MAJLIS ILMU DAN INTERAKSI GURU-MURID

PEMBAHASAN

oleh steofandi fizari

A. Majlis Ilmu

Kata Majlis berarti ”tempat duduk”, dalam konteks ayat mujadalah ayat 11 tempat keberadaan secara mutlak, baik tempat duduk , tempat berdiri atau bahkan tempat berbaring. [1] Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia majelis adalah pertemuan, kumpulan, tempat sidang. Sedangkan ilmu bermakna adalah pengetahuan tetang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu.

Ilmu berasal dari kata ilm. Kata jadian dari ‘lima, ya’lamu menjadi ‘ilmu, ma’limu-um, ‘alim-un dan seterusnya.[2] Bawasanya dalam Al-Qur’an ternyata ilmu bukanlah sekedar pengetahuan biassa tetapi suatu pengetahuan yang di dalamnya terkandung penalaran tertentu. Jadi ilmu didefinisikan sebagai sejenis pengetahuan, tetapi bukan semabarangan pengetahau melainkan pengetahuan yang diperoleh dengan cara-cara tertentu, berdasarkan kesepakatan di anatara para ilmuwan. Ilmu terbagi menjadi dua:

1) ilmu dharury, ilmu yang tidak memerlukan perenungan dan pemikiran mengenai segala sesuatu yang telah ada dalam pikiran.

2) Ilmu Nadhary, ilmu yang memerlukan perenungan dan pemikiran, baik yang diketahui melalui hati saja.[3]

Bahwa dalam Al-Qur’an dalam mempelajari ilmu, bukan hanya ilmu agama. Firman Allah SWT dalam Surat Fathir ayat 27-28:

27. Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.28. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama[1258]. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.[1258] yang dimaksud dengan ulama dalam ayat Ini ialah orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah.

Ayat tersebut Allah menguraikan sekian banyak makhluk ilahi dan fenomena alam. Di sisi lain itu juga bahwa ilmu haruslah menghasilkan khasyyah yakni rasa takut dan kagum kepada Allah, yang pada gilirannya mendorong yang berilmu untuk mengamalkan ilmunya serta memanfaatkannya untuk kepetingan makhluk.[4]Jadi majlis ilmu adalah suatu pertemuan atau kumpulan yang terdapat pengkajian atau pengajaran tentang pengetahuan tertentu yang disusun secara bersistem.0

Majelis ilmu juga bisa berupa pengajaran pengetahuan yang dilakukan di lembaga formal seperti sekolah, kampus dan lain-lain. Di mana dalam kegiatan tersebut adanya seorang pembimbing (pendidik / guru) dan ada pula peserta didiknya.

Etika dalam suatu majlis ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis sebagai berikut:

1. Berilah izin salam atau mintalah izin kepada orang-orang yang di dalam majlis ketika masuk dan keluar dari majlis tersebut.
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian sampai di suatu majlis, maka hendaklah memberi salam, lalu jika dilihat layak baginya duduk, maka hendaklah ia duduk. Kemudian jika bangkit (akan keluar) dari majlis hendaklah memberi salam pula. Bukanlah salam yang pertama lebih utama daripada yang kedua.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, dinilai shahih oleh Al-Albani).

2. Duduklah di tempat yang masih tersisa. Jabir bin Samurah radhiallahu ‘anhu menuturkan, “Apabila kami datang kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, maka masing-masing dari kami duduk di tempat yang masih tersedia di majlis.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).

3. Jangan menyuruh orang lain untuk pindah dari tempat duduknya kemudian anda mendudukinya, akan tetapi berlapang-lapanglah di dalam majlis. Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang tidak boleh memerintah-kan orang lain pindah dari tempat duduknya lalu ia menggantikannya, akan tetapi berlapanglah dan perluaslah.” (Muttafaq ’alaih).

4. Jangan duduk di tengah-tengah (lingkaran majlis) halaqah.

5. Jangan duduk di antara dua orang yang sedang duduk kecuali seizin mereka.
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak halal bagi seseorang memisah di antara dua orang kecuali seizin keduanya.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).

6. Jangan menempati tempat duduk orang lain yang keluar sementara waktu untuk suatu keperluan. Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seorang di antara kamu bangkit (keluar) dari tempat duduknya, kemudian kembali, maka ia lebih berhak menempatinya.” (HR. Muslim).

7. Jangan berbisik berduaan dengan tidak melibatkan orang ke tiga.
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian sedang bertiga, maka yang dua orang tidak boleh berbisik-bisik tanpa melibatkan yang ketiga sehingga kalian berbaur dengan orang banyak, karena hal tersebut dapat membuatnya sedih.” (Muttafaq ’alaih).

8. Jangan banyak tertawa. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memperba-nyak tawa, karena banyak tawa itu mematikan hati.” (HR. Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

9. Jagalah pembicaraan yang terjadi di dalam forum (majlis). Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang membicarakan suatu pembicaraan, kemudian ia, maka itu adalah amanat.” (HR. At-Tirmidzi, dinilai hasan oleh Al-Albani) Amanah bagi yang ditoleh.

10. Jangan melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan perasaan orang lain, seperti menguap, membuang ingus atau bersendawa di dalam majlis.

11. Jangan memata-matai.Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kamu mencari-cari atau memata-matai orang.” (Muttafaq ’alaih).

12. Tutuplah majlis dengan do`a kaffarah majlis. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang duduk di dalam suatu majlis dan di majlis itu terjadi banyak gaduh, kemudian sebelum bubar dari majlis itu ia berdo’a,

13. Isilah majlis dengan ingat kepada Allah agar tidak bernilai kotor di sisi Allah dan kerugian (HR. Abu Daud)

Jagalah kebersihan dan bau harum atau kesegaran ruangan.
Bicaralah secara halus dan sopan[5]

B. Interaksi Guru-Murid

Proses pendidikan pada intinya merupakan interaksi guru dan murid untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Dalam konteks islam pendidikan diartikan sebagai proses penyiapan generasi muda. Dalam hal ini untuk mewujudkan hubungan guru dan murid yang baik, maka seorang guru harus ahli dalam bidang yang diajarkannya karena seorang guru harus menjadi teladan bagi anak didiknya. Guru adalah pembimbing, pendorong (motivator), fasilisator dan pelajaran bagi siswa guru harus mendengarkan pendapat para siswanya dan bersikap objektif.

Adapun kepribadian guru dijelaskan oleh para ahli pendidikan, bahwa ibn Jama’ah mengatakan bahwa seorang guru harus menghiasi dirinya dengan akhlak yang diharuskan sebagai seorang yang beragama atau sebagai seorang mukmin.[6] Beliau juga menyebutkan seorang guru harus berkepribadian agamis.

Adapun sikap seoraang pelajar harus bersikap rendah hati pada ilmu dan guru karena dengan demikian ia akan mencapai cita-citanya dan ia juga harus menjaga keridhaan gurunya. Seorang murid harus tekun belajar disetiap waktu.

Menurut Al-Ghazali, ada beberapa etika seseorang pelajar (murid):

1. seorang pelajaran membersihkan akhlaknya dari sifat tercela

2. tidak menyombongkan ilmu yang dimilikinya

3. seorang pelajar hendaknya tidak banyak melibatkan diri dalam urusan duniawi.

4. seorang pelajar jangan menenggelamkan diri pada satu bidang ilmu saja

5. seorang pelajar harus mengetahui hubungan-hubungan macam ilmu dan tujuannya.

Menurut Ibn Jama’ah menyebutkan sikap seorang guru dalam menghadapi

muridnya:

1. bertujuan mengharapkan keridhaan Allah

2. memililiki niat baik

3. menyukai ilmu dan mengamalkannya

4. menghormati kepribadian para pelajar pada saat belajar

5. memberikan peluang terhadap pelajar yang menunjukkan kecerdasan dan keunggulan.

Dari pendapat para ulama tersebut dapat dipahami bahwa sangat penting sekali menjagi interaksi antara guru-murid karena hal tersebut bisa berpengaruh dalam proses transfer of knowledge.


KESIMPULAN

Dalam suatu proses pendidikan sangat diperlukan seorang pendidik (guru), dan seorang peserta didik (murid) haruslah menjaga etika dalam proses penerimaan pengetahuan, agar apa yang didapat mendapatkan barokah. Oleh karena itu sangat penting menjaga interaksi antara guru-murid sebab dengan menjaga adab satu sama lain maka akan tercipta suasana pengajaran yang baik dan menuju tujuan yang akan dicapai. Pendidikan bisa dilaksanakan di lembaga formal maupun non formal. Adapun majlis ilmu yang berupa lembaga formal berupa sekolah, kampus, dan lain-lain, sedangkan non formal, seperti majlis ta’lim. Mentoring, majlis zikr, dan lain-lain.



DAFTAR PUSTAKA

Rahardjo, Dawam. 1996. Ensiklopedi Al-Qur’an Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-Konsep Kunci. Jakarta: Paramadina

Quraish, M. Shihab. 2002. Tafsir Al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati

Al-Jazairy, Abu Bakar Jabir. 2002. Ilmu Dan Ulama. Jakarta: Pustaka Azam

Nata, Abudin. 2001. Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru-Murid. akarta: Raja Grafindo

http://khalilullah85.multiply.com/journal/item/19


[1] M. Quraish Shihab, 2002: 79

[2] Dawam Rahardjo, 1996: hal 545

[3] Abu Bakar Jabir Al-Jazairy

[4] Dawam Rahardjo, Ensiklopedi Al-Qur’an Tafsir Sosial Berdasarkan Kosep Kunci1996: 527

[6] Abudin Nata, 2001: 83

Tinggalkan komentar

Filed under All Daftar

terima kasih atas kunjungannya...mudah-mudahan berbagai tulisan yang kami sajikan ini dapat bermanfaat bagi pembaca. tak lupa agar silaturrahim pengunjung tetap berlanjut sudi kiranya pengunjung untuk memberikan pesan dan kesan setelah membaca tulisan yang ada di blog ini......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s