ZAKAT

Sekolah Menengah Atas Kelas XI Semester II

PETA KONSEP

  1. PENGERTIAN
  2. DALIL TENTANG ZAKAT
  3. SYARAT-SYARAT WAJIB ZAKAT
  4. MACAM-MACAM ZAKAT
  5. HIKMAH ZAKAT
  6. ANALISIS
  7. KESIMPULAN
  1. A. Pengertian

Menurut Hasan Rifa’i Al Faridy (www.dompetdhuafa.or.id/zakat), secara bahasa zakat berarti berarti : tumbuh; berkembang; kesuburan atau bertambah (HR. At-Tirmidzi) atau dapat pula berarti membersihkan atau mensucikan (QS. At-Taubah : 10).

Sedangkan dalam Republika Newsroom (2009), zakat (Pajak dalam Islam) adalah item ke-tiga dari rukun Islam. Secara harfiah Zakat berarti “Tumbuh”, “Berkembang”, “Menyucikan” atau “Membersihkan”. Sedangkan secara terminologi syari’ah, Zakat merujuk pada aktivitas memberikan sebagian kekayaan dalam jumlah dan perhitungan tertentu untuk orang-orang tertentu sebagaimana ditentukan. (www.republika.co.id).

Menurut Hukum Islam (istilah syara’), zakat adalah nama bagi suatu pengambilan tertentu dari harta yang tertentu, menurut sifat-sifat yang tertentu dan untuk diberikan kepada golongan tertentu (Al Mawardi dalam kitab Al Hawiy).

Dengan demikian, zakat adalah memberikan atau mengeluarkan sebagian harta yang telah ditentukan ukurannya kepada orang yang berhak menerimanya, guna membersihkan harta kekayaan yang dimiliki.

  1. B. Dalil Tentang Zakat

Zakat merupakan salah satu rukun Islam, dan menjadi salah satu unsur pokok bagi tegaknya syariat Islam. Oleh sebab itu hukum zakat adalah wajib (fardhu) atas setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Kewajiban mengeluarkan zakat ini telah ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an surah al-Baqarah aya 43, sebagai berikut.

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.”

(Hasan Rifa’i Al Faridy, www.dompetdhuafa.or.id).

Zakat termasuk dalam kategori ibadah (seperti shalat, haji, dan puasa) yang telah diatur secara rinci dan paten berdasarkan Al-Qur’an dan As Sunnah, sekaligus merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang dapat berkembang sesuai dengan perkembangan ummat manusia. selain itu, zakat juga merupakan suatu ibadah yang dapat membersihkan diri yaitu dengan disucikannya harta kita daripada kekikiran terhadap sesama manusia.

Hal ini termaktub dalam firman Allah SWT, Al-Qur’an surah at-Taubah ayat 103.

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

  1. C. Syarat-Syarat Wajib Zakat

Dalam melaksanakan zakat, tentunya ada beberapa syarat wajib. Yaitu:

  1. Muslim.

Perintah mengeluarkan zakat pada dasarnya wajib bagi semua manusia. namun syarat muslim di sini adalah merupakan penegasan kepada umat Muhammad saja, akan pentingnya mengeluarkan zakat.

  1. Aqil

Seorang muslim yang belum mengetahui dan mengerti tentang kewajiban suatu agama, tidak diwajibkan untuk mengeluarkan zakat.

  1. Baligh

Baligh adalah orang yang sudah dewasa artinya orang yang sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Paling tidak usianya sudah usia remaja (dewasa dini).

  1. Memiliki harta yang mencapai nishab

Harta yang mencapai nisab maksudnya adalah harta yang telah mencapai ukuran dan ketentuan untuk diberikan.

  1. D. Macam-Macam Zakat

Dalam pembahasana ini, zakat dapat diklasipikasikan menjadi tiga jenis, yaitu:

  1. 1. Zakat Mal (harta)

Hasan Rifa’i Al Faridy mengatakan bahwa menurut bahasa (lughat), harta adalah segala sesuatu yang diinginkan sekali sekali oleh manusia untuk memiliki, memanfaatkan dan menyimpannya. Kemudian menurut syar’a, harta adalah segala sesuatu yang dapat dimiliki (dikuasai) dan dapat digunakan (dimanfaatkan) menurut ghalibnya (lazim).

(www.dompetdhuafa.or.id).

Sesuatu dapat disebut dengan maal (harta) apabila memenuhi 2 (dua) syarat, yaitu:

  1. Dapat dimiliki, disimpan, dihimpun, dikuasai
  2. Dapat diambil manfaatnya sesuai dengan ghalibnya. Misalnya rumah, mobil, ternak, hasil pertanian, uang, emas, perak, dll.

Ada  beberapa syarat kekayaan yang wajib dizakati, yaitu:

  1. Milik Penuh (Almilkuttam)

Harta tersebut berada dalam kontrol dan kekuasaanya secara penuh, dan dapat diambil manfaatnya secara penuh. Harta tersebut didapatkan melalui proses pemilikan yang dibenarkan menurut syariat islam, seperti : usaha, warisan, pemberian negara atau orang lain dan cara-cara yang sah. Sedangkan apabila harta tersebut diperoleh dengan cara yang haram, maka zakat atas harta tersebut tidaklah wajib, sebab harta tersebut harus dibebaskan dari tugasnya dengan cara dikembalikan kepada yang berhak atau ahli warisnya.

  1. Berkembang
    Harta tersebut dapat bertambah atau berkembang bila diusahakan atau mempunyai potensi untuk berkembang.
  2. Cukup Nisab

Artinya harta tersebut telah mencapai jumlah tertentu sesuai dengan ketetapan syara’. sedangkan harta yang tidak sampai nishabnya terbebas dari Zakat

  1. Lebih Dari Kebutuhan Pokok (Alhajatul Ashliyah)

Kebutuhan pokok adalah kebutuhan minimal yang diperlukan seseorang dan keluarga yang menjadi tanggungannya, untuk kelangsungan hidupnya. Artinya apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi yang bersangkutan tidak dapat hidup layak. Kebutuhan tersebut seperti kebutuhan primer atau kebutuhan hidup minimum (KHM), misal, belanja sehari-hari, pakaian, rumah, kesehatan, pendidikan, dsb.

  1. Bebas dari hutang

Orang yang mempunyai hutang sebesar atau mengurangi senisab yang harus dibayar pada waktu yang sama (dengan waktu mengeluarkan zakat), maka harta tersebut terbebas dari zakat.

  1. Berlalu Satu Tahun (Al-Haul)

Maksudnya adalah bahwa pemilikan harta tersebut sudah belalu satu tahun. Persyaratan ini hanya berlaku bagi ternak, harta simpanan dan perniagaan. Sedang hasil pertanian, buah-buahan dan rikaz (barang temuan) tidak ada syarat haul.

Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi (2007: 23-44) mengelompokkan   jenis  harta yang wajib dizakatkan sebagai berikut.

  1. Emas dan perak

Nishab emas adalah 20 dinar (85 gram emas murni) dan perak adalah 200 dirham (setara 672 gram perak). Artinya bila seseorang telah memiliki emas sebesar 20 dinar atau perak 200 dirham dan sudah setahun, maka ia telah terkena wajib zakat, yakni sebesar 2,5 %.

Demikian juga segala macam jenis harta yang merupakan harta simpanan dan dapat dikategorikan dalam “emas dan perak”, seperti uang tunai, tabungan, cek, saham, surat berharga ataupun yang lainnya. Maka nishab dan zakatnya sama dengan ketentuan emas dan perak.

  1. Zakat pertanian dan buah-buahan

Nishab zakat pertanian dan buah-buahan yang pengairannya dari sungai dan hujan, maka zakatnya sepersepuluh (10 %) adalah Sedangkan yang pengairannya dengan menggunakan tenaga unta untuk mengeluarkan air dari sumur atau alat lain, maka zakatnya adalah seperdua puluh      (5 %).

  1. Zakat peternakan

1)        Zakat Sapi

Setiap 40 ekor, nishabnya adalah 1 ekor sapi betina dewasa. Dan setiap 30 ekor nishabnya 1 ekor anak sapi jantan atau betina.

2)        Zakat Kambing

Jika jumlah kambing yang dipelihara di lahan umum telah mencapai 40 hingga 120 ekor, maka nishabnya adalah seekor kambing. Bila jumlahnya mencapai 120 hingga 200 ekor, maka nishabnya sebanyak 2 ekor. Bila jumlah mencapai 200 hingga 300 ekor maka nishabnya sebanyak3 ekor. Bila jumlah lebih dari 300 ekor, maka pada setiap kelipatan 100 nishabnya 1 ekor kambing. Jika jumlah tidak sampai 40 ekor maka tidak wajib zakat, kecuali jika pemilik bersedekah sukarela.

  1. Zakat harta karun (rikaaz)

Zakat harta karun tidak ada haul (ketetapan waktu). Nishabnya sebesar seperlima (20 %).

  1. 2. Zakat Profesi

Zakat profesi adalah zakat dari hasil usaha. Lebih lanjut Hasan Rifa’i Al Faridy mengatakan bahwa zakat profesi memang tidak dikenal dalam khasanah keilmuan Islam, sedangkan hasil profesi yang berupa harta dapat dikategorikan ke dalam zakat harta (simpanan/kekayaan). Dengan demikian hasil profesi seseorang apabila telah memenuhi ketentuan wajib zakat maka wajib baginya untuk menunaikan zakat. (www.dompetdhuafa.or.id)

Dan anjuran mengeluarkan zakat profesi ini adalah sebagaimana Firman Allah SWT:

“Wahai orang-orang yang beriman, infaqkanlah (zakat) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik.” (QS Al Baqarah 267)

Hadist Nabi SAW:

Bila zakat bercampur dengan harta lainnya maka ia akan merusak harta itu. (HR. AL Bazar dan Baehaqi)

Hasil Profesi Hasil profesi (pegawai negeri/swasta, konsultan, dokter, notaris, dll) merupakan sumber pendapatan (kasab) yang tidak banyak dikenal di masa salaf (generasi terdahulu), oleh karenanya bentuk kasab ini tidak banyak dibahas, khusunya yang berkaitan dengan “zakat”. Lain halnya dengan bentuk kasab yang lebih populer saat itu, seperti pertanian, peternakan dan perniagaan, mendapatkan porsi pembahasan yang sangat memadai dan detail. Meskipun demikian bukan berarti harta yang didapatkan dari hasil profesi tersebut bebas dari zakat, sebab zakat pada hakekatnya adalah pungutan harta yang diambil dari orang-orang kaya untuk dibagikan kepada orang-orang miskin diantra mereka (sesuai dengan ketentuan syara’). Dengan demikian apabila seseorang dengan hasil profesinya ia menjadi kaya, maka wajib atas kekayaannya itu zakat, akan tetapi jika hasilnya tidak mencukupi kebutuhan hidup (dan keluarganya), maka ia menjadi mustahiq (penerima zakat). Sedang jika hasilnya hanya sekedar untuk menutupi kebutuhan hidupnya, atau lebih sedikit maka baginya tidak wajib zakat. Kebutuhan hidup yang dimaksud adalah kebutuhan pokok, yakni, papan, sandang, pangan dan biaya yang diperlukan untuk menjalankan profesinya.

Contoh:

Akbar adalah seorang karyawan swasta yang berdomisili di kota Bogor, memiliki seorang istri dan 2 orang anak. Penghasilan bersih perbulan Rp. 1.500.000,-.

Bila kebutuhan pokok keluarga tersebut kurang lebih Rp.625.000 per bulan maka kelebihan dari penghasilannya = (1.500.000 – 625.000) = Rp. 975.000 perbulan.

Apabila saldo rata-rata perbulan 975.000 maka jumlah kekayaan yang dapat dikumpulkan dalam kurun waktu satu tahun adalah Rp. 11.700.00 (lebih dari nishab). Dengan demikian Akbar berkewajiban membayar zakat sebesar 2.5% dari saldo.

Dalam hal ini zakat dapat dibayarkan setiap bulan sebesar 2.5% dari saldo bulanan atau 2.5 % dari saldo tahunan.

  1. 3. Zakat Fitrah

Setiap menjelang Idul Fitri orang Islam diwajibkan membayar zakat fitrah sebanyak 3 liter dari jenis makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Hal ini ditegaskan dalam hadist dari Ibnu Umar, katanya “Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah, berbuka bulan Ramadhan, sebanyak satu sha’ (3,1 liter) tamar atau gandum atas setiap muslim merdeka atau hamba, lelaki atau perempuan.“(H.R. Bukhari).

Zakar fitrah dikeluarkan sebelum penduduk keluar (menuju) tempat shalat. Dan boleh juga dikeluarkan sehari atau dua hari sebelum hari raya Idul Fitri. (Abdul Azhim, 2007: 66)

Ukuran zakat fitrah yang wajib dikeluarkan tiap muslim adalah setengah sha’,qamh, atau satu sha’ kurm, kismis, sya’ir dan keju. Bisa juga dengan makanan pokok lainnnya. (Abdul Azhim, 2007: 63-64)

  1. E. Hikmah Zakat

Zakat merupakan ibadah yang memiliki dimensi ganda, trasendental dan horizontal. Oleh sebab itu zakat memiliki banyak arti dalam kehidupan ummat manusia, terutama Islam. Zakat memiliki banyak hikmah, baik yng berkaitan dengan Sang Khaliq maupun hubungan sosial kemasyarakatan di antara manusia, antara lain :

  1. Menolong, membantu, membina dan membangun kaum dhuafa yang lemah papa dengan materi sekedar untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya.Dengan kondisi tersebut mereka akan mampu melaksanakan kewajibannya terhadap Allah SWT
  2. Memberantas penyakit iri hati, rasa benci dan dengki dari diri orang-orang di sekitarnya berkehidupan cukup, apalagi mewah. Sedang ia sendiri tak memiliki apa-apa dan tidak ada uluran tangan dari mereka (orang kaya) kepadanya.
  3. Dapat mensucikan diri (pribadi) dari kotoran dosa, emurnikan jiwa (menumbuhkan akhlaq mulia menjadi murah hati, peka terhadap rasa kemanusiaan) dan mengikis sifat bakhil (kikir) serta serakah. Dengan begitu akhirnya suasana ketenangan bathin karena terbebas dari tuntutan Allah SWT dan kewajiban kemasyarakatan, akan selalu melingkupi hati.
  4. Dapat menunjang terwujudnya sistem kemasyarakatan Islam yang berdiri atas prinsip-prinsip: Ummatn Wahidan (umat yang satu), Musawah (persamaan derajat, dan dan kewajiban), Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) dan Takaful Ijti’ma (tanggung jawab bersama).
  5. Menjadi unsur penting dalam mewujudakan keseimbanagn dalam distribusi harta (sosial distribution), dan keseimbangan tanggungjawab individu dalam masyarakat.
  6. Zakat adalah ibadah maaliyah yang mempunyai dimensi dan fungsi sosial ekonomi atau pemerataan karunia Allah SWT dan juga merupakan perwujudan solidaritas sosial, pernyataan rasa kemanusian dan keadilan, pembuktian persaudaraan Islam, pengikat persatuan ummat dan bangsa, sebagai pengikat bathin antara golongan kaya dengan yang miskin dan sebagai penimbun jurang yang menjadi pemisah antara golongan yang kuat dengan yang lemah.
  7. Mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera dimana hubungan seseorang dengan yang lainnya menjadi rukun, damai dan harmonis yang akhirnya dapat menciptakan situasi yang tentram, aman lahir bathin. Dalam masyarakat seperti itu takkan ada lagi kekhawatiran akan hidupnya kembali bahaya komunisme atheis) dan paham atau ajaran yang sesat dan menyesatkan. Sebab dengan dimensi dan fungsi ganda zakat, persoalan yang dihadapi kapitalisme dan sosialisme dengan sendirinya sudah terjawab. Akhirnya sesuai dengan janji Allah SWT, akan terciptalah sebuah masyarakat yang baldatun thoyibun wa Rabbun Ghafur.

  1. F. Analisis

Uraian singkat yang berkenaan dengan zakat di atas. Menurut hemat saya, unsur konsep dari uraian tersebut adalah pengertian zakat yaitu memberikan atau mengeluarkan sebagian harta yang telah ditentukan ukurannya kepada orang yang berhak menerimanya, guna membersihkan harta kekayaan yang dimiliki. Unsur fakta adalah dalil tentang zakat dan unsur prinsip adalah bahwa zakat merupakan suatu ibadah yang wajib ditunaikan.

Unsur lain yang terdapat dalam uraian materi di atas adalah unsur proses yaitu adanya ketentuan-ketentuan dalam memberikan zakat. Sedangkan unsur nilainya adalah bahwa zakat merupakan ibadah yang memiliki hikmah sangat besar, diantaranya dapat membersihkan harta, serta dapat memberikan manfaat kepada orang lain yakni dapat menolong muslim lain yang menerimanya. Kemudian unsur yang terakhir adalah unsur keterampilan, yaitu terdapat dalam uraian tentang hitungan dalam ketentuan atau ukuran zakat.

  1. G. Kesimpulan

Allah SWT sangat menganjurkan setiap muslim untuk mengeluarkan atau memberikan sebagian harta kekayaan yang dimiliki, dalam hal ini kita kenal dengan zakat. Zakat merupakan salah satu rukun Islam wajib kita keluarkan.

Pentingnya anjuran untuk mengeluarkan zakat, merupakan salah satu usaha untuk memberikan keringanan atau bantuan bagi kaum muslimin yang membutuhkan. Zakat dapat diibaratkan pajak, yaitu pajak dalam Islam. Karena ukurannya sudah ditentukan. Bagi yang belum mencapai ukuran, maka berarti belum wajib zakat. Berbeda dengan sedekah/infaq,  sifatnya sukarela, tidak ditentukan ukurannya.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Azhim. 2007. Fiqih Zakat. Bogor: Media Tarbiyah.

Hasan Rifa’i Al Faridy. Panduan Zakat Praktis. 1996. Dalam  http://www.dompetdhuafa.or.id/zakat/z002.htm. Didownload pada 17 Oktober 2009.

Hasan Rifa’i Al Faridy. Panduan Zakat Praktis. 1996. Dalam http://www.dompetdhuafa.or.id/zakat/z003.htm. Didownload pada 17 Oktober 2009.

Hasan Rifa’i Al Faridy. Panduan Zakat Praktis. 1996. Dalam http://www.dompetdhuafa.or.id/zakat/z005.htm. Didownload pada 17 Oktober 2009.

Republika Newsroom . 2009. Pengertian Zakat. Dalam http://www.republika. co.id/berita/36369/Pengertian_Zakat. Didownload pada 17 Oktober 2009.

Lampiran 1

Table

About these ads

4 Komentar

Filed under All Daftar, Fiqih, Materi PAI

4 responses to “ZAKAT

terima kasih atas kunjungannya...mudah-mudahan berbagai tulisan yang kami sajikan ini dapat bermanfaat bagi pembaca. tak lupa agar silaturrahim pengunjung tetap berlanjut sudi kiranya pengunjung untuk memberikan pesan dan kesan setelah membaca tulisan yang ada di blog ini......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s