berdiri dengan tegaksebagai pembatas antara Nabi dan orang-orang Yahudi. Ar-ruh mayoritas pendapat mengatakan,bahwa yang ditanyakan orang-orang Yahudi itu adalah hakikat ruh yang ada dalam hewan. Ada Malaikat Jibril, Nabi Isa, Al-Qur’an, pencipta ruh, dan lain-lain. Yang jelas hanya Allah yang mengetahui hakikat ruh.

Hikmah/pelajaran:

Hadist di atas berkaitan dengan orang Yahudi yang bertanya kepada Nabi tentang ruh. Memang sulit untuk kita terima dengan akal sehat sesuatu yang kaitan dengan benda abstrak, sebab manusia memiliki keterbatasan kemampuan dalam merespon sesuatu yang ghaib. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim meyakini suatu yang ghaib wajib  bagi kita. Maka dari itu dengan terbatasnya ilmu kita untuk menjangaku lebih dari itu,  sehingga kita menjadi hamba yang taat dengan aturan yang telah diberikan kepada.

Sikap sombong, angkuh kepada orang lain itu merupakan sikap yang tidak terpuji sebab ilmu yang kita miliki bukan untuk dibanggakan akan tetapi ilmu tersebut untuk kita amalkan kepada saudara-saudara kita agar ilmu itu menjadi bermanfaat buat mereka. Sering kita menganggap remeh tentang kemampuan kita, sering kita merasa pesimis dengan kemampuan yang dimiliki. Kalau sikap pesimis itu terus bersenyawa dalam diri, kapan kita akan maju. Seharusnya kita sadar akan kemampuan kita dengan tidak menyampingkan aturan-aturan Ilahi. Sebagaimana orang-orang Barat ingin membuktikan sesuatu yang ghaib yaitu ketika mereka melakukan penelitian tentang ruh, pada saat seseorang sakaratul maut, namun apa yang terjadi semuanya menjadi hampa, hasil  yang mereka lakukan tidak mendapatkan apa-apa.

Maka dari itu pengetahuan manusia tidak itu memiliki batas, sekalipun di zaman ini pengetahuan modern sudah canggih, belum mampu membuktikan hal tersebut. Wallahu a’lam

HADIST 48

ORANG YANG MENINGGALKAN SEBAGIAN IKHTIAR KARENA KHAWATIR SEBAGIAN ORANG TIDAK MEMAHAMINYA, LALU MEREKA TERJATUH KE DALAM SESUATU YANG LEBIH BERAT

Ubaidillah bin Musa menceritakan kepada kami dari israil dari abu ishak dari al-Aswad. Dia berkata,” Ibn zubair berkata kepada saya, banyak Aisyah banyak membuka rahasia kepadamu, maka apa yang dia bicarakan mengenai ka’bah?” saya berkata,” Aisyah berkata kepada saya,  bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda,” hai, Aisyah! Kubuat dua pintu, satu pintu masuk dan yang satu lagi pintu keluar.” Maka Ibn Zubair (dalam masa pemerintahannya 54-72 H. benar-benra melaksanakan apa yang disabdakan Nabi itu.

Keterangan hadist:

Israil adalah Ibn Yunus, Ishaq adalah As-Sabi’i dan dia kakek dari Israil yang meriwayatkan darinya. Sedangkan Al-Aswad adalah Ibnu Yazid An-Nakha’I dan semua sanad yang disandarkan kepadanya adalah orang-orang Kufah. Sedangkan Ibn Zubair adalah Abdullah (Abdullah bin Zubair) seorang sahabat yang terkenal.

Makna hadist ini ada hubungannya dengan penamaan bab ini karena orang Quraisy sangat mengagungkan Ka’bah, maka Nabi SAW takut kedekatan masa mereka dengan islam akan membuat mereka mengira bahwa Nabi hendak mengubah bentuk Ka’bah, sehingga Ka’bah lebih indentik dengan kebanggaan umat Islam saja dan bukan menjadi kebanggaan mereka lagi.

Hikmah/pelajaran:

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist ini, di antaranya diperbolehkannya meninggalkan kepentingan demi menjaga timbulnya kerusakan, kemungkaran boleh didiamkan jika takut menimbulkan kemungkaran yang lebih besar, dan seorang pemimpin harus mengurus apa yang menjadi kepentingan rakyatnya. Di masa ini banyak alternatif yang digunakan untuk melakukan dakwah. Menurut pemahaman penulis ketika kita mengajak orang lain tentunya memperhatikan kondisi mereka, agar orang yang kita ajak merespon ajakan kita, sebab dengan terbatanya pemahaman mereka. Disini ada alternatif yang kita berikan dengan batasan-batasan yang bisa ditolerin oleh nilai-nilai Ilahi. Wallahu a’lam

HADIST 49

ORANG YANG MENGKHUSUSKAN UNTUK MEMBERI ILMU KEPADA SUATU KAUM DAN TIDAK KEPADA KAUM LAIN KARENA KHAWATIR KAUM KEDUA ITU TIDAK DAPAT MEMAHAMINYA

84. Ali r.a. berkata, “Hendaklah kamu menasihati orang lain sesuai dengan tingkat kemampuan mereka. Adakah kamu semua senang sekiranya Allah dan Rasul-Nya itu didustakan sebab kurangnya pengertian yang ada pada mereka itu?”

Keterangan hadist:

Bab ini membahas tentang perkataan atau ucapan, Ubaidillah adalah Ibn Musa, sedang Ma’ruf adalah Ibn Kharrabudz seperti riwayat Karimah. Dia seorang tabiin yang kurang terkenal, yang berasal dari Makkah. Dia tidak memiliki riwayat lain dalam Shahih Bukhari, kecuali dalam pembahasan ini. Adapun makna perkataan Ali bima ya’rifuuna atau bima yafhamuuna. Dalam akhir riwayat tersebut ditambah oleh Adam bin Abi Iyas wada’u maa yayunkiruuna, (dan tinggalkan ilmu pengetahuan yang mereka ingkari, atau suatu yang tidak dapat memahaminya dengan benar. Dalam riwayat ini terbukti, bahwa hal-hal yang syubhat tidak seharusnya diajarkan kepada orang-orang awam

Hikmah/pelajaran:

Pada dasarnya syariat Islam adalah berupa perintah. Oleh karena itu, larangan yang ada jumlahnya sedikit. Semua yang diperintahkan akan membawa kebaikan bagi pelakunya, meski tidak berniat karena Allah. Dan semua yang dilarang membawa kejelekan bagi pelakunya. Dengan demikian manusia butuh kepada sesuatu yang diperintahkan dan tidak butuh kepada sesuatu yang dilarang.

Melaksanakan perintah terikat dengan kemampuan, karena jumlahnya sangat banyak. Sedangkan larangan jumlahnya sedikit dan tidak dibutuhkan, maka tidak terikat dengan kemampuan. Melaksanakan perintah lebih mulia dibanding meninggalkan larangan, demikian juga meninggalkan perintah lebih hina dibanding menerjang larangan. Oleh karena itu bagi kita yang hidup di masa modern ini, seharusnya lebih bisa lebih menempatkan diri artinya kita mampu untuk mengubah pola dakwah kita yang sesuai dengan nilai Ilahi.

Berkaitan dengan pendidikan, yang menjadi perhatian kita adalah menggunakan metode yang tepat ketika kita menyampaikan kebaikan kepada orang lain, karena pola pikir atau mainstream seseorang itu dilahirkan berbeda-beda. Daripada itu menjadi tanggung jawab kita sebagai penuntut ilmu untuk menyampaikan kebenaran sebenarnya sesuai dengan kemampuan kita, sebab jika kita hanya belajar tapi ilmu yang kita dapat tidak kita amalkan, sulit untuk melakukan perubahan paradigma masyarakat.

Iklan

1 Komentar

Filed under All Daftar

One response to “tafsir hadis bukhari no 44-49

  1. tolong tampilkan artikel hadits bukhari nomor 1690 dari kitab al-i’tisham..
    terima kasih.

terima kasih atas kunjungannya...mudah-mudahan berbagai tulisan yang kami sajikan ini dapat bermanfaat bagi pembaca. tak lupa agar silaturrahim pengunjung tetap berlanjut sudi kiranya pengunjung untuk memberikan pesan dan kesan setelah membaca tulisan yang ada di blog ini......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s