WALIMAH AL-‘URUS DALAM PERSPEKTIF ISLAM

1. PENGERTIAN WALIMAH
Walimah berasal dari kata Al-Walam yang bermakna Al-Jamu’ (berkumpul), karena setelah acara tersebut dibolehkan berkumpul suami isteri. Menurut Ibnu Arabi, istilah walimah mengandung makna sempurna dan bersatunya sesuatu. Istilah walimah biasanya dipergunakan untuk istilah perayaan syukuran karena terjadinya peristiwa yang menggembirakan. Lebih lanjut istilah walimah akhirnya dipakai sebagai istilah untuk perayaan syukuran pernikahan.
Walimatul ‘arus ialah kenduri bagi meraikan atau merayakan pengantin baru. Walimah ialah jamuan agama, bukan jamuan adat kebiasaan yang dibuat kerana Allah, bukan jamuan kebanggaan dan bukan sumber untuk mendapat keuntungan duniawi.
Jadi walimah ‘arus adalah perayaan pesta yang diadakan dalam kesempatan pernikahan. Dikarenakan pernikahan menurut Islam adalah sebuah kontrak yang serius dan juga momen yang sangat membahagiakan dalam kehidupan seseorang maka dianjurkan untuk mengadakan sebuah pesta perayaan pernikahan dan membagi kebahagiaan itu dengan orang lain seperti dengan para kerabat, teman-teman ataupun bagi mereka yang kurang mampu. Dan pesta perayaan pernikahan itu juga sebagai rasa syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah Dia berikan kepada kita. Disamping itu walimah juga memiliki fungsi lainnya yaitu mengumumkan kepada khalayak ramai tentang pernikahan itu sendiri. Tidak ada cara lain yang lebih baik melainkan melalui pesta pernikahan yang bisa dinikmati oleh orang banyak.

2. HUKUM WALIMAH
Jumhur ulama mengatakan bahwa mengadakan acara walimah pernikahan adalah sunah muakkadah. Dalilnya adalah hadits-hadits Rasulullah SAW berikut ini: Dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,Baarakalla hu laka, Lakukanlah walimah meskipun anya dengan seekor kambing (HR. Muttafaqunalaih) Dari Buraidah ra berkata bahwa ketika ali bin Abi Thalib melamar Fatimahra, Rasulullah SAW bersabda,”Setiap pernikahan itu harus ada walimahnya.(HR. Ahmad 5/359) Al-Hafiz Ibnu Hajar mengomentari hadits ini dengan ungkapan la ba’sa bihi
Hukum mengadakan kenduri kahwin ini adalah sunat muakkad (sangat dituntut) sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud: “Kata Nabi s.a.w. kepada Abdul Rahman bin Auf sewaktu beliau berkahwin, hendaklah kamu mengadakan kenduri kahwin sekalipun hanya menyembelih seekor kambing”.
Semua ulama sepakat tentang pentingnya pesta perayaan nikah, meskipun mereka berbeda pendapat tentang hukumnya: beberapa ulama berpendapat hukum untuk mengadakan walimah pernikahan adalah wajib sementara itu umumnya para ulama berpendapat hukumnya adalah Sunah yang sangat dianjurkan.
Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar dalam pelaksanaan walimah nikah tidak hanya mengundang mereka yang kaya saja; beliau bersabda: “Seburuk-buruk makanan ialah makanan walimah di mana yang diundang hanyalah orang-orang kaya saja sementara orang-orang yang miskin tidak diundang. Dan barang siapa yang tidak memenuhi undangan, maka berarti ia telah berbuat durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Shahih Muslim No.2585).

3. ADAB WALIMAH
Ada beberapa adab dalam pelaksanaan walimah al-‘Urus. Diantaranya adalah
a. Jangan melupakan fakir miskin dalam mengundang tamu.
“Makanan paling buruk adalah makanan dalam walimah, dimana orang- orang kaya diundang makan, sedangkan orang-orang miskin tidak diundang.” (HR. Muslim dan Baihaqi)
b. Menghindari perbuatan syirik dan khurafat.
Dalam masyarakat kita terdapat banyak kebiasaan dan hal-hal yang dilandasi oleh kepercayaan terhadap selain Allah SWT, walaupun sering kita mendengar bahwa hal-hal tersebut hanya perantara, tetapi tetap karena Rasul-Nya tidak mencontohkan, bahkan Allah SWT telah jelas- jelas melarangnya, maka jangan dilaksanakan.
“Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al Jin (72) : 6)
“Barang siapa mendatangi dukun atau peramal, dan percaya kepada ucapannya, maka ia telah mengkufuri apa yang telah diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw.” (HR. Abu Daud)
“Barang siapa membatalkan maksud keperluannya karena ramalan hari
mujur, maka ia telah syirik kepada Allah.” (HR. Ahmad).
c. Tidak bercampur baur antara tamu pria dan wanita
Hikmah tidak bercampur baurnya antara tamu pria dan wanita adalah untuk menghindari terjadinya zina mata dan zina hati; dan inilah tindakan preventif (pencegahan) dari perbuatan selanjutnya.
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Israa’ (17) : 32)
Katakanlah kepada laki-laki yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera- putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera- putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An Nuur (24) : 30 – 31)
Perlu diingat menahan sebagian pandangan ini berarti bukan selalu menunduk, tetapi menahan pandangan dari apa-apa yang dilarang oleh Allah SWT untuk dilihat oleh kita.
“Dua mata itu bisa berzina, dan zinanya ialah melihat (yang bukan mahramnya).” (HR. Bukhari)
Dan salah satu bentuk yang bisa menimbulkan gejolak syahwat dan menghantarkan kepada perzinaan (hati/persetubuhan) adalah berjabat tangan antara orang yang bukan mahramnya.
“Barang siapa yang berjabat tangan dengan selain mahramnya maka akan mendapat murka dari Allah Azza wa Jalla.” (HR. Ibnu Baabawih)
Untuk membantu terlaksananya hal tersebut di atas, maka sangat diperlukan sebuah pelengkap agar kita (para tamu) dapat menjaga pandangan pada apa yang Allah larang; yaitu dengan pemisahan ruangan tamu untuk pria dan wanita atau memakai hijab (tirai) antara tamu wanita dan pria, sebagaimana Rasulullah contohkan pada waktu Rasulullah menikah dengan Zainab binti Jahsyi di Madinah, yang merupakan sebab turunnya surat Al Ahzab atau 53.
Hal ini jangan dianggap hal yang mengada-ada dan asing, karena telah dijelaskan di awal, bahwa walimah merupakan sebuah aktifitas dari sekian aktifitas yang termasuk ibadah, maka iapun sama dengan ibadah- ibadah yang lainnya memiliki aturan main; contoh nyata adalah shalat, dimana dalam shalat terjadi pemisahan antara pria dan wanita; juga kegiatan pengajianpun demikian, jadi sangat wajar dan sebuah ajaran dari Allah yang Maha Mengetahui kekurangan dan kelebihan manusia serta mengetahui apa yang terjadi bila manusia hanya berpijak pada prasangka dan keyakinannya; yang pada dasarnya manusia itu makhluk yang lemah dan tidak mengetahui yang ghaib dan akibat dari perbuatannya. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (QS. Ar Ruum (30) : 7)
Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun. (QS. Ar Ruum (30) : 29)
d. Menghindari hiburan yang merusak nilai ibadah.
Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan.Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. (QS. Luqman (31) : 6)
e. Menghindari dari perbuatan mubazir.
Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan:dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. Al Israa’ (17) : 27)

f. Saling menghormati dan berkata yang baik.
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah menghormati tetangganya, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah menghormati tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
g. Memberikan ucapan selamat dan mendo’akan kedua mempelai.
Disunnahkan kita untuk mengucapkan do’a ketika kita berjabat tangan dengan sang pengantin. Apabila salah seorang saudaramu menikah ucapkanlah :”Baarokallohu laka, wabaaroka ‘alaika, wa jama’a bainakuma fii khoir” artinya : “Semoga Allah SWT memberkahimu dan mudah-mudahan Allah mengekalkan berkah atasmu serta menghimpun kalian berdua di dalam kebaikan.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
Atau do’a Rasulullah kepada Ali bin Abi Thalib ketika menikah dengan Fatimah Az-Zahrah (putri Rasulullah) : “Semoga Allah mengimpun yang terserak dari kalian berdua, memberkahi kalian berdua; dan kiranya Allah meningkatkan kualitas keturunannya, menjadikan pembuka rahmat, sumber ilmu dan hikmah, pemberi rasa aman bagi umat.”

ADAB MAKAN PADA ACARA WALIMAH
1. Tidak berlebih-lebihan
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al A’raaf (7) :31)
2. Menggunakan tangan kanan
“Dari Khafsah, bahwasanya Rasulullah telah menggunakan tangan kanan sewaktu makan dan minum serta berpakaian, sedang tangan lainnya untuk selain itu.” (HR. Abu Daud)

3. Jangan makan-minum sambil berdiri
“Dari Anas, bahwasanya Nabi saw telah melarang seseorang sambil berdiri, Qatadah bertanya kepada Anas : “Bagaimana jika makan sambil berdiri?” jawabnya : “Tentunya yang demikian itu sangat buruk dan jahat.” (HR. Muslim).

4. TUJUAN WALIMAH
• untuk mengumumkan pernikahan di samping menggembirakan pengantin yang baru menjejaki jinjang pelamin dan ia juga sebagai tanda kegembiraan orang tua kerana mendapat menantu baru. Pengumuman yang sebaik-baiknya ialah majlis perkahwinan yang diadakan di masjid dan dipukul gendang dan rebana.
• Sabda Rasulullah sallallahu ‘alayhi wasallam:
“Umumkanlah perkahwinan dan selenggarakanlah di masjid dan pukullah gendang dan rebana pada hari perkahwinan itu.”(Riwayat Ahmad dan Tirmizi)
• Oleh yang demikian, dalam meraikan kegembiraan tersebut adalah penting bagi kita untuk membedakan antara adat dengan ibadat yang perlu dipatuhi. Tidak menjadi kesalahan kepada kita untuk mengikut adat resam sesebuah kaum asalkan adat itu tidak bertentangan dengan syara‘.
• Islam menggalakkan hiburan yang sederhana dan sopan dengan menggariskan beberapa syarat seperti berikut:
1. Tiada pergaulan bebas antara lelaki dengan wanita yang bukan mahram.
2. Nyanyian dan musik yang tidak menimbulkan nafsu.
3. Tidak melalaikan ingatan dan kewajipan terhadap Allah subhanahu wata‘ala.
4. Seni kata nyanyian tidak mengandungi perkataan-perkataan yang cabul atau tidak sopan.

5. HIKMAH DIADAKANNYA WALIMAH
1. Untuk mengumumkan akad nikah. Mengumumkan akad nikah adalah diwajibkan, demi untuk membedakannya dari perzinaan.
2. Untuk melaksanakan perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meneladani perbuatan beliau.
3. Untuk memberi makan para fakir miskin. Adanya silaturahmi jika mereka yang menyelenggarakan pesta pernikahan tersebut masih kerabat dekat.
4. Untuk menampakkan nikmat bisa menikah, karena bisa menikah merupakan suatu nikmat, serta bisa menjadikan hati menjadi lega, senang dan tentram.
5. Untuk mensyukuri Allah atas limpahan nikmat bisa menikah tersebut.

6. KESIMPULAN
Dari penjelasan di atas dapat pemakalah simpulkan bahwa acara pernikahan merupakan sunnah yang dicontohkan oleh Nabi. Banyak model dalam melaksanakan pernikahan. Dalam perspektif Islam, pernikahan dikenal dengan walimah al-‘Urus. Walimah al-‘Urus dalam Islam dapat dijadikan wadah penting untuk menyosialisasikan pernikahan seseorang. Kita sebagai umat muslim tentunya harus melaksanakan acara tersebut. Dan juga harus mengetahui tata cara dalam melaksanakannya. Ada beberapa hal yang harus kita ketahui terkait pelaksanaan walimatul ‘urus, yaitu:
1. Mengetahui adab pelaksanaan walimah
2. Mengetahui adab makan dalam acara walimah
3. Mengetahui tujuannya.

DAFTAR PUSTAKA

http://abdillah1110.multiply.com/reviews/item/47

http://www.al-azim.com/masjid/infoislam/munakahat/jemputan.htm

http://niswah.multiply.com/journal/item/4/Pernikahan_dalam_Islam

http://www.dhuha.net/id/content/islam/counseling/konsep-walimah-perayaan-nikah-dalam-islam

http://www.mail-archive.com/belajar-islam@yahoogroups.com/msg00143.html

About these ads

Tinggalkan komentar

Filed under Materi PAI

terima kasih atas kunjungannya...mudah-mudahan berbagai tulisan yang kami sajikan ini dapat bermanfaat bagi pembaca. tak lupa agar silaturrahim pengunjung tetap berlanjut sudi kiranya pengunjung untuk memberikan pesan dan kesan setelah membaca tulisan yang ada di blog ini......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s