IMAN KEPADA ALLAH

1. PETA KONSEP
a. Pengertian Iman Kepada Allah
b. Sifat-sifat Allah
c. Asmaul Husna
d. Dalil Tentang Beriman Kepada Allah
e. Kiat untuk menumbuhkan Iman Kepada Allah
f. Hikmah Beriman Kepada Allah

2. URAIAN
a) Pengertian Iman Kepada Allah
Iman menurut bahasa berasal dari bahasa Arab yang berarti tasqif (membenarkan / mempercayai). Iman ialah kepercayaan dalam hati meyakini dan membenarkan adanya Tuhan dan membenarkan semua yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW (Muhammad Ahmad,1998:19). Hajar Al Asqalani juga menyatakan iman adalah perkataan dan perbuatan dapat bertambah ataupun berkurang. Sedangkan Menurut Istilah iman adalah mempercayai Rasulullah dan berita yang dibawanya dari Allah (Ibn Hajar Al Asqalani,2002:77).
Menurut Ibn Fauzi dalam (Abdul Majid Az-Zindani,2007:25) menyatakan iman berasal dari kata amana, yu’minu, imanan yang berarti amanah dan membenarkan. Sedangkan Yusuf Qaradhlawi dalam Muhammad Chirzi (1997:23) mengungkapkan iman adalah kepercayaan yang meresap ke dalam hati dengan penuh keyakinan, tidak bercampur syak dan ragu, serta member pengaruh bagi pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan pemiliknya sehari-hari.
Adapun dalam ilmu Kalam / ilmu Tauhid, dijelaskan ada tiga pengertian tentang iman, yakni:
1. Iman adalah meyakini dengan ucapan / diikrarkan dengan lidah, berupa mengucapkan kalimat syahadat
2. Iman adalah meyakini dengan perbuatan, berupa ibadah
3. Iman adalah meyakini dengan hati, berupa keyakinan dan niat.
Jadi iman kepada Allah adalah meyakini adanya Allah baik itu sifat-sifat-Nya maupun nama-nama-Nya dengan kesempurnaan-Nya, yang diyakini dengan hati, ucapan, dan perbuatan yang diamalkan dalam kehiduapan sehari-hari. sesuai dengan tuntunan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.
Dalam firman-Nya, Allah swt menyatakan:
                 •                 •           •        
Artinya: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa”( QS. Al-Baqarah:177)

Oleh karena itu, rasa percaya adanya Sang Maha Pencipta Tunggal, Allah swt, dapat kita tumbuhkan dengan berbagai cara, baik itu mengunakan akal sehat kita dengan memperhatikan segala apa yang telah Allah ciptakan seperti alam semesta dan segala isinya termasuk manusia dan mengerti akan sifat-sifat Allah dan Asmaul Husna. Dengan akal sehat kita akan dapat mengenal, meyakini, memahami dan menghayati baik itu sifa-sifat-Nya maupun Asmaul Husna.
b) Sifat-sifat Allah
Menurut Ibn Qayyim sifat-sifat Allah adalah sifat-sifat terpuji yang seluruhnnya diambil dari Asmaul Husna yang telah mengandung makna.
Mengenai sifat-sifat Allah ini para ulama menyebutkan sebanyak 41 sifat Allah yakni terdiri dari dua puluh sifat wajib, dua puluh sifat mustahil, dan satu sifat jaiz.
Sifat-sifat Wajib Allah
Menurut Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi dalam M. Natsir Arsyad (1992:12) mengungkapkan ada dua puluh sifat-sifat Allah, yakni:
1. Wujud (Ada)
2. Qidam (Dahulu, Adanya Tidak Didahului Sesuatu Pun)
3. Baqa’ (Kekal)
4. Mukhalafatuhu Lil Hawadits (Tak Menyerupai Apa Pun)
5. Qiyamuhu Bi Nafsih (Berdiri Sendiri)
6. Wahdaniyah (Maha Esa)
7. Qudrat (Kuasa)
8. Iradah (Berkehendak)
9. ‘Ilmu (Mengetahui)
10. Hayah (Hidup)
11. Sama’ (Mendengar)
12. Bashar (Melihat)
13. Kalam (Berfirman)
14. Qadiran (Selalu Berkuasa)
15. Muridan (Selalu Berkehendak)
16. ‘Aliman (Yang Mengetahui)
17. Hayyan (Yang Hidup)
18. Sami’an (yang selalu mendengar)
19. Bashiran (yang selama melihat)
20. Mutakkallimin (yang senantiasa berkata-kata)
Dari sifat-sifat wajib Allah di atas diklasifikasikan menjadi empat macam, yaitu:
a. Sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan zat Allah. Yang termasuk dalam sifat ini adalah wujud
b. Sifat salbiyah, yaiut sifat Allah yang menolak sifat yang tidak sesuai bagi Allah, yaitu meliputi: Qidam menolak Huduts, baqa’ menolak fana’, mukhalafatulilhawaditsi menolak mumatsalatulil-hawaditsi, qiyamubnafsihi menolak ihtiyajuhu ila ghairihi, wahdaniyah menolak atta’addudu
c. Sifat Ma’ani, yaitu sifat Allah yang dapat digambarkan oleh akal manusia. Meliputi yakni: Qadrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sama’, Basar, Kalam
d. Sifat Ma’nawiyah, yaitu penjabaran dari sifat-sifat Allah yang Ma’ani yaitu: Qadiran, Muridan, ‘Aliman, Hayyan, Sami’an, Bashiran, Mutakallimin (Muhammad Ahmad,1998:62)
Sifat- sifat Mustahil Allah
M. Natsir Arsyad (1992:12-13) memaparkan ada 20 sifat yang mustahil dimiliki oleh Allah dan merupakan lawan dari sifat wajib-Nya, sebagai berikut:
1. Adam (tidak ada)
2. Huduts (baru, ada awalnya)
3. Fana’ (tak kekal)
4. Mumtsalatuhu li al-hawadits (menyerupai sesuatu)
5. Ihtiyajuhu li ghayrih / adamu qiyamihi bi nafsih / qiyamuhu bi ghayrih (tidak bediri sendiri)
6. Ta’addud (terbilang)
7. ‘Ajz, Ajiz (tak berkuasa, lemah)
8. Karahiya, karahah (tak berkehendak, terpaksa)
9. Jahl (bodoh)
10. Mawt (mati)
11. Shaman (tuli)
12. ‘Umyu (Buta)
13. Bakam, bukm (bisu)
14. Ajizan (yang tak berkuasa)
15. Mukrahan, karihan (yang terpaksa)
16. Jahilan (bodoh)
17. Mayyitian (yang mati)
18. Ashamma (yang tuli)
19. A’ma (yang buta)
20. Abkam (yang bisu)
Sifat Jaiz Allah
Maksud sifat jaiz Allah adalah bahwa Dia bebas berbuat apa saja atau tidak berbuat; menciptakan baik dan buruk, dan sebagainya baik yang dicerna akal atau pun tidak (M. Natsir Arsyad,1992:13).
c) Asmaul Husna
Menurut bahasa berasal dari bahasa arab yang terdiri dari dua kata yakni Asma (jama’ dari ism /nama) dan Husna (jama dari hasana / baik) ,sehingga menjadi Al-Asma’ul Husna artinya nama-nama yang baik. Menurut Ilmu Tauhid, Al-Asma’ul Husna ialah nama-nama baik yang hanya dimiliki oleh Allah swt (Syamsuri,30:2007). Menurut istilah nama-nama Allah yang mengandung keagungan dan kemulian, yang apabila diucapakan berulang kali oleh seseorang, maka orang tersebut akan tergerak hatinya untuk menghayati makna yang terkandung di dalamnya dan kemudian menimbulkan kekuatan tersendiri dalam jiwanya untuk melakukan hal-hal yang diisyaratkan oleh Asma yang dibacanya (M. Nipan Abdul Halim,2003:2). Fatawa al-Lajnah al-Daimah dalam Alawy (2000:2) menjelaskan nama Allah adalah segala sesuatu yang menunjukkan Dzat Allah dengan sifat kesempurnaan yang terdapat di dalam diri-Nya.
Allah swt berfirman:
        
Artinya:”..Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang baik)”(QS. Thoha:8)
        •      
Artinya:” Katakanlah: “Serulah Allah atau Serulah Ar-Rahman. dengan nama yang mana saja kamu seru, dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik)….”(QS. Al-Isra’:110)
dan Allah swt juga berfirman:
               
Artinya:”Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang Telah mereka kerjakan”(QS. al-Araf:180)

Dalam sabda Nabi Saw bersabda: “ Allah itu mempunyai Sembilan puluh sembilan nama. Barangsiapa yang menghapalnya (dengan menyakini akan kebenarannya), ia masuk surga. Sesungguhnya Allah itu Maha ganjil dan senang sekali pada sesuatu yang ganjil” (HR. Ibnu Majah)

Berikut Asmaul Husna yang tercantum dalam al-Quran maupun as-Sunnah:
Allah, Ar-rahman, Ar-rahim, Al-malik, Al-qudus, As-salam, Al-mu’min, Al-muhaymin, Al-aziz, Al-jabbar, Al-mutakbbir, Al-khalik, Al-mushawwir, Al-bari’, Al-ghaffar, Al-qahhar, Al-wahhab, Ar-razzaq, Al-fattah, Al-alim, Al-qabidh, Al-basith, Al-khafidh, Al-rafi;, Al-mu’Izz, Al-mudzil, As-sami; Al-bashir, Al-hakam, Al-’adl, Al-lathif, Al-khabir, Al-halim, Al-’azhim, Al-ghafur, Asy-syakur, Al-’aliy, Al-kabir, Al-hafizh, Al-muqit, Al-hasib, Al-jalil, Al-karim, Ar-raqib Al-mujib, Al-wasi’, Al-hakim,Al-wadud, Al-majid, Al-ba’its, Asy-syahid, Al-haq, Al-wakil, Al-qawy, Al-matin, Al-waly, Al-hamid, Al-muhshi, Al-mubdi, Al-mu’id, Al-muhyi, Al-mumit, Al-hayy, Al-qayyum, Al-wajib, Al-majid, Al-wahid, Ash-shamad, Al-qadir, Al-muqtadir, Al-muqaddim, Al-mu’akhhkir, Al-awwal, A-lakhir, Azh-zhahir, Al-bathin, Al-kafi Al-muta’ali, A-lbarr, At-tawwab, Al-muntaqim, Al-’afuq, Ar-rauf, Al-malikul Mulk, Dzuljalali Walikram, Al-muqsit, Al-jami’, Al-ghani, Al-mughni, A-lmani’, Adh-dharru, An-nafi’, An-nur, Al-hadi, A-lbadi’, Al-baqi, A-lwarits, Ar-rasyid Ash-shabur.

Sifat Allah swt dalam Asmaul Husna, antara lain diuraikan lima sifat berikut ini:
 Ar-Rahman (Yang Maha Pemurah)
Bahwasanya Allah swt melimpahkan ramhat-Nya kepada seluruh manusia tanpa pandang bulu. Seluruh jagat raya ini mendapatkan seluruh limpahan rahmat-Nya baik yang taat maupun yang membangkang. Salah satu bentuk rahmat Allah adalah dilimpahkannya udara untuk bernapas, air untuk minum, dsb. Sebagaiman firman-Nya dalam surah al-Fatihah ayat 1-2.
 Ar-Rahim (Yang Maha Penyayang)
Sifat Rahim Allah swt hanya diberikan atau dilimpahkan hanya kepada hamba-hambanya yang beriman kepada-Nya. sedangkan manusia yang senang bermaksiat di dunia akan di berikan balasan di akhirat kelak. Allah dalam firman akan memberikan kenikmatan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman berupa ketenangan, kedamaian baik dunia dan akhirat. Lihat surah al-A’raf:96.
 Al-Malik (Maha Merajai)
Maksudnya adalah tidak ada raja yang memiliki kedudukan dan kekuasaan yang menyaingi Allah swt. Hal ini ditegaskan dalam surah al-Mukminun:116. Bahwa kita semua sebagai hamba-Nya harus berada di bawah kekuasaan-Nya.
 Al-Quddus (Mahasa Suci)
Hal ini disebabkan tidak lain karena Zat Allah yang Maha sempurna, tidak ada sekutu bagi-Nya sebagaiman ditegaskan dalam surah al-Ikhlas: 1-4. Begitu juga denga sifat-sifat Allah yang tidak ada yang cacat sedikit pun, begitu pula dengan perbuatan-Nya Maha Suci yakni terhindar dari aniaya dari seluruh hamba-Nya.
 As-Salam (Maha Sejahtera)
Bahwasanya hanya kepada Allah lah tempat kita untuk memohon keselamatan, baik keselamatan duniawi maupun ukhrawi, lahiriyah maupun batiniyah. Allah swt berfirman dalam surah al-Hasyr:32.

d) Dalil Tentang Iman Kepada Allah
Iman kepada Allah SWT merupakan rukun iman yang pertama. Hal ini menunjukkan bahwa iman kepada Allah swt merupakan hal yang paling pokok dan mendasar bagi keimanan dan seluruh ajaran Islam. Sebagai mana dikutip dalam(http://hbis.wordpress.com/2008/12/04/iman-kepada-allah-swt/) disebutkan beberapa dalil dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw sebagai berikut:
        •                  •  
Artinya: “Wahai orang yang beriman; berimanlah kamu kepada Allah, Rasul-Nya (Muhammad SAW), kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya dan kitab yang telah diturunkan sebelumnya. Barangsiapa kafir (tidak beriman) kepada Allah, malaikat-Nya. kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan Hari Akhirat, maka sesungguhnya orang itu sangat jauh tersesat” (QS. an-Nisaa’ (4): 136)
         
Artinya: “Dan Tuhan itu, Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain Dia. Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.”(QS. al-Baqarah (2): 163).
                        •                                 
Artinya: “22. Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.23. Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, raja, yang Maha suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. 24. Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS.al-Hasry:22-24)
                •  
Artinya: “ 1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. 2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. 3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, 4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS al-Ikhals(114): 1-4)
Sabda RasululIah SAW:

Katakanlah olehmu (wahai Sufyan, jika kamu benar-benar hendak memeluk Islam): Saya telah beriman akan Allah; kemudian berlaku luruslah kamu. (HR. Taisirul Wushul, 1: 18).

Manusia yang paling bahagia memperoleh syafaat-Ku di hari kiamat, ialah: orang yang mengucapkan kalimat La ilaha illallah. (HR. Muslim, Taisirul Wushul, 1: 12).

Barangsiapa mati tidak memperserikatkan Allah dengan sesuatu, pasti masuk surga. Dan barangsiapa mati tengah memperserikatkan Allah dengan sesuatu, pasti masuk neraka. (HR. Muslim, Taisirul Wushul, 1: 12.)

e) Kiat Menumbuhkan Iman Kepada Allah
Sebagaimana dikutip dalam http://ngobrolaja.com/showthread.php?p=322881
Adapun cara / kiat kita untuk merasakan manisnya iman tersebut adalah sebagai berikut:
 Ikhlas, ikhlas melaksanakan ibadah karena Allah, baik itu ibadah mahdah maupun ghairi mahdhah
 Memiliki Mahabbah (rasa cinta)
Bagaimana caranya kita mencinta Allah? dengan mencinta semua perkara yang Allah cintai dan membenci semua perkara yang dibenci Allah. Allah berfirman, dalam QS. At-Taubah: 24 dan QS.Ar-Rad: 28
 Khauf (rasa takut)
Rasa takut adalah kondisi jiwa yang tersiksa karena disebabkan takut kepada Allah, jika anda melakukan ibadah harus didasari rasa takut kepada Allah bukan kepada atasan atau bos di kantor dimana ibadah dilakukan karena bos di kantor rajin shalat jadi shalatnya supaya dilihat oleh bos bukan karena takut kepada Allah, Allah berfirman,
“Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (QS.Ali Imron: 17 5)
“Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku” QS.Al-Maidah: 44 dan juga terdapat dalam QS. Al-Baqarah: 40). Ada beberapa cara untuk menumbuhkan rasa takut :
1. Rasa takut bisa timbul jika anda mengetahui betapa kerasnya hukuman Allah kepada orang-orang yang bermaksiat.
2. Rasa takut bisa timbul dengan mengingat masa lalu dimana, saat waktu-waktu anda yang berharga anda gunakan untuk bermaksiat dan membandingkannya dengan masa saat anda dekat kepada-Nya.
3. Rasa takut bisa timbul jika kita mengenali sifat-sifat Allah
4. Menumbuhkan ketakutan dengan kondisi taubatnya apakah diterima atau tidak? dan takut kalau-kalau akan diakhirkan dengan kondisi su’ul khatimah.

 Ar-Raja (harapan)
Ar-raja adalah sikap berharap agar Allah membalas perbuatan anda dengan pahala dan mengharapkan akan diampuni dosa-dosanya dan mengharap datangnya rahmat Allah. Allah berfirman, “Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan)” (QS. Al-A’raf: 56)
(QS. Az-Zumar: 9), (QS. Al-Anbiya: 90) Harapan sendiri terbagi menjadi 3 yaitu:
1. Harapan seseorang yang taat kepada Allah agar amal perbuatannya diterima Allah, diberi pahala kepada kemenangan surga dan dihindarkan dari siksa neraka.
2. Harapan seseorang yang berdosa dan bertaubat agar kiranya Allah mengampuni dosa-dosanya dan memaafkan kesalahan mereka.
3. Harapan seseorang yang berpanjang-panjang dalam meremehkan agama sambil terus bermaksiat dengan mengharapkan ampunan Allah sementara dia terus melakukan maksiat (meremehkan yang wajib dan melakukan yang haram). Harapan yang terakhir ini adalah harapan yang sia-sia
Allah berfirman, dalam QS. Al-Baqarah: 218 “(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angannya ahli kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dari kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah” (QS. An-Nisa: 123)

f) Hikmah Beriman Kepada Allah
Apabila iman telah meresap ke dalam diri seseorang maka ia akan merasakan kedamaian dalam dirinya dan apabila kita hayati sepenuh jiwa maka insya Allah kita akan merasakan kenikmatan yang juga akan bermanfaat buat kita pribadi maupun buat tempat lingkungan kita tinggal. Muhammad Chirzin (1997:45-55) memaparkan beberapa manfaat beriman kepada Allah:
1. Membebaskan diri dari penguasaan orang lain
Seseorang yang telah yakin dengan Dzat Allah yang Maha Penyelamat, seseorang tidap peduli dengan sikap orang lain yang selalu menghalangi langkah seseorang menuju cita-citanya. Karena dia hanya bersandar kepada Allah saja dalam usah menuju kebaikan.
2. Membesarkan hati dan menumbuhkan keberanian
Dengan beriman Kepada Allah menumbuhkan rasa keberanian. mereka tidak takut berjuang menegakkan kebenaran dan menjunjung tinggi kalimat Allah. mereka yakin apabila gugur dalam perjuangan, maka ia yakin akan mendapatkan ridha-Nya.
3. Menenangkan hati dan menentramkan jiwa
Orang yang beriman tidak akan berkeluh kesah atau cemas apabila menanti mereka. Ia menutup rapat rasa kegelisahannya. Sebagaimana Nabi Ibrahim dengan yakin kepada Allah, bahwa perbuatannya merusak patung-patung sembahan pada waktu itu, ia tidak gentas menghadapi ancaman dari kaum kafir. Sehingga ia di bakar, akan tetapi Allah memberikan mukjizatnya berupa Ibrahim tidak merasa kepanasan.
4. Menumbuhkan harapan dan optimisme
Pengharapan adalah kekuatan yang membukakan hati dan menggerakkan kita untuk bekerja. Oleh karena itu harapan akan menimbulkan gairan dan semangat akan bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu pekerjaan.
5. Menumbuhkan perasaan harga diri
Dengan kemuliaan sosok manusia akan melahirkan kedudukan yang penting. Bahwsanya seseorang yang yakin akan pertolongan Allah tidak gentar dengan rintangan yang mereka hadapi. Dalam hal ini sebagaiman Bilal bin Rabah ketika disiksa di panas terik matahari, namun ia tetap menjaga harga dirinya untuk tetap istiqamah dengan keyakinannya.
6. Memelihara kebersihan diri dan mempertinggi nilai-nilai moril
Orang mukmin sadar bahwa segala amal perbuatan yang mereka lakukan tidak akan sia-sia. Karena mereka yakin Allah melihat gerak gerik manusia, sehingga menimbulkan untuk terus menerus menjaga diri dan senantiasa menghiasi diri dengan kebaikan.
7. Menimbulkan rasa dekat dengan Tuhan
Seorang muslim yakin bahwa Allah itu dekat. Sebagaimana firman Allah swt dalam surah al-Baqarah:186. Karena kita merasa dekat dengan-Nya maka akan terus-menerus menyebut Asma-Nya (berdzikir) setiap waktu.
3. ANALISIS
Konsep
Dalam pembahasan ini ada beberapa konsep yang dituliskan yakni:
o Pengertian Iman Kepada Allah
Iman kepada Allah adalah meyakini adanya Allah baik itu sifat-sifat-Nya maupun nama-nama-Nya dengan kesempurnaa-Nya, yang diyakini dengan hati, ucapan, dan perbuatan yang diamalkan dalam kehiduapan sehari-hari. sesuai dengan tuntunan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.
o Sifat-sifat Allah
Dalam sifat-sifat Allah dibagi menjadi tiga bagian yakni dua puluh sifat wajib, dua puluh sifat mustahil, dan satu sifat jaiz.
o Asmaul Husna
Asmaul Husna merupakan nama-nama terbaik Allah yang terdapat dalam al-Qur’an maupun al-Hadis.
o Dalil Tentang Beriman kepada Allah
Sebagaiman tercantum dalam analisi prinsip.
o Hikmah Beriman Kepada Allah
Diuraikan bagian bawah ini.
Prinsip
Adapun yang termasuk prinsip dalam uraian di atas adalah tentang Iman kepada Allah yang bersumber dari al-Qur’an maupun hadis Nabi saw :QS. Al-Baqarah:177, QS. an-Nisaa’ (4): 136, QS. al-Baqarah (2): 163, QS.al-Hasyr:22-24, QS al-Ikhals(114): 1-4, HR. Taisirul Wushul, 1: 18, HR. Muslim, Taisirul Wushul, 1: 12,HR. Muslim, Taisirul Wushul, 1: 12, tentang Asmaul Husna :QS. Thoha:8, QS. Al-Isra’:110, QS. al-Araf:180, HR. Ibnu Majah,

Fakta
Bukti adanya Allah adalah adanya hasil karya-Nya (ciptaan-Nya) berupa Alam semesta terhampar luas ini dan berserta isinya termasuk manusia. Dan juga untuk mengenalnya dapat kita ketahui melalui dalil yang tersurat baik dalam al-Qur’an maupun al-Hadis.
Nilai
Dari uraian di atas dapat kita ambil ibrah dari beriman kepada Allah baik sifat dan Asmaul Husna-Nya, sebagai berikut:
o Membebaskan diri dari penguasaan orang lain
o Membesarkan hati dan menumbuhkan keberanian
o Menumbuhkan harapan dan optimisme
o Menumbuhkan perasaan harga diri
o Memelihara kebersihan diri dan mempertinggi nilai-nilai moril
o Menimbulkan rasa dekat dengan Tuhan
Proses
Seseorang yang berawal dari mengenal sifat-sifat Allah dan Asmaul Husna akan menumbuhkan rasa keyakinan yang dapat membangkitkan seseorang untuk memahami-Nya dan akhirinya menghayati sifat –sifat Allah dan Asmaul Husna yang seterusnya diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Keterampilan
Dengan memahami sifat- sifat Allah dan Asmaul Husna, akan menumbuhkan rasa keyakinan kita dengan-Nya sehingga menumbuhkan kesadaran kita untuk senantiasa berhati-hati dalam berperilaku dan kita merasa diawasi oleh Allah. Dan perilaku kita menjadi lebih baik dengan selalu memaknai aktivitas yang telah dilakukan sesuai dengan sifat-sifat Allah dan Asmaul Husna dengan segala keterbatasan dalam diri manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Muhammad. 1998. Tauhid Ilmu Kalam. Bandung: CV Pustaka Setia.
Al Asqalani, Ibn Hajar. 2002. Fathul Baari: Syarah Shahih Bukhari. Jakarta Selatan: Pustaka Azzam.
As-Segaf, Alawi bin Abdul Qadir. 2000. Mengungkap Kesempurnaan Sifat-Sifat Allah dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jakarta: Pustakan Azzam.
Arsya, M. Natsir. 1992. Seri Buku Pintar Islam II: Seputar Rukun Iman Dan Rukun Islam. Bandung: Al-Bayan.
Az-Zidani, Syaikh Abdul Majid. 2007. Samudera Iman: Rahasia Mengukur Kedalaman Samudera Iman Di Hati Kita dengan Nalar Spiritual dan Ilmiah atas Kemahakuasaan Allah. Yogyakarta: Diva Press.
Chirzin, Muhammad. Konsep dan Hikmah Akidah Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.
Halim, M. Nipan Abdul. Khasiat Keagungan Asmaul Husna. Jakarta Pusat: Anggota IKAPI.
Syamsuri. 2007. Pendididkan Islam SMA Jilid 1 untuk Kelas X. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.

http://hbis.wordpress.com/2008/12/04/iman-kepada-allah-swt/

http://ngobrolaja.com/showthread.php?p=322881

About these ads

Tinggalkan komentar

Filed under All Daftar, Materi PAI

terima kasih atas kunjungannya...mudah-mudahan berbagai tulisan yang kami sajikan ini dapat bermanfaat bagi pembaca. tak lupa agar silaturrahim pengunjung tetap berlanjut sudi kiranya pengunjung untuk memberikan pesan dan kesan setelah membaca tulisan yang ada di blog ini......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s