Hukum bernyanyi dalam masjid

oleh
steofandi fizari
A. Pengertian Seni Musik
Dalam Ensiklopedi Indonesia disebutkan bahwa seni adalah penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, yang dilahirkan dengan perantaraan alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengar (seni suara), indera pendengar (seni lukis), atau dilahirkan dengan perantaraan gerak (seni tari, drama) (Al-Baghdadi, 1991 : 13).
Adapun seni musik (instrumental art) adalah seni yang berhubungan dengan alat-alat musik dan irama yang keluar dari alat-alat musik tersebut. Seni musik membahas antara lain cara memainkan instrumen musik, cara membuat not, dan studi bermacam-macam aliran musik. Seni instrumentalia, seperti telah dijelaskan di muka, adalah seni yang diperdengarkan melalui media alat-alat musik. Sedang seni vokal, adalah seni yang diungkapkan dengan cara melagukan syair melalui perantaraan oral (suara saja) tanpa iringan instrumen musik. Seni vokal tersebut dapat digabungkan dengan alat-alat musik tunggal (gitar, biola, piano, dll) atau dengan alat-alat musik majemuk seperti band, orkes simfoni, karawitan, dan sebagainya. (Al-Baghdadi, 1991 : 13-14).
Menurut Adjie Esa Poetra (2004:10) seni musik bukanlah sesuatu yang langsung diciptakan Tuhan, melainkan merupakan bagian dari kreativitas peradaban manusia. Jika disuatu ketika seni musik digunakan sebagai media dalam mencintai dan mengangungkan asma Allah swt tidak berarti musik harus dipandang sebagai asma Allah. Kedati demikian, seni musik bukanlah sesuatu yang memiliki sifat rendah, sebab pada hakikatnya Allah swt selain yang menciptakan juga menyukai keindahan.
Untuk lebih fokus dalam tulisan ini akan dibahas dalam konteks hukum bernyanyi secara umum baik itu menggunakan alat musik maupun sebaliknya di dalam masjid. Jadi dari pengertian seni musik di atas paling tidak ada empat komponen yang tidak bisa dipisahkan yaitu, penyanyi,instrumen (alat musik), bait lagu, waktu dan tempat.
B. Pengertian Masjid
Menurut bahasa masjid berarti tempat sujud (tempat shalat). Dalam pengertian ini seluruh muka bumi ini adalah masjid. Rasulullah SAW bersabda:”dimana saja engkau berada, jika wakut shalat tiba dirikanlah shalat, karena disitupun masjid”(HR.Muslim)
Menurut syari’i masjid adalah sebuah bangunan, tempat ibadaha umat Islam, yang digunakan oleh umat Islam terutama sebagai tempat dilangsungkannya shalat berjamaah.
Menurut Wahbah Az-Zuhaili dinding masjid, baik sebelah luar maupun sebelah dalam, dianggap sebagai bagian dari masjid yang harus dipelihara kehormatannya. (DEPAG.2000:15-16)
Adapun fungsi masjid penulis paparkan sebagaimana dalam (DEPAG,2000:19-21) sebagai berikut:
1. Sosial
Di dalam masjid kaum muslim menemukan ketenangan hidup dan kesucian jiwa, karena di sana terdapat majelis-majelis dan forum-forum terhormat. Masjid bagi umat Islam merupakan institusi yang paling penting untuk membina suatu masyararakat Islam. Di masjidlah rasa kestauan dan persatuan umat islam ditumbuhkan.
2. Pendidikan
Masjid juga dipergunakan untuk mengadakan halaqah ilmiyah di masjid. Ulama sepakat bahwa disunahkan mengadakan halaqah ilmiyah di masjid. Dalam hal ini, hadits-hadits yang mendorong untuk mengadakan halaqh ilmiyah banyak jumlahnya, di antaranya abdullah bin Amr bin As (sabahabat; 65 H)
“ Rasulullah SAW melihat dua majelis di majidnya, yang pertama berdoa dan bermunajat kepada Allah yang kedua belajar dan mengajar fiqih. Rasulullah SAW kemudian bersabda: kedua majelis itu baik tetapi salah satunya di antaranya lebih utama”.
3. Pemersatu umat
Masjid berfungsi sebagai alat pemersatu, sebagaiman Rasulllah SAW mempersatukan Kabilah Auz dan Khazraj di satu pihak dengan Muhajirin di pihak lain. Rasulullah SAW mempersatukan umat Islam di masjid Nabawi.
4. Agama
Di masjid, semua strata masyarakat bertemu dalam derajat yang sama, karena Allah SWT tidak memandang strata masyarakat di dunia. Bagi Allah SWT, yang paling terhormat di antara mereka adalah mereka yang paling takwa. Dalam bidang keagamaan, masjid berfungsi sebagai tempat melakukan shalat, yang dalam hadits disebutkan sebagai tiang agama, baik wajib maupun sunnah.
Di samping memahami peran dan fungsi masjid yang sedemikian penting dan besar bagi umat Islam, kita juga sangat dituntut untuk mengetahui dan merealisir adab terhadap masjid. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Ahmad Yani dan Achmad Satori Ismail (98-101) yaitu:

a. Membangun masjid ikhlas karena Allah
b. Rajin pergi ke masjid
c. Menjaga kebersihan masjid
d. Pergi ke masjid menggunakan pakaian yang baik
e. Masuk ke masjid menjaga kebersihan bau-bau yang tidak sedap
f. Berdoa ketika berangkat ke masjid
g. Berdoa ketika masuk masjid
h. Melaksanakan shalat tahyul masjid

C. Pendapat Tentang bernyanyi/syair
Dalam uraian ini penulis paparkan pendapat yang melarang dan memperbolehkan tentang nyanyian sebagai berikut:
1. yang melarang nyanyian dan main musik
Imam Ibnu Al-Jauzi, Imam Qurthubi, Asy-Syaukani telah mencantumkan berbagai dalil tentang haramnya nyanyian dan penggunaan alat-alat musik, antara lain sebagai berikut:
• QS. Luqman:6
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna (lahw-ul-hadis) untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan”
• QS. An-Najm:59-61
“Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini?. Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis?. Sedang kamu melengahkan(nya) (saamiduun) ?”
• Hadis Bukhari yang diriwayatkan dari Abu Malik Al-Asy’ari
Sesungguhnya akan terdapat di kalangan umatku golongan yang menghalalkan zina, sutra, arak dan alat permainan (musik). Kemudian segolongan (dari kaum Muslimin) akan pergi ke tebing bukit yang tinggi. Lalu para pengembala dengan ternak kambingnya mengunjungi golongan tersebut. Lalu mereka didatangi oleh seorang fakir untuk meminta sesuatu. Ketika itu mereka kemudian berkata: “Datanglah kepada kami esok hari.” Pada malam hari Allah membinasakan mereka, dan menghempaskan bukit itu ke atas mereka. Sisa mereka yang tidak binasa pada malam tersebut ditukar rupanya menjadi monyet dan babi hingga hari kiamat.”
• Hadis riwayat Imam Tirmidzi dari Jabir bin Addillah dengan sanad Hasan Shahih
“Pada suatu ketika Rasulullah s.a.w. memegang tangan Abd-ur-Rahman bin Auf. Beliau mengajaknya bersama-sama untuk membesuk (pay visit to patient) Ibrahim (anak beliau) yang sedang sakit. Ketika itu beliau melihat anaknya dalam keadaan sakaratul maut. Lalu Rasulullah s.a.w. mengangkat anaknya dan memangkunya sambil menangis. Melihat hal ini Abd-ur-Rahman bin Auf berkata: Adakah engkau, ya Rasulullah menangis? Padahal engkau melarang kaum Muslimin melakukannya.”
2. yang membolehkan nyanyian dan main musik
Imam Malik, Imam Ja’far, Imam Al-Ghazali, dan Imam Abu Daud Azh-Zhahiri telah mencantumkan berbagai dalil tentang bolehnya nyanyian dan menggunakan alat-alat musik. Alasan-alasan mereka antara lain:
• QS. Luqman:19
…وَ اغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الأَصْوَاتِ لَصَوْتِ الْحَمِيْرِ
“….dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah bunyi kelaedai.” (31:19).
Imam Al-Ghazali mengambil pengertian ayat ini dari mafhum mukhalafah. Allah s.w.t. memuji suara yang baik. Dengan demikian dibolehkan mendengarkan nyanyian yang baik.
• Hadis Buhkari, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lain-lain dari Rubayyi’ binti Mu’awwiz ‘Afra.
Rubayyi’ berkata bahwa Rasulullah s.a.w. datang ke rumah pada pesta pernikahannya (Pesta yang dimaksud di sini adalah pesta pernikahan yang didalamnya ada lelaki dan perempuan, tetapi dipisahkan jaraknya. Di dalam Islam ada tiga pesta, yakni (1) pesta pertunangan, (2) pesta pernikahan, (3) pesta percampuran. Lalu Nabi s.a.w. duduk di atas.tikar. Tak lama kemudian beberapa orang dari jariah (wanita budak)nya segera memukul rebana sambil memuji-muji (dengan menyenandungkan) untuk orang tuanya yang syahid di medan perang Badar. Tiba-tiba salah seorang dari jariah itu berkata: “Di antara kita ini ada Nabi s.a.w. yang dapat mengetahui apa yang akan terjadi pada esok hari.” Tetapi Rasulullah s.a.w. segera bersabda
لاَ تَقُوْلِي هكَذَا وَ قُوْلِيْ كَمَا كُنْتِ تَقُوْلِيْنَ
“Tinggalkanlah omongan itu. Teruskanlah apa yang kamu (nyanyikan) tadi.
• Hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah r.a.
“Pada suatu hari Rasulullah masuk ke tempatku. Ketika itu disampingku ada dua gadis perempuan budak yang sedang mendendangkan nyanyian (tentang hari Bu’ats) (Bu’ats adalah nama salah satu benteng untuk Al-Aws yang jaraknya kira-kira dua hari perjalanan dari Madinah. Di sana pernah terjadi perang dahsyat antara kabilah Aus dan Khazraj tepat 3 tahun sebelum hijrah.) Kulihat Rasulullah s.a.w. berbaring tetapi dengan memalingkan mukanya. Pada saat itulah Abu Bakar masuk dan ia marah kepadaku. Katanya: “Di tempat / rumah Nabi ada seruling setan?”. Mendengar seruan itu Nabi lalu menghadapkan mukanya kepada Abu Bakar seraya berkata:
دَعْهُمَا يَا أَبَا بَكْرٍ
“Biarkanlah keduanya, hai Abu Bakar.”
Tatkala Abu Bakar tidak memperhatikan lagi maka aku suruh kedua budak perempuan itu keluar. Waktu itu adalah hari raya di mana orang-orang Sudan sedang menari dengan memainkan alat-alat penangkis dan senjata perangnya (di dalam masjid).”
Dari uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa hukum bernyanyi /syair baik menggunakan alat musik maupun sebaliknya. Hal itu terkait ada tiga aspek yang perlu diperhatikan yaitu berdasarkan konten (isi), waktu, dan tempat. Hukumnya boleh jika kontennya berisi tentang memotivasi, hal-hal mubah yang tidak bertentangan dengan akidah, sedangkan berdasarkan waktu dan tempat seperti acara pernikanhan, mendapatkan rezeki (syukuran), tidak menggangu orang lain, tidak melalaikan / menyita waktu ibadah.
D. Hukum Menyanyi dalam Masjid
Masjid adalah tempat yang dipersiapkan selamanya untuk shalat yang kemudian dikhususkan lagi baik yang dibangun dengan menggunakan batu, tanah, semen atau pun yang belum dibangun. Berbeda halnya dengan mushalla yang tidak selalu disiapkan untuk shalat. Seseorang bisa shalat di situ jika tiba-tiba ia mendapatkan waktu shalat dan tempat ini tidak disebut dengan masjid, demikian menurut Syeikh Ibnu al Utsaimin.
Syaikh Isma’il az-Zain menjelaskan adanya kebolehan melantunkan nyanyian/syair yang berisi puji-pujian, nasihat, pelajaran tata krama, dan ilmu yang bermanfaat di dalam masjid. Hal ini beliau sebagaimana bersumber dalam Dari Sa’id bin Musayyab, ia berkata, “Suatu ketika Umar berjalan kemudian bertemu dengan Hassan bin Tsabit yang sedang melantunkan syair di masjid. Umar menegur Hassan, namun Hassan menjawab, ‘aku telah melantunkan syair di masjid yang di dalamnya ada seorang yang lebih mulia darimu.’ Kemudian ia menoleh kepada Abu Hurairah. Hassan melanjutkan perkataannya. ‘Bukankah engkau telah mendengarkan sabda Rasulullah SAW, jawablah pertanyaanku, ya Allah mudah-mudahan Engkau menguatkannya dengan Ruh al-Qudus.’ Abu Hurairah lalu menjawab, ‘Ya Allah, benar (aku telah medengarnya).’ ” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ahmad).
Menurut Sayyid Qutub yang dimaksud dengan syair/bernyanyi adalah membaca syair yang mengadung ejekan terhadap muslim, pujian terhadap orang yang zalim, kata-kata cabul dan sebagainya. Akan tetapi, apabila syair itu mengandung hikmah, pujian terhadap Islam, anjuran berbuat kebaikan, maka seseorang tidak dilarang membaca syair-syar’i semacam itu.
Imām Balqinī berpendapat tari-tarian yang dilakukan di hadapan orang banyak tidak harām dan tidak pula makrūh karena tarian itu hanya merupakan gerakan-gerakan dan belitan serta geliat anggota badan. Ini telah dibolehkan Nabi s.a.w. kepada orang-orang Habsyah di dalam masjid pada hari raya.
Sedangkan menurut Sayid Sabiq berlasan pada pengalaman Hasan bin Ali bin Abi Thalib yang membaca syair di dalam masjid tetapi tidak dilarang oleh Rasulullah SAW. (DEPAG,2000:93).
Dari pendapat di atas hukum menyanyi di dalam masjid adalah diperbolehkan, selama tidak menggangu aktivitas jamaah yang berada di dalam masjid. Sedangkan bernyanyi di dalam masjid menggunakan alat musik seperti rebana hukum asalnya diperbolehkan. Sedangkan apabila bernyanyi di dalam masjid menggunakan alat musik menurut penulis kurang etis alangkah baiknya di komplek masjid disediakan ruangan khusus/aula untuk kegiatan nyanyian menggunakan alat musik.


KESIMPULAN

Bahwa hukum menyanyi termasuk dalam masalah khilafiyah. Ada yang melarang dan ada yang memperbolehkannya. Pendapat para ulama tersebut memiliki dalilnya masing-masing. Hadits yang melarang nyanyian berkaitan dengan nyanyian secara umum. Sedangkan hadits-hadits yang membolehkannya bersifat khusus, yakni terbatas pada tempat, kondisi, atau peristiwa tertantu. Misalnya, hari raya, pesta pernikahan, pulang kampungnya seseorang ke negeri kelahirannya, dan sebagainya. Dalam seni musik paling tidak ada empat komponen yang tidak bisa dipisahkan yaitu, penyanyi,instrumen (alat musik), bait lagu, waktu dan tempat.
Hukum bernyanyi /syair di dalam masjid sebagaimana yang diungkapkan oleh Syaikh Isma’il az-Zain, Sayyid Qutub, Imām Balqinī,Sayid Sabiq yaitu diperbolehkan asalkan konteksnya nyanyian bukan seperti nyanyian konser di lapangan terbuka ataupun gedung pada umumnya. Bernyanyi menggunakan alat musik hukumnya diperbolehkan namun sebagian ulama melarang alat musik tertentu untuk digunakan. Dan bernyanyi menggunakan alat musik misalkan rebana di dalam masjid adalah jika dilihat hukum asalnya diperbolehkan namun menurut hemat penulis alangkah baiknya dapat mengadakannya di luar masjid saja.


DAFTAR PUSTAKA

Adjie Esa Poetra. 2004. Revolusi Nasyid. Bandung: MQS Publishing.
Ahmad Yani dan Achmad Satori Ismail. Menuju Masjid Ideal. Jakarta Selatan: LP2SI Haramain.
Al-Baghdadi, Abdurrahman. 1991. Seni Dalam Pandangan Islam. Jakarta : Gema Insani Press).
DEPAG Pusat. 2000. Fiqih Masjid. Jakarta: KBM Pusat

http://www.musikdebu.com/seni/babIV.htm

http://koprasimusliminmelaka.blogspot.com/2011/06/hukum-bermain-muzik-dalam-masjid-atau.htmlassalamualaikum ustad!

http://seni.musikdebu.com/

About these ads

7 Komentar

Filed under All Daftar, Masail FIqliyah

7 responses to “Hukum bernyanyi dalam masjid

  1. eko suharyanto

    yg mengusik hati q adalah bernyanyi saat byk org sedang sholat sunah..krn iman qt lemah tdk sekuat nabi dan sahabat yg terputus dengan dunia saat sholat…sedang qt ada suara sedikit sj sdh tdk konsentrasi lg…..

  2. sidilman

    Syair=Nyanyi = bermain musik=HARAAAAAM…. Apalagi sekarang tidak usah dipungkiri, dalam pentas nyani atau nyanyi apa saja di lingkungan kita, PASTI terjasi pergumbulan LAKI dan PEREMPUAN tanpa Hijab/pembatas. BUKTI PENTAS NYANYI oleh PARA ARTIS banyak menimbulkan kekisruhan dan banyak MODHOROT nya…. KERHAMANAN nyanyian, bersendung, terbuai dengan mimpi dan melayang dalam lamunan, menggunakan alat musik, itu sangat jelas banyak sanad yang menerangkan LARANGAN hal tersebut. Lebih baik membaca ALquran (NYAJI) sendiri-sendiri jauh lebih baik, maka janji Allah ta’alla, kalian semua akan mendapatkan KETENANGAN. Sudah nggak usah neko-neko…titik….

    • terkait hukum haram atau tidak, para ulama berbeda pendapat…selain itu juga fenomena yang terjadi itu akibat manusia itu sendiri dalam berlebihan dalam internalisasikannya…kan apapun yang berlebihan akan dilarang bukan,.
      kami melihat ada dua sudut padang yang tajam dalm hal ini yaitu terkait dengan teks / dalil dan konteksnya…sekian

  3. disadur dari kang IWAN

    DISADUR DARI KANG IWAN….
    Berikut ini adalah bukti adanya ijma ulama tentang haramnya nyanyian plus alat musik sehingga tidaklah teranggap adanya orang-orang yang menyelisihi para ulama semenjak masa para shahabat. Di antara ulama yang menegaskan adanya ijma ulama tentang haramnya nyanyian adalah sebagai berikut: Pertama, Abu Bakar al Ajurri yang wafat tahun 360 H. beliau mengatakan adanya ijma ulama akan haramnya mendengarkan alat musik. Kedua, Abu Thayyib al Thabari asy Syafii yang wafat pada tahun 450 H. Beliau menukil adanya ijma mengenai haramnya alat musik. Beliau juga mengatakan bahwa memainkan atau mendengarkan alat musik adalah kefasikan. Ketiga, Ibnu Qudamah al Maqdisi yang wafat pada tahun 540 H. Beliau mengatakan, “Tidak ada hukuman potong tangan untuk orang yang mencuri gendang, seruling dan gitar. Alasan kami adalah mengingat bahwa benda-benda merupakan alat untuk bermaksiat dengan sepakat ulama”. Keempat, Al Hafizh Abu Amr Ibnu Shalah yang wafat pada tahun 643 H. Dalam buku kumpulan fatwanya, beliau mengatakan, “Mengenai adanya anggapan bahwa nyanyian untuk mubah dan halal maka ketahuilah bahwa rebana, gitar dan nyanyian jika bercampur menjadi satu maka hukum mendengarkannya adalah haram menurut para imam mazhab dan seluruh ulama umat Islam selain mereka. Tidaklah benar ada ulama yang memiliki pendapat yang diakui yang membolehkan nyanyian semisal ini”. Kelima, Abul Abbas al Qurthubi yang bermazhab Maliki dan wafat pada tahun 656 H. Beliau mengatakan, “Adapun bid’ah yang dibuat-buat oleh orang-orang sufi saat ini yaitu hobi mendengarkan nyanyian yang dipadu dengan alat musik adalah termasuk perbuatan yang tidak diperselisihkan oleh para ulama sebagai perbuatan yang hukumnya haram”. 6 – 4J. ‘D%3D’E ‘(F *JEJ) (* 728G@ ) : HDE J0C1 #-/ EF #*(’9 ‘D#&E) AJ “D’* ‘DDGH F2’9′K Keenam, Ibnu Taimiyyah yang wafat pada tahun 728H. Beliau mengatakan, “Tidak ada satu pun ulama mazhab empat yang menyebutkan adanya perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang hukum alat musik”. Beliau juga mengatakan, “Pendapat imam mazhab yang empat adalah haramnya semua bentuk alat musik”. Dalam kitab al Minhaj as Sunah beliau mengatakan mengenai anggapan orang-orang Syiah bahwa imam mazhab yang empat menghalalkan nyanyian, “Ini adalah kebohongan atas nama imam mazhab yang empat. Mereka semua sepakat haramnya alat musik semisal kecapi”. Di kitab yang sama beliau mengatakan, “Intinya, alat musik itu hukumnya haram menurut empat imam mazhab. Tidak ada yang menyebutkan adanya perbedaan di antara empat imam mazhab”. Ketujuh, Tajuddin as Subaki salah seorang ulama bermazhab Syafii yang meninggal pada tahun 756 H mengatakan, “Ulama yang membolehkan nyanyian maksudnya adalah nyanyian yang tidak diiringi dengan rebana atau gitar, campur baur laki-laki dan perempuan serta orang-orang yang haram dipandangi”.Kedelapan, ‘Ibnu Rajab salah seorang ulama bermazhab Hanbali yang wafat pada tahun 795 H. Beliau mengatakan, “Hukum mendengarkan alat musik yang pada asalnya berasal dari orang kafir adalah haram dengan sepakat ulama. Tidak diketahui adanya seorang ulama yang membolehkannya. Siapa yang mengatakan bahwa ada ulama besar yang diakui keilmuannya yang membolehkan alat musik adalah seorang yang berdusta dan membuat fitnah”. Beliau juga mengatakan tentang mendengarkan musik, “Tentang mendengarkan alat musik tidaklah diketahui adanya satu ulama salaf yang membolehkannya. Pendapat yang membolehkan mendengarkan alat musik hanyalah pendapat sebagian ulama belakangan yaitu zhahiri dan sufi yang merupaka orang-orang yang pendapatnya tidak diakui”. Kesembilan, Ibnu Hajar al Haitami yang wafat pada tahun 974 H mengatakan, “Alat musik dengan petik dan alat musik yang lain semisal rebab, kecapi dan simbal, demikian pula alat musik yang memiliki sinar yang dipetik, rebab, alat musik junki, biola, siter dan berbagai alat musik lain yang sudah dikenal di kalangan orang-orang fasik, bodoh dan hobi dengan musik. Ini semua adalah barang haram tanpa ada perbedaan pendapat di antara para ulama di dalamnya. Siapa yang mengatakan adanya perselisihan maka orang tersebut boleh jadi salah paham atau kalah dengan hawa nafsunya sehingga pada akhirnya buta dan tuli dari kebenaran dan tergelincir dari jalan takwa”. Kesepuluh, Ibnu Abdil Barr mengatakan, “Diantara profesi yang disepakati keharamannya adalah riba, upah melacur, uang suap, upah yang didapatkan karena menjadi tukang meratap, menyanyi plus musik, menjadi dukun, mengaku-aku mengetahui masa depan dan berita-berita langit serta upah karena meniup seruling dan semua permainan yang sia-sia”. Kesebelas, al Ghumari mengatakan, “Sampai-sampai Iblis pun terhitung di antara makhluk yang memiliki akal sehat yang bersepakat untuk mengharamkan alat musik”. Dalam bukunya, as Sama’ Ibnu Rajab mengatakan, “Terdapat riwayat dari sebagian salaf semisal sahabat yang bisa dipahami bahwa mereka membolehkan nyanyian. Nyanyian yang mereka bolehkan adalah syair penggembala atau syair secara umum (baca:nyanyian sederhana tanpa musik)”.

    • terima kasih sharing nya…, tentu penjelasan para ulama kita hargai…terkait dengan hukum-hukum dalam Agama. dengan fenomena yang terjadi saat ini, musik sudah menjadi menu utama, dimana-mana diputar baik itu di rumah, pasar, kantor, sekolah dan lain sebagainya. bagaimana kita menyikapinya hal tersebut. apakah tetap menghukumi mereka yang bernyanyi baik itu menggunakan musik atau tidak dikatakan haram atau malah membolehkan, atau yang lebih ekstrimnya sebagai pelaku BID’AH, sehingga pelaku tersebut masuk neraka?
      intinya keputusan akan haram dan bolehnya akan nyanyian sudah tertera di penjelasan di atas, menurut kami tentu sebagai naluri manusia tentu ingin berkreasi dan mengembangkan potensi yang telah diberikan Tuhan, akan tetapi ketika potensi tersebut sudah menyimpang sesuai dengan nash yang qathi (pasti), maka jalan terbaik adalah muhasabah diri.

  4. kawe s

    syair dan nyanyian bisa saja bagus, tetapi jika ada unsur “mengganggu”, itu yang jadi masalah. apalagi mengganggu orang shalat. jika dikembalikan pada esensi fungsi masjid sebagai tempat ibadah, tentunya perlu dibangun suasana ketenangan di dalamnya, terutama saat masuk waktu shalat. pertanyaan yang patut direnungkan: kita mau pilih mana: mengumandangkan syair/nyanyian atau shalat? Allahu’alam

terima kasih atas kunjungannya...mudah-mudahan berbagai tulisan yang kami sajikan ini dapat bermanfaat bagi pembaca. tak lupa agar silaturrahim pengunjung tetap berlanjut sudi kiranya pengunjung untuk memberikan pesan dan kesan setelah membaca tulisan yang ada di blog ini......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s